
“Untuk apa kau membuka hati jika tak membuka diri saling berjuang?”
***
Disudut pojok kanan kamar yang menghadap kehalaman rumah, dibalik tirai rumah kaca. Jam dinding yang sudah menunjukkan 22.00 WIB. Dijam yang biasanya ia sudah tertidur pulas jika sedang tak ada tugas sama sekali. Memang tidak ada tugas sekolah yang sedang ia kerjakan disaat itu. Hanya saja dia sedang tertular oleh sifat buruk si satpam sekolah yang terbiasa akan kahayalanya jika melihat wanita cantik.
Hal sama jugalah yang sedang dialami oleh Yoa dimalam itu, tatkala pikirnya masih seakan terbayang-bayang oleh raut wajah seseorang. Seakan ada satu nama yang terus menghantuinya, nama yang membuat saraf-saraf
otaknya tak bekerja seperti biasa. Seakan nama itu saja yang ada dipikiranya, “nothing stop thinking about him”.
Begitulah peribahasa yang cocok menggambarkan suasana tersebut. Hingga ia kemudian “Stalking” instagram.
Dengan penuh tanda tanya didada, ia seperti mecari-cari akun intagram seseorang. Entahla siapa orang tersebut. Hingga akhirnya ia menemukan akun yang dicarinya, dan ternyata....
Tersenyuman-senyuman kecil kelayar HP digenggamanya, akun yang dicari-cari akhirnya dapat juga. Psycho, dialah orangnya. Entah atau bagaimana bisa Yoa terbayang akan anak itu. Hingga senekad dan sekepo itu
sampai-sampai mecari akun isntagramnya.
__ADS_1
Ia bahkan sampai melototi satu demi satu 130 post poto diakun istagram Psycho. Segila itu rupanya anak tersebut.
Namun ia merasa ada kejanggalan saat melihat halaman bio Psycho, dibagian biru tepat dibawah poto profil. “Followback...?" bagaimana mungkin..? Yoa nampak bingung dan terkaget-kaget. Dia sepertinya tidak tahu sama sekali jika Psycho sudah ngefollow akun instagramnya. Bahkan saat hendak membuka direct message Pycho
tertulis pesan masuk “Followback...”.
Pesan yang masuk disore hari saat ia pertama menginjakkan kaki disekolah. Hal yang hampir menjatuhkan jantungnya dari dada kebagian perut karena tidak
menyangka akan hal tersebut.
“Done Follback ya, maaf kemaren galiat...” balasnya pesan dengan Psycho.
“Sudah lama, udah basii gausah follback, unfoll aja...” sepersekian detik langsung ditanggapi balik oleh Psycho.
“Bukan gitu bang cho..” , “Aku memang benar-benar galiat kok, maaf dehh...” balasnya lagi.
“Yaudah, Iya, Hmmmmm...” dengan begitu cuek Psycho membalasnya.
__ADS_1
Hingga akhirnya basa-basi yang membuat mereka seakan dekat. Saat dimana Psycho juga meminta bertukaran nomor WA, walau Yoa yang tadinya nampak enggan namun karena ia masih terbayang saat dimana ia menyiram Psycho dengan minuman dipagi hari dan terbayang akan hela nafas disaat pesta syukuran hari Ulangtahun, yang akhirnya membuat ia memberikan nomor WA nya.
Sampai-sampai sebelum menutup mata dikasur empuknya sebelum tertidur, Yoa masih saja membayangkan Psycho. Ia tidak menyangkan akan menjadi seperti itu denganya. Singa yang ditakuti satu sekolah namun seakan
lembek tertunduk-tunduk ketika selalu berhadapan denganya.
Didalam hatinya, mengapa bisa Psycho yang dianggap jahat dan keji oleh orang-orang namun berbeda dengan penilainya yang biasa saja.
Atau mungkin, entah setan apa yang merasuki Psycho dihari itu. Apa mungkin ada seseorang yang berbisik dengan hati dan pikiranya untuk bericara dengan sedikit santai tak seprontral yang biasanya?
"Ahkkk gapercaya, apa aku sedang bermimpi ya..?" Yohana memukul pipi kiri dan kananya. Memasikan dia tidak sedang bermimpi atau berkhayal.
"Bukan, ini nyata alam sadarku. Haduhhh setan apa yang merasukimu, OH PSYCHOOOOOOOO..." Yohana kemudian tersenyum gelitikan membayangkan semuanya. Kemudian ditariknya selimut kuning bergambarkan Minion.
Sebelum memejamkan matanya dkasur, tak lupa pula seperti biasanya dia berdoa.
Hingga akhirnya dia terlelap dan tertidur dengan sangat-sangat pulasnya.
__ADS_1