
“Untuk apa memulai cinta kalo masih ada menanam dibenak akan mengakhirinya”
Tengg tengg tengg... Bel istirahat seketika berbunyi...
“Yoa kekantin skuy...” ajak Vio
“Boleh sih Vio, tapi aku mesan minum aja yah, soalnya aku bawa botot nih”
Yoa dan Vio sembari keluar kelas berjalan menuju lorong tempat biasa anak-anak
sekola menuju kantin sekolah.
Hanya satu lorong disekolah itu, itupun hanya khusus lorong menuju
kekantin. Yahhh tempat biasanya banyak anak laki-laki nongkrong didalam lorong
sambil menggoda para wanita yang hendak menuju kantin.
Langkah demi langkah mereka menuju kantin sekolah, namun masih kira-kira 10
meter menuju lorong nampak kekhawatiran dimuka Vio.
“Lah Vio kau kenapa sih?” tanya Yoa yang melihat kegugupan yang terpanjar
dimuka Vio “Kok kamu juga kek gemetaran gitu?”
“Gagagagak gaaaa gapapa kok Yoa” tiba-tiba saja Vio gagap berbicara.
“Katanya sok sokan gapapa, tapi mukanya ketat kek karet Bra” Yoa semakin
merasa aneh melihat tingkah Vio.
“Sebenarnya aku takut lewat lorong Yoa, aku takut ketemu
Setan dilorong itu”
“Whattt? Siang bolong gini emang ada Setan?” “ Yakali
Viooooooooooooooo” Yoa nampak kesal melihat tingkah teman sebangkunya yang
tiba-tiba aneh itu.
“Balek kelas aja yok Yoa, next aja kita kekantin deh” sembari menarik pergelangan tangan Yoa. Vio
berlari seperti betul-betul dikejar oleh setan sungguhan.
Entah apa yang membuat Vio disiang itu seperti ketakutan.
Padahal dia yang mengajak Yoa kekantin tapi malah ia juga tiba-tiba mengcancel
agar mereka balek kekelas. Hingga beberapa menit kemudian tibalah mereka berdua
didepan kelas.
“Tunggu dulu ihhh Vio! Kau kenapa sih, kok aneh banget
dah?!”
“Nih aku jelasin yah, tadi aku melihat dilorong itu ada
Udl dan Jo lagi ngobrol berdua. Aku takut Psycho maraih dan bentak-bentak aku
dilorong itu” dengan nafas seperti dihela terbata-bata ia menjeaskan penyebab
ketakutanya.
“Takutnya sama Psycho, yang diliat Udil sama Jo. Gimana
sih kamu?!” tangan Yoa yang tak terkontrol menepuk jidat Vio.
“Tapi bisanya dimana ada Udil dan Jo disitu ada Psycho
Yoa, makanya aku takut banget tadi”
“Emang ada masalah apasih kamu sama mereka?” tanya Yoa
dengan bingung.
“Kemaren Psycho nyuruh aku beliin minum dikantin, tapi
aku malah gabeliin lalu kabur diam-diam dari kantin” jawab Vio dengan
gundahnya.
Ketika mereka berdua asyik berdebat gank GSJ atau Gery,
Santo, dan Jay nampaknya sedang menuju kedalam kelas. Seperti biasa semua orang
yang mereka lewati biasanya akan dibuat tertawa akan tingkah iseng mereka.
“Ngapai klen berdua berdiri disini Vio...?” mulutnya
memang menyebut nama Vio tapi tatapanya dengan tegap tertuju pada Yoa.
“Mataaaaa dijaga mataaa woiiii...” tangan Vio kemudian
menutup kedua mata Jay yang genit itu.
“Lihat Psycho ga tadi dilorong...?” tanya Vio
“Gada, lihatnya seorang bidadari tepat dikedua bola mata
__ADS_1
aku” sampang Gery dengan candanya.
“Serius Bang Ke..!” kali ini kepala gery yang dijitak Vio.
Gery yang nampaknya kesal dengan ketidakenakan dihati
akibat palanya ditijak kemudian berkata lagi “Memang serius dia ga ada, cuman Udil dan Jo aja tadi aku lihat. Katanya Psycho ditahan diruangan Kepala Sekolah karena tadi pagi mencaci pak Agus”
“Duhhh syukurin kamu” ceplos Vio dengan judasnya sambil
tertawa.
