Cinta Di Seberang Jalan

Cinta Di Seberang Jalan
Ujian Praktik Seni Budaya


__ADS_3

Aku sudah kelas tiga semester dua, sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan Ujian Nasional. Sekarang pun kita yang duduk di bangku kelas tiga, sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan ujian praktik ini dan itu, belum lagi tugas-tugas yang mendadak, di tambah persiapanku untuk lolos beasiswa ke Inggris, semua itu berat. Maka, adanya pelajaran seni budaya di tengah kita bagaikan guyuran air di tengah musim panas, menyejukkan, ini adalah hiburan.


Pak Deni, guru seni budaya yang selalu mampu membawa ceria suasana, kehadirannya selalu membuat kami terhibur. Bagaimana tidak? Hanya dengan melihat penampilannya saja sudah membuat segar suasana. Hari ini, dia datang dengan kemeja polos berwana ungu, dipadukan dengan celana hijau army, dan jangan lupakan dasi motif polkadot berwana kuning dengan corak pink fanta. Sungguh menyilaukan mata.


"Lusa ujian praktik ya!" katanya dengan ringan, sangat ringan, terlalu ringan. Nadanya sama seperti saat Si Bonar mengajakku nongkorong di pinggir kali.


"Praktek apa, Pak?" tanya Si Bonar, nada bicaranya tak terima.


"Cuma nyanyi, di kamar mandi juga nyanyi. Jangan berlebihan lah reaksinya," katanya.


"Tapi kan harus latihan, Pak. Belom milih lagunya, nyari instrumennya, harus di persiapkanlah!" Dea bernegosiasi.


"Nyanyi apa ajalah, nyanyi balonku ada lima sambil tepuk tangan juga bapak nilai,"


"Tapi, Pak—"


"Sudah! Lusa ya, di ruangan seni pas pulang sekolah. Nanti kayaknya sih, digabung sama IPA 2 soalnya mepet ini waktunya."


Mendengar kelas IPA 2 di sebut, merekah senyum di bibirku. Itu artinya aku akan tampil bernyanyi di depan Meliana, juga sebaliknya.


"Ada yang senyum-senyum sendiri macam orang gila," kata Si Bonar.


"Siapa tahu, di kelas sebelah ada gebetan. Pilihlah lagu bagus, tampil juga yang bagus siapa tahu bikin dia kepincut. Iya kan, Nar?" Pak Danu menggodaku. Bukan rahasia lagi kalau aku ini jatuh cinta pada Meliana, bukan hanya Pak Danu, tapi semua guru, penjaga sekolah, ibu kantin, sampai anaknya ibu kantin yang masih TK tahu aku cinta pada Meliana.


"Cie... Ciee... Danar!" Satu kelas menggodaku.


*****


Sepulang sekolah, alih-alih berganti pakaian kemudian makan, aku malah langsung melesat ke kamarku, membuka lemari bukuku yang sudah reyot, mencari sesuatu.


"Gedubag... Gedubug..."


"Lagi ngapain sih, Nar!" Si Ibu yang sedang memasak masuk ke kamarku saat mendengar suara ribut dari dalam.

__ADS_1


Aku menoleh, "bu?"


"Lagi ngapain?" ibuku bertolak pinggang.


Aku berjalan mengampiri Si Ibuku. "Ibu tahu buku lagu punya danar?"


"Sejak kapan lu punya lagu?"


"Ck!" aku berdecak gemas. "Buku kumpulan lagu2 yang waktu SD danar beli."


"Oh, udah ibu jual ke rongsokan dari kapan taun, Nar! Buku SD lu tanyain." Ibu geleng-geleng kepala sambil ngeluyur melanjutkan kegiatannya merebus bakso.


Ya karena tidak punya pilihan lain, akhirnya aku membuang kuotaku yang khusus aku gunakan untuk mengerjakan tugas, kini harus terbuang sia-sia hanya untuk mencari lagu yang sedari tadi menggentayangi kepalaku, tapi entah apa judulnya, tapi yang pasti lagu milik dewa 19.


"Oke goolge. Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku..."


Bola mataku membesar saat melihat deretan lirik lagu yang ternyata berjudul Risalah Hati, milik Dewa 19. Sungguh, hatiku tersentuh membaca lirik yang disampaikan di lagu ini seolah lagu ini memang diciptakan khusus untukku.


"Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku..."


"Cieeee! Bang Danar lagi jatuh cinta ya?" ledek Lena gadis berusia 12 tahun, pelanggan setiaku sekaligus tetanggaku.


Aku hanya tersenyum sambil menggaruk tengkuk.


"Bilangin ah, ke ibunya Bang Danar!"


"Eh jangan!" Aku melarang. "Nih, abang tambahin pentolnya dua." Aku menaruh dua buah bakso kecil ke mangkuk.


"Nah gitu dong, Bang. Kalo gini kan enak," katanya sambil ngeluyur pergi membawa mangkuk baksonya.


Aku menggeleng. Dari mana anak usia 12 Tahun mengerti caranya bernegosiasi.


Aku lanjut mendorong gerobak bakso, dan sepanjang perjalanan itu aku terus bersenandung sambil membayangkan wajah Meliana yang tersipu-sipu saat aku tampil di hadapannya nanti.

__ADS_1


Aku berhenti mendorong gerobak bakso tepat di depan warung Mang Aep.


"Hey, Boy!" Mang Aep menyapaku.


"Kopi Susu satu, Mang!" kataku sambil duduk di bangku panjang yang terbuat dari kayu.


"Siap Boy!"


Selagi Mang Aep meracik kopi pesananku, aku bersenandung syahdu untuk menghibur diriku sekaligus latihan untuk praktik nanti.


"Fals kali suara kau, Boy!" ejek Mang Aep sembari menaruh kopi pesananku di meja.


Sejujurnya, aku tersinggung dengan ucapan Mang Aep barusan, mau marah tapi satu sudut hatiku membenarkan. Alhasil, aku hanya bisa diam sambil cemerut.


"Aish, jangan marah begitu, Boy!" Mang Aep menegur sambil berjalan mengahmpiriku, diambilnya gitar yang tergelat dekat penggorengan kemudian duduk di sampingku.


"Mau nembak Meliana kau, Boy?" tanyanya.


"Enggak." Aku menggeleng.


"Marahmu macam anak gadislah!"


Aku menatap wajahnya dengan senyum lebar yang dipaksakan. "Enggak marah saya, Mang," kataku.


"Lantas kenapa kau tak bilang apa alasan kau nyanyi-nyanyi tak macam biasanya," dia mendesakku.


"Lusa saya mau ujian praktik seni budaya, Mang, bukan mau nembak Meliana." Aku menjelaskan.


"Pilihlah lagu yang mudah, lagu kuburan Band itu. C, A minor, D minor ke G ke C lagi–" Mang Aep malah lanjut bernyanyi.


"Tapi Prakteknya digabung dengan kelas Meliana."


"Kenapa kau tak bilang! Sini biar aku latih, biar kau keren saat bernyanyi."

__ADS_1


__ADS_2