Cinta Diantara Dendam

Cinta Diantara Dendam
Melepas virgin


__ADS_3

Matahari sudah menampakkan diri di ufuk timur. Cahayanya menembus masuk ke dalam kamar dua orang yang masih nyaman bergelung dalam selimut.


" Shine... Bangunlah, hari sudah pagi. Apa kau tidak ingin berangkat bekerja?." Amara memanggil manggil Shine yang masih tidur dengan posisi membelakanginya.


" Hmmm..." Shine menggeliat, pria itu pelan pelan beranjak bangun.


Shine menatap Amara di sampingnya. Perempuan itu memalingkan wajah.


" Maaf ya?..aku terlalu tidak sabaran." Bisik Shine di dekat telinga Amara.


Suara berat dan serak milik Shine entah mengapa membuat Amara merasakan debaran aneh pada jantungnya.


" Itu hak mu. Aku tidak apa apa." Balas Amara, masih belum brani menatap Shine.


" Baiklah, aku pergi mandi." Ujar Shine.


Amara semakin mencondongkan kepalanya ke arah yang berlawanan dengan Shine.


......................


Sejak Shine mandi, Amara sudah merubah posisi nya yang awalnya berbaring, sekarang menjadi duduk.


Dia mengamati suaminya yang tengah mengeringkan rambut menggunakan handuk.


" Aku bisa membantumu mengeringkan rambut. Tapi..mendekatlah." Tawar Amara.


Shine tersenyum tipis, lalu mendekati istrinya. Ia duduk di lantai di samping ranjang.


Amara menahan selimut yang menutup badan nya sampai leher. Berusaha untuk membuat selimut itu diam.


Akhirnya, ia menjepit kedua sisi nya di masing masing dalam lengan.


Shine yang melihat tingkah istrinya pun terkekeh kecil." Aku bisa membantu memegangkannya." spontan Amara membelalak.


" Tidak. Aku bisa sendiri."


Melihat rona malu di wajah istrinya, Shine pun segera berbalik badan.


" Kau itu kenapa menggemaskan sekali." Gumam pria itu masih bisa di dengar oleh Amara. Dengan wajah merah padam ia pun segera menggosok kan handuk ke kepala Shine.

__ADS_1


......................


" Aku berangkat dulu. Sebentar lagi bibi San mengantarkan sarapan mu. Jika butuh apa apa langsung panggil saja dengan memencet tombol itu, Kau tau kan. Aku tidak bisa menemani mu hari ini. Masih ada urusan penting." Amara memandang takjub suaminya karena bisa berbicara panjang.


" Kau dengar aku bicara apa?." Amara gelagapan, lalu mengangguk.


" I iya.. Kau tidak perlu mengkhawatirkan diri ku. Aku pasti akan memanggil mereka jika membutuhkan sesuatu." Amara tersenyum.


Shine mengusap kepala istrinya. Kemudian memberikan kecupan lembut pada kening Amara.


" Aku berangkat dulu. Kau baik baik di rumah." Terakhir, Shine mengecup lembut bibir Amara yang terlihat menggoda di mata nya.


Amara menatap sosok suaminya yg mulai berjalan menuju pintu, punggung lebar itu semakin menjauh dari nya. Sampai di depan pintu Shine berbalik dan tersenyum manis. Mungkin ini adalah senyum yang baru pertama kali Amara lihat.


Hatinya berdesir aneh kala melihat senyuman milik Shine.


" Apa yang kau pikirkan Amara?." Perempuan itu menrpuk nepuk kedua pipi nya. " Hei.. Sadar lah."


Amara membaringkan tubuh nya lagi. " Sebentar lagi bibi San mengantarkan makanan. Apa aku minta tolong pada nya saja ya ?." Bergumam.


" Nyonya muda.. Sarapan anda." Suara bibi San terdengar di balik pintu.


Pintu terbuka, bibi San dan dua pelayan wanita masuk.


" Tuan muda secara khusus meminta saya untuk membantu anda bebersih."


Dua pelayan wanita yang bersama bibi San salah satunya membawa nampan makanan sarapan untuk Amara, sedangkan yang satunya, mendorong kursi roda.


" Untuk apa kursi roda?." Tanya Amara tidak habis pikir.


Bibi San tersenyum, " Tuan muda tidak ingin anda merasa kesakitan karena berjalan. Maka dari itu meminta sebuah kursi roda."


Jelas bibi San.


" Kenapa dia berlebihan lagi?? Aku merasa seperti ratu." Gumam Amara dalam hati.


Ia menangkap wajah tersipu dari dua pelayan yang datang bersama bibi San.


Ahhh....rahasianya yang sudah tidak virgin pasti sudah tidak menjadi rahasia lagi. Eh?

__ADS_1


" Nyonya muda jangan khawatir, para pelayan di sini tidak di perbolehkan untuk membahas hal pribadi yang berkaitan dengan tuan muda." Tutur bibi San.


Amara pun bisa tersenyum lega.


......................


Selesai mandi, Amara duduk di sofa kamar. Di depannya sudah terhidang makanan makanan yang menggugah selera.


" Aku tau kenapa Shine melakukan ini. Pasti agar aku tidak bisa keluar rumah. Ahhh.. Ternyata pria itu sangat licik ya? Dia membuatku kesulitan untuk berjalan. Aku kenapa tidak memikirkan ini dari awal?."


Amara mengacak rambutnya frustasi.


Ia pun mengambil ponsel nya.


" *Hallo "


"....."


" urus semuanya. Aku belum bisa kesana."


"....."


" Aku sakit. Sudahlah, kau dulu saja yang tangani."


"....."


" Hmm... Jika keadaan ku membaik pasti sku kesana*."


Amara meletakkan ponsel nya fi samping nya setelah selesai berteleponan dengan seseorang.


" Aku masih kesal. Shine.. Licik sekali triknya. Aku juga bodoh, kenapa tidak menyadari dari awal?."


Masih memendam kekesalannya. Amara memutuskan untuk segera menyantap menu makanan yang terhidang di hadapannya.


Perutnya benar benar lapar.


Padahal yang nulis yang lapar, hihi🙊🙈


......................

__ADS_1


__ADS_2