Cinta Di Seberang Jalan

Cinta Di Seberang Jalan
Meliana yang Aneh


__ADS_3

Dua hari aku mangkal di daerah rumah Meliana. Duduk bersandar di pohon cemara, gerobakku terparkir apik di sebrang jalan rumah bidadariku. Tapi sayang, tidak ku lihat walau hanya batang hidung bidadari cantik itu, padahal aku sudah satu jam duduk di sini. Dan selalu adzan Maghriblah yang bagai peluit wasit tanda pertandingan berakhir, aku meninggalkan tempat ini.


Tapi hari ini berbeda. Masih di tempat yang sama, posisiku juga masih sama tapi aku menangkap pemandangan berbeda. Meliana keluar dari mobil Eygra, keduanya masih mengenakan seragam sekolah. Entah dari mana. Karena setahuku, anak kelas tiga sudah tidak boleh ikut ekskul lagi. Atau mereka jalan berdua? Memadu kasih saling berceloteh di tempat makan. Hatiku perih hanya dengan membayangkannya.


Aku menatap nanar keduanya. Mereka menyadarinya, balas menatapku. Eygra menatap remeh ke arahku, sedangkan Meliana, tak dapat ku artikan tatapan apa itu.


"Kamu langsung pulang aja!" titah Meliana, bagiku terdengar seperti usiran halus.


"Aku mau ketemu Tante dulu, kan hari ini kita pulang cepat." Eygra tampak keberatan.


"Aku capek, mau tidur." Nada bicara Meliana terdengar begitu ketus.


Bagai kerbau di cucuk hidungnya, Eygra menurut saja. Meski ku tangkap kilatan kecewa di wajahnya, dia tetap berjalan masuk ke dalam mobilnya. Kemudian mobil itu melaju membelah jalanan setelah membunyikan klakson singkatnya, berpamitan.


Kini tinggal kami berdua. Saling berpandangan dengan tatapan berbeda. Apa itu tatapan penolakan dari Meliana? Tatapan bahwa sudah saatnya aku mengakhiri perjuanganku karena hati Meliana kini sudah berlabuh di pelabuhan besar nan mewah. Aku putuskan kontak mata kami dari pada nantinya aku menduga-duga hal yang tak pasti. Ku ambil kentongan kemudian siap mendorong gerobak meski tubuhku mendadak lemas.


"Nar tunggu dulu!" Suara lembut Meliana terdengar canggung di telingaku.


Aku batal mendorong gerobak ku. Beralih menatap Meliana dengan tatapan bertanya.


Meliana berjalan mendekat ke arahku, jantungku bergemuruh tak karuan. Aduh! Ini mirip seperti di sinetron yang setiap sore di saksikan ibuku. Kalimat selanjutnya pasti, 'kamu jangan salah paham, aku sama Eygra gak ada apa-apa.'


Aku mengulum senyumku, bersiap mendengarkan kalimat itu. Senyumku makin lebar saAt derap langlahnha terdengar makin dekat dekat.


"Aku mau beli baso," katanya.


Aku terdiam sejenak, kalimat itu menghancurkan segala khayalanku.


Aku mengangguk kaku. "Iya. Biasa?"


"Iya." Meliana mengangguk.


Aku mulai meracik bakso meski sebetulnya aku mulai tak fokus, beberapa kali aku kebingungan bahan apa yang belum di masukkan.


"Kamu sama Senja lolos seleksi beasiswa ke Inggris?" tanyanya tiba-tiba.


"Iya," jawabku ringan.


"Oh. Selamat ya," ucapnya dengan nada tak suka. Hey, ada apa dengan Meliana? Meskipun dia selalu ketus padaku tak pernah dia berucap kasar seperti ini, hatinya insyaallah bersih tak pernah iri. Entah apa yang terjadi.


Ya sudahlah. Aku lanjut mengikat tali plastik bakso. Kemudian menampilkan senyum terbaikku sambil memberikan satu plastik bakso pada Meli.


"Nih, Mel."

__ADS_1


Meliana mengambilnya kemudian merogoh saku roknya. "Nih!" Dia menyodorkan uang pecahan sepuluh ribu padaku.


"Enggak perlu, Mel!" Dengan sopan aku menolaknya.


"Kamu masih niat dagang kan?" tanyanya.


"Iya lah."


"Aku juga niat beli, jadi aku mau bayar," katanya dengan lembut.


"Aku syukuran hari ini, karena lulus seleksi."


Wajah Meliana berubah masam. "Oh gitu."


Meliana berlalu begitu saja dengan wajah masamnya. Entah kenapa dia aneh hari ini. Tapi masih cantik, matanya masih cemerlang. Masih mampu membuat hatiku heboh tak karuan.


Aku batal mendorong gerobak, malah mengambil buku dan bolpoin. Kemudian kembali duduk bersandar di pohon. Menggoreskan tinta di atas kertas kosong, menuliskan puisi indah yang menggambarkan Meliana.


