Cinta Diantara Dendam

Cinta Diantara Dendam
Itu sangat berlebihan bukan???


__ADS_3

Amara menghampiri Shine yang duduk di sofa kamar. Pria itu sed1ang sibuk dengan laptop di depannya.


" Shine.. Aku ingin keluar lagi besok. Apa boleh?."Tanya Amara.


Shine melirik nya sekilas. " Jangan bertemu pria itu lagi." Amara langsung mengangguk.


" Tentu saja." Amara memeluk lengan Shine.


' Jangan berfikir jika aku adalah gadis manja yang hanya pandai merayu. Aku hanya bersikap seperti ini di depan Shine. Karena ini semata mata hanyalah akting untuk meluluhkan hatinya. Aku tetap dengan tujuan utama ku. Yaitu membalas dendam kepada dalang di balik pembantaian keluarga ku.' Batin Amara. Untuk sekarang, ia tidak bisa bertukar cerita dengan siapa pun, tentang masalah ini. Ayla? Tidak, karena, bagaimana pun gadis itu adalah orang baru di hidup Amara.


" Jangan terlalu welcome dengan Evran." Ujar Shine tanpa menoleh ke Amara.


Amara sontak menoleh pada Shine. " Kenapa? Bukankah aku harus akrab dengan asistenku?." Shine menoleh dan menatapnya tajam. " Aku tidak suka. Mengerti?." Amara mengangguk.


Kenapa Amara merasa pria di samping nya ini tengah cemburu? Jika Shine posesif, Amara bisa mengerti, tapi cemburu? Tidak mungkin kan?.


" Besok aku ada acara di luar kota. Mungkin aku akan pulang malam." Amara memekik kegirangan di dalam hati. Kesempatannya untuk melancarkan aksi balas dendamnya semakin besar.


" Aku akan menyiapkan baju yang akan kau pakai besok." Amara berdiri dari duduk nya. Tapi Shine menarik pergelangan tangan nya." Hanya perasaanku saja, atau kau memang sangat bahagia?." Tanya Shine.


Amara tersenyum manis. " Aku kan memang selalu bahagia. Apalagi jika di dekat mu suami ku.." Amara mencium pipi Shine mesra.


" Kau... Kenapa tiba tiba menciumku??." Wajah Shine memerah. Sial!.. Kenapa ia bisa merona hanya karena di cium istri nya?.


Amara memasang tampang sok polos. " Kau tidak senang kucium ya?". Gadis itu memasang wajah menyesal sekarang. Tapi raut wajah itu terlihat menggemaskan di mata Shine.' Kenapa dia imut sekali?.'


Shine berdehem. " Sudahlah.. Kau bilang akan menyiapkan baju ku." Amara mengangguk. " Baik , akan segera ku siapkan." Gadis itu tersenyum semanis mungkin.


......................


Amara mengantar Shine ke mobil yang akan membawa pria itu ke tempat kerjanya. Di samping nya berdiri pak Mo- kepala pelayan yang membawahi para pelayan pria di kediaman-.


" Kau hati hati lah. Sampai di sana, langsung hubungi aku ya?." Shine mengangguk.


Mobil melaju setelah Shine masuk ke dalam mobil. Pria itu melambaikan tangannya singkat. Amara pun membalas nya.


" Seperti nya, tuan muda dan nyonya muda sangat bahagia. Semoga kalian selalu harmonis." Ujar pak Mo.


" Terima kasih pak Mo." Balas Amara.


......................


Amara sudah berada di mobil yang akan membawanya ke tempat yang ia tuju.


Mobil itu di supiri sendiri oleh Evran.


" Nyonya muda, kita akan kemana?." Tanya Evran melirik Amara yang duduk di bangku belakang. Melalui kaca kecil di depan nya.

__ADS_1


" Ikuti saja petunjuk yang sudah ku berikan."


Balas Amara. Dia sedang sibuk dengan laptop yang kemarin ia beli.


' Pertunjukkan baru saja di mulai. Tunggu saja kelanjutanya. Aku tidak akan membiarkan kau hidup tenang.' Batin Amara yang memandangi file identitas seseorang yang ia incar.


......................


Amara turun dari mobil, di ikuti Evran yang selalu setia mengikuti diri nya.


" Kau disini saja. Tunggu aku di mobil." Amara sudah berjalan ke teras rumah kecil, tempat tujuan nya.


" Tapi nyonya muda. Ceo menyuruh saya untuk selalu menemani anda." Amara menatapnya tajam.


