
“Jangan memendam rasa, sesaknya saat ini sakitnya seumur hidup. Penyesalan tak akan pernah menganmpuni”
***
Seperti biasanya, seminggu sebelum UTS biasanya sekolah menghimbau semua muridnya mengikuti misa.
Namanya mau ujian, semua murid mengadakan doa bersama agar kelancaran ujian nantinya.
Hingga disudut sekolah, pagi hari sebelum missa...
“Nanti ikut misa kan...” tutur sebuah pesan masuk di whattsap Yoa.
“Pastinya dong ikut Cho...” balasnya.
“Duduk bareng ntar pas missa kuy Yoa...!”
“Emang bisa duduk bareng...?” “Bukanya duduk sesuai kelas masing-masing...” tanya Yoa yang sepertinya masih bingung. Wajar saja, karena itu pertama kali dia mengikuti missa disekolah tersebut.
“Siapa yang mengatakan harus begitu...?” nampaknya Psycho pura-pura tidak tau.
“Biasanya emang gitu kan, kamu ngetest aku yah...?”
“Bukan ngetest, kan aku cuman nanya. Siapa yang mengatakan peraturanya mesti begitu...”
“Jangan sok bodoh, aku doain ntar loh pas digereja betulan bodoh permanen...” seketika Yoa kesal.
“Wkwkwkwk....” “Baperan amat bukk...” Psycho tertawa melihat Yoa yang mulai kesal.
“Udah gak lucu, masih pagi juga udh ganggu mood orang aja kau...!”
“Iyaaaaaaaaaa maaf Yoa...”
Perbincangan singkat dipagi itu harus diakhiri dengan bunyi pengumuman dari mic sekolah yang menghimbau semua murid harus kegereja. Dimulai dengan kelasnya Psycho yakni 12 IPS 1 lalu diakhiri kelas 10-1.
Semua murid kemudian masuk kedalam gereja, untuk mengikuti missa. Pyscho duduk dikursi jajaran kanan tepat dikiri depan sedangkan Yoa duduk bersebalah dengan Vio dikursi paling depan sebelah kanan jajaran kiri. Itu tandanya mereka duduk berdekatan atau bersebalahan. Belom juga missa dimulai Yoa sudah melirik kesebelah kananya.
Dia sepertinya tak mampu menahan lehernya agar tidak berputar mengarahkan pandangan pada Psycho.
“Woii.....” cubit Vio kuping Yoa.
“Aduhhhhh sakit Vio jelek...”
“Makanya pandangan fokus kedepan dong...”, “Ini malah natap kesinga mulu. Suka kau sama dia ya...?” Vio kelihatan jengkel dengan
kelakuan Yoa.
“Lahh apa sih, aku gak mandang siapa-siapa tau...” “Ini aku fokus kedepan nih...” Yoa kemudian menegakkan kepalanya kehadapan altar.
“Nahhh gitu donggg...”
Kemudian misa dimulai dengan masuknya Pastor kearah altar. Semua murid bersemangat bernyanyi berdoa bersama. Namun ketika doa pembuka, mata Yoa masih lirik mengarah Psycho. Dia melototi Psycho yang sedang
berdoa.
Sesekali Psycho mendapati Yoa yang sedang curi-curi pandang terhadapnya, hingga setan merasuki keduanya saat doa teduh. Bukanya berdoa mereka berdua malah saling menatap sembari melemparkan senyuman satu
sama lainya.
***
Saat proses belajar, berbunyi HP Yoa “Heyyy....”. Ternyata sebuah sapaan dari Psycho. Yang kemudian mereka saling berbincang membahas tentang sesuatu.
“Kenapa bang Cho...?” balas Yoa
“Gabutnih, kekantin yokk..”
“Ngapain...? Inikan lagi jam belajar, gak mau ahk, yakali
cabut kelas...”
“Aku mau traktirin kamu makan, anggap aja traktiran karena Ultah aku kemaren...”
“Jangan sekarang gabisa...”, “Entah nanti gitu saat pulang sekolah...” Yoa mencoba menawar. Pikirnya lebih baik daripada harus cabut saat belajar.
“Aku maunya sekarang juga, harusss tanpa penolakan...” sepertinya Psycho memaksakan kehendaknya.
“Kalo aku gamau gimana...?”
“Kalo kamu gamau aku akan jemput kamu kekelas, dan permisiin kamu keluar...”
“Yaudah, silahkan aja kalo berani...” Yoa semakin asik dengan Hp nya. Sampai-sampai dia tidak memerhatikan guru yang mengajar didepanya dan menghiraukan pandangan Vio yang daritadi melihatinya yang sedang asik.
“Berani kamu ya, dekatin Psycho. Nanti giliran dimaki, disakitin, ditinggalin baru tau rasa kau...” begitulah kalimat yang dituliskan Vio dibagian belakang cover binder Yoa.
Ketika sedang asiknya proses belajar, Tuk tuk tuk tuk... begitulah bunyi ketukan pintu sesaat tiba-tiba.
“Permisi pak, saya mau manggil murid atas nama Yohana Stewart. Dipanggil sama guru BP...” dengan merundukkan kepalanya, Psycho dengan beribu dramanya.
“Kalo boleh tau mau ngapain...” tanya pak Zainuri yang merupakan guru Biologi.
“Kemaren Yohana telat pak, jadi sebagai hukumanya dia mau disuruh bersihiin toilet pak...”
