
Hampir seperdelapan siswa sekolahku berkerumun di mading sekolah saat jam istirahat. Ini fenomena aneh, biasanya Mading itu selalu sepi, tak di acuhkan begitu saja meski letaknya strategis, sering dilewati jika siswa akan ke kantin.
Aku sebetulnya malas jika harus ikut berkerumun, berdesak-desakan. Tapi rasa penasaranku lah yang menuntun langkahku kesini, ikut berkerumun meski hanya jinjit-jinjit di belakang dan tetap tak bisa melihat isinya.
"Kita ikutan dance yuk! Entar kakak gue yang ajarin koreonya. Ajakin Dea sama Erni juga."
"Gue sih oke aja."
Aku menggaruk kepalaku. Dance? Apa ada kompetisi dance di sekolahku? Aku makin penasaran, tapi orang-orang yang berdiri di depan Mading masih asyik membaca berita yang sama berulang kali. Akhirnya ku putuskan untuk menyingkir saja, masuk ke kelas sebelum jam istirahat berakhir.
"Guys, hari ini ada pengumuman, mungkin ada beberapa yang udah tahu dari Mading. Tapi gue mau umumin lagi takutnya ada belom tahu." Arthi berdiri di depan papan tulis, membawa pengumuman.
"Lalu apa informasi nya? Dari tadi kau bicara tapi aku tak tangkap itu informasi," Si Bonar menyuarakan protesnya.
"Sabar dong!" bentak Amel, teman satu bangku Arthi, membela.
"Oke, sekolah kita kan sebentar lagi aniversary. Nah, bakalan di adakan even berupa perlombaan. Ada lima perlombaan, pertama nyanyi, dance satu grup maksimal sembilan orang, lomba cipta puisi plus baca puisi orangnya itu-itu juga temanya tentang sekolah pastinya, lomba pidato, terakhir lomba bazar. Nah, gue mau ngedata, siapa aja yang mau ikut."
Dan mulai lah kelas ini heboh menunjuk orang ini-itu, yang di tunjuk pura-pura menolak padahal hatinya senang, sengaja mau di paksa. Mayoritas anak laki-laki kelas ini sih tidak begitu tertarik, termasuk aku yang memiilih duduk diam sambil menopang dagu.
"Danar saja yang ikut lomba cipta puisi, jago kali dia. Menang pasti kelas ini, juara satu!" kata Si Bonar lantang. Aku melotot padanya.
Aduh! Siapa bilang aku pandai buat puisi? Aku hanya pandai buat puisi untuk Meliana, tapi tidak dengan tema lain. Paling-paling macam puisi anak SD yang membahas warna bunga di sekolah. Aku tidak suka sastra, tidak begitu suka juga dengan pelajaran bahasa Indonesia. Kepandaianku berpuisi datang begitu saja sejak aku menyukai Meliana.
"Jangan gue deh," tolakku halus. Aku benar-benar tidak mau, bukannya ingin di paksa ya.
"Udah lu aja. Oke, Danar ya yang lomba puisi. Satu lagi nih, yang mau ngurusin stand bazar siapa?" Si Arthi menulis namaku tanpa persetujuan.
Dan kelas mulai heboh kembali, sedangkan kepalaku mulai pusing tak karuan.
__ADS_1
*****
Meski otakku berkata, ah cuma lomba biasa gak usah dipikirin. Tapi nyatanya tak begitu, sepulang sekolah tanpa berganti pakaian aku langsung duduk di meja belajarku yang butut kemudian mengeluarkan buku dan bolpoin, mulai merangkai kata membuat puisi untuk lomba Minggu depan.
Sekolahku
Disinilah aku menuntut ilmu.
Membangun Budi pekerti.
Menjalin kemistri bersama bidadari–
"Astaghfirullah!" Aku mencoret kertas itu dengan kesal, kemudian meremasnya.
Itu tadi hanya kesalahan teknis. Meliana mempengaruhi pikiranku terlalu banyak.
Sekolahku
Terimakasih lah kau ucapkan pada Meliana, karena berkat kecantikannya, sekolah ini tetap berwana meski tanpa taman yang indah.
Terimakasih sekolahku.
Disinilah aku menuntut ilmu, menanam Budi pekerti.
"Astaghfirullah!"
Ini parah! Frustasi aku dibuatnya. Sudah kubilang lomba puisi itu bukan ide yang baik untukku.
Malamnya, selepas berkeliling di komplek perumahan Meliana, aku tak berlama-lama di sana karena Meliana tak menunjukkan batang hidungnya sama sekali. Jadi aku putuskan untuk pergi ke warung kopi Mang Aep saja, minum kopi susu sambil berbincang meminta saran tentang tema puisiku. Mang Aep itu partner diskusi yang baik.
__ADS_1
"Kopi susu satu Mang Aep!"
"Siap!" kata Mang Aep sambil hormat bendera, kemudian meracik kopi susu pesanan ku.
"Nih, kopinya." Mang Aep meletakkan segelas kopi susu di meja.
"Mang, saya mau minta saran." Aku memasang wajah serius dengan tangan kanan mengusap dagu.
"Saran apa, Boy?" tanyanya sambil membalik gorengan.
"Tentang puisi Mang, saya mau ikut lomba cipta puisi di sekolah."
"Bagus itu!"
"Masalahnya saya gak bisa bikin puisi."
"Ya jangan ikutan kalo gitu."
"Tapi saya udah di pilih sama teman sekelas, Mang."
"Alasan teman-teman milih kamu buat lomba apa?"
"Soalnya saya suka ngisi puisi di radio sekolah."
"Nah!" Mang Aep menejentikkan jarinya keras. "Itu artinya kamu memang berbakat."
"Salah paham Mang! Danar gak bisa bikin puisi kecuali buat Meliana."
Mang Aep manggut-manggut sambil mengusap dagu. "Ini perkara mudah, Boy! Ini cuma perkara hati. Kenapa kamu bisa bikin puisi tentang Meliana, jawabnnya adalah hati. Kamu buat semuanya dengan tulus dari hati. Maka berlakukan juga buat lomba ini. Buat puisi dari kata yang terlintas di kepala kamu, dari hati tertulus kamu. Jangan memaksakan ingin membuat yang bagus, biar semuanya mengalir, maka hasilnya pun akan baik, Boy."
__ADS_1
Aku mengangguk paham. Benar, Mang Aep benar sekali. Akan ku buat puisi apa adanya, tak perlu memaksakan. Urusan juara lihat belakangan.