
Di sekolahku, kalau istirahat selalu di putarkan lagu di radio sekolah. Setiap orang boleh meminta lagu favoritnya di putarkan, imbalannya setiap orang bayar 2 ribu rupiah untuk ganti uang download.
Setiap bel istirahat pula aku segera berlari ke studio radio sekolah, bukan untuk meminta lagu kegemaran ku di putar, melainkan melompat duduk di sebelah Dini sang penyiar radio untuk membacakan puisi buatanku khusus untuk Meliana.
"Hey, Nar!" sapanya, Dini memang tipikal gadis cantik yang pandai bergaul dengan siapapun.
"Hey."
"Udah siap bacain puisi?"
Aku tertawa mendengarnya. "Selalu dong!" Aku mengacungkan jempol. "Din, nanti pas gue baca puisi speakernya agak di gedein ya biar Meliana denger."
"Selama si Meli gak bolot sih, volume normal juga dia bakal denger, Nar."
Aku tertawa sambil menggaruk kepala.
"Segitu cintanya ya lo sama Meliana?" tanya Dini.
"Ya iya," kataku santai.
"Tapi kalo gue lihat sih, si Meliana biasa gitu sama lo. Sorry to say ya, kesannya malah dia kurang menghargai lo."
"Belom, mangkanya sekarang gue lagi usaha supaya dia menghargai bahkan mensyukuri kehadiran gue."
"Kalo gue jadi Meli, gak bakal gue menyia-nyiakan orang sebaik lo."
"Iya gue juga," jawabku.
Dini memukul lenganku keras. "Udah ah, gue mau mulai."
Dan mulailah Dini dengan asyiknya menyapa para pendengar setianya, sedangkan aku tak peduli, tak begitu mendengarkan. Pikiranku berkeliaran kemana-mana, membayangkan Meliana yang setiap harinya tersipu-sipu mendengar puisiku.
" ... Sekarang, udah waktunya nih, kita di buat meleleh oleh puisi indah karya pujangga kita yang lagi kasmaran nih, Danar Daniarto."
"Volumenya gedein," bisik ku.
"Iya," kata Dini, judes.
"Khm, khm, tes... tes... 123."
__ADS_1
"Cepetan mulai!" Dini melotot kearah ku.
Aku mengangguk sambil meminta ampun.
Kasmaran
Desauan angin terdengar seperti bisikan cinta.
Soal ulangan berubah jadi sajak bertajuk cinta.
Lingkaran terlihat melengkung ke dalam atasnya, runcing bawahnya.
Loh, kok jadi bentuk hati?
Untuk yang bertanya kenapa, akan ku beritahu sekarang.
Aku ini, sedang kasmaran.
Setelah menyelesaikan tugasku, dengan segera aku keluar dari ruang radio untuk melesat ke kantin sekolah. Tapi tak jadi, langkahku terhenti di depan pintu saat ada Meliana yang melintas bersama teman-temannya.
"Hai Mel!" sapaku.
"Apaan sih!"
"Ih malu-malu, orang tadi tersipu-sipu kok sama puisinya."
Mendengar itu hatiku jadi membesar. Masyaallah, Meliana ternyata suka dengan puisiku. Kini ganti giliran aku yang tersipu-sipu.
*****
Setelah pertemuanku dengan Meliana, aku segera berlari menuju kantin sebelum jam istirahat habis.
"Nar!" Si Bonar dari ujung sana melambaikan tangannya memanggilku.
"Oy!" Aku menghampirinya, duduk di samping Bonar, teman sebangkuku, yang sedang sibuk makan kacang di temani air bening dingin. Bentuk pengiritan yang hakiki. Juga menjadi sebuah misteri, bagaimana bisa Bonar memiliki tubuh gempal dengan pola hidup seirit itu.
"Kacang, Nar," tawarnya.
"Setiap hari makan kacang mulu, jerawatan lama-lama gue," kataku.
__ADS_1
"Ya sudah, besok ku ganti menunya jadi kuaci saja," katanya dengan logat batak khas nya.
"Sama aja!"
"Oh iya, Nar. Puisi kau tadi syahdu sekali. Sampai meleleh anak-anak perempuan di kantin ini."
"Masa sih? Lo lihat Meliana juga gak di kantin ini?" tanyaku antusias.
"Lihat," jawabnya tak kalah antusias.
"Gimana reaksinya?" Aku makin penasaran.
"Merah pipinya." Bonar menyentuh pipinya dengan raut berseri-seri.
"Masa sih?" Aku ikut tersenyum, tersipu malu.
"Iya." Dia mengangguk, senyumku makin lebar. "Tapi karena marah, di ledek habis-habisan dia sama temannya."
Luntur sudah senyum di wajahku bak bedak di wajah terguyur hujan. Jika Si Bonar ini bukan teman baikku, sudah pukul wajah sok cantiknya saat ini juga.
"Terus ngapain lo masang tampang sok cantik kalo Meliana marah bukannya seneng?"
Bonar menggaruk tengkuknya sambil tersenyum memohon maaf.
"Oh cinta! Kenapa engkau selalu pergi dari genggaman? Tak pernah berbalik menatap wajah penuh nestapa ini. Maka suatu malam cinta pun menjawab. Karena kau kumal, jelek, sakit mataku kalau melihat wajah penuh nestapa mu wahai pujangga cinta!"
Seisi kantin tergelak mendengar Devan, teman satu geng Eygra, mengumandangkan puisi penuh ejekan untukku. Aku hanya diam, tak acuh menanggapinya. Biar saja, Devan memang terkenal punya mulut ember bocor. Sudah jadi kebiasaannya meledekku di setiap kesempatan bertemu.
"Enak ya kacangnya kering," kata Bonar mencoba tak menghiraukan ucapan Devan.
Teman satu geng Eygra tahu kalau aku dan Eygra pernah berkelahi di luar sekolah. Jadi beginilah bentuk solidaritas dalam membela Eygra, meledek kami dengan cara kampungan tak bermoral. Meski begitu, Eygra tak pernah ikut-ikutan angkat bicara bila di dalam lingkungan sekolah, menjaga image baiknya. Takut kalau peluang beasiswanya raib karena sifat buruknya.
"Makan aja dulu yang bener, baru lo ngimpi bisa dapetin Meliana. Pake sok-sokan bikin puisi segala, perbaiki dulu gizi badan lo!" Semacam itulah ledekan Devan yang selalu tidak nyambung menurutku. Memangnya apa korelasinya antara perbaikan gizi, Meliana dan puisiku?
"Oh seperti itu," kataku kalem.
Mereka langsung bungkam. Tak perlu banyak kata untuk melawan mereka sebetulnya, hanya cukup serangkaian kata sederhana di barengi pembawaan kalem, sudah cukup membuat mereka malu sendiri.
"Ke kelas aja, bentar lagi masuk!" Tumben sekali Eygra angkat bicara.
__ADS_1