Cinta Di Seberang Jalan

Cinta Di Seberang Jalan
Kado untuk Meliana


__ADS_3

Hari ini tanggal satu Agustus, itu tandanya tiga hari lagi tanggal Empat Agustus, hari ulangtahun Meliana. Aku selalu antusias dengan hari itu. Sejak mengenal Meliana, aku tak pernah melewatkan satu kali pun ulang tahunnya tanpa kado. Aku selalu datang dengan kado-kado sederhana yang mampu aku beli.


Sambil menopang dagu di meja, otakku terus berputar mencari kado yang cocok untuk Meliana. Sudah dua hari aku mencari kesana-kemari, mencari di pikiran tidak dapat, mencari di toko kelontong tidak ada, mecari di internet pun tidak ada yang pas, pas dengan isi dompetku maksudnya.


"Nar!" Bonar menepuk keras pundakku keras, tidak ini bukan menepuk, ini memukul, termasuk kepada penganiayaaan.


"Hm?" Aku menoleh malas, sebetulnya kesak juga karena rasa sakit yang masih tersisa. Hah! Untung teman.


"Meliana mau ngadain pesta katanya ya?" tanya Bonar.


Dahiku terlipat, aku bahkan tak tahu hal itu jika Bonar tidak bertanya. "Masa sih?" tanyaku.


"Tak tahu kau?"


Aku menggeleng.


"Ck!" Bonar berdecak keras. "Orang-orang sudah dapat undangannya, kau belum?" tanyanya lagi.


"Lu udah?" tanyaku balik.


"Tak kenal lah Meliana padaku, apa pula urusanku dengan dia," bersungut-sungun Bonar menjawab.


Kenapa pula aku jadi menoleh ke jendela, menunggu Meliana datang membawa sepucuk surat undangan untukku. Dan bahkan sampai leherku pegal karena menoleh berkali-kali, tidak ada Meliana atau pun kawannya yang diutus untuk mengirimkan surat untukku. Ah, mungkin belum, mungkin nanti setelah jam istirahat. Tak sabar aku menunggu jam istirahat.


*****


"Apa Itu Cinta?


Apakah sebuah bisikan yang terus menggumamkan namamu di telingaku?


Apa sebuah potongan gambar dirimu yang terus menempel di memori ku?


Apa sebuah perasaan bahagia kala melihat dirimu?


Aku tidak tahu.


Yang aku tahu hanya satu.


Cinta itu kamu, Mel."


Menggema suaraku membacakan puisi di seluruh antero sekolah. Beberapa adik kelas perempuan menjerit-jerit dari kantin karena meleleh mendengar untaian kata indah yang aku bacakan, beberapa anak laki-laki diam-diam mencatat puisinya untuk diberikan kepada pacaranya yang sekolah di tempat lain, Dini melempar senyum padaku, sedangkan Meliana, entah dia sedang apa, mungin tersipu-sipu atau yang paling memungkinkan bersungut-sungut kesal di kantin sana.


"Sekian dan terimakasih. Wassalamu'alaikum," tutupku setelah menunaikan kewajibanku membacakan puisi untuk Meliana.

__ADS_1


"Mantep, Nar!" puji Dini padaku.


"Hehehehe." Aku tertawa sambil menggaruk kepala belakangku. "Duluan ya, Din!" Aku buru-buru melompat keluar dari ruang penyiaran radio. Kali ini bukan karena lapar, tapi karena aku ingin bertemu Meliana. Jujur, aku mengharapkan undangan itu.


Dan benar saja, saat keluar dari ruang penyiaran, aku langsung bertemu dengan Meliana yang melintas bersama teman-temannya. Senyum lebar sudah otomatis terpasang diwajahku. Sekali ini, aku berharap Meliana membalasnya.


"Cie Meli, cie..." Teman-temannya menyenggol Meliana dengan pundaknya.


"Apaan sih." Meliana terlihat risih. Ternyata responnya masih sama, ketus. Meski tak sesuai ekspektasiku, tak apa, aku masih suka dengan raut ketus di wajahnya itu.


Meski ingin bertanya soal surat undangan itu, aku tak berani mengungkapkannya, aku sadar betul kalau masih ada harga diri yang masih harus aku pertahankan. Jadilah, alih-alih pertanyaaan, senyum lebarlah yang bisa aku lempar padanya.


Meliana menunduk risih. "Pergi yuk!" ajaknya, pada teman-temannya.


Aku juga menunduk, kecewa, karena beberapa hal. Satu; senyum yang masih belum bisa gadis cantik itu balas, dua; ternyata Meliana tidak mengundangku di ulang tahunnya.


"Nar." Jantungku serasa berhenti berdetak, itu suara Meliana, menyebut namaku. Pasti Meliana lupa soal surat undangan itu.


