
Matahari sudah naik, sinarnya sangat terik menyilaukan mata. Sampai saat ini pun Amara masih tetap berdiam diri di
dalam kamar.
Ia sedang sibuk dengan laptopnya, hingga tidak menyadari jika pintu kamarnya terbuka.
Shine masuk bersama pak Mo yang membawakan tas kerja pria itu.
Dia mengisyaratkan kepada pak Mo agar menaruh tas nya di sofa. Lalu meminta pak Mo segera keluar.
Shine melepas sendiri jas warna abu nya. Lalu di sampirkan ke lengan sofa.
Ia berjalan mendekati Amara yang duduk membelakangi posisi nya saat ini, dengan tangan yang sibuk melepaskan jam tangan mahalnya.
Amara yang masih fokus pada laptop nya terkejut, saat melihat bayangan seseorang dari belakang nya.
Refleks, ia menekan tombol home.
Kemudian sebuah tubuh kekar mendekap nya dari belakang.
" Eng.. Shine, kau pulang lebih awal?."
Amara berusaha menutupi kegugupannya.
Shine meletakkan dagunya di bahu Amara, wajah pria itu di tenggelamkan di leher jenjang Amara yang terbuka.
__ADS_1
" Kau wangi." Bisik pria itu dengan suara khas nya yang berat dan menggetarkan hati.
' Apa kau mengode aku? Apa kau ingin aku lagi? Apa kau memang sengaja tidak ingin aku berjalan dengan benar?. Huh...menjengkelkan.' Batin Amara.
" Kepala ku sangat pusing, urusan di kantor benar benar rumit. Lelah sekali." Sekarang Shine melepaskan dekapan nya, dan beralih berbaring dengan kepala yang berada di pangkuan Amara.
' Hmm..sepertinya dia ingin aku memijat nya.' Dengan inisiatif yang tiba tiba muncul di otak nya, Amara pun mulai memijit kepala suaminya.
Seakan menikmati pijatan dari istrinya, Shine memejamkan mata. Kedua tangan nya bersedekap.
" Shine..apa aku boleh ikut ke kantor mu besok?." Tanya Amara tiba tiba.
Shine perlahan membuka matanya.
Amara merasa geli dengan ucapan Shine, ia hanya bisa menggeleng. "Tidak, aku hanya ingin menemani mu bekerja."
" Ya, aku mungkin percaya." Shine menampilkan senyum mengejek miliknya.
Amara hanya tersenyum kecut. " Kau harus percaya, kan?."
......................
Sore ini Shine di rumah, ia tidak kembali ke kantor setelah tadi siang. Pria itu hanya ingin menemani istrinya, yang menurut nya sedang sakit.
Bolehkah Amara berfikir aneh tentang Shine? Kenapa pria itu berperilaku seolah benar benar menjadi suami yang mencintai istrinya. Ada sesuatu kah di balik sikapnya?
__ADS_1
" Shine..aku sudah kenyang. Sekarang giliran kau yang makan." Pinta Amara karena Shine sedari tadi menyuapi nya tanpa jeda.
Shine meletakkan piring yang sedari tadi di pegang nya ke meja di depan nya.
Ia menatap lekat istrinya yang terlihat imut karena memakai sweater kebesaran.
" Aku akan memakan mu nanti." Balas Shine.
Amara tertawa. Tertawa palsu. " Kau bercanda."
Shine menggeleng dengan enteng nya sebagai balasan nya.
Sial!..Amara harus memasang raut wajah apa? Dia benar benar tidak ingin semakin tidak bisa berjalan.
Besok dia memiliki sebuah rencana, ia tidak bisa menundanya. Semakin cepat semakin baik. Ia tidak ingin bertele tele.
" Shine..walau pun kau sangat lembut semalam, tapi tetap saja, aku menjadi kesusahan untuk berjalan. Jika kita mengulangi nya, apa aku besok bisa ikut ke kantor mu?." Tanya Amara hati hati.
Shine mengedikkan bahu," Kita lihat saja besok." Ucapnya ringan seakan benar benar mudah.
'Ahhh..sial sial sial.'
Amara mengacak rambutnya frustasi.
..............
__ADS_1