“Tapi tangan jangan maju kalee lah, bapakku ajagapernah
jitak palaku ini kau maju kale kuliat bah!” Gery yang agak kesal kemudian
menjitak balek Vio sembari lari masuk kedalam kelasnya.
Beberapa menit setelahnya bel petanda istirahat sudah
selesai berbunyi. Mereka kemudian msuk kekelas dan langsung duduk dibangku
masing-masing.
***
Tak lama kemudian, proses belajar mengajar dimulai. Pak
Sobo Sitorus AKm.MM yang merupakan guru Matematika memulai pembelajaran. Alih
demi alih bukanya memperhatikan siguru yang sedang mengajar, Yoa malah asik
merenung sambil mempermainkan pulpen yang ada ditanganya. Ia masih heran dan
memikirkan akan hal apa yang membuat Vio begitu takutnya dengan orang yang
bernama Psycho tersebut dan mengapa bisa ada seorang siswa yang berani mencaci
satpam sekolah. Vio yang melihat tingkah aneh teman sebangkunya itu kemudian
mengusilinya dengan bersin tepat didepan mukanya “Accciimmmmmmmm...” bersin
dengan penuh tertawa kebahagiaan.
Beberapa tetesan air liur Vio nampaknya merambah kemuka
Yoa. Dia yang merasa kesal dengan ulah temanya itu lalu membalasnya dengan
tingkah jorok pula. Ditariknya tangan Vio lalu dimasukkan jari-jari tengah Vio
kedalam lobang hidungnya. Mereka kemudian terbahak-bahak sendu dengan nada
pelan. Lagi seriusnya belajar, Yoa malah mengajar Vio berbisik-bisik risih.
yang penuh dengan kepoanya bertanya pada Vio.
“Kamu pengen tau...?” , “Ceban duluuuuuu...? Info itu
memiliki nilai jual karena salah duanya pengetahuan” Vio kemudian terkekeh.
“Paansih, segala bayar amat ini orang” Yoa sedikit
jengkel karena itu. “Tapi serius Vio, kok bisa kamu setakut itu sama dia dan
sampai-sampai dia berani melawan lalu mencaci pak Agus..?”
“Kau mau tau gimana dia..? orangnya Arogan, Tempramental
dan tingkat Emosinya tak terbatas. Muka datar disetiap waktu, semua yang
dilihanya seakan tergambar sebagai musuh yang siap diterkam kapan saja. Hanya
saja sih, kuakuin jika ketampananya selevel diatas Zayn Malik. Semua siswa
disekolah ini tidak ada yang mau berurusan denganya, tak seorangpun. Yaaa wajar
aja sih, dia anak pemilik Yayasan sekolah. Jadi gausah heran Yoa kalo dia
seberani itu mencaci maki pak Agus..” dengan sedetail mungkin Vio menceritakan
sang Setan tersebut. Yoa nampaknya hanya bisa menikmati semua biodata singkat
tentang Psycho yang coba dijabarkan oleh Vio.
Yoa hanya tercengangang mendengar semua wacana yang
keluar dari mulut Vio tenteng Psycho. Namun dalam hati dia masih penasaran akan
dimana letak mata, hidung dan bagaimana bentuk mulut dari Psycho.
Tak terasa sangkin asyiknya negrumpiin Psycho waktu
belajar dikala itu sudah habis dan bel pulang sekolah sudah berbunyi. Mereka
berdua kemudia merapikan kbuku-bukunya kedalam tas masing-masing. Mereka berdua
dengan santainya berjalan berdua menuju gerbang sekolah. Namun entah apa yang
membuat, mereka melihati gerbang sekolah sedang dikerumuni keramaian para
siswa-siswi yang sedang berdiri seperti
__ADS_1
menontoni sesuatu.
“Ada apasih disana Vio, kok rame banget. Bukanya pada
pulang kok malah ramai-ramai berdiri kek mau demo pemerintah aja” tanda tanya
penuh kebingungan jelas dari cara bicara Yoa.
“Gatau, lihat aja ayokk...” mereka kemudian berjalan ke TKP.
Namun ternyata benar, ada sesuatu terjadi didepan pintu
gerbang sekolah. Diatas motor gedenya, Psycho memebntak-bentak Pak Agus. Malang
memang keliatanya sisatpam dihari itu, mukanya kusut dan rada ketakukan.
