
Saat pulang sekolah aku segera masuk ke dalam ruang kepala sekolah memenuhi panggilan yang tadi diamanatkan pada Bu Johan. Aku di panggil oleh Pak Kepala Sekolah, penting katanya.
"Assalamualaikum," salamku.
"Wa'alaikumsalam."
"Masuk, Nar!" Pak Kepala Sekolah mempersilahkan aku masuk ke dalam.
Dan kalian tahu? Saat masuk kedalam aku dibuat kaget karena di dalam sudah ada Eygra. Waduh, perasaanku mulai tak enak. Apa Si Eygra ini tersinggung ya dengan kalimat 'oh seperti itu' yang kemarin aku lontarkan pada gengnya, mangkanya dia mengadu pada Pak Kepala sekolah.
"Duduk, Nar! Pantat kamu bisul berdiri terus?" kata Pak Kepala Sekolah bergurau.
Aku menggaruk tengkuk sambil tertawa. Kemudian duduk di samping Si Eygra yang langsung bergeser memberi jarak, macam anak perawan di dekati pria saja.
"Ada apa Pak, saya di panggil ke sini?" tanyaku.
"Sebentar, Senja belum datang. Kalau sudah kumpul semua baru saya beritahu semua beritanya," kata Pak Kepala Sekolah penuh wibawa.
Aku mengangguk. Aku dapat sedikit pencerahan. Sepertinya ini masalah beasiswa kami ke Inggris soalnya membawa Senja. Atau Si Senja mengadu pada Pak Kepala Sekolah kalau aku dan Eygra pernah berkelahi. Tapi Senja tahu dari mana?
Eh, tapi kalian kaget juga kan, tahu aku calon penerima beasiswa ke luar negeri. Memang terdengar tidak masuk akal, tapi ini kenyataannya. Maaf maaf ya, bukannya aku sombong. Meski kumal begini aku itu juara umum di sekolah ini, pernah juara lomba debat di Singapura bersama Senja dan Irma, juara olimpiade matematika tingkat nasional juga, masih banyak juga prestasiku yang lainnya. Hanya berlomba mendapatkan hati Meliana saja yang belum membuahkan hasil.
"Assalamualaikum." Suara lembut Senja menyapa pendengaran kami.
"Wa'alaikumsalam," serempak kamu menjawab.
Pak Kepala Sekolah tersenyum ramah pada Senja, kerutan di wajahnya terlihat makin dalam. Kemudian Senja mengambil tempat di sebelahku.
"Nah, sudah kumpul semua," kata Pak Kepala Sekolah, "bapak punya kabar baik untuk kalian bertiga." Pak Kepala Sekolah tersenyum lebar. Aku tersenyum lega, ini artinya bukan membahas masalah kalimat 'oh seperti itu'. Alhamdulillah.
"Kalian enggak penasaran berita apa? Kok enggak ada yang nanya?"
__ADS_1
"Penasaran lah Pak, dari tadi kita nunggu," kataku.
Pak kepala sekolah tertawa jenaka, keriput di wajahnya terlihat makin dalam.
"Kalian bertiga lolos di seleksi tahap awal penerima beasiswa di Inggris."
Aku melotot tak percaya sebelum akhirnya kami bertiga tersenyum senang, terutama Senja yang bahkan sudah memekik girang.
"Benar, pak?" Eygra memastikan, takut-takut apa yang kita dengar barusan hanya halusinasi saja atau boleh jadi hanya bisikan gaib.
"Benar, hanya kalian bertiga yang lolos." Jantungku bergemuruh senang, rasanya ini momen paling membahagiakan dalam hidupku.
"Bu, Danar mau pergi ke luar negeri!" teriakku.
"Eits, jangan terlalu senang dulu! Ini baru seleksi awal, perjuangan kalian belum selesai. Masih ada seleksi lanjutan, tapi jadwalnya belum diumumkan. Nah, kalian harus mempersiapkan diri dengan baik. Buat sekolah ini bangga, buat orang tua kalian bangga. Dan yang paling penting, buat diri kalian bangga."
*****
Motorku melaju pelan, menikmati pemandangan sore ini dengan siulan santai. Satu langkah lagi, hanya perlu usaha sedikit lebih keras lagi maka aku membuka jalan mimpi besar nomor duaku.
"DANAAAAAR!"
CKIIIT
"Astaghfirullah." Aku kaget setengah mati saat tubuh ibuku membentang menghalangi motorku yang tengah melaju. Untung aku tidak terlambat mengerem, kalau tidak, tidak tahu seperti apa nasib ibuku.
"Astaghfirullah Danar! Tiga kali lu muter-muter lewat sini. Lupa jalan pulang lu! Noh, belok gang, di situ rumah lu!"
Tidak terasa aku sudah tiga kali mengintari jalan yang sama, terlalu hanyut dalam khayalan membuatku terus berputar-putar meski gang di rumahku sudah terlewat.
Aku menggaruk kepala sambil tertawa, "hehehe iya ya. Ayo Bu naik, kita pulang bareng!" ajakku.
__ADS_1
Ibuku melotot garang. Kemudian melompat naik ke jok belakang, benar-benar melompat sampai motorku hampir terguling.
"Abis dari mana, Bu?" tanyaku.
"Abis dari warung Mpok Inah. Liat elu naik motor muter tiga kali kagak belok-belok, ngabisin bensin. Keder lu hah?"
*****
Siulan syahdu mengalun di bibirku, mengiringi acara menyisir rambut yang tengah ku lakukan di depan cermin persegi panjang kamarku.
Sudah jam lima sore, sudah waktunya untukku mendorong gerobak memutari kampung mencari pelanggan.
Sekali lagi aku menatap wajahku di cermin, menyisir rambutku dengan jari.
Mengulurkan tangan pada udara sambil berkata, "hello, my name is Danar. You can call me, Dan."
"Nar!" teriakan Si Ibu sukses membuat aku terperajat.
"Iya, Bu," Aku merespon cepat sebelum akhirnya menormalkan raut wajahku. "Kenapa, Bu?"
Aku dengar derap langkah Si Ibu yang mendekat ke arah kamarku, sebelum akhirnya suara gorden pengganti pintu, kamarku tak memiliki pintu karena harga pintu terlalu mahal, terdengar tersibak kuat. "Lu yang kenapa? Dari tadi tingkah lu aneh, Nar. Jujur sama ibu, ada apa lu?"
"Enggak," jawabku singkat, enggan memberi tahu kabar baik yang aku dapat di sekolah. Tentu kabar baik ini akan berubah buruk jika ibu mematahkan semangatku dengan ketidaksetujuannya.
"Ibu takut lu kenapa-kenapa!" Si Ibu bicara dengan raut khawatir, yang sebetulnya agak berlebihan.
"Enggak, Bu." Akh menggeleng sambil memasang senyum lebar.
Biar saja ibu tak tahu, besok lusa akan ku beri tahu jika waktunya memungkinkan. Biarkan aku berbahagia secara penuh hari ini, biar kabar ini akan tetap jadi kabar baik tanpa ternodai sedikit pun.
"Danar pergi dulu ya, Bu!" Aku berpamitan kemudian mencium tangan ibu.
__ADS_1