
Dalam hidupku, ada tiga mimpi besar yang sedang aku usahakan.
Masuk surga bersama keluarga.
Menjadi pengacara hebat di salah satu firma hukum luar negeri.
Membangun keluarga sakinah, mawadah, warahmah bersama Meliana.
Meski ibuku tidak merestui mimpi nomor duaku dan tidak mengetahui mimpi nomor tiga ku. Tapi aku percaya diri bisa mewujudkan semua mimpiku, nanti pada waktunya.
Sebetulnya ibuku lebih setuju dengan saran tetanggaku agar aku fokus pada bisnis kuliner yang kini aku jalani, yaitu jadi tukang bakso keliling.
Tak heran sebetulnya, soalnya aku ini salah satu tukang bakso paling sukses di kampung, yang sudah punya dua gerobak, satu dipakai olehku, satu lagi di pakai oleh si Kolay teman sekaligus karyawan ku.
Aku sadar betul kalau nanti aku harus kuliah ke luar negeri, itu artinya aku harus melepas bisnis bakso yang sudah tiga tahun terakhir menghidupi keluargaku. Iya, aku tulang punggung keluarga. Ayahku sudah tidak bisa lagi bekerja di bengkel karena penyakit jantung yang ia derita.
Masih melekat di kepalaku tiga tahun lalu waktu aku masih kelas tiga SMP. Saat itu semangatku hampir patah, masa depanku hampir buntu.
Saat itu aku sedang membaca buku IPA karena besok pagi ada ulangan harian. Tapi ibu tiba-tiba menghampiriku dengan wajah lusuh.
"Nar," Ibu memanggilku dengan suara bergetar dan sorot mata nanar.
"Iya, Bu?" Aku menoleh dengan wajah penuh tanya.
"Bukan karena ibu gak sayang. Tapi keadaannya sudah mendesak, Nak."
Aku tak paham dengan apa yang ibu katakan.
"Maksudnya?"
"Keluar dulu nak, temui pamanmu dulu."
Meski ragu, aku tetap beranjak dari kursi. Mengikuti ibuku menuju ruang televisi tempat pamanku berada.
"Nar!" sapanya dengan senyum lebar khasnya, ujung kumis yang mengacung ke atas menjadi ciri khasnya.
"Duduk dulu, Nar!" titah Ibu.
__ADS_1
Aku menurut, duduk di samping Paman Wawan.
"Mulai besok, kamu gak usah sekolah, kamu ikut paman kerja di proyek," Paman bicara dengan begitu ringan seakan itu adalah hal yang sangat sepele.
Rasanya bagai disambar petir saat mendengar kalimat itu keluar dari mulut pamanku. Aku sedih bukan main. Aku suka sekolah, aku suka belajar, aku suka bertukar pikiran bersama guru dan teman-temanku. Dan saat pamanku dengan entengnya mengucapkan kalau aku harus berhenti sekolah, duniaku serasa hancur.
"Enggak! Danar enggak mau!" tolakku.
Bukannya aku tidak sayang dengan ibu, bukannya aku tidak paham dengan keadaan. Aku tahu kalau ibu juga sudah berusaha bekerja apa saja. Tapi aku juga tidak bisa membayangkan bagaimana menjalani hidupku tanpa sekolah.
"Nar, kamu lihat bapakmu!" Ibuku menunjuk bapak yang sedang berbaring lemah di ranjang. "Bapak sakit, Nar. Ibu sudah berjuang, tapi belum cukup, semuanya sia-sia. Kita berjuang sama-sama demi kesembuhan bapak."
Air mataku meleleh saat itu. Aku tahu, untuk seukuran anak laki-laki, saat itu aku terlalu cengeng.
Dengan amarah meletup-letup, aku tak mengacuhkan ucapan ibuku. Aku beranjak dari duduk, tanpa bicara sepatah kata pun aku pergi dari rumah tanpa alas kaki.
Langkah kakiku membawaku sampai di warung kopi Mang Aep yang kebetulan sedang sepi. Terlalu buntu kepalaku saat itu, hanya tempat ini yang terlintas di kepalaku.
"Wes, boy mau kopi susu?" tanyanya. Aku tak menjawab, malah duduk di bangku kayu panjang dengan mata kosong.
"Saya mau sekolah, Mang." Mataku menerawang ke depan, entah apa yang aku lihat. Pikiranku sangat kosong saat itu.
