Cinta & Logika

Cinta & Logika
Episode 2 One Shoot one Kill...!


__ADS_3

“Untuk apa memulai cinta kalo masih  ada menanam dibenak akan mengakhirinya”


Tengg tengg tengg... Bel istirahat seketika berbunyi...


“Yoa kekantin skuy...” ajak Vio


“Boleh sih Vio, tapi aku mesan minum aja yah, soalnya aku bawa botot nih”


Yoa dan Vio sembari keluar kelas berjalan menuju lorong tempat biasa anak-anak


sekola menuju kantin sekolah.


Hanya satu lorong disekolah itu, itupun hanya khusus lorong menuju


kekantin. Yahhh tempat biasanya banyak anak laki-laki nongkrong didalam lorong


sambil menggoda para wanita yang hendak menuju kantin.


Langkah demi langkah mereka menuju kantin sekolah, namun masih kira-kira 10


meter menuju lorong nampak kekhawatiran dimuka Vio.


“Lah Vio kau kenapa sih?” tanya Yoa yang melihat kegugupan yang terpanjar


dimuka Vio “Kok kamu juga kek gemetaran gitu?”


“Gagagagak gaaaa gapapa kok Yoa” tiba-tiba saja Vio gagap berbicara.


“Katanya sok sokan gapapa, tapi mukanya ketat kek karet Bra” Yoa semakin


merasa aneh melihat tingkah Vio.


“Sebenarnya aku takut lewat lorong Yoa, aku takut ketemu


Setan dilorong itu”


“Whattt? Siang bolong gini emang ada Setan?” “ Yakali


Viooooooooooooooo” Yoa nampak kesal melihat tingkah teman sebangkunya yang


tiba-tiba aneh itu.


“Balek kelas aja yok Yoa, next aja kita kekantin deh”  sembari menarik pergelangan tangan Yoa. Vio


berlari seperti betul-betul dikejar oleh setan sungguhan.


Entah apa yang membuat Vio disiang itu seperti ketakutan.


Padahal dia yang mengajak Yoa kekantin tapi malah ia juga tiba-tiba mengcancel


agar mereka balek kekelas. Hingga beberapa menit kemudian tibalah mereka berdua


didepan kelas.


“Tunggu dulu ihhh Vio! Kau kenapa sih, kok aneh banget


dah?!”


“Nih aku jelasin yah, tadi aku melihat dilorong itu ada


Udl dan Jo lagi ngobrol berdua. Aku takut Psycho maraih dan bentak-bentak aku


dilorong itu” dengan nafas seperti dihela terbata-bata ia menjeaskan penyebab


ketakutanya.


“Takutnya sama Psycho, yang diliat Udil sama Jo. Gimana


sih kamu?!” tangan Yoa yang tak terkontrol menepuk jidat Vio.


“Tapi bisanya dimana ada Udil dan Jo disitu ada Psycho


Yoa, makanya aku takut banget tadi”


“Emang ada masalah apasih kamu sama mereka?” tanya Yoa


dengan bingung.


“Kemaren Psycho nyuruh aku beliin minum dikantin, tapi


aku malah gabeliin lalu kabur diam-diam dari kantin” jawab Vio dengan


gundahnya.


Ketika mereka berdua asyik berdebat gank GSJ atau Gery,


Santo, dan Jay nampaknya sedang menuju kedalam kelas. Seperti biasa semua orang


yang mereka lewati biasanya akan dibuat tertawa akan tingkah iseng mereka.


“Ngapai klen berdua berdiri disini Vio...?” mulutnya


memang menyebut nama Vio tapi tatapanya dengan tegap tertuju pada Yoa.


“Mataaaaa dijaga mataaa woiiii...” tangan Vio kemudian


menutup kedua mata Jay yang genit itu.


“Lihat Psycho ga tadi dilorong...?” tanya Vio


“Gada, lihatnya seorang bidadari tepat dikedua bola mata

__ADS_1


aku” sampang Gery dengan candanya.


“Serius Bang Ke..!” kali ini  kepala gery yang dijitak Vio.


Gery yang nampaknya kesal dengan ketidakenakan dihati


akibat palanya ditijak kemudian berkata lagi “Memang serius dia ga ada, cuman Udil dan Jo  aja tadi aku lihat. Katanya Psycho ditahan diruangan Kepala Sekolah karena tadi pagi mencaci pak Agus”


“Duhhh syukurin kamu” ceplos Vio dengan judasnya sambil


tertawa.