“Lah hubunganya sama kamu apa...? seharusnya guru BP yang datang kesini bukan kamu...” pak guru dengan tatapan sinis.
“Yasudah pak, saya permisi. Seenggaknya saya sudah memberitahukan. Jadi kalo toilet masih kotor seperti sekarang ini, itu berarti salah bapak. Bukan saya, Yohana apalagi bu BP...” Psycho yang kesal kemudian menyerang si guru dengan khekawatiran.
“Tunggu... tunggu... Yaudah Yohana sana kamu ikut dia...” kekhawatiran si guru membuat mengizinkan Yohana keluar. Padahal kenyataanya dia sedang dipermainkan.
Yohana kemudian berdiri dari tempat duduknya dan keluar bersama Psycho. Diperjalanan menuju kantin mereka saik terbahak-bahak karena berhasil mengelabui si guru yang sudah tua.
Hingga sesampainya mereka duduk berduaan dikantin.
“Maaf kalian cabut yah...” tanya siibu kantin.
“Bukan... cuman laper aja...” mereka berdua saling bertatapan dengan tersenyum-senyum.
“Sudah permisi sama guru BP...?
“Sudahh kok bu...” sampang Psycho.
“Tapi kok kalian berdua bisa barengan lapernya...? bukanya kelas kalian berbeda...?” , ”Jangan-jangan kalian berdua janjian yahhh...?”
“Aduhh rewel amat deh si ibu, udah kek wartawan lagi nanya-nanya mulu. Bukanya buatin pesanan kita. Sono aja kerja di TVRI mbak...” kesewotan si mbak kantin yang bertanya ini itu membuat Psycho geram.
“Iya maaf dehh...” , “Ntar saya buatin...” dengan muka datar dan kepala tertundu sipenjaga kantin membuatkan pesanan mereka. Dalam hati daripada nantinya kantin diacak-acak oleh Singa yang lapar.
“Gaboleh gitu bang ihk...” , “Kasihan tau...”
“Gapapa kok Yoa, itu cuman nakut-nakutin biar si mbaknya ga nanyak mulu sperti orang yang tersesat dijalanan...” Psycho tertwa-tawa.
Sebelum pesanan datang, Psycho kemudian mengajak main tebak-tebakan.
“Nunggu pesananya dateng main tebak-tebakan yok...”
“Hayukkkkk, main tebak-tebakan warna kesukaan yah...” jawab Yoa.
“Hmmm... dimulai dari aku yah...” , “Coba tebak, warna kesukaan aku...”
“Hitammm...? segelap penjiwaan kamu yang sungguh keras dan sangat tempramental...” Yohana terbahak-bahak menjawabnya.
“Ishhhh...” muka Psycho muram.
“Maaf bang, bercanda...” , “Jadi apa dong...?” Yoa kemudian serius.
“Bercanda apa Berjanda..?” , “Salah, jawabanya adalah MeJiKuHiBiNiU. Yapsss warna-warna pelangi. Karena seperti pelangi yang datang sehabis hujan namun memberikan keindahan. Begitu jugalah yang kumau akan arti dari kehidupanku. Memberikan keindahan bagi siapapun walau hanya sebentar saja...” penuh semangat dan tertawa Psycho menjelaskanya.
Dalam hati Yoa berkata-kata. Apaan sikit-sikit emosi, sikit-sikit marahin orang. Gimana mau jadi pelangi pak. Yang ada jadi jurang yang siap membahayakan setiap orang.
“Kalo kamu apa coba...?” tanya Psycho.
“Aku sukanya sih Putih. Selain karena bersih dan indah, putih menandakan hati yang sejuk dan bersik. Jiwa yang tenang, lembut seperti kapas...”
“Berarti hati kamu lembut dong...? Sangkin lembutnya nyiram orang dengan Chattime dan cabut kelas...”
“Ihhk apaansih, jangan diungkitla yang kemaren. Ini juga cabut karena abang kan...”
“Ingat Yoa... Hari lalu itu ibarat sebuat peluru, hari ini senjatanya dan hari esok adalah bidikan yang akan kau eksekusi. Jadi jangan asal main lupain hari-hari lalu aja...” dengan kepuitisnya Psycho menceramahi secuil kesalahan kata Yohana.
“Oke... siap pak bosss...” dihormatinya Psycho seakan menghormati tiang bendera merah-putih.
“Makan it’s ready... let’s cooking broo...” diletakkan semua pesanan oleh ibu kantin.
“Oke thank you, next...” jawab Yohana.
Mereka berdua kemudian menikmati makanan dan minuman yang mereka pesan.
Begitulah nampaknya mereka saling berbagi tawa. Pekenalan yang masih semenjana dan terhitung sebentar saja. Namun seakan bisa memberikan kehangatan dan bahagia satu sama lainya. Padahal dua insan dengan berbeda tipe dan karakternya, dimana satu selayaknya Setan dan satunya lagi selayaknya Malaikat. Namun inilah dunia, dengan beribu keanehanya, terkadang yang dianggap setan belom tentu jahat seutuhnya dan yang kita anggap Malaikat belom tentu tak membawamu kedalam maut.
***
Didepan sekolah namapaknya sudah ramai sekali. Semua murid hendak berpulanagan dan lalu-lalai didepan sekolah. Yoa dan Vio berjalan berduaankeluar dari dalam sekolah, mereka nampak membelikan jajanan didepan
gerbang sekolah.
Jrengggggg... Jrenggg.... suara motor yang berisik petanda Psycho hendak lewat.
