
Akhirnya, hari dinanti-nanti telah tiba. Hari ulang tahun sekolahku tercinta. Senyumku mengembang lebar seperti iklan pasta gigi saat sampai di parkiran. Ku eratkan genggamanku pada secarik puisi buatanku, kemudian melangkah dengan yakin keluar dari parkiran. Begitu sampai di lapangan sekolah aku di sambut dengan suara cek sound dari speaker yang begitu kencang. Juga dibuat terperangah dengan panggung besar yang terletak di tengah lapangan upacara, jangan lupakan juga interior yang menawan dan meriah. Pokoknya, pagi ini begitu berbeda, tidak ada wajah lesu di wajah para siswa, semuanya gembira dan ceria.
"Tes 123... Cek 123!"
"Eh, ini mic nya mana satu lagi!" Gilang, si ketua OSIS, pagi-pagi sudah teriak-teriak di speaker macam penjual obat herbal di pinggir jalan.
Saat sampai di kelas pun suasana kelas jadi begitu ramai. Si Arthi dan gengnya sibuk mencari pelaku yang memakan dua potong bolu yang akan di jual di stand bazar.
"Eh, elu ya Bonar! Ngaku lu!" Si Arthi menunjuk wajah Si Bonar sambil melotot.
"Enak saja kau menuduhku, mana mungkin pria tampan macam aku jadi pencuri?" Bonar mengangkat tangan di udara, seolah sedang diintrogasi.
"Kalo bohong bisul tujuh baris tujuh banjar lu, mau!" Arthi menunjuk tepat di wajah di hidung Bonar.
Aku tertawa mendengar Omelan si Arthi. "49 dong," aku berkomentar.
"Eh, ngeri kali!" Bonar bergidik ngeri sambil memeluk tubuhnya.
Sedangkan Dea dan gengnya yang beranggotakan delapan orang, sibuk latihan dance ala-ala Korea yang akan mereka tampilkan siang nanti.
"Git, yang kompak dong!" Dea berdecak kesal.
"Eh, iya sorry De!"
"Sekali lagi."
Beda hal nya anak pria yang nampak santai-santai saja duduk di meja dan sok intelek mengobrol kan masalah pemindahan ibu kota yang ramai di perbincangkan.
"Kalo ibu kota pindah ke Kalimantan, kita jadi anak kampung dong."
"Iya, orang utan sekarang ganti nama jadi orang kota."
Aku hanya tersenyum mendengar obrolan itu, manun tak tertarik untuk bergabung. Saat duduk di bangku, aku tersenyum malu-malu. Kemudian merogoh tasku, mengambil sepucuk kertas berisikan puisi untuk lomba hari ini. Baru membukanya saja sudah berdebar-debar dadaku, ah apa Meliana akan suka dengan puisi ini? Aku tersenyum malu lagi.
*****
Saat acara dimulai, hampir semua siswa berkerumun di depan panggung, menonton berbagai macam pertunjukan yang disajikan. Sebagiannya lagi, ada yang memilih duduk di kantin, dan sebagian kecilnya lagi memilih merokok di kamar mandi, ini geng anak-anak nakal. Sedangkan aku dan Bonar berbeda dengan yang lainnya, Bonar memilih menonton pertunjukkan dari kelas, dan aku yang duduk di samping Bonar, memilih menonton Meliana yang menonton pertunjukkan di lapangan.
"Nar!" Suara Si Arthi menggema di kelas ini.
"Apa/Apa?" Aku dan Bonar menjawab dan menengok bersamaan.
"Danar!" Si Arthi melirik sinis pada Bonar. "Apa juga urusan gue manggil-manggil lu, Bonar!"
Si Bonar mencebik sebal.
"Apa, Thi?" tanyaku.
__ADS_1
"Habis ini lomba cipta puisi, siap-siap yuk!" Si Arthi mengajakku keluar.
Dadaku tiba-tiba bergemuruh. Kemudian kulirik lapangan, dan masih kutemukan siluet tubuh Meliana berdiri di sana. Aku tersenyum sambil memegang dada, menikmati setiap debaran menegangkan ini. Akh! Aku sangat antusias membayangkan Meliana menonton aku tampil di atas panggung.
"Nar, buruan!" Si Arthi bertiak gemas.
"Iya, iya." Aku bangun dari kursi hendak menghampiri Arthi, namun Si Bonar menahan lenganku. Membuatku berbalik menatap wajahnya dan tanpa sadar memperhatikan setiap bekas jerawat di pipi tembamnya. Aku tersenyum bangga, akhirnya Si Bonar berhasil melawan jerawatnya. Astaga! Kenapa ini seperti adegan di sinetron? Tidak, harusnya yang menahan lenganku seorang gadis cantik, bukan malah pria gempal macam Si Bonar.
"Tunggu!" katanya. Aku menurut dengan diam saja sambil menatap wajahnya. Kulihat dia mengeluarkan tangannya dari saku celana, lidahnya menjulur menjilat jempol kanannya, mataku melotot memperhatikan, dan... dia mengoleskannya di alisku. Bulu kudukku tiba-tiba berdiri, aku melirik Si Arthi yang muntah karena jijik, sedangkan Si Bonar tersenyum bangga memperlihatkan deretan giginya.
"Biar tampan!" katanya dengan senyum bangga.
"Jorok banget sih lu, Bonar!" Si Arthi mengomel sambil bergidik jijik.
