
“Karena hati tak akan pernah sejalan, sesaat kamu saling mencoba memecahkan masalah yang datang saat itu juga”
***
Malam tepanya di hari ulangtahun Psycho, orangtunya mengadakan syukuran bersama rekan-rekan kerjanya beserta semua teman-teman Psycho, termasuk semua kerabat serta murid yang dinaungi Yayasan yang dipimpin
oleh bapaknya tersebut. Tak tanggung-tanggung, pesta diadakan di gedung besar nan megah JW Marriot. Gedung pencakar langit yang memiliki tinggi 30 lantai tersebut, terlihat jelas keindahan kota Medan dari lantai paling atas.
“Kringggg... Kringgg... Kringgg....” bunyi nada panggilan HP Yohana.
“Aduh siapa sih, berisik amat daritadi...” Yoa merasa terganggu ketika ia dengan konsenya merias diri didepan kaca.
“Sabar kek yaelahhhh...”
“Hallo...” . “Sabar dong Vio, aku lagi beres-beres nih...”
“Buruan dong, aku udh siap-siap daritadi nih...” Vio memperingatkan Yoa supaya buru-buru.
“Iyaa iyaaaa, kamu jadi kan kesini jemput aku? Diantar sama supir kamu...?” tanya Yoa sambil sedikit mengoleskan Lipsting dibibir merahnya.
“Hmmmmmmmmm, buruan...!” dengan cueknya Yoa ngejawab.
Beberapa menit kemudian terdengar suara klakson mobil dari luar rumah Yohana. Dilayar hpnya sudah ada pemberitahuan whattsap bahwa Vio sudah menunggu didepan rumahnya.
Yohana kemudian lari keluar rumahnya, namun diluar rumah dia juga melihat kedua orangtua dan adek laki-lakinya sedang rapinya. Seperti mereka ingin menghadiri sebuah pesta.
“Kamu kemana Yoa...” tanya sang Ayah dari kaca mobil.
“Ada urusan nih pa, mau ngerayain pesta ulangtahun teman aku...” jawab Yoa sembari membuka pintu mobil Vio.
“Halahhhh halahhh... palingan mau ketemu sama doinya...” sampang adek Yoa yang bernama Pranatu dengan usilnya tertawa.
“Shuttup! Bocah tau apa sih. Ayok jalan pak...”
Kemudian kedua mobil tersebut berjalan menuju pesta yang sama. Ternyata papa Yoa dan Psycho merupakan teman dekat sejak dari SMA hingga sekarang menjadi rekan kerja disalah satu perusahaan Batubara di Kalimantan.
__ADS_1
***
Selayaknya pesta ulangtahun seorang Pangeran. Banyak orang-orang penting datang menghadiri pesta yang megah tersebut.
Semua siswa SMA Santa Maria juga bisa dibilang datang kepesta tersebut, bisa dibilang 99%. Bahkan satpam yang sering dicaci oleh Psycho datang dengan Jass berwarna abu-abu, bahkan gaya rambut pak Agus dikala itu dimohak ala David Beckham. Yohana dan Vio juga dengan asiknya menikmati pesta dan makanan diatas meja.
Ada juga anggur merah dan Blacklabel dimeja bagian sudut kiri. Sepertinya akan dihidangkan bagi tamu khusus rekan kerja ayahnya Psycho.
“Ladies and Gentleman, Please Welcome...!” acara yang saat itu dibawakan oleh Lyodra. “Mari kita sambun sang pangeran tampan dari ranah Medan... Santo Psycho Rosaaaaaaaariooooooo...” tutrnya lanjut.
Dengan Jas merah dibarengi dasi kupu-kupu hitamnya, nampak jelas kegantengan yang aduhai dari Psycho. Dia keluar dari tirai pink diatas panggung. Tepuk tangan meriah oleh semua undangan serampak dan semua mata menoleh terhadapnya, bahkan mata Yohana dan Vio sekalipun. Baru kali itu Yoa melihat begitu tampanya seorang lelaki, dari pandanganya jelas seakan dia terobsesi akan ketampanan Psycho.
“Terimakasih buat semua undangan yang sudah datang, terlebih teman-teman satu sekolah saya...” tegas Psycho dengan suara lantang.
“Silahkan nikmati makanan dan minuman yang tersedia, semoga semuanya bahagia. Terimakasih...” tambahnya lagi.
Semua tamu menikmati makanan diiringi oleh artis Judika yang kala itu diundang sebagai penghidur dalam acara tersebut. Semua lagu batak andalanya dinyanyikan oleh Judika.