Dan betul ternyata, dia mendekati gerbang luar dan berboncengan dengan teman sekelasnya Adi. Namun sesampainya diluar gerbang dia menghentikan motornya. Diliriknya kearah kanan, arah dimana Vio dan Yoa sedang membeli jajanan.
“Pulang bareng gak...?” pukul Psycho pundak Yoa dari arah belakang.
“Anjerrrr... Kamveng...Monyettt...” kejut Yoa menjawab dengan Refleks.
Vio dan Adi yang melihat kelataan Yoa saling memandang dengan senyuman satu sama lain.
“Gimana mau gak..”
“Hmm gmna yah, bukanya gamau tapi kan kamu ada boncengan...”
“Ohhh ini... Turun di, sekarang juga...” Adi kemudian turun dari boncenganya.
“Hahhh gilak...” Yoa tak menyangka Adi sepatuh itunya tanpa basa-basi langsung turun dari boncengan.
“Trus kamu gmana, pulang sendiri Vio...” tanya Yoa pada Vio.
“Udah biarin aja, ntar barengan Adi aja dia” , “Sini buru naik...” Psycho sambil kembali menghidupkan motornya.
Yohana langsung naik keboncengan Psycho. Mereka berdua kemudian jalan, namun alih-alih hendak mengantar pulang. Psycho malah membawa Yoa mengitari kota dan mengajaknya ke mall jalan-jalan. Tak melihat waktu, hingga sampai petang mereka masih asik tertawa-tawa di perjalanan. Ketika diperjalanan pulang, Yoa yang terlihat kecapek an kemudian manggut-manggut menahan kantuknya. Hingga ia tak sadar bahwa kedua tanganya sudah merangkul erat bagian perut Psycho
Psycho terdiam dan menikmati semua keadaan terjadi. Hanya senyum tak karuan dari bibir dan muka penuh kecerahan yang mampu ia berikan pada alam sekitar yang menandakan betapa bahagianya dia saat itu.
“Bangun Yoaa, udah sampai nih depan rumah kamu...” elus-elusnya kepala Yohana yang masih setengah sadar dari bangunya.
“Haaaudah sampai ya bang...” jawab Yoa yang masih ngantuk.
“Iya ini depan rumah kamu, perlu aku gendong kekamar apa..”
“Ahkk jangannn, sendirian aja...” seketika loncat turun dan tersadar sepenuhnya mendengar perkataan Psycho.
“Yaudah sana masuk...”
“Okee okee bang. Makasih ya buat hari ini...”
“Iya sama-sama Yoa...” jawab Psycho
Psycho lalu pergi begitu saja meninggalkan Yoa yang berdiri masih menatapinya.
***
Terkadang begitulah kebahagiaan singkat yang tak terduga. Belom kenal dekat namun bisa saling memberikan satu sama lain kegirangan nan riang dihati.
Terkadang kedekatan tak mesti dimulai dengan pandangan pertama, atau lupa ngerespon saat difollow akun instagramnya, bisa juga karena pertengkaran sesaat yang tak menanam benci didalam hati. Ya, begitulah, terkadang...
***
Tak terasa, setelah menunggu berminggu-minggu akhirnya waktu untuk Outbond telah tiba. Semua murid kelas 11 IPA 1 dan 12 IPS 1 nampaknya sudah bersiap-siap didepan gerbang sekolah untuk berangkat dengan Bus. Outbond yang diadakan di rerumahan ret-ret Nagahuta, Pematangsiantar.
“Semua murid mohon baris...” suruh Bu Bernadette yang merupakan guru pembina.
“Siapp laksanakan bu...” sontak serentak murid menjawab bersamaan.
“Jangan ada barang yang ketinggalan...”
Kemudian semua murid diarahkan tempat duduknya didalam bus, sepertinya senior-junior dibaur satu sama lain bus yang ditompanginya. Ada dua bus dikala itu, bus 1 ditandai dengan topi warna merah dan bus 2 dengan warna putih.
Yohana berada di bus 1 bersama dengan teman sebangkunya Vio dan teman Psycho Udil, Adi dan Jo. Sedangkan Psycho menaiki bus 2 bersama teman anak kelas 11 IPA 1 Jay, Gery, dan Santo.
“Gantian..” Psycho berjalan kearah Jo.
“Jangan gitu dong Cho...”
“Udahh gausah bacod, sana pindah bus...”
“Taunih pasti mau duduk bareng Yoa...” bicara sambil tersenyum Vio.
“Apaansih Vio ihhh...” tatap Yoa dengan tajam mata Vio.
“Udah taulah maksudnya ini, pasti janjian duluan ini sih...”
“Jangan sok tau...” Yoa menaikkan nada bicaranya terhadap Vio.
“Okeee semua masuk kedalam bus, jangan ada yang salah menaiki bus yah. Masuk menurut warna topi masing-masing...” itu merupakan pengumuman terakhir dari bu Bernadette sebelum berangkatnya Bus.
“Oke siapp laksanakan bu...” jawab semua murid termasuk Yoa dan Psycho yang satu sama lain bertatapan sambil tersenyum. Entah itu senyum kebahagiaan karena adanya peluang duduk bersama atau senyuman aksi ketololan Psycho yang ngoto pindah bus demi bisa berada didekat Yoa.
Bus kemudian berangkat, menuju tempat tersebut dibutuhkan waktu sekitaran 5 jam dalam perjalanan.