"Sabar boy, ini masih malam, tunggu besok pagi lah."
Mang Aep dengan wajah penasaran duduk di sampingku, wajah kami kini hanya berjarak 10 Senti saja.
"Maksudnya apa, boy?"
Ku usap wajahku dengan tangan kanan. "Bapak sakit Mang,"
"Sudah tahu aku kalau itu, kemarin aku kan datang ke rumahmu bawa roti tawar."
"Biaya berobatnya mahal, ibu udah gak sanggup Mang. Danar harus kerja."
Mang Aep menjentikkan jari dengan wajah berbinar-binar. "Amang punya solusinya, boy!"
Aku menatap wajah Mang Aep dengan malas. Paling-paling hanya solusi konyol tak masuk akal saja.
"Amang punya kenalan bos bakso dia sekarang. Kau masih bisa sekolah pagi hari dan jadi tukang bakso keliling di malam hari, dengan begitu sekolahmu tak terganggu, boy. Uangnya juga lumayan, Boy."
"Masa sih mang?" Aku menatap wajah Mang Aep berbinar-binar.
__ADS_1
"Hapus air matamu itu boy. Hilang aura jantan mu itu!" tegurnya.
Aku mengusap air mata dan ingusku yang sudah meluber hampir ke seluruh bagian wajahku.
"Saya mau, Mang. Daftarin saya, Mang!" kata ku agak memohon.
"Eiittss! Jadi tukang bakso itu gak mudah, boy! Kau harus bisa meracik bumbu yang enak."
Kepalaku menerawang, membayangkan tangan tukang bakso yang lihai meracik bumbu ke dalam mangkuk. Alah, cuma garam, bubuk micin, cuka, kecap, saos, terus beri saja bawang goreng yang banyak. Orang Indonesia pasti suka.
"Gampang itu, Mang!" kataku penuh keyakinan.
"Bukan cuma itu, kau juga harus tahan banting. Kalau hujan–"
"Bisa, Mang!" Soal tahan banting, tak ada yang bisa mengalahkan tekad seorang Danar Daniarto.
"Satu lagi. Ini," Mang Aep menelpuk lengan atasku, "kuat gak, dorong gerobak?"
"Kuat lah, itu mah kecil!" kataku, sedikit tersinggung.
Mang Aep tersenyum lebar. "Bagus boy! Selamat, kau lulus interview tahap awal." Dia menyalami tanganku dengan wajah bangga. Sekedar informasi saja, Mang Aep itu seorang Sarjana Hukum yang ngebet jadi staf HRD di salah satu perusahaan besar. Namun sayang, berulangkali ia melamar tapi selalu gagal dan di tolak. Antara latar belakang pendidikan dan cita-citanya saja agak tidak nyambung. Dan akhirnya ida memutuskan banting stir jadi tukang kopi.
"Besok Amang bawa kau ke rumah teman Amang."
Hari pertama menjadi tukang bakso tidaklah mudah. Sumpah, aku merasa malu sekali apalagi saat salah satu teman sekolahku membeli bakso padaku, rasanya aku sudah tak punya muka.
Tapi semuanya terasa menyenangkan saat uang sudah memenuhi laci gerobakku. Memang benar kata orang, uang bisa membeli segalanya termasuk rasa gengsiku.
Ada satu hari, aku ingat betul itu hari ke 5 aku berjualan. Sebuah keputusan yang sangat aku syukuri, yaitu memutuskan berjualan bakso ke daerah perumahan.
"Mang, beli baksonya satu ya. Gak pake saos, gak pake cuka, pake sambel dikit aja terus kecapnya yang banyak. " Aku terpaku saat mendengar suara lembut menyapa pendengaranku, dan tangan indah yang lentik dan mulus menaruh mangkuk ayam jago di gerobakku. Jantungku berdisko saat itu juga.
"Mang, kok diem aja?"
"Eh, iya." Aku mulai meracik bakso dengan perlahan.
"Nih," aku berbalik memberikan semangkuk bakso padanya. Ya Allah, ini parah. Wajahnya sangat cantik, terutama matanya yang cemerlang membuatku tersesat di dalam sana.
"Mang kenapa, sih?" Meliana mengerutkan keningnya, melihat tanganku yang bergetar hingga beberapa tetes kuah bakso di mangkuk menetes ke tanah.
"Aneh."
__ADS_1
Dan saat itu juga aku memutuskan, bahwa perumahan ini adalah rute dagangku.