Cinta Diantara Dendam

Cinta Diantara Dendam
Liarnya seorang Amara


__ADS_3

Amara menggandeng lengan Shine setelah turun dari mobil.


Keduanya sudah sampai di gedung x milik om Mike, dibelakang mereka ada dua orang pengawal yang setia mengikuti.


Om Mike sendiri yang menyambut mereka di pintu masuk.


" wahh... Kalian sudah datang." Seru om Mike.


Shine berangkulan singkat dengan omnya. Sedangkan Amara hanya bersalaman dan tersenyum, pada om Mike.


Mereka memasuki gedung yang memiliki interior jauh dari kata biasa.


Sangat megah dan mewah. Bergaya romawi yang dikolaborasi dengan desain bar bar modern.


Shine dan Amara duduk ditempat yang disediakan khusus untuk mereka, selaku bintang utama dalam pesta itu.


" Shine, aku kesana dulu untuk mengambilkan kau minum. Aku tidak akan membiarkan kau mabuk malam ini. Membayangkannya saja sudah begitu repot."


" Sepertinya istriku ini terlalu meremehkanku.


Beberapa gelas alkohol itu tidak akan mempengaruhiku."


" Mungkin, aku harus berfikir beberapa kali, untuk mempercayai ucapanmu."


Amara beranjak menuju seorang bartender berperawakan gemuk dan tidak terlalu tinggi.


" Hai cantik, kau ingin pesan apa?"


Dengan wajah datar dan gaya elegannya, Amara duduk didepan sang bartender.


" Satu gelas wine dengan kadar alkohol rendah." Pesannya.


Amara menyapukan pandangannya. Semua tamu mayoritas adalah orang orang dari kalangan atas, yang berpengaruh di dunia bisnis.


" Hei cantik, ini pesananmu."


Ujar sang bartender genit. Amara menerimanya dengan senyum tipis, persis seperti kebiasaan Shine, suaminya.


" Terima kasih tampan, aku pergi dulu."


Bartender itu terlihat senang.


Baru saja Amara berjalan ke arah Shine, seorang wanita yang sepertinya lebih tua darinya tiba tiba menabraknya.


" Oopppsss... Ma af. Aku tidak sengaja".


Amara bisa melihat raut merasa bersalah yang kentara sekali dibuat buat oleh si wanita.


"Astaga.. Bianca. Apa yang kau lakukan?".


Om Mike datang dengan wajah panik, karena melihat baju bagian depan Amara basah terkena minuman yang dibawa oleh wanita bernama Bianca itu.


Apalagi Shine yang awalnya sedang berbincang dengan rekan kerjanya, ikut menghampiri.


Semua tamu menghentikan aktivitas mereka, dan menonton kejadian barusan.


Shine melepas jas dark bluenya, untuk dipakaikan ke sang istri.Matanya terus menatap tajam Bianca. " Mundurlah, biar aku yang mengurusnya." Bisik Shine.


" Tidak, biarkan aku sendiri yang menanganinya." Balas Amara.


Amara memakai long dress tanpa bahu yang membuat dadanya kelihatan lebih menonjol.


" Om Mike, mungkin nona Bianca memang tidak sengaja. Aku sudah memaafkannya."


Ujar Amara saat Om Mike akan memarahi keponakan istrinya itu.


' Sepertinya wanita ini menyukai Shine. Kau pikir akan semudah itu menindas seorang Amara.'


Amara melangkah maju, saat jaraknya lebih dekat dengan Bianca, ia pura pura tersandung, badannya terhuyung kedepan.


' Sesuai rencana' batinnya girang.


Tubuh Amara jatuh kedepan menimpa tubuh Bianca. Minuman untuk Shine yang sedari tadi masih di pegangnya, kini menumpahi wajah cantik Bianca.


" Akkhhhh... Kurang ajar!!!". Teriak Bianca.


Wanita itu mendorong tubuh Amara yang langsung ditangkap oleh Shine.


" Sepertinya nona Bianca beruntung, kadar alkohol diminuman ini sedikit." Kata Amara sambil melihat lihat gelas yang ia pegang.


"Tante