Semua murid dibus 1 bernyanyi-nyanyi sambil bersorak-sorak. Yoa duduk sebangku dengan Vio sedangkan Psycho sebangku dengan teman sekelas Vio yaitu Rio tepat dikursi belakang Vio dan Yoa.
“Can u change...” bisik Psycho pada Vio.
“Why can’t...”
“Tunggu Yoa terlelap pulas aja, udah rada kantuk dia itu soalnya...”
“Hehe iya juga, okelah kalo begitu...” jawab Vio.
Ketika Yoa sudah tertidur pulas, mereka kemudian bertukar tempat duduk. Psycho yang melihat Yoa tidur memandangi wajah cantiknya. Raut wajah Psycho seakan terkagum-kagum memandanginya, dia seakan tak bisa menyangka akan sedekat mata dan alis dengan Yoa. Walau bukan sebagai pacar dan hanya baru dekat beberapa minggu. Tetap saja hatinya tak bisa berbohong, keabsahan hati yang selalu terasa adem kettika dekat dengan Yoa, sekuku sekalipun jarak tersebut.
Tiba-tiba Yoa terbangun dari tidurnya, muka capek dan lesu mewarnai wajah cantiknya. Dia terkejut yang disebelahnya sudah berubah wujud, seakan tak percaya Vio sudah transgender menjadi seorang Psycho
dielus-elus bola matanya dengan kedua jari tanganya. Ternyata itu benar-benar Psycho.
“Kenapa abang ada disini...” tanya Yoa yang bingung.
__ADS_1
“Salah kalo aku disampingmu...” Psycho tersenyum.
“Bukan masalah salah atau gimana bang, kan tadinya Vio disebelah aku. Kok bisa tiba-tiba jadi abang...”
“ Ohh Vio, aku suruh pindah belakang...”
“Niatt amat bang...”
“Gapapa, yang penting aku berada didekat kamu. Dekat sedekat jari tengan dan jari manismu ketika hendak mengelus wajah indahmu itu...”
“Gombal...?”
“Bisa jadi...”
“Jadi apa...?”
“Jadi gila aku berada disampingmu...” tawa psycho dengan cengengesan.
“Yee aku tidur lagilah, ngantuk soalnya...”
“Kalo butuh sandaran ini bahu aku free...”
“Gabakalan ada yang marah...?”
“Ada...!”
“Siapa bang...?”
“Aku yang marah kalo kamu bersandarnya dengan ngences...”
“Aku laksanakan, biar abang kumat dengan emosinya yang super...”
“Coba aja...” suruh Psycho.
Kemudian betul Yoa yang tak mampu menahan tidurnya kemudian tertidur disandaran bahu Paycho. Hati dan jiwa terasa tentram dan damai, ya begitulah sepertinya yang dialami Psycho. Sudah lama ia tidak merasakan hal yang sama setelah putus beberapa tahun yang lalu dengan mantan pacarnya.
Disambut senja disore dari ufuk Timur, bus yang ditumpangi akhirnya sampai pada tujuan. Sore dengan cuaca agak dingin, maklum saja tempat tersebut memang berada agak dipuncak gunung.
“Bangun, sudah sampai...” pukulnya pipi Yoa.
“Ahh, ahh, iyaaaa...” Yoa merengek membuka matanya.
“Sudah puas bersandarnya...?”
“Abang jangan gitu dong...” balas Yoa dengan cengeng.
“Hehe canda, ayok buru turun...” mereka kemudian berdiri dan keluar dan dari bus.
“Semuaa baris menurut kelas masing-masing..” bunyi toa pak Tajuddin.
Semua murid kemudian mengambil barisan masing-masing. Mereka kemudian dibagi dalam beberapa kelompok untuk mengikuti Outbond lapangan nantinya. Dilanjutkan dengan pembagian tempat tidur masing-masing, yang dimana pembagianya berdasarkan satu kelas. Yohana sekamar dengan Antonio dan Venesia, sedangkan Psycho
mendapat sekamar temanya Adi dan Udil.
***
Hari pertama...
“Ntar kalo ada pengumpulan HP, kamu jangan ikut ngumpul yah...” chat Psycho via whattsap.
“Biar apa bang...?”
“Intinya gausah...”
“Nanti dimarahin sama guru, gamau ahk bang...” Yoa nampaknya ketakutan.
“Kau kumpul, kutandai kau...!”
“Ampunlah, kok jadi ngancam sih...”
“Makanya jangan dikmpul...” Psycho nampaknya ngotot.
“Makanya jawab dulu, biar apa gadikumpul bang...?”
“Biar kita bisa chattingan tiap waktu luang...”
“Sesat, nanti ketahuan gimana...?”
“Kalo ketahuan aku yang tanggungjawab, aku terima konsekuensinya semua...”
“Yakin, seyakin-yakinya?...”
“Iya yakin...”
Walau sebenarnya Yoa takut terkena hukuman jika ketahuan tidak mengumpul Hpnya, namun tetap saja dia tidak mengumpulnya. Dalam hatinya seenggaknya jikalaupun ketahuan dia tidak sendirian, ada Psycho temanya.
Lumayan juga bisa dihukum bareng, dia bisa berpuas diri didekatnya.
“Perhatian, kepada setiap ketua kelas harap menggumpulkan HP semua murid...” cetar suara dari toa pak Tajuddin.
Ketua kelas masing-masing kelas berjalan mengintari tiap ruangan kamar murid. Semua murid pasrah mengumpul HP nya.
