
“Bagaimana kita bisa berjodoh, jika saat ini kau masih menilai apa negatif dan salah didiriku?”
***
Hari pertama jadian...
Dering jam alarm Yohana bergetar dengan kencang tepat disamping telinganya. Dengan perasaan setengah sadar dan muka yang masih rada-rada ngantuk, dimatikanya alarm tersebut. Tubuhnya masih terbaring ditempat tidur sembari mengambil HP diatas meja.
“Selamat pagi, Yoa sayang. Keep spirit...” , “Aku tunggu pagi dikantin...” tulis pemberitahuan pesan masuk Psycho dilayar HP.
Seakan tak menyangka, diusapnya kedua bola mata dan mencubit pipinya.
“Selamat pagi juga, sayang. Siap meluncur segera...” balasnya.
Meyakinkan bahwa saat itu dia sedang tak bermimpi. Setelah mengetahui bahwa semuanya nyata, dia bangkit dari kasur dengan senyum bahagia. Kemudian bergegas beres-beres mempersiapkan diri kesekolah.
Setelah siap merias diri, dia berlari menuruni tangga.
“Ma.. Pa... Yoa berangkat dulu...” salimnya dengan gerakan terburu-buru.
“Gaserapan dulu...?
“Gausah Ma, nanti aja dikantin. Ada urusan pagi ini...”
“Seenggaknya minum dulu ini susunya Yoa...”
“....” diminumnya susu diatas meja dan kemudian langsung kabur menuju mobil.
“Ayoo pak Andre, buru-buru nih...” bukanya pintu mobil.
“Iya siap non...”
“Ngebet ya pak...”
“Mau kemana sih non...? tumben amat, biasanya juga telat masih santai aja...” pak Andre keheranan.
“Jalan aja buru pak...”
***
Sesampainya disekolah, Yoa kemudian langsung membuka pintu mobil dan langsung berlari menuju kantin sekolah. Dia menatapi setiap sudut kantin, melihat dimeja mana Psycho berada. Dan disudut Timur, duduk
menyendiri..
“Hello abang...” sapa Yoa yang berdiri didepan Psycho.
“Jangan sapa abang, mohon...”
“Biar kelihatan sopan...” pungkas Yoa.
“Biar lebih sopan panggil aja sayang, sopan secara adat berpacaran....” Psycho kemudian tertawa.
“Ada-ada aja kamu, sayeanggggggggg...”
“Silahkan duduk, My Quenn...”
“Biasa aja, gausah gombal lah...”
“Gapapalah, pacar sendiri kok..” Psycho kemudian tersenyum.
“Sebentar aku pesan makanan dul...” Yoa kemudian menuju tempat makanan.
“Okeee i’m waitt....”
Setelah makanan pesananan Yoa datang, mereka kemudian serapan bersamaan. Dimeja yang kursinya ada empat. Pas dengan dua kursi buat Yohana dan Psycho, sedangkan dua lagi buat bayangan mereka berdua.
“Ehhh btw...”
__ADS_1
“Kenapa...?” jawab Yoa yang acuh tak acuh karena keasyikan melahap makananya.
“Aku ingin menanyakan sesuatu padamu...”
“Penting emang pertanyaanya...?” masih seakan tak acuh.
“Penting... penting sekali...”
“Emang apaan sih sayang...” Yoa menghentikan makan seketika.
“Aku cuman mau nanya, apa nantinya harapanmu kedepanya akan hubungan kita. Lalu apa pula yang tidak kamu sukai ketika saat pacaran...” tanya Psycho dengan muka serius.
“Apaansih, kok nanyak begituan...”
“Mau tau aja, kan wajar masih hari pertama jadian...”
“Nahhh trusss...?”
“Aku hanya takutnya nanti pacaran tanpa ada arah dan tujuan, ya taulah ujung-ujungnya berantam lalu udahan...”
“Yahhh harus dijawab ya sayang...”
“Sangatttt sangattt, dengan sangatt...”
“Tunggu kupikirkan 5 menit dulu...”
Lima menit kemudian...
“Hmmmm, kalo harapnya dengan kita pacaran gini bisa saling menyemangati antara satu sama lain. Maksudnya ya, kalo aku lagi bete atau ada masalah seenggaknya bisa menghilangkanya dengan konsultasi pada pacar sendiri...”
”Hanya itu...”
“Iya hanya itu...” sinis Yoa dengan jawabanya.
“Mana mungkin secuil itu...” seperti tak ada keyakinan dihati Psycho.
“Menyemangati...” tanya Psycho.
“Iya menyemangati...” tatap Yoa seakan ada yang aneh.
“Kalo hanya untuk menyemangati temanmu bisa, keluarga atau dirimu sendiri...” pungkas Psycho singkat.
