Cinta & Logika

Cinta & Logika
Episode 3 Kamu, kamu, kamu lagii...


__ADS_3

“Cinta indah jika kamu membuatnya menjadi Indah, akan terasa pahit jika kamu membuatnya Pahit dan akan menjadi maut jika tak sedikitpun kamu mensyukurinya”


***


26 November 2010, merupakan hari paling penting sepanjang sejarah perjalanan hidup orang yang bernama lengkap Santo Psycho Rosario. Ini merupakan hari Ulangthun dia yang ke 17, seperti biasa satu sekolah akan ikut meryakan hari Ulangtahun anak satu-satu Bapak Agustinus Rosario dan Ibu Santa Theresia tersebut.


Nampak dipagi hari sang pemilik yayasan dan istrinya sudah tiba disekolah pada pukul 07.00 WIB, namun tak terlihat sang anak keluar dari mobil Ferrari Silver.


“Selamat pagi Bapak dan Ibu...” sapa pak Agus yang dengan seyuman sambil menyalin tangan kedua orangtua Psycho


“Pagi juga satpam adalanquuuuu yang merupakan diriku atas kesamaan nama...” tegur sapa balek pas Agustinus.


“Mari pak saya antar ke aula sekolah...” ajak pak Agus dengan senyumanya.


Mereka kemudia berjalan menuju Aula sekolah yang terletak dilantai 3 sekolah. Nampak diaula sudah dipersiapkan dengan begitu megah penyambutan untuk si Psycho. Seperti tahun-tahun sebelumnya, kelas pada les ke 1-5 akan dikosongkan untuk memeriahkan hari Ulangtahun tersebut. Dimana nantinya seluruh siswa-siswi akan ikut ambil bagian dalam memeriahkan pesta.


***


Dikelas 11 IPA 1, semua murid nampak bergegas berdandan ria merias muka mereka masing-masing. Namun ada yang masih kurang, Vio masih nampak kebingungan dibangkunya. Jelas saja dia bingung, bangku disebelah kirinya belom menunjukkan adanya jejak-jejak dari sang teman sebangku. Biasanya kalopun Yoa sudah datang dan keluar pergi setidaknya akan ada tas Pink diatas mejanya. Namun hari itu betul-betul hampa. Dia kemudian mencoba menghubungi Yoa, dibukanya Whattsap lalu nge chat temanya itu. Ternyata Whattsap Yoa ceklis satu, lalu dicobanya menghubungi hingga berkalli-kali dengan nomor telepon biasa. Namun sama saja, dia hanya mendapatkan jawaban Zonk.


Karena merasa sudah bosan menunggu Yoa, dia kemudian pergi bergegas ke aula. Setidaknya dia tidak mau telat pada acara yang sebentar lagi dimulai pada pukul 08.00 WIB tersebut.


***


Diaula semua murid nampaknya sudah bersiap-siap. Tinggal menunggu kedatangan Psycho yang mungkin sebentar lagi hendak datang. Kue dengan dimensi 5 meter sudah dipersiapkan, para guru-guru dan orangtua Psycho nampaknya ada dijejeran paling depan. Tepatya didepan kue yang cukup besar tersebut.


 “Pak, masih lama apa Psychonya datang...?” tanya  pak Hasan, salah satu guru disekolah yang mengajarkan pelajaran Ekonomi.


“Tidak tau juga pak, padahal udah dari tadi aku tanyain udah nyampe mana anak ini” balas pak Agustinus.


“Bukanya 10 menit lagi jam 08.00 pak, yang dimana seharusnya petanda dimulanya acara...” tandasnya lirih.


“Sebentar yah, harap bersabar semua. Ini juga saya mencoba nelpon daritadi juga” dengan menggenggam HP miliknya, dia mencoba menghubungi lewat Whattsap, Line, Telegram, Instgram, Twitter, hingga semua


Media Sosial Psycho.


“Gusss... coba cek dulu keparkiran, lihat apa sudah ada motor Psycho diparkiran” nampaknya pak Agustinus merasa resah akan keterlambatan puteranya itu.


“Siapp pak, sebentar saya cek dulu...” dengan sigap pak Agus lari keparkiran.


***

__ADS_1


Diparkiran pak Agus nampaknya tidak melihat petanda adanya bangke motor Ninja yang jika sudah dinyalakan kedengaran suara knalpotnya hingga ke negara tetangga Malaysia.


Pak Agus kemudia pergi kegerbang sekolah untuk menunggu kedatangan Psycho. Alih-alih menunggu kedatangan Psycho, yang datang dari luar gerbang malah Yohana. Kedua bola mata pak Agus kemudian auto melotot tak karuan. Kepalanya tak bergerak sedikitpun, badanya dengan tegap mengarah


kepintu bagian luar gerbang sekolah. Kembali tak bisa dikedipkanya matanya menatap kedatangan Yohana.


“Selamat pagi pak Agus...” sapa Yoa dengan senyumanya.


Bukanya menyapa balek, mata dan kepala satpam tersebut malah masih berpatokan akan raut paras Yoa.


“Selamat pagi pak Agus gantengggggg...” Yoa agak menaikkan nada suara sapaanya.


Seketika pak Agus seperti baru terbangun dari tidur, dengan sedikit terkejut dia gelengkan kepalanya lalu mengkedipkan matanya berulangkali.


“Apa apa tadi Yohanaa cantikkk..” pak Agus seakan tak mendengar walau dua kali dia disapa Yoa.