“Tapi tangan jangan maju kalee lah, bapakku ajagapernah


jitak palaku ini kau maju kale kuliat bah!” Gery yang agak kesal kemudian


menjitak balek Vio sembari lari masuk kedalam kelasnya.


Beberapa menit setelahnya bel petanda istirahat sudah


selesai berbunyi. Mereka kemudian msuk kekelas dan langsung duduk dibangku


masing-masing.


***


Tak lama kemudian, proses belajar mengajar dimulai. Pak


Sobo Sitorus AKm.MM yang merupakan guru Matematika memulai pembelajaran. Alih


demi alih bukanya memperhatikan siguru yang sedang mengajar, Yoa malah asik


merenung sambil mempermainkan pulpen yang ada ditanganya. Ia masih heran dan


memikirkan akan hal apa yang membuat Vio begitu takutnya dengan orang yang


bernama Psycho tersebut dan mengapa bisa ada seorang siswa yang berani mencaci


satpam sekolah. Vio yang melihat tingkah aneh teman sebangkunya itu kemudian


mengusilinya dengan bersin tepat didepan mukanya “Accciimmmmmmmm...” bersin


dengan penuh tertawa kebahagiaan.


Beberapa tetesan air liur Vio nampaknya merambah kemuka


Yoa. Dia yang merasa kesal dengan ulah temanya itu lalu membalasnya dengan


tingkah jorok pula. Ditariknya tangan Vio lalu dimasukkan jari-jari tengah Vio


kedalam lobang hidungnya. Mereka kemudian terbahak-bahak sendu dengan nada


pelan. Lagi seriusnya belajar, Yoa malah mengajar Vio berbisik-bisik risih.


yang penuh dengan kepoanya bertanya pada Vio.


“Kamu pengen tau...?” , “Ceban duluuuuuu...? Info itu


memiliki nilai jual karena salah duanya pengetahuan” Vio kemudian terkekeh.


“Paansih, segala bayar amat ini orang” Yoa sedikit


jengkel karena itu. “Tapi serius Vio, kok bisa kamu setakut itu sama dia dan


sampai-sampai dia berani melawan lalu mencaci pak Agus..?”


“Kau mau tau gimana dia..? orangnya Arogan, Tempramental


dan tingkat Emosinya tak terbatas. Muka datar disetiap waktu, semua yang


dilihanya seakan tergambar sebagai musuh yang siap diterkam kapan saja. Hanya


saja sih, kuakuin jika ketampananya selevel diatas Zayn Malik. Semua siswa


disekolah ini tidak ada yang mau berurusan denganya, tak seorangpun. Yaaa wajar


aja sih, dia anak pemilik Yayasan sekolah. Jadi gausah heran Yoa kalo dia


seberani itu mencaci maki pak Agus..” dengan sedetail mungkin Vio menceritakan


sang Setan tersebut. Yoa nampaknya hanya bisa menikmati semua biodata singkat


tentang Psycho yang coba dijabarkan oleh Vio.


Yoa hanya tercengangang mendengar semua wacana yang


keluar dari mulut Vio tenteng Psycho. Namun dalam hati dia masih penasaran akan


dimana letak mata, hidung dan bagaimana bentuk mulut dari Psycho.


Tak terasa sangkin asyiknya negrumpiin Psycho waktu


belajar dikala itu sudah habis dan bel pulang sekolah sudah berbunyi. Mereka


berdua kemudia merapikan kbuku-bukunya kedalam tas masing-masing. Mereka berdua


dengan santainya berjalan berdua menuju gerbang sekolah. Namun entah apa yang


membuat, mereka melihati gerbang sekolah sedang dikerumuni keramaian para


siswa-siswi yang  sedang berdiri seperti

__ADS_1


menontoni sesuatu.


“Ada apasih disana Vio, kok rame banget. Bukanya pada


pulang kok malah ramai-ramai berdiri kek mau demo pemerintah aja” tanda tanya


penuh kebingungan jelas dari cara bicara Yoa.


“Gatau, lihat aja ayokk...” mereka kemudian berjalan ke TKP.


Namun ternyata benar, ada sesuatu terjadi didepan pintu


gerbang sekolah. Diatas motor gedenya, Psycho memebntak-bentak Pak Agus. Malang


memang keliatanya sisatpam dihari itu, mukanya kusut dan rada ketakukan.