“Yoa kamu gangumpul HP...” tanya Ando ketua kelas 12 IPA 1.
“Haa aaa aa gabawa ndo...” jawab Yoa ngangguk-ngangguk.
“Yakin gabawa, nanti ketahuan sama guru dihukum loh. Jalan dihutan tengah malam....”
“Hahhhh...?” Yoa terkejut mendengar perkataan Ando. Namun tetap saja dia tidak mengumpulkan Hpnya, dia teringat akan kata-kata ancaman Psycho.
“Canda, yakali setega itu. Hehehe...”
“Dasar kamuuuuuuuu...” Yoa menhela nafasnya lega.
Setelah semua ruangan mengumpul HP masing-masing. Semua murid kemudian mengikuti doa bersama, hingga dilanjutkan makan malam dan sitirahat untuk tidur.
“Heyy kamuu, sudah tidur...?”
“Belom bang....” balas Yoa
“Bagus deng...”
“Bangggg takuttt niihhh....” kekhawatiran seakan menyerang batin Yoa.
“Jangan takut, ada abang kok dek...”
“Ada abang, iya ada memang. Sama aja yang namanya kalo ketahuan akan dihukum...”
“Selawwww...”
“Selaw palamu bang...!” kepanikan masih mendera Yoa. Dia berpikir apa nantinya yang akan terjadi jika benar-benar dia terkena hukuman.
“Kok ngegas...?” Psycho keliatan kesel.
“Siapa...?”
“Kamulah...”
“Siapa yang peduli maksudnya....” Yoa kemudian tertawa karena berhasil mengusili Psycho.
“Lucu...?”
“Apa yang lucu...” tanya Yoa bingung.
“Kamprettt serangan balik...” kesal Yoa.
Hingga basa-basi panjang lebar. Mereka sampai-sampai video call, hingga teman satu kamar Yoa kebingungan menyaksikanya yang asik ngobrol dengan layar HP. Mereka kebingungan mengapa bisa anak itu seberaninya tidak mengumpulkan HP miliknya.
Klakkk
Blakkkkkk...
Pintu kamar Yoa tiba-tiba terbuka, di pintu ia melihat pak Tajuddin yang berdiri dengan tegapnya menatapinya yang asik video call dimeja dekat pintu masuk kamar. Matanya melotot sebesar buah manggis dengan tatapan penuh kemurkaan.
“Kamu ngapain...?”
“Anu pakkk anuu....” Ketakutan yang amat mendalam sepertinya dirasakan Yoa.
“Kamu beraninya tidak mengumpul HP...”
“Buu buu bukan gitu pak...” Yoa mencoba ngeles.
“Sini HP kamu, dan ikut saya sekarang...” pak Tajuddi kemudian berjalan dengan dibuntuti oleh Yoa.
Mereka kemudian berjalan hingga kesebuah ruangan didekat Gereja.
Didalam ruangan Yoa melihati ada seseorang sudah tertunduk diam disana, ternyata dia Psycho. Sepertinya mereka berdua ketahuan tidak mengumpul HP.
“Hebat kalian, ide siapa ini...?” tanya pak Tajuddin.
“........”
“Jawab...! Jangan diam..!” bentak dengan kesal Yoa dan Psycho.
“........”
“Sekali lagi saya tanya, ide siapa ini...?!” dinaikkanya nada bentakanya kepada mereka berdua yang tertunduk berdiam membatu.
“Ide saya pak...” tegak kepala Psycho menatap siguru.
“Kamu lagi Psycho...”
“Maaf pak, jika bapak mau menghukum. Hukum saja saya, jangan libatkan dia...” Psycho sepertinya betul-betul mempertanggungjawabkan kata-kata yang dikeluarkanya ketika membius pikiran Yoa untuk melakukan kesalahan tersebut.
“Tapi kan bang....” potong Yohana pembicaraan.
“Udah jangan tapi-tapi Yoa, kan memang begitu kenyataanya. Aku yang menyuruhmu tidak mengumpulkan HP...”
“Betul Yohana...?” pukul pak Tajuddin kepala Yoa dengan seuntai lidi.
“Betul pak...” pungkas Yoa.
“Yaudah kamu masuk keruangan, biar saya hukum Psycho...”
“Gamau pak, saya juga bersalah. Ini gamurni kesalahan bang Psycho. Jika saya tetap ngumpul pastinya tak bakalan ada masalah malam ini. Saya juga salah, kenapa sebodoh itu mau mengiyakan perkataan bang Psycho.
Jadi kalo mau dihukum, hukum saja kami berdua...” Yoa menatap kedua lelaki tersebut dengan perkataan percaya diri tinggi.
“Yakin...?”
“Siappp, saya yakin pak...”
“Baik kalo begitu, kalian berdua pergi kehutan dekat sana. Silahkan mencari kunang-kunang sebanyak 3 ekor. Jangan kembali kesini sebelum mendapatkanya...” tunjuknya hutan dekat kamar arah timur. Kemudian diberikanya botol dan alat tangkapnya.
“Memang disana ada kunang-kunang pak...” tanya Psycho
“Ada, cari cepat sana...!”
Kemudian Yohana dan Psycho bergerak kearah hutan, hutan tampak gelap nan sunyi. Seketika Psycho menyalakan senter pemberian pak Tajuddin. Langkah demi langkah mereka mencoba memasuki hutan tersebut. Mereka mengintari bebatuan didalam hutan yang gelap itu.