“Oalahhh...”


“ Sudah dua kali aku ngomong ga didengarin nih berarti sama bapak...” Yoa memasang muka murung.


“Bukanya gitu Yoa, tadi saya belom didunia nyata. Masih didunia kahayalan berdua bersama kamu...” ucapan pak Agus nampak ngawur walau Yoa tau itu adalah candaan.


“SELAMAT PAGI PAK AGUS CI GUANTENG CHAYANK ANAQ ISTRIE CELAMANYAAA..” Yoa mengucapkan tepat disamping kuping pak Agus.


Melihat satpam yang sedang asik berimajinasi itu, Yoa kemudian pergi begitu saja meninggalkanya dan masuk kedalam sekolah.


Didepan gerbang, pak Agus yang asik menghayal malah tak sadar akan kedatangan Psycho. Dia bahkan sampai disenggol dengan motornya, tepat dihadapanya ia mendengar suara knalpot berisik Psycho.


“Tidur itu rebahan bukan berdiri wooiiii...” Psycho nampaknya terburu-buru karena dia tahu sedang terlambat.


Dia kemudia cepat-cepat lari dari parkiran, hingga sampai ditangga naik lantai dua. Dia yang terburu-buru sampai tidak terlalu fokus kejalan didepanya. Kepalanya yang tertunduk tak melihat apa yang ada


dihadapnya.


Brugghhhhhh...


“Awwwww...” sakitnya.


“Yaelah kau lagi, kau lagi...” muka Psycho nampaknya muram.


“Lihat pake mata dong, punya mata kok ga dipergunakan dengan baik. Buang aja itu mata boss...” Yoa memegangi pundaknya yang sakit karena ditabrak dari belakang oleh Psycho.

__ADS_1


“Seloo aja deh gausah ngegas...”


“Lahh kau yang ngegas, sengaja kau ya celakain orang..?”  Yoa yang gaterima menjudge Psycho.


“Kalo sengaja emang kenapa...? suka suka akulahhh. Minggir...” dihempasnya Yoa hingga tersungkur kepojok tangga, sifat tempramental Psycho mulai kambuh akibat kata-kata Yoa.


“Tunggu, sebentarr woi...” Yoa kemudia mencoba berdiri tegap dan menahan Psycho supaya jangan lari dulu.


“Ada apa lagi sih hahhhh...” Psycho menghentikan langkah kakinya yang berlari.


Namun sial bagi Psyho dipagi itu, tangan kanan Yoa dikala itu memegang Chattime. Dibukanya tutup minuman tersebutt lalu


“Buarrrrrrrrrrrrr...” dengan sengaja dia menyiram buka Psycho hingga seragam putihnya berubah menjadi Cokelat.


“Maaf, aku sengaja...” dengan santainya Yoa mengatakan hal itu. Tak nampak kekhawatiran bahkan ketakutan diraut wajahnya.


“Bangke...!” Psycho naik darah sampai ia hampir melayangkan tanganya kemuka Yoa. Karena masih ingat bahwa itu adalah hari Ulangtahunya, dia tak melakukan hal itu. Dilampiaskanya pukulan tersebut kedingding tangga walau itu membuat tanganya bengkak.


“Lahhh banci, pukul lah. Kok malah pukul tembok...? dasar bodoh, oto, stupied..!” muka Yoa nampak menantang dengan agresifnya.


Psycho yang mencoba menahan diri, lalu memilih tindakan meninggalkan Yoa ditangga. Dia kemudian lari menuju aula sekolah, tempat dimana dia sudah ditunggu oleh banyak orang.


***


Yohana yang menuju kelas terkejut tak melihat seorangpun ada dikelasnya. Dia kemudian terduduk dibangkunya dan merasa heran akan apa yang sedang terjadi dengan kelasnya. Mengapa bisa kosong, dia kemudian melihat kelas sebelahny 12 IPA 2. Sama saja kosong juga, dia semakin bingung dan memilih masuk kelasnya sendiri lalu duduk sambil memainkan Hpnya. Dia melihat sudah ada panggilan Whattsap dari Vio sebanyak 100x, nampaknya ketidaktahuanya karena hpnya disilent.


 


***


Lalu diaula nampak semua orang menanti-nanti kedatangan Psycho. Tiba-tiba saja, yang mereka tunggu-tunggu kehadiranya datang dengan muka kusam dan baju yang berwarna belang Putih-Cokelat. Tampang Psycho kala itu


nampak seperti tak dirinya yang gagah perkasa nan tampan.


Masih selangkah kakinya masuk kedalam Aula, dia heran menyaksikan poster besar yang bertuliskan Happy


Sweet Seventeen Santo Psycho Rosario. Semua orang yang ada didalamnya kemudian menanyikan lagu Happy Birthday pada Psycho. Dia kemudian berjalan menuju Papa Mamanya untuk meniup lilin ulangtahun tersebut dengan penuh senyum haru didepan kedua orangtuanya, seluruh murid dan para guru-guru.


“Makasih ya Pa, Ma...” bola mata Psycho nampaknya terlihat berkaca-kaca.


“Iya sama-sama Nak. Semoga menjadi orang yang lebih baik ya Honey...” tandas mamanya yang kemudian menghapus airmatanya.

__ADS_1


Kemudian dilanjutkan dengan pemotongan kue dan pesta kecil-kecilan didalam aula tersebut. Hingga ucapan selamat dan salaman dari seluruh murid dan para guru semunya.


__ADS_2