Mungkin pak Agus yang menyebabkan Psycho satu harian ditahan dikantor Kepsek


akibat kejadian dipagi itu.


Mereka melihat sang Singa sedang mengamuk disana, dengan penuh keganasan


bersorak dengan nada Bass. Seperti layaknya sang Raja Hutan yang sedang murka


akibat diganggu ketenangannya.


“Itu siapa..?” tanya Yoa penasaran.


“Dia, Singa yang aku ceritakan...” jawab Vio dengan muka agak ketakutan.


“Ngamuk sih ngamuk, tapi jangan ngegangg orang buat


pulang juga kali..” “Ayok kite terobos! Kita pulang..” Yoa menarik tangan Vio, namun Vio nampaknya masih ketakutan.


“Jangan...Jangannn...! nanti dia bisa semakin marah Yoa.


Biasanya kalo dia lagi marah gitu gableh lewat, karena bisa ngebuat dia makin


emosi” Vio mencoba menahan Yoa agar tidak melewati gerbang.


Entah apa yang merasuki Yoa saat itu, otaknya seperti


membatu dan ditelingnya hanya seakan terlintas masuk kanan dan keluarr kiri


akan semua perkataan Vio. Dengan kepala tegap dia berjalan dan keluar gerbang.


“Permisi...permisi... saya numpang lewat mau pulang...” dengan muka tanpa merasa bersalah Yoa lewat begitu saja.


“Woi orang hebattttt... yaaa... yaaa... yaaaaa...


Sepertinya saya baru kali ini melihat bocah tengil satu ini” Psycho nampaknya tidak suka karena Yoa lewat begitu saja ketika dia sedang melampiaskan emosinya.  Kemudian dia menarik tangan kanan Yoa.


“Apaansih... sakit tauuu...!” Yoa nampaknya kesal dan menghempaskan tarikan tangan Psycho.


“Kamu kenapa sok jagoan lewat... Hahhhhh?!” bentak Psycho dengan nada penuh agak tinggi.


“Salah..? ini gerbang sekolah. Jalan satu-satunya buat pulang. Dan semua orang berhak keluar dari sini disaat waktu sudah pulang sekolah...!!!


” Yoa yang merasakan pergelangan tanganya sakit kemudian menjawab


dengan nada tinggi.


“Wadawwwwww kamu mau saya buat seperti orang ini?”


terntuk Psycho tertuju pada Pak Agus. “Mau saya permalukan didepan banyak


orang, saya cacimaki... mau...? hahh..?” dengan senyuman pelecehan dia ngomong dan tanganya tepat memegangi bibir Yoa.


*“Plakkkkkkk...*” dihempaskanya tangan Psycho. “Kamu memang


anak yang punya Yayasan, tapi kamu tidak bisa juga semena-mena sama semua orang


disekolah ini. Tolong ahklak dan hati nurani digunakan, Tuhan tak akan


menciptakan hati sekeji hatimu tanpa kamu sendiri yang menginginkanya. Semua


hati itu pada dasarnya baik..!” Yoa membalas semua perkataan Psycho yang


menyerangnya dengan halusnya.


Semua mata orang yang ada disaat itu tertuju pada aksi


Yoa yang sangat berani melawan semua perkataan singanya sekolah itu. Selama ini


memang tidak ada satupun siswa bahkan guru yang berani berbicara seperti itu pada Psycho


Psycho yang mendengar perkataan Yoa hanya bisa terdiam


dengan wajah kesalnya. Dia kemudian menghidupkan motorrnya lalu mengeber tepat didepan Yoa sembari dia meninggalkan gerbang sekolah.


“Kamu kenapa begitu, aduhh ini masalah bakalan tamba kacau dan berkelanjutan” Vio menghampiri Yoa.


“Aku gatakut, sedikitpunn. Orang aku gamerasa bersalah


sama dia kok. Wajar aja dia ngegas aku ngegas balek. Remember, tak ada satupun


manusia yang perlu ditakuti Vio..” dengan nada pelan Yoa seakan meyayinkan Vio


supaya tidak merasa takut.


“Hmm serah kamu deh, hati-hati aja hari besok...” Vio hanya bisa menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Dari pos satpam pak Agus yang merasa senang melihat


Psycho disangkal oleh orang seperti Yoa. Didalam benaknya berkata “One Shoot One Kill...”


__ADS_2