“Sebenarnya ada ga sihh bang...?” Yoa berputar-putar melihati sekelilingnya yang gelap gulita.
“Kita cari aja sampe dapet...”
“Capek nih...” Yoa merengek bersandar dibatu dekat kakinya.
“Sabar Yoa, istirahat aja dulu kalo capek...”
“Haus lagi bang...” sembari melihat jam ditanganya yang sudah menunjukkan pukul 20.00 WIB.
“Sama aku juga, tapi mau bagaimana. Daripada kita gabisa pulang kekaamar masing-masing...” keluh Psycho.
“Sini duduk aja kalo capek bang...”
Psycho kemudian duduk, bersandar dibatu disamping Yoa.
“Yoa....”
“Apa bang...?”
“Gapapa, manggil aja...”
“Ihh resehhh...” kesal Yoa dengan tatapanya.
“Gapapa, biar asik aja...” ‘ “Ehk merem dah Yoa...”
“Mau ngapain...?”
“Merem aja buru...!”
“Jangan nganeh, ini hutan bang...”
“Yaelah, takut amat...”
“Bukan takut, ngingetin aja...”
“Merem udah cepat...” tandas Psycho.
Yohana kemudian menutup matanya, dipikiranya semoga saja setan tak bersua dengan mereka dimalam itu. Secara tempat itu adalah hutan, dia sungguh takut jika hal aneh terjadi bisa mengakibatkan kefatalan yang amat
buruk.
“Sekarang berdiri...”
“Mau kemana sih bang...?”
“Udahh jalan mengikuti arah aku aja...”
“Ingat bang, jangan aneh-aneh loh. Ini hutan...” Yoa mengulangi kekhawatiranya.
Psycho menuntun jalan Yoa kesekumpulan bunga yang mirip bunga Anyelir dibalik pohon yang rindam. Dia menatapi keanggunan wajah Yoa, sangkin berfokus menatapinya batu didepan mata tak dilihat dan hampir membuat kakinya terjungkil lalu membalikkan tubuhnya ketanah.
“Awwww....” desak Psycho.
“Kenapa bang...?”
“Gapapa kok, kesenggol batu aja...”,”Jangan dibuka matanya hehe...” jemari Psycho tetap menutupi mata Yoa.
“Masih lama ga sih...”
“Sebentar lagi nyampe kok...”
“Pegal tau bang kaki Yoa...” keluh Yoa.
__ADS_1
“Waittt... waitt..... Tetap berdiri disini. Kalo aku bilang buka, silahkan buka mata kamu...” Psycho kemudian mendekati sekumpulan
bunga itu.
“Aku hitung sampai 3, dihitungan 3 buka mata kamu...”
“Oke, buruan bang....”
“Satu... Duaaa... Tigaaa....”
Yoa kemudian membuka matanya, didepan kedua matanya dia menyaksikan Psycho menghempas dengan tangan
kananya sekumpulan bunga didepanya. Seketika berib-ribu kunang-kunang beterbangan mengarah keatas langit. Kepalanya menjulang kearah langit menyaksikan kunang-kunang beterbangan, diatas langit beribu bintang juga
selayak tersenyum kepadanya.
“Sungguh indahnya langit itu bang...”
“Seindah kamu Yoa...” mendengarnya Yoa menatapi Psycho berdiri disebelahnya. Sedangkan Psycho berfokus menatap langit, Yoa hanya bisa tersenyum merasakan kebahagian kecil yang diberikan Psycho tersebut.
“Bang aku boleh nanya sesuatu...?”
“Boleh, apaan Yoa...?”
“Tapi jawab jujur, jangan bohong...”
“Iya dijawab jujur kok, tenang...”
“Kalo boleh tau, abang sukanya tipe wanita seperti apa...?” Yoa bertanya sambil menatapi langit indah dimalam itu.
“Kenapa nanya gitu Yoa...?” seketika Psycho merasa syok mendengar pertanyaan Yoa. Matanya menatap tajam Yoa.
“Nanyak aja kok bang..” Yohana tersenyum.
“Kau mau aku jawab jujur atau canda...?”
“Jawab jujurlah...”
“Aku gabutuh wanita yang terlalu bergaya Vulgar, lebih tepatnya mengarah pada wanita yang bergaya natural. Gatau kenapa yah, aku ngerasa kalo wanita yang natural lebih mengagumkan dimataku. Terus, aku gabutuh paras karena nomor satu adalah kesetiaan. Kesetiaan memang gabakalan datang tanpa usaha dan perjuanggan. Seenggaknya kepercayaan satu sama lain adalah langkah awal memulainya. Aku suka wanita yang mandiri, tak cenggeng dan sukanya dimanja-manja, gasuka ngatur-ngatur aku, dan yang terpenting, seorang wanita yang mau berjuang saat susah dan saat senang...” dalam hati, baru kali ini seumur hidup ada wanita mempertanyakan hal tersebut kepadanya.
“Just it...” penjelasan yang memukau itu membuat Yohana terkesima. Secara dia tahu jika Psycho adalah orang yang keras kepala dan terkadang tak bisa mengontrol amarahnya.
“Iya hanya itu, mungkin terlalu berlebihan ya Yoa...”
“Engg...engg... enggak kok bang...” Yohana tersenyum malu.
“Mungkin seleraku yang begitu tinggi mengakibatkan tak ada seorang wanita yang mau mendekatiku sampai sekarang. Mungkin mereka takut aku marah jika nanti mengatur-aturku...”
