Cinta Di Seberang Jalan

Cinta Di Seberang Jalan
Lebih Mengenal Meliana


__ADS_3

Malam ini hujan cukup deras. Bagi para pedangang keliling seperti kami, ini merupakan sebuah musibah besar. Karena bukan hal mudah berkeliling sambil dangang dengan tubuh basah kuyup, belum lagi jalanan licin menyulitkan kami mendorong gerobak, yang paling parah tak jarang kami di ganggu mahkluk halus di tengah jalan. Tapi untuk penjual bakso sepertiku, hujan ini berkah juga karena orang-orang cenderung suka makan bakso hangat di kala hujan, dan danganku habis 2 kali lebih cepat.


Maka malam ini pukul delapan malam, ku putuskan untuk pergi ke warung Mang Aep karena dagangan ku sudah ludes tak bersisa dan aku butuh teh hangat dan gorengan setelah hujan-hujanan.


"Ini boy, teh hangat sesuai pesanan."


"Makasih Mang."


"Hari ini enggak bawa jas hujan?" Mang Aep bertanya sambil menyodorkan handuk kering padaku.


"Lupa Mang, buru-buru soalnya."


Mang Aep kembali mengaduk gorengan yang sempat ia tinggalkan untuk menyeduh teh hangat.


"Eh, ngomong-ngomong. Gimana boy, puisi nya udah jadi?"


Aku tersenyum membayangkan puisi hebat yang sudah aku buat untuk lomba nanti. "Udah Mang."


"Bangga kelihatannya. Hasilnya memuaskan?"


"Di buat dari hati, Mang."


Mang Aep tergelak. "Bagus-bagus, boy!"


"Mang, Teh hangatnya dua!"


Aku menoleh, suara tawa Mang Aep reda saat suara yang amat familiar terdengar menyapa gendang telingaku. Ini pemandangan yang lebih buruk dari pada di gentayangi kuntilanak saat dagang. Pemandangan Eygra bersama Meliana yang masih mengenakan seragam sekolah, entah dari mana.


"Siap, tunggu sebentar ya."


"Eh Nar, gue kira siapa." Eygra tersenyum sok akrab, matanya melirik Meliana sekilas kemudian kembali menatap wajahku. Seolah menjelaskan padaku, kalau Meliana kini sedang bersamanya.


Tentu aku cemburu, tapi tak perlu lah di tunjukkan atau Si Eygra ini akan merasa menang.


Aku balas dengan cengiran lebar, hanya ekspresi ini yang bisa aku tunjukkan untuk menahan rasa sakit ini. Entah seperti apa wajahku kelihatannya sekarang, mungkin mirip-mirip kuda.


"Mel, udah malam kok ada di luar rumah?" Kalimat itulah yang terlintas pertama kali di kepalaku jadi ku lontarkan saja tanpa berpikir ulang.

__ADS_1


"Iya, aku—"


"Habis ada kegiatan sama gue. Lagian lo gak perlu khawatir Nar, nyokapnya udah ngasih kepercayaan sama gue buat jaga Meliana."


Manusia satu ini memang tak pernah lelah menyombongkan dirinya di hadapanku, terlebih yang menyangkut Meliana. Dia akan amat senang kalau-kalau semangatku patah karena ucapannya.


Tapi maaf saja, semangatku ini bukan ranting kering yang mudah patah hanya dengan sentuhan, tapi semangatku ini adalah besi padat yang semakin dia berusaha patahkan maka tangannyalah yang semakin  terluka.


Meliana menatap Eygra tak suka, kemudian menjawab, "habis les."


"Oh... " Aku mengangguk paham.


"Ini, teh nya sudah siap!" Mang Aep menyodorkan dua gelas teh hangat pada mereka.


"Di minum, Mel." Aku mencondongkan tubuh ke depan agar bisa melihat wajah Meliana yang terhalang tubuh Si Eygra sok ganteng ini.


Meliana tersenyum canggung sambil mengangguk.


"OOOOHHH... Jadi ini Boy, Meliana yang ribuan kali di sebut itu?" Mang Aep berseru kencang.


Aku melotot merasa tak enak hati. Aduh! Bisa kacau ini, makin sebal saja Meliana padaku kalau begini jadinya.


"Masa sih, Mang?" Aku kaget saat Meliana memotong dengan intonasi yang antusias.


"Iya, setiap datang kesini minimal satu kali nama Meliana di sebut. Kamu itu inspirasi terbesar buat Danar sampai saat ini. Yah, pantes sih, cantik. Pintar kamu pilih wanita boy!"


