
“Apakah Cinta akan ada tanpa kita sendiri yang mengundangnya untuk datang?”
Teng... teng... teng...!
Gema lonceng dipagi hari SMA Santa Maria Medan, salah
satu sekolah favorit yang terletak di Kota Medan.
Seperti biasanya, petanda proses belajar mengajar
disekolah sudah dimulai. Namun pagi itu tak seperti biasanya. Bagaimana
mungkin, gerbang sekolah yang seharusnya ditutup serampak dengan selesainya
bunyi lonceng ketiga harus tertahan dengan kedatangan mobil mewah berwarna
merah bermerk Lamborghini.
Kedua bola mata dari pak Agus pagi itu sungguh tak
berkedip sekalipun, imajinasi bertemunya ia dengan Maudy Ayunda terpangpang
dengan cara menatap Yohana. Mengapa tidak, baru sekali itu ia melihat murid
secantik paras Yohana selama 8 tahun lamanya ia bekerja sebagai satpam
disekolah. Yohana memang pertama itu menginjakkan kaki disekolah tersebut,
pasalnya ia pindahan dari sekolah SMAK Penabur Jakarta.
“Selamat pagi pak...” sapa Yohana sembari melemparkan
senyuman.
Kacau, kepala pak Agus masih saja melototi Yohana, bukanya menyapa balek
dia malah semakin bermajinasi bahwa ia sedang didekatkan dengan kenyataan
Surgawi.
Plakkkkk!
“Sadar woiiii...! kelamaan ngayal bisa mengantarmu
keliang kubur” tandas Bu Widya dengan gurau sambil terbahak bahak menyaksikan
tingkah konyol pak Agus.
“Aduhhhh duhh duhhh...” pegang pak Agus kepalanya dengan
raut wajah agak kesal.
“Sudah, berhenti menjelajah surganya Pak. Lebih baik
bapak siaga, sebentar lagi murid baru datang lagi lebih WOW dari ini” Bu Widya
memperingatkan sang satpam yang lihai Berimajinasi itu.
Sembari demikian bu Widya mengajak Yohana masuk kedalam
sekolah. Hingga tiba didepan kelas 11 IPA 1.
__ADS_1
Ternyata ....
Masih banyak mata yang melotot, muka yang tercengangan
melihat kedatangan Yohana. Maklum kulit indah nan mulus, bola mata yang eksotis
seperti mata seekor Panda. Yohana memang tidak ada bandinganya dengan wanita
lainya yang mayoritas berkacamata dan kelihatan masih cupu-cupu. Belom lagi
seragamnya yang slimpit menunjukkan betapa aduhainya body Yohana selayak
sepahat dengan gitar Spanyol.
“Perkenalkan teman-teman, nama aku Yohana Stewart.
Panggil saja Yoa, aku pindahan dari SMAK Penabur Jakarta tinggal di Perumahan
Grand Sumatera” dengan singkat Yoa memperkenalkan dirinya.
“Hai Yoh, nama aku Gery. Aku tinggalnya dihati kamu...”
Gery memang orang dengan tingkat pedenya selangit, belom lagi ia orang tipe
humoris. Orang yang kalo ngusilin teman sekelas tanpa pandang bulu.
“Nama aku Santo, kalo diperbolehin tinggal. Aku mau
tinggal didekat kamu selamanya” sahut sobkrab Gery.
Lalu dari kursi paling sudut kanan belakang, berdiri
seorang Jay dengan segudang bahasa “Akulah sang Arjuna, yang sedang mencari
cinta. Ibu... ohh ibuku... akhirnya kumenemukan menantumu... Yohanaa....”
yang pertemananya sedekat kelopak mata ke alis. Kemudian Yoa duduk dibangku
kosong sebelah Vio, kebetulan selama ini memang Vio tidak memiliki teman
sebangku.
Vio dan Yoh kemudian saling bertegur sapa satu sama lain.
***
Didepan pintu gerbang, dengan tegapnya kepala pak Agus
menatap keadan pintu masuk sekolah. Dikepalanya masih terngiang akan kata-kata
bu Widya akan kehadiran murid baru yang cantik melebihi Yohana. Pikirnya, Yoa
saja sudah membuat ia tak mampu menahan birahi untuk membayangkan betapa
dekatnya ia dengan surga. Bagaimana jika ia melihat kenyataan itu dengan kedua
bola matanya, bisa-bisa ia mati berdiri dan rohnya langsung melayang menghadap
sang Esa.
Jrengggggg...
Jrengggggg...dengan begitu
__ADS_1
ributnya suara knalpot motor Ninja R25 Psycho memasuki gerbang sekolah.
“Woi kampretttttttttttt, gabisa selo apa kau?!” muka pak
Agus sepertinya kesal dengan ketidaksopanan sibocah satu ini yang ngasal masuk
tanpa permisi. Ditambah lagi dia sudah terlambat.
Selayak film-film roamntis di Tv, dengan kegagahanya
Psyco membuka Helm LTD miliknya. Terlihat muka arogan bertabur ketampanan,
ditambah alis mata yang aduhai melengkung setipis goresan pulpen tepat diatas
mata cokelatnya.
“Kenapa bos? Gasenang anda?” “Kalo gasenang biar
kupecahkan pala kau!” dengan nada ngegas
ia menyahut perkataan si satpam.
Psycho memang murid paling ditakuti diseolah. Selain
karena bapaknya adalah pemilik Yayasan, ia juga memiki badan yang kekar dan
jago dalam beladiri. Tak hanya pak Agus semua guru juga terkadang malas kalo
berurusan dengan murid satu ini.
Pak Agus kemudian diam dan hanya bisa menikmati pagi yang
begitu menjengkelkan, mengapa bisa ia harus berurusan dengan anak itu. Kalo
bukan karena pekerjaang ia mungkin sudah meretakkan dada si Psycho, hanya
ingatan anak istri yang membuatnya tabah akan cacian dipagi itu.
Tak lama kemudian bu Widya turun dari tangga menuju
gerbang sekolah.
“Bagaimana pak, cantik kan murid baru yang barusan
masuk?” sambil jemari menutup mulutnya menahan tawa, ia mungkin sudah tau pasti
pagi itu pak Agus harus menelah pil pahit akan keterlambatan Psycho.
“Cantik, secantik mukakmu tepat dibawah lobang buritku”
muka pak Agus nampaknya sudah membara bara akan kemurkaan.
“Makanya jangan kebanyakan ngayal deh pak, giliran
ketemua Singa terdiam juga kan” bu Widya tak tahan menahan tawa hingga
terbahak-bahak.
“Shut Up Motherf*cker! Go or Die now?” pak Agus nampaknya
sangat kesal, sudah tak dihargai murid ditambah merasa ditertawai bu Widya.
Tak lama kemudian bu Widya yang sudah tak mampu menahan
__ADS_1
tawa sampai-sampai membuatnya sakit perut kemudian pergi keruang BP sekolah. Ia
meninggalkan si satpam yang sudah murka itu sendirian didepan pos satpam.