“Maybee bang...” jawab Yoa singkat.
“Kalo kamu gimana Yoa...?”
“Gimana apanya bang...?”
“Tipe lelaki idamanmu....”
“Jujur, hanya satu tipe lelaki impanku...”
“Bagaimana...?” nampaknya Psycho sungguh penasaran kepada lelaki idaman Yoa. Dipkiranya apakah ada sesuatu tersebut melkat pada dirinya.
“Mau memperjuangkanku sampai maut memisahkan...” bola mata Yoa nampak berkaca-kaca, mungkin dia terbayang akan sesuatu dimasa lalunya.
“Busettttt, jauh amat pemiikiran kamu...”
“Memang iya, aku gabutuh lelaki yang banyak menabur janji-janji. Tapi cukup menanam komitmen didalam dirinya untuk selalu bersama. Just It...”
Mendengar penjelasan itu Psycho bertanya pada dirinya sendiri. Apakah bisa dia menjalankan apa yang diharapkan Yoa jika mereka berdua pacaran nanti. Sedangkan dia adalah tipe orang yang suka mengganti pacar jika tidak merasa nyaman. Pasti berat baginya jika sampai dia membuat Yohana terjatug dalam pelukan dan masuk kedalam kehidupanya, yang ada Yohana akan menangis tak karuan akan hal tersebut.
Mereka berdua kemudian menatap langit bersamaan.
“Ayok balek ke pak Tajuddin Yoa...”
“Kunang-kunangnya bagaimana...?”
“Gausah, selow aja....”
“Gamau ahk, kita tangkap kunang-knangnya dulu bang. Biar bapaknya gamarahin kita...”
“Gausah, buru ayok balek. Keburu tengah malem ini...” Psycho kemudian menarik tangan Yoa.
“Gamau, nanti dimarahin....” Yoa membesarkan nada suaranya.
“Udah gabakalan dimarahin. Sebenarnya dia gamarah kok,
ini semua aku yang ngatur...” Psycho menarik tangan Yoa lalu berjalan.
“Jahat abang ihh...”
“Maaf... maaf... Yoa cantik...” sembari tertawa dan berjalan pulang.
***
Begitulah kemudian mereka menghadap pak Tajuddin yang duduk didepan ruangan dekat Gereja tersebut. Terlihat senyum-senyumn siguru yang bekerja sama dengan Psycho. Hukuman dikala itu hanya alih-alih agar Psycho bisa berduaan diluar dengan Yohana.
Mereka kemudian kembali kekamar masing-masing dan mengistirahatkan diri sendiri.
***
Hari kedua (Last Day)...
Games dilapangan, iya itulah hal yang paling ditunggu-tunggu oleh setiap murid selain meneguhkan iman dan kepercayaan bersama para Pastor. Berani kotor? Siapa takut! . Ibarat begitulah slogan yang pas untuk mendeskripsikanya.
Biasanya semua murid akan dibagi dalam beberapa kelompok, semua anggota kelompok yang dimana akan saling berduel dalam memenangkan setiap permainan yang sudah dipersiapkan. Biasanya akan diberikan pertanda setiap
kelompok, bisa saja tandanya tali dikepala, dilengan, atau warna pada topi.
Kelompok-kelompok disaat itu dibaur antara 12 IPS 1 dan 11IPA 1, tak nampak pula Yoa satu kelompok dengan Psycho atau Adi dengan Vio bahkan Jo dan Udil. Semua terlihat saling berpisah dan bekerja buat masing-masing kelompoknya.
Game demi game dilalui, mereka semua menikmati tiap-tiap permainan dengan semangatnya. Hingga
sampai ke game terakhir, yaitu game Find the human. Yaitu, game yang dimana satu orang akan ditutup matanya dengan kain lalu dia akan dikelilingi oleh beberapa teman-temanya. Yang matanya ditutup disebut sebagai si penjaga, yang dimana kerjanya harus menuju teman yang mengatakan i’m here.
“Setiap kelompok mengirimkan satu wakil untuk bermain...” tegas sipemandu permainan.
Psycho sebagai wakil dari kelompoknya, begitu juga Yoa, Adi sebagai perwakilan kelompoknya, Jo pulaknya. Kemudian semuanya disuruh suit untuk menentukan siapa penjaganya, dan yang menjadi sipenjaga ialah Yohana.
“Start the game...” sipemandu memulai dengan peluitnya.
“I’m here...” tandas Psycho.
Seketika ia mengarah kebarat tempat Psycho, namun masih melangkah tiga kali dari arah timur kemudian Jo mengatakan “I’m here...”
“Semangattttt Yoa... semangat Yoa... semangat... Yoa” sorak semua penonton dengan tepuk tangan yang begitu ramai.
Tak terasa sudah 20 menit lamanya Yoa ditengah lingkaran teman-temanya sebagai penjaga. Iya nampak lelah dan mulai lemas.
“I’m here Yoa...”
Suara itu terdengar seperti tak aneh dikuping Yoa, seakan suara itu terus-menerus membisik ditelinganya. Benar, suara itu dari arah barat. Dia kemudian memantapkan langkahnya untuk menuju kearah tersebut, semua
suara yang mengatakan “i’m here” dari seluruh arah seakan tak terdengar sedikitpun olehnya. Seakan hanya memiliki satu arah tujuan, kearah Psycho. Semua mata melihati Yoa yang berjalan lurus kehadapan Psycho, begitu juga denganya yang tak menyangka akan hal konyol tersebut. Entah sedang dimabuk angin siang atau bermimpi apa dia, hingga segila itu hanya menganggap satu arah jalan, pada Psycho.