*****
Jantungku makin berdegup kencang saat berdiri di belakang panggung bersama dengan peserta dari kelas lainnya. Dari sekian banyak lomba yang sering aku ikuti, lomba ini yang membuatku paling berdebar-debar. Meski jika dipikir-pikir, tentu saja level lomba ini jauh lebih rendah bila dibandingkan lomba-lomba lainnya yang pernah aku ikuti. Entahlah, mungkin karena memikirkan Meliana akan menonton penampilanku nanti.
"Kau tempatku menuntut ilmu..." Suara peserta yang tampil membuatku makin gugup. Sudah 9 peserta yang tampil dan aku tidak menyangka kalau semuanya akan tampil sebaik ini. Dan setelah ini giliranku, aku adalah peserta ke sepuluh yang akan tampil.
"Peserta yang satu ini, udah sering kita dengar karya-karyanya lewat radio sekolah. Penasarankan kayak apa penampilannya sekarang? Kita panggilkan, Danaaaar!" Dini, anggota OSIS sekaligus partner siaranku yang hari ini diutus menjadi pembawa acara, terdengar memanggilku untuk naik ke atas panggung.
Dengan mata terpejam aku menghela dan menghembuskan nafasku dalam, baru kemudian menaiki satu persatu anak tangga untuk naik ke atas panggung.
"Good luck ya!" Dini berbisik padaku, aku balas melempar senyum padanya.
Kemudian mulai membacakan puisi yang aku ciptakan dengan sepenuh jiwa dan raga.
"*Terima Kasih Sekolahku
Karya : Danar Daniarto
Adalah sebuah anugerah aku bisa menuntut ilmu di tempat ini.
Karena tak perlu aku pergi ke negeri China, jika di sekolah ini aku bisa mempelajari segalanya.
Juga tak perlu aku pergi ke khayangan, jika di sekolah ini aku bisa menemukan seorang bidadari yang cantik jelita*..."
"Uhuy!"
"Cieeee!"
"Anjaaay!"
Suasana riuh saat aku membacakan bait ketiga puisiku.
"... Tak perlu aku berperang dengan pedang, jika dengan pena pun aku bisa menang dan membawa perubahan.
__ADS_1
Pula, tak perlu aku datang dengan sebongkah berlian, jika dengan puisi ini saja cukup untuk mengungkapkan perasaan dan membuat hatimu luluh lantah
Teruntuk sekolahku, aku ucapkan terima kasih yang teramat sangat dalam.
Karenamu, aku bisa melihat masa depanku begitu dekat dan indah di depan mata."
"Aaaw nikahi aku Bang Danar!" Si Erik berteriak histeris dari barisan penonton, membuat penonton lainnya tertawa.
"Aku padamu, Nar!" Si Arthi berteriak kencang.
"Kawanku itu, kawanku!" Si Bonar sibuk meminta pengakuan kesana kemari.
Dini selaku pembawa acara, naik ke atas panggung dengan senyum manis yang ia lemparkan padaku. Dia bangga padaku.
"Bagus, Nar!" dia memuji, pelan.
"Oke silahkan kembali ke belakang panggung, Danar!" Dini berbicara menggunakan microphone mempersilahkan aku turun.
"Keren banget kan guys, penampilan Danar tadi! Eits jangan khawatir, kita akan panggilkan peserta ke sebelas yang gak kalah kerennya. Dari kelas dua belas IPS 1, kita panggilkaaaaan. Daniii!"
Aku disambut bak selebritis oleh teman-temanku saat turun dari panggung. Erik, Bonar, Arthi, Dea, Beni, dan yang lainnya tersenyum bangga menunggu kehadiranku.
"Bangga aku padamu, Nar! Pandai kali kau buat puisi untuk sekolah sambil merayu," kata Bonar dengan logat bataknya.
Aku hanya cengengesan sambil menggaruk tengkuk.
"Menang gak menang yang penting gokil!" kata Erik, yang lainnya tertawa aku juga ikut tertawa. Namun aku menoleh saat seseorang menepuk pundakku. Itu Dini, sambil membawa microphonenya, dia tersenyum padaku.
"Kayak biasanya, lo selalu keren, Nar!" pujinya.
"Makasih," aku menjawab.
"Hey, siapa dulu! Temanku ini!" Si Bonar menepuk dadanya, bangga.
Namun wajah seluruh teman-temanku berubah masam saat Eygra dan gengnya datang menghampiri kami. Mereka memasang wajah meremehkan aku.
"Bangga dapet sorakan seantusia tadi?" tanya Eygra.
Aku diam, tak mau terprovokasi.
"Sadar, Nar! Yang setiap usaha yang lo lakuin itu cuma bikin Meliana malu!" katanya. Sudut hatiku tersentil mendengarnya. Meliana juga bilang begitu tempo hari padaku, tapi dengan tak tahu malunya aku malah tetap nekat menampilkan puisi ini tengah perlombaan, di kerumunan orang, dan menjadi tontonan.
"Heh!" Aku menoleh pada Dini yang maju dengan beraninya menantang Eygra. "Danar gak pernah bilang kalo puisi ini buat Meliana. Apa lo denger nama Meliana disebut di puisi yang Danar tampilin tadi? Enggak kan?" Dini menyerang Eygra dengan pertanyaan yang memojokkan.
"Danar cuma mau nampilin puisi terbaiknya di lomba dan bukan salah Danar kalo tuh cewek kege'eran!" Dini menunjuk ke arah kanan yang ternyata ada Meliana yang berdiri mematung, mendengar semuanya.
"Mel," gumamku.
__ADS_1
"Gak malu lo dibelain cewek!" cibir Eygra.