Cinta Di Seberang Jalan

Cinta Di Seberang Jalan
XII IPA 2


__ADS_3

Di kelas mana pun Meliana berada, maka kelas itu akan menjadi kelas favorit ku. Yang bagaimana pun caranya, aku harus sering masuk ke kelas itu demi melihat wajah cantik Meliana. Hanya melihatnya tertawa bersenda gurau dengan temannya saja membuat jantungku bak beduk di tabuh, apalagi kalau dia tersenyum dan bersenda gurau denganku, mungkin gempa bumi hati ini.


Jangan tanya berapa banyak usaha ku untuk bisa masuk ke kelas Meliana, karena jawabannya sama dengan nol bagi nol, tak terhingga, saking banyaknya. Di mulai dari pura-pura terlambat terus salah masuk kelas, membantu guru membawa buku ke kelas Meliana, sampai pura-pura sakit perut tapi malah masuk ke dalam kelas Meliana, saat di tanya alasannya, ku jawab: "ling-lung saya, saking sakit perutnya sampai lupa letak UKS."


Upacara rutinan setiap hari Senin pun tak luput menjadi ajang pendekatan ku pada Meliana. Seperti hari Senin biasanya aku selalu berdiri di barisan siswa kelas Meliana, bediri di sampingnya dari arah matahari, supaya bayanganku bisa meneduhkannya, sambil membawa potongan kardus 10×15 Senti yang aku curi di kantin.


Dari sini aku bisa bebas mengamati wajah Meliana yang di hiasi jerawat satu biji di daerah pipinya, indah sekali ciptaan-Mu ini Tuhan. Sambil mengipas wajahnya dengan tangan, Meliana mencoba fokus mendengarkan ocehan pembina upacara. Sengaja aku mengipaskan potongan kardus itu cenderung ke arah Meliana, dia berhenti mengipas wajahnya.


"Panas ya," kataku. Dia mendelik ke arahku, ku balas senyum lebar, dia bergidik jijik. Dan aku suka ekspresi jijiknya, karena ekpresi itu hanya ia tunjukkan padaku, itu khusus untukku.


Setelah selesai upacara aku turut masuk ke kelas Meliana, duduk di bangku ketiga, di belakang bangku Meliana. Sambil menopang dagu aku memandangi Meliana yang sibuk mengibaskan rambutnya yang di basahi oleh keringat. Ya Allah ciptaan-Mu ini... Ah, aku kehabisan kata-kata untuk menjabarkannya.


"Danaaaaaarrr!" Suara itu, suara yang rutin menggema menyerukan namaku setiap harinya. Bisa pecah lama-lama gendang telingaku kalau setiap hari diteriaki suara melengking tujuh oktaf milik Si Daniarti. Tapi tak apa, anggap saja ini adalah salah satu pengorbanan cintaku untuk Meliana.


Aku menoleh. "Apa sih, Darto?" tanyaku kalem.


"Minggat lo dari bangku gue!" usirnya.


Aku beranjak malas. "Silahkan neng Daniarto." Aku berlagak seperti seorang pelayan yang mempersilahkan tamunya duduk.

__ADS_1


"Daniarti! Najis gue di sama-samain sama nama lo, Danar Daniarto," ketusnya.


"Gak papa lo bilang najis sama gue, soalnya cukup Meliana aja yang bilang sayang ke gue." Aku melirik Meliana yang memutar bola matanya kesal.


"Cieeeee." Seluruh siswa bersorak meledek aku dan Meliana, termasuk si Daniarti.


"Ih, apaan sih!" Meliana merajuk kesal, aduh gemas sekali.


"Eah! Malu-malu kucing tuh, aslinya mah seneng. Sikat terus, Nar!" Si Erik, teman dekatku, berteriak menyemangati.


"Gak perlu, Meliana udah bersih, putih, gak perlu disikat lagi, butuhnya di sayang biar nyaman," jawabku santai.


"Uhuy!"


"Allah huakbar!"


"Tetew!"


Susana kelas makin riuh, aku hanya tertawa saja, wajah Meliana memerah padam, entah malu atau kesal, tapi yang pasti bukan merona karena tersanjung, aku tahu pasti Meliana tidak suka padaku, bukan, belum suka maksudku.

__ADS_1


"Pergi kamu sana! Bikin malu aja!" hardik Meliana padaku.


Aku terpesona beberapa saat kala mata Meliana menatap wajahku langsung, jantungku berdetak makin heboh. Sebelum akhirnya mengangguk sambil tersenyum. "Iya Mel gak usah marah, kan jadi gemes akunya. Sekarang sih bikin malu, besok-besok juga bikin kangen."


Wajah Meliana makin merah padam. Suasana kelas makin heboh, terutama si Erik yang jadi heboh sendiri membuat selebrasi ala-ala pemain sepakbola sambil lari keliling kelas.


"Ah... Danar! Aku padamu sayang!" teriakan si Doni terdengar sangat kencang, dia cuma bercanda.


Seluruh siswa di kelas tertawa, ada yang menertawakan gombalanku yang norak, ada juga yang menertawakan tingkah si Erik yang persis orang gila berseragam. Tapi ada satu orang, satu orang itu yang hanya diam sambil menatapku tajam, seseorang yang paling pengecut di dunia ini. Tapi sayangnya pengecut itu ganteng, pintar, kaya dan ketua kelas ini. Dia suka pada Meliana. Satu lagi, namanya terdengar keren, Eygra, lihat bagaimana apiknya tiga huruf konsonan itu berdampingan.


"Udah ah, gue balik dulu, disini bau gosong, kayaknya sih ada hati yang kebakaran," sindirku.


"Bagus kalo lo mau pergi dan sadar kalau kelas ini bukan tempat lo," katanya.


Sudah jadi rahasia umum tentunya kalau si Eygra naksir pada calon pendamping dunia akhiratku. Tapi masih jadi rahasia sebetulnya, kalau aku dan si Eygra ini punya hubungan tak baik dan pernah terlibat perkelahian di luar sekolah. Maka dari itu, suasana kelas mendadak senyap, gerakan si Erik pun terhenti di atas mejanya sambil nungging dan mengacungkan dua jari.


Maka dari itu aku simpulkan, pertarungan 'Danar Daniarto XII IPA 1 vs Eygra XII IPA 2' RESMI DI BUKA UNTUK UMUM!


Makin suka saja aku pada kelas ini. Di sini ada cintaku, tapi juga ada musuhku. Sensasinya unik mungkin seperti di tengah-tengah antara surga dan neraka. Kalau kata guru ngajiku, orang gila itu tempatnya di tengah-tengah, kalau angin surga bertiup semua aura bahagia keluar, sebaliknya saat angin neraka bertiup semua aura buruk yang keluar. Meliana itu angin surganya, Eygra angin neraka, sedangkan aku orang gila. Iya, gila karena di mabuk asmara.

__ADS_1


__ADS_2