“Teman, keluarga, diri sendiri...? semua punya takaran yang berbeda-beda dalam menyemangati. Lalu pacar...? bisa saja dia menjadi suatu penyemangat yang berbeda dari yang lain...”
“Baguslah kalo begitu...” Psycho tersipu takjub akan jawaban Yoa.
“Kalo kamu gimana...” tanya Yoa balek.
“Hanya sedikit inginku, cukup ada saat kita susah dan senang. Jangan lari ketika sedang kesusahan dan
berada dihubungan ini saat senangnya aja. Memulai bersama dan kalo bisa mengakhiri bersama juga...”
“Mengakhiri bersama, maksudnya...” Yohana kebingungan dengan penjelasan itu.
“Iya, mengakhiri bersama. Jangan pernah mengucap kata udahan saat sudah tak ada hatimu dihubungan ini, sedangkan hatiku masih dengan kita. Begitu juga sebaliknya, aku cuman tak mau nanti ada sakit hati yang cukup mendalam dan tak berkesudahan...”
“Tapi kan kalo memang hati sudah tak ada untuk hubungan tersebut, apa mungkin haruslah dipaksakan...?”
“Betullll, tapi buat apa memulai kalo masih mengkehendaki hal demikian...?”
“Hati kalo dipaksakan juga bakalan gabagus kedepanya bang...” Yoa mulai serius.
“Ohhh begitu, jadi sekarang kau bukanya memaksakan membuka perasaan sayang akan hubungan kita, kedepanya gabakalan bagus dong kitanya...? didalam hatimu tak mungkin langsung sayang kan, seenggaknya masih rasa suka. Pertama pacaran, maklum saja. Seenggaknya hubungan kita menjadi baik dan buruk tergantung bagaimana kita sendiri memperlakukanya...”
“Hmmm iya sih...”
“Jadi bagaimana, setuju...?”
__ADS_1
“Setuju untuk apa bang...?”
“Susah senang selalu bersama, menutup rapat-rapat niat meninggalkan satu sama lain...”
“Okeee kalo begitu aku berjanji...”
“Jangan...”
“Jangan apa...” kerut muka Yoahana bingung.
“Aku tak suka sebuah janji...” tegas Psycho.
“Mengapa demikian...”
“Janji tanpa berpikir dengan hati yang jujur hanya akan mengakibatkan bencana...”
“Bencana..? bencana banjir apa iya...” sangkal Yoa dengan tersenyum benrcanda.
“Jangan bercanda, aku sedang serius. Kmu kalo hanya mengucap-ucap janji, tapi nantinya kedepan tidak mau mengkehendakinya dengan komitmen dalam diri. Hanya akan menjadikan banjir, banjir airmata...!”
“....” Yohana tertunduk diam. Dia merasa terserang akan kata-kata Psycho barusan.
“Yaudah kita jalankan kedepanya dengan sebaik mungkin, mari menjalankan seperti air mengalir.
“Semoga, ya...”
“Semoga apa Yoa....?”
“Semoga kita dapat saling menyemangati...”
“Ohh begitu hehe...”
Mereka berdua kemudian hening. Yohana melanjutkan makananya namun Psycho duduk diam termenung. Seperti ada yang sedang dipikirkanya.
“Mengapa...” tanya Yoa yang melihati Psycho yang terdiam.
“Mengapa apanya...”
“Raut wajahmu, sepertinya sedang ada yang kau pikirkan...”
“Tidak ada kok...” jawabnya sambil senyum.
“Tidak mungkin, kalo ada sesuatu katakan aja sekarang sayang...” Yohana mencoba menggombalnya mengeluarkan uneg-uneg dihatinya.
“Aku ingin kita saling percaya...”
“Percaya...?” tanya Yoa.
“Iya, saling percaya satu sama lain. Tidak ada rasa cemburu, khawatir dan tidak ada kecuriaan...”
“Tapi aku orangnya cemburuan dan khawatir. Lalu bagaimana...”
“Tapi aku tidak suka pacarku yang posesif, bagaimana juga dengan itu...” tanya balik Psycho.
“Bukan begitu...”
“Sudah, buang pemikiran itu untukku, percaya aja aku akan menjaga hati dengan baik...” ditutupnya mulut
Yoa dengan jari telunjuk.
“Iya, akan kuusahakan. Tapi jangan marah jiika aku tak mampu...” ditariknya tangan Psycho keatas meja.
“Mampukan, mohon...”
“Iya, semoga saja bisa...” jawab Yoa dengan muka penuh meyakinkan.
Mereka kemudian melanjukan makananya, hingga bunyi bel berbunyi. Tampak tidak ada lagi topik pembicaraan yang mereka bahan. Meja, kursi, sendok, saos dan kecap menjadi saksi bisu akan kesepakatan akan semua yang mereka ucapkan.
__ADS_1