"Oh ya?" Meliana bersuara malu-malu sambil mengusap tengkuknya, kemudian wajahnya tertunduk. Tapi sayang sekali, tak bisa aku  melihat ekspresi wajahnya karena rambut terurainya menghalangi sisi kanan wajah cantiknya.


"Hey! Keluar matamu lama-lama, Boy. Melototi wajah anak gadis orang!"


Giliran aku yang tertunduk malu karena ketahuan menatapi wajah Meliana tanpa berkedip. Ya Allah, ciptaan- Mu yang satu ini terlalu luar biasa sampai-sampai hatiku heboh tak karuan hanya dengan memandangnya.


"Hey, Mel. Biar kata ini anak kucel dan wajahnya tak karu-karuan, tapi wanita yang akan jadi pendampingnya kelak akan jadi wanita paling beruntung. Pasti bisa dia membahagiakan anak istrinya kelak, masih muda saja sudah pandai cari uang dan jadi tulang punggung keluarga, tak perlu di pertanyakan lagi kesiapannya untuk menghadapi kehidupan dewasa kelak. Dan Mang Aep harap, kamu wanita beruntung itu, Mel." Mang Aep biacara sambil menatap mata Meliana sangat dalam.


Sedangkan aku di buat tersipu sekaligus terharu dengan pujian yang di lontarkan oleh Mang Aep padaku. Kalau saja kulitku ini putih, sudah tercetak jelas rona merah di pipi ini.


"Udah Mang, gak usah di lebih-lebihin. Terbang saya sebentar lagi."

__ADS_1


Mang Aep tergelak. "Harusnya kamu senang boy, dapat promosi gratis."


"Masa sih, Mang? Aku baru tahu Danar itu tulang punggung keluarga." Meliana bertanya dengan lantang, aku baru tahu sisi lain dari Meliana. Ternyata meski pendiam, dia punya keingintahuan yang tinggi.


"Iya, bapaknya sakit sejak dia SMP–"


"Mang!" Aku memotong kemudian menggeleng pada Mang Aep. Aku tak suka kalau kehidupan pribadiku di umbar pada orang lain, terlebih itu Meliana. Tak mau kau kalau nantinya Meliana mau dekat denganku hanya karena rasa iba. Itu membuatku merasa rendah.


"Ini, gorengannya juga masih hangat. Cocok kalau di makan sama teh hangat." Mang Aep menyodorkan piring berisi 5 buah gorengan.


"Enggak Mang, kita mau pulang aja." Eygra dengan wajah datarnya menarik tangan Meliana agar beranjak.


"Eygra!" Meliana berseru tak suka saat Eygra menarik tangannya keluar dari warung.


"Kalau Meliana gak mau jangan di paksa dong, lo juga nyakitin Meliana." Dengan gaya sok pahlawan, aku dengan sigap menghampiri mereka berdua.


"Gak usah banyak drama Nar, ini bukan sinetron. Gak mungkin lah gue nyakitin Meliana, gue juga punya otak. Dan sekarang udah malem, apa kata orang tuanya Meliana kalo gue bawa anaknya sampe larut malem, hah?"


Luntur semua jiwa pahlawanku. Benar juga, aku saja yang terlalu berlebihan menanggapinya.


"Oh, gitu ya," kataku sambil menggaruk tengkuk malu-malu. "Ya udah, hati-hati Mel."


Meliana mengangguk. "Aku duluan, Nar."


Dari sini aku hanya bisa memandang mereka berdua beranjak meninggalkan warung, menerobos hujan menuju mobil Fortuner hitam.


Namun, sebelum masuk ke dalam mobil Meliana menghentikan langkahnya kemudian menyentak tangan Eygra dengan kasar.


"Aku gak suka kamu bawa-bawa Mama aku di depan Danar atau siapa pun." Meliana bicara pelan namun tegas.


"Kamu suka sama Danar?"


"Aku gak suka kamu tanya-tanya soal privasiku." Kemudian Meliana masuk ke dalam mobil.


Dari sini, aku hanya bisa memandang mobil mewah itu membelah jalanan. Meski aku cemburu, meski hati ini terasa sesak. Tapi aku bersyukur ada Eygra yang bisa menjaga Meliana dengan baik. Kalau saja malam ini Meliana pergi denganku, pasti Meliana sudah basah kuyup di guyur hujan di atas motor matic milikku. Tak apa kali ini aku kalah dari Eygra, besok-besok aku akan kerja keras agar bisa menjaga Meliana lebih baik daripada Eygra sekarang.


"Boy, teh nya belum habis."

__ADS_1


"Iya Mang."


__ADS_2