Dimeja makan bertemu Yoa dengan orangtua dan adeknya yang hendak akan mengambil makanan dimeja.
“Suka-suka akulah, hidup-hidupku kok kau pulak yang ngatur..!” merasa diserang akan perkataan adeknya, tangan yang tadinya mengelus kepala berubah menjadi jitak.
“Awww sakittt ihhh...” pukulnya perut.
“Ohh iya, tadi dirumah papa lupa ngejelasin. Kalo sebenarnya kami mau kepesta syukuran Ulangtahun anak dari teman baik papa sejak SMA...” pungkas sang papa pada Yoa.
“Tau gini mendingan tadi barengan, oalah pa...”
Orangtua dan adek Yoa kemudian melanjutkan mengambil makanan. Lalu pergi kearah papa Psycho, mereka saling asik berbincang-bincang dengan riangnya ditemani minuman Blacklabel dan beberapa bungkus rokok Union.
Sementara sedang asik berjalan-jalan mengintari pesta sembari melempar senyum kesana-sini pada semua hadirin, Psycho nampaknya kembali lalai dengan tak menggunakan matanya dengan baik melihat jalanya. Dia tak sadar didepanya sedang ada orang yang sedang asik berdiri menikmati makan dan minuman.
Plakkkkkkk...
Jas merah anggun dari Psycho kali ini ditambah beberapa corak dari sayur yang menelpel, warnanya sekarang dipadu dengan Orange bekas minuman. Lagi dan lagi, dia bermasalah dengan orang yang sama, orang yang
__ADS_1
ditabraknya disaat dia lari dilantai sekolah. Dialah Yohana Stewart.
“Maaf... maaf... maaf...”
“Apa...? kamu bilang apa tadi..?” dengan muka yang sudah kesal. Psycho menegakkan kepala Yoa dan menatapnya dengan tajam.
Tatapan penuh kemarahan dari Psycho tak lantas membuat Yoa sama sekali takut. Dia malah menatapi balik muka Psycho, bola matanya tak berkedip dan seakan melihat sesuatu yang berbeda.
“Kenapa kamu melotot hahhh...” Psycho menegakkan kepala Yoa tepat didepan mulutnya, nampaknya ia sudah mulai geram akan kejadian itu.
Hembusan nafas Psycho tepat merambas di tarikan nafas Yoa, dia seakan menikmati setiap oksigen yang merambas disaat itu. Wajar saja, nafas Psycho memang harum seharum bau parfum. Entah apa resep darinya yang dapat membuat hal tersebut.
“Iyaaa aku kan minta maaf...” tertunduk mencoba meyakinkan Psycho dengan perkataan maafnya dan agar ia tidak murka.
“Maaf... maaf... maaf... gaakan menyelesaikan masalah” Psycho kemudian membersihkan Jasnya dengan tisu kemudian membukanya.
Dilain arah, Vio dan beberapa orang didekat meja menatap dan melototi kedua orang tersebut sedang sedang berdebat. Ibu Psycho yang melihat juga kejadian tersebut mencoba melerai dan menenangkan keadaan.
“Ada apa ini nak...?” ucap si Ibu yang mendatangi meja.
“Ini tante, tadi aku lagi makan dan sambil ngobrol dengan Vio. Namun tiba-tiba saja bang Psycho menabrak dengan gasengaja tante. Tumpah deh makanan dan minuman yang ada ditangan aku...” Yoa mencoba menjelaskan
kejadian yang terjadi.
“Tapi ma, lihat nih jas aku jadi jelek banget. Kotor lagi ma...”
“Sudah-sudahhh nak, lagian kan dia sudah minta maaf. Kan kamu juga yang salah, gamerhatiin jalan dengan benar...”, “Sana ganti pakaian kamu...” Psycho kemudian pergi kebelakang panggung untuk mengganti pakaianya
yang sudah lusuh.
“Makasih ya tante atas pengertianya...” dengan penuh senyuman Yoa berkata pada ibu Psycho.
“Iyaa nak gapapa, lanjut aja manikmati pestanya...” kemudian si ibu meninggalkan kejadian dan kembali kemeja tempat suami dan teman-temanya mengobrol.
Setelahnya tak ada lagi kejadian aneh dimalam itu, semua berjalan dengan selayaknya. Para hadirin semuanya hanya bisa mengbrol dan bercanda ria sambil menikmati makanan dan pemandangan kota.
__ADS_1