*Hari ini


Hari ini nampaknya kamu marah.


Eh, tapi aku malah senang.


Berarti aku di anggap.


Hari ini wajahmu nampak masam.


Eh, aku malah senyum lebar.


Tak mungkin aku marah, menekuk wajah, karena parasmu adalah penawarnya.


Hari ini kamu di buat kesal olehku.


Eh, aku malah di buat jatuh hati lagi, lagi, lagi dan lagi olehmu*.


*****


Sudah lewat Maghrib dan aku masih mendorong gerobak mengintari komplek perumahan dengan pikiran semerawut. Tak bisa aku pungkiri, aku cemburu pada kedekatan Meliana dan Eygra. Bocah tampan dengan nama yang apik itu melangkah lebih jauh di depanku. Jelas saja, Eygra melaju dengan mobilnya dan aku hanya mengandalkan gerobak bakso yang sudah usang. Tidak, aku tidak boleh patah semangat. Pejuang Indonesia juga menang melawan penjajah hanya dengan bambu runcingnya. Maka aku juga akan berjuang bersama gerobak baksoku.


Aku mengangguk, meyakinkan diriku sendiri.


Seperti biasa, aku jika pikiranku buntu, aku selalu datang ke warung kopi Mang Aep. Mang Aep dan segelas kopi susunya, selalu bisa memecahkan masalah.

__ADS_1


"Mang!" sapaku.


"Hai, Boy! Tumben masih sore sudah ke sini?" tanyanya di sela kegiatannya membalikkan tempe mendoan.


"Danar mau tanya sesuatu," kataku langsung pada intinya.


Seperti biasa, Mang Aep selalu antusias. "Sebentar, Boy!" Sigap dia mengangkat tempe mendoan, yang entah sudah matang atau belum, kemudian mengelap tangannya di kaos yang ia pakai, beberapa detik kemudian ia sudah duduk di sebelahku.


"Ayo, Boy! Tanyakan segala keluh kesahmu!"


"Kalau perempuan sikapnya jadi aneh, itu kenapa ya Mang?" tanyaku.


"Aneh? Aneh yang bagaimana, Boy?"


"Ketus, biasanya juga ketus, tapi hari ini lebih ketus."


"Coba kau ceritakan latar belakangnya, agar aku paham seperti apa aneh yang kau maksud."


Aku menatapnya malas. Ini aku paham, bukan karena dia tak paham yang maksudku, tapi ini semata-mata untuk memuaskan keingintahuannya saja.


"Ayo, Boy! Jangan kau jahat seperti ini, kau sudah membawaku ke puncak ke kepoan. Malah kau putuskan begitu saja. Ayo, Boy, aku bisa jaga cerita."


Pasti bisa jaga cerita, mau pada siapa juga dia bercerita, temannya tak banyak, tak ada hubungan juga temannya yang ada dengan Meliana.


"Tadi Danar ketemu Meliana, habis jalan sama Eygra. Tapi tatapan Meliana sama Danar itu beda, gak tahu apa arti tatapannya. Terus dia nyamperin Danar setelah Eygra pergi, dia nanya soal Danar sama Senja yang lolos tahap pertama beasiswa ke Inggris, tapi nada bicaranya ketus, mukanya juga kayak kesel."


"Positif, Boy!" katanya sambil menjentikkan jari.


"Saya sama Meliana gak pernah ngapa-ngapain, Mang!" Aku tak terima dengan hipotesanya. Enak saja, biar begini aku masih punya iman, masih ingat aku dengan semua pesan Nenek Jo (guru ngajiku) soal batasan-batasan.


"Positif dia suka padamu, Boy!" katanya penuh keyakinan. Dadaku membesar, bibirku tanpa bisa dicegah tersenyum simpul.


"Masa sih, Mang?" tanyaku tertarik.


"Iya, Boy! Tatapannya itu, menjelaskan bahwa ia tak ada hubungan apa-apa dengan si begundal Ega—" Mang Aep salah menyebutkan nama.


"Eygra," ralatku.


"Iya itulah pokoknya. Meliana merasa tak enak kau melihat pemandangan itu. Soal ketus itu, dia cemburu karena kau akan pergi ke luar negri bersama gadis lain, Boy." Mang Aep tampak yakin dengan hipotesanya, kini dia mengusap-usap dagunya sambil tersenyum sok keren, oh jangan lupakan kakinya yang terlipat sok keren. Mungkin dia merasa dirinya menjadi deketif handal sekarang.


Tapi, aku berdoa semoga hipotesa itu betul adanya meski terdengar memaksakan. Ya Allah, kabulkanlah.


Tapi apa mungkin, Meliana suka pada seorang Danar Daniarto secepat ini?

__ADS_1


__ADS_2