Cinta & Logika

Cinta & Logika
Episode 1 First Blood...


__ADS_3

“Apakah Cinta  akan ada tanpa kita sendiri yang mengundangnya untuk datang?”


 


Teng... teng... teng...!


Gema lonceng dipagi hari SMA Santa Maria Medan, salah


satu sekolah favorit yang terletak di Kota Medan.


Seperti biasanya, petanda proses belajar mengajar


disekolah sudah dimulai. Namun pagi itu tak seperti biasanya. Bagaimana


mungkin, gerbang sekolah yang seharusnya ditutup serampak dengan selesainya


bunyi lonceng ketiga harus tertahan dengan kedatangan mobil mewah berwarna


merah bermerk Lamborghini.


Kedua bola mata dari pak Agus pagi itu sungguh tak


berkedip sekalipun, imajinasi bertemunya ia dengan Maudy Ayunda terpangpang


dengan cara menatap Yohana. Mengapa tidak, baru sekali itu ia melihat murid


secantik paras Yohana selama 8 tahun lamanya ia bekerja sebagai satpam


disekolah. Yohana memang pertama itu menginjakkan kaki disekolah tersebut,


pasalnya ia pindahan dari sekolah SMAK Penabur Jakarta.


“Selamat pagi pak...” sapa Yohana sembari melemparkan


senyuman.


Kacau, kepala pak Agus masih saja melototi Yohana, bukanya menyapa balek


dia malah semakin bermajinasi bahwa ia sedang didekatkan dengan kenyataan


Surgawi.


Plakkkkk!


“Sadar woiiii...! kelamaan ngayal bisa mengantarmu


keliang kubur” tandas Bu Widya dengan gurau sambil terbahak bahak menyaksikan


tingkah konyol pak Agus.


“Aduhhhh duhh duhhh...” pegang pak Agus kepalanya dengan


raut wajah agak kesal.


“Sudah, berhenti menjelajah surganya Pak. Lebih baik


bapak siaga, sebentar lagi murid baru datang lagi lebih WOW dari ini” Bu Widya


memperingatkan sang satpam yang lihai Berimajinasi itu.


Sembari demikian bu Widya mengajak Yohana masuk kedalam


sekolah. Hingga tiba didepan kelas 11 IPA 1.

__ADS_1


Ternyata ....


Masih banyak mata yang melotot, muka yang tercengangan


melihat kedatangan Yohana. Maklum kulit indah nan mulus, bola mata yang eksotis


seperti mata seekor Panda. Yohana memang tidak ada bandinganya dengan wanita


lainya yang mayoritas berkacamata dan kelihatan masih cupu-cupu. Belom lagi


seragamnya yang slimpit menunjukkan betapa aduhainya body Yohana selayak


sepahat dengan gitar Spanyol.


“Perkenalkan teman-teman, nama aku Yohana Stewart.


Panggil saja Yoa, aku pindahan dari SMAK Penabur Jakarta tinggal di Perumahan


Grand Sumatera” dengan singkat Yoa memperkenalkan dirinya.


“Hai Yoh, nama aku Gery. Aku tinggalnya dihati kamu...”


Gery memang orang dengan tingkat pedenya selangit, belom lagi ia orang tipe


humoris. Orang yang kalo ngusilin teman sekelas tanpa pandang bulu.


“Nama aku Santo, kalo diperbolehin tinggal. Aku mau


tinggal didekat kamu selamanya” sahut sobkrab Gery.


Lalu dari kursi paling sudut kanan belakang, berdiri


seorang Jay dengan segudang bahasa “Akulah sang Arjuna, yang sedang mencari


cinta. Ibu... ohh ibuku... akhirnya kumenemukan menantumu... Yohanaa....”


yang pertemananya sedekat kelopak mata ke alis. Kemudian Yoa duduk dibangku


kosong sebelah Vio, kebetulan selama ini memang Vio tidak memiliki teman


sebangku.


Vio dan Yoh kemudian saling bertegur sapa satu sama lain.


***


Didepan pintu gerbang, dengan tegapnya kepala pak Agus


menatap keadan pintu masuk sekolah. Dikepalanya masih terngiang akan kata-kata


bu Widya akan kehadiran murid baru yang cantik melebihi Yohana. Pikirnya, Yoa


saja sudah membuat ia tak mampu menahan birahi untuk membayangkan betapa


dekatnya ia dengan surga. Bagaimana jika ia melihat kenyataan itu dengan kedua


bola matanya, bisa-bisa ia mati berdiri dan rohnya langsung melayang menghadap


sang Esa.


Jrengggggg...


Jrengggggg...dengan begitu

__ADS_1


ributnya suara knalpot motor Ninja R25 Psycho memasuki gerbang sekolah.


“Woi kampretttttttttttt, gabisa selo apa kau?!” muka pak


Agus sepertinya kesal dengan ketidaksopanan sibocah satu ini yang ngasal masuk


tanpa permisi. Ditambah lagi dia sudah terlambat.


Selayak film-film roamntis di Tv, dengan kegagahanya


Psyco membuka Helm LTD miliknya. Terlihat muka arogan bertabur ketampanan,


ditambah alis mata yang aduhai melengkung setipis goresan pulpen tepat diatas


mata cokelatnya.


“Kenapa bos? Gasenang anda?” “Kalo gasenang biar


kupecahkan pala kau!”  dengan nada ngegas


ia menyahut perkataan si satpam.


Psycho memang murid paling ditakuti diseolah. Selain


karena bapaknya adalah pemilik Yayasan, ia juga memiki badan yang kekar dan


jago dalam beladiri. Tak hanya pak Agus semua guru juga terkadang malas kalo


berurusan dengan murid satu ini.


Pak Agus kemudian diam dan hanya bisa menikmati pagi yang


begitu menjengkelkan, mengapa bisa ia harus berurusan dengan anak itu. Kalo


bukan karena pekerjaang ia mungkin sudah meretakkan dada si Psycho, hanya


ingatan anak istri yang membuatnya tabah akan cacian dipagi itu.


Tak lama kemudian bu Widya turun dari tangga menuju


gerbang sekolah.


“Bagaimana pak, cantik kan murid baru yang barusan


masuk?” sambil jemari menutup mulutnya menahan tawa, ia mungkin sudah tau pasti


pagi itu pak Agus harus menelah pil pahit akan keterlambatan Psycho.


“Cantik, secantik mukakmu tepat dibawah lobang buritku”


muka pak Agus nampaknya sudah membara bara akan kemurkaan.


“Makanya jangan kebanyakan ngayal deh pak, giliran


ketemua Singa terdiam juga kan” bu Widya tak tahan menahan tawa hingga


terbahak-bahak.


“Shut Up Motherf*cker! Go or Die now?” pak Agus nampaknya


sangat kesal, sudah tak dihargai murid ditambah merasa ditertawai bu Widya.


Tak lama kemudian bu Widya yang sudah tak mampu menahan

__ADS_1


tawa sampai-sampai membuatnya sakit perut kemudian pergi keruang BP sekolah. Ia


meninggalkan si satpam yang sudah murka itu sendirian didepan pos satpam.


__ADS_2