Mungkin pak Agus yang menyebabkan Psycho satu harian ditahan dikantor Kepsek
akibat kejadian dipagi itu.
Mereka melihat sang Singa sedang mengamuk disana, dengan penuh keganasan
bersorak dengan nada Bass. Seperti layaknya sang Raja Hutan yang sedang murka
akibat diganggu ketenangannya.
“Itu siapa..?” tanya Yoa penasaran.
“Dia, Singa yang aku ceritakan...” jawab Vio dengan muka agak ketakutan.
“Ngamuk sih ngamuk, tapi jangan ngegangg orang buat
pulang juga kali..” “Ayok kite terobos! Kita pulang..” Yoa menarik tangan Vio, namun Vio nampaknya masih ketakutan.
“Jangan...Jangannn...! nanti dia bisa semakin marah Yoa.
Biasanya kalo dia lagi marah gitu gableh lewat, karena bisa ngebuat dia makin
emosi” Vio mencoba menahan Yoa agar tidak melewati gerbang.
Entah apa yang merasuki Yoa saat itu, otaknya seperti
membatu dan ditelingnya hanya seakan terlintas masuk kanan dan keluarr kiri
akan semua perkataan Vio. Dengan kepala tegap dia berjalan dan keluar gerbang.
“Permisi...permisi... saya numpang lewat mau pulang...” dengan muka tanpa merasa bersalah Yoa lewat begitu saja.
“Woi orang hebattttt... yaaa... yaaa... yaaaaa...
Sepertinya saya baru kali ini melihat bocah tengil satu ini” Psycho nampaknya tidak suka karena Yoa lewat begitu saja ketika dia sedang melampiaskan emosinya. Kemudian dia menarik tangan kanan Yoa.
“Apaansih... sakit tauuu...!” Yoa nampaknya kesal dan menghempaskan tarikan tangan Psycho.
“Kamu kenapa sok jagoan lewat... Hahhhhh?!” bentak Psycho dengan nada penuh agak tinggi.
“Salah..? ini gerbang sekolah. Jalan satu-satunya buat pulang. Dan semua orang berhak keluar dari sini disaat waktu sudah pulang sekolah...!!!
” Yoa yang merasakan pergelangan tanganya sakit kemudian menjawab
dengan nada tinggi.
“Wadawwwwww kamu mau saya buat seperti orang ini?”
terntuk Psycho tertuju pada Pak Agus. “Mau saya permalukan didepan banyak
orang, saya cacimaki... mau...? hahh..?” dengan senyuman pelecehan dia ngomong dan tanganya tepat memegangi bibir Yoa.
*“Plakkkkkkk...*” dihempaskanya tangan Psycho. “Kamu memang
anak yang punya Yayasan, tapi kamu tidak bisa juga semena-mena sama semua orang
disekolah ini. Tolong ahklak dan hati nurani digunakan, Tuhan tak akan
menciptakan hati sekeji hatimu tanpa kamu sendiri yang menginginkanya. Semua
hati itu pada dasarnya baik..!” Yoa membalas semua perkataan Psycho yang
menyerangnya dengan halusnya.
Semua mata orang yang ada disaat itu tertuju pada aksi
Yoa yang sangat berani melawan semua perkataan singanya sekolah itu. Selama ini
memang tidak ada satupun siswa bahkan guru yang berani berbicara seperti itu pada Psycho
Psycho yang mendengar perkataan Yoa hanya bisa terdiam
dengan wajah kesalnya. Dia kemudian menghidupkan motorrnya lalu mengeber tepat didepan Yoa sembari dia meninggalkan gerbang sekolah.
“Kamu kenapa begitu, aduhh ini masalah bakalan tamba kacau dan berkelanjutan” Vio menghampiri Yoa.
“Aku gatakut, sedikitpunn. Orang aku gamerasa bersalah
sama dia kok. Wajar aja dia ngegas aku ngegas balek. Remember, tak ada satupun
manusia yang perlu ditakuti Vio..” dengan nada pelan Yoa seakan meyayinkan Vio
supaya tidak merasa takut.
“Hmm serah kamu deh, hati-hati aja hari besok...” Vio hanya bisa menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Dari pos satpam pak Agus yang merasa senang melihat
Psycho disangkal oleh orang seperti Yoa. Didalam benaknya berkata “One Shoot One Kill...”