" Kau membantah ku? Aku bisa saja membujuk Shine untuk memecatmu. Kamu mau itu terjadi?." Evran menggeleng.


" Baik nyonya muda. Saya menunggu anda di sini." Ujar Evran pasrah.


" Bagus. Anjing yang patuh." Puji Amara.


" Bahkan anda tetap memanggil saya anjing." Evran menangis di dalam hati.


......................


Amara menyalakan laptop di pangkuan nya. Jarinya bergerak lincah di atas keyboard . Ia sedang mencari informasi rahasia yang di miliki dalang di balik pembantaian keluarga nya.


" Hahaha... Aku pasti aksn membalas mu dengan setimpal." Amara tersenyum miring.


" Aku sekarang telah menjadi bagian di keluarga mu. Akan lebih leluasa untu melancarkan akai balas dendam ku, bukan?" gumam Amara dalam hati.


Ia memandang sebuah foto yang berada di tangan nya. " Baj*ngan...kau akan menuai balasan dari apa yang kau lakukan kepada keluarga ku. Kau pikir kau bisa lari dari ku? tentu tidak semudah itu."


Amara meremas foto yang berada di tangan nya dengan badan yang bergetar . Ia mencegah air mata nya yang akan keluar dari mata nya.


" Lihat saja, aku akan membuat hidup mu tidak tenang. Sebelum membayar dosa mu kepada keluarga ku." Emosi bergemuruh di dalam dada Amara. Masih terbayang jelas, di benak nya bagaimana tewas nya seisi rumah nya malam itu.


Ayahnya yang ditembak beberapa kali, di bagian alat vital. Ibunya yang di tusuk berkali kali dan di potong lidah nya. Semua pelayan di rumah nya yang disiksa sebelum di habisi secara sadis.


Rumah nya yang awal nya terlihat hangat, berubah mengerikan. Darah menggenang dimana mana.


Mayat mayat terkapar tak berdaya di semuapenjuru rumah.


Amara benar benar tak sanggup untuk memikirkannya.


......................


Amara masuk ke dalam mobil, ia terus melihat kearah seseorang yang terlihat mencurigakan di matanya.

__ADS_1


" Evran, lihat orang yang duduk persis di arah jarum jam angka sembilan."


Evran spontan melihat ke arah yang di sebut kan Amara.


" Bukankah itu detektif swasta yang di sewa oleh Ceo-." Sadar jika salah bicara, Evran pun membungkam mulut nya sendiri.


Amara melotot." Apa????? Detektif swasta???."


Evran bergerak gelisah. " Ceo tidak mempunyai maksud lain nyonya muda. Ceo hanya tidak ingin anda di kejar kejar oleh paparazi yang mungkin akan membuat berita skandal yang tidak tidak untuk anda.Atau mungkin juga Ceo tidak ingin anda selingkuh."


Amara semakin melotot. " Kau ini mengada ada kan? Shine lebih tidak suka jika aku dekat dekat dengan mu tahu?."


" Ampun nyonya muda. Saya juga tidak tahu."


" Ahh.. Sudahlah. Ayo kita pulang." Final Amara.


......................


Amara baru masuk kamar saat Shine sudah selesai mandi.


Pemandangan pertama yang ia lihat adalah Shine yang keluar dari kamar mandi hanya menggunakan bathrobe.


Shine akan masuk ke walk in closet tapi Amara memanggilnya.


" Shine... Kenapa kau menyewa detektif swasta untuk mengikutiku?."


Shine tersenyum miring. " Memangnya kenapa?."


Amara menggebrak meja di depannya.


"Aku tidak suka Shine!." Sadar dengan tindakannya. Amara pun mendekati Shine.


" Aku hanra ingin melindungi milikku, apa itu salah?."


Amara menghembuskan nafas kasar.


" Tapi, bukankah itu terlalu berlebihan?."


"Tidak ada yang berlebihan untuk istriku."


Shine memeluk pinggang Amara dan mendekatkan wajahnya. Dengan jarak sedekat ini Amara bisa mencium wangi sabun mandi yang bercampur dengan aroma alami dari tubuh Shine. Wangi maskulin menguar di hidungnya.


" Aku menginginkan mu malam ini."


Shine mengangkat tubuh Amara ke atas ranjang. " Kau.. Yakin Shine?."


Shine mengangguk. Lalu menyambar bibir istrinya.

__ADS_1


Amara hanya bisa pasrah.Toh ini memang hak Shine. Dari awal, tubuhnya memang milik Shine.


......................


__ADS_2