Ketika hendak mendekati Psycho, kaki Yoa kesandung ember berisi air dekat Psycho. Dia hapir terjatuh ketanah, namun dengan sigap Psycho yang melihat hal itu menahan tubuhnya dengan kedua tanganya.
“Aduhhhh...” desah Yoa.
“Untung gak tesungkur ketanah kan...”,
“Bisa encok tuh semua badan...” tegas Psycho.
Psycho yang memegangi tubuh Yoa kemudian membukakan kain penutup matanya, wajah Yoa pucat dan bola matanya kelihatan lelah. Bibir merahnya menjadi agak keputihan.
“Demammm...”,
“Yohana demam pak..” Psycho sepertinya khawatir setelah memegangi jidat Yohana.
“Ahhhhh...” Yoa melemaskan badanya dipangkuan Psycho.
“Buru bantu angkat dia kekamarnya...”
“Ayo teman-teman lainya bantu angkat...” seru sang pembina.
Kemudian para murid beramain-ramai merangkul tubuh Yoa kedalam kamarnya, Vio khawatir dengan Yoa.
Dia kemudian menemaninya didalam kamar.
“Kamu kok lemes sih...”
“Maklum Vio, ini pertama kalinya aku ikut beginian...”
“Dasar kaum lemah...!” Vio kemudian meledek temanya tersebut dengan lidahnya.
“Iya iya kaum superhero...”
“Hehe baper amat buk...”
“....” Yoa sepertinya betul-betul ngambek, sampai dia membalikkan badan diatas ranjang membelakangi
Vio.
Tokkk tokkk tokkk...
“Masuk...”
“Ini minum obat dulu kamunya..” Psycho memberikan botol obat dan minuman yang ada digenggamanya.
“Makasih bang...” dengan raut wajah kesal.
“Kenapa kamu, kok mukanya seperti kesal gitu...?”
“Gapapa...”
“Halah alesan, bilang aja marah ama aku...” Vio kembali mengejek temanya tersebut.
“Ihhh Vio daritadi ngejek mulu dah...”
“Sudah Yoa, jangan ngambekan biar cepat sembuhnya. Ntar sore kita mau balek soalnya...”
“Iya siappp pak boss...” hormatinya Psycho dengan tangan diatas mata.
Kemudian Yohana mengistirahatkan tubuhnya ditemani Vio, sedangkan murid lainya kembali bermain
dilanjutkan doa Safaat sebelum mengakhiri Outbond dan kembali lagi pulang ke kota Medan.
Tepat jam 17.30 WIB, semua murid dikumpulkan. Mereka dihimbau mengemas semua barang-barangnya. Sebelum
mereka semua kembali, sebagian murid ada yang berfoto-foto mengabadikan moment, ada pula yang membeli souvenir ditoko khusus tempat tersebut.
Setelah semuanya sudah, bus kemudian berjalan menuju pulang.
Tak terasa waktu berjalan, setelah menempuh jarak berjam-jam. Akhirnya bus tiba didepan sekolah.
“Semua murid bawa barang masing-masing, semua boleh kembali kerumah...” tegas bu Bernadette.
Dengan merangkul tas masing-masing semua murid berpulangan satu per satu.
“Yoa pulang sama siapa...?” tanya Psycho.
“Dijemput sama papa...”
“Udah dikabarin papanya...?”
“Belom sih bang, ini mau ngabarin dulu...”
“Gausah, sini barengan aku aja...”
“Gaenaklah, kan abang juga kecapan pastinya...”
“Santuyyy...” , ”Naik sini...!”
“....” Yoa kemudian menaiki motor Psycho dengan mengemban rangsel dipundaknya.
“Mari duluan Vio, Adi...” tegur Psycho.
“Yokkk hati-hati kalian...” sapa balek Adi.
Ditengah perjalanan...
“Gausah sungkan-sungkan, dipeluk aja...”
“Tak usah bang...” Yoa terkesima malu.
“Yakin...? nanti jatuh kamu...”
“Gapapa nih bang...?” tangan Yoa kemudian memeluk erat bagian perut Psycho.
“Nahhh gitu dong...” , “Jadi hangat kan...”
“Iya bang hehehe...”
Beberapa menit kemudian...
“Sudah sampai rumah kamu...”
“Makasih banyak bang...” Yoa kemudian turun dari motor.
“Sama-sama...”
“....” Yohana kemudian melangkah pergi.
“Yohana sebentar...”
“Kenapa bang...?” tanya Yoa bimbang.
“Sini dulu kamu...” Yohana sembari mendekat kearah Psycho.
“Kamu cantik hari ini...” dielusnya rambut tepat diatas kuping Yohana. Ditatap dengan senyuman si gadis rewel tersebut.
“Ihkk abang...” Yoa merasa digombal.
“Yasudah masuk, langsung istirahat...”
“Siappp komandan...” lagi-lagi Psycho dihormati seperti tiang bendera disekolahnya.
__ADS_1
Psycho kemudian pergi meninggalkan Yohana yang masih berdiri tersipu dengan perhatian dan gombalanya dimalam itu. Dia tersenyum bahagia bisa diperhatikan sedmikianya oleh Psycho.