Dengan tubuh kaku aku berbalik menghadapnya. "Iya, Mel."


"Bisa gak, jangan bawa-bawa nama aku di puisi yang kamu baca ke seantero sekolah?"


"Hah?" Jujur, aku kaget dengan ucapannya. Aku tahu Meliana mungkin malu selama ini, tapi aku tidak menyangka kalau dia akan mengungkapkannya dengan cara seperti ini.


Meliana menatapku dalam. "Bisa, Nar?"


Aku menelan ludah. Tak mampu aku menjawab.


"Bisa kamu berhenti bikin aku malu?"


Apa ini sama dengan. "Bisa kamu berhenti jatuh cinta sama aku?" Dan jawabannya adalah tidak.


"Aku duluan, Mel," kataku sambil melenggang pergi.


Alih-alih ke kantin, aku malah masuk ke dalam kelas, tidak lagi bernafsu aku untuk makan. Seorang diri di kelas ini, bertemankan ketenangan, aku mengeluarkan buku tulis berwarna merah itu dan menggoreskan tinta diatasnya.


Cinta, aku tahu betul kau memang berteman dengan rasa sakit.


Dan harusnya aku sadar, saat aku menerima kebahagiaan atas kehadiranmu, saat itu juga aku harus siap dengan rasa sakit yang membayang-bayangi.


*****


Aku bahkan tak bernafsu sampai pulang sekolah, pekerjaanku di rumah hanya melamun saja di meja belajar. Tak kusangka, Meliana bisa menorehkan luka sedalam ini hanya karena seuntaian kalimat singkat itu.

__ADS_1


Sebenarnya aku paham, yang membuatku terluka bukan ucapannya, tapi harapan berlebihan yang aku taruh padanya hari ini.


"Nar!" Suara Si Ibu terdengar begitu menggema di rumah kecil kami.


"Iya, Bu." Aku berlari keluar kamar menghampirinya.


"Ke pasar nyok! Bawang goreng abis, lupa tadi subuh gak beli, gimana lu mau dagang kalo gak ada bawang goreng," Si Ibu bicara sambil membetulkan kerudungnya yang bengkok.


"Iya, Bu. Ayo!" Aku langsung mengambil kunci motor.


Di tengah perjalanan aku melamun, masih memikirkan segalanya tentang Meliana. Tentang pesta ulang tahunya, tentang wajah ketusnya, tentang kado apa yang akan aku berikan padanya meski aku tak diundang.


'Plak!' Aku kaget saat mendapat pukulan keras di pundakku.


"Lu dengerin gue ngomong gak sih, Nar?" tanya Si Ibu.


"Apa, Bu?" tanyaku, takut-takut.


"Di belokan depan tukang kembang, belok kiri, gue mau beli kolor di gang rapia buat bapak."


"Iya, Bu." Aku mengangguk. Tapi tunggu, kembang? Bunga? Ah, kado yang bagus untuk Meliana.


Setelah mengantar Ibu ke pasar untuk membeli bawang goreng dan semua barang yang tidak direncanakan, aku kembali ke toko bunga, lebih tepatnya toko tanaman untuk membeli kado untuk Meliana.


Mataku tertuju pada satu bunga, Mawar, mungkin mainstream tapi kurasa bunga berduri itu cukup untuk mendeskripsikan sosok cantik Meliana.


"Mawar berapa, Bang?" tanyaku.


"Tanaman hidup atau setangkai mawar?"


"Taneman Mawar aja. Berapa?"


"120 ribu," jawabnya.


"Saya beli satu." Abang Penjual Bunga itu sedikit tak percaya medengar keputusanku yang begitu cepat. Mungkin dia tidak menyangka, bocah remaja berkolor hitam ini berani membeli tanpa menawar.


"Sebentar ya," jawab Si Penjual sambil membawa bunganya. Tak lama ia kembali dengan tanaman mawar yang sudah terbungkus plastik hitam. "Nih."


"Makasih, Bang!" ujarku.


Sepanjang perjalanan, sepanjang aku menyetir dengan sebelah tangan —karena sebelah tanganku ku pakai untuk menahan bunga mawar yang kutempatkan di jok depan— aku tersenyum lebar tak henti-hentinya, aku merasa bahagia hanya dengan mendapatkan sebuah kado yang cocok untuk Meliana.


Bunga ini, mirip denganmu, cantik tapi berduri, mencitaimu itu indah, Mel, tapi begitu menyakitkan dan banyak sekali luka yang ku dapat. Mungkin sama halnya dengan bunga ini, sewaktu-waktu bisa mati jika kau tak merawatnya dengan baik.

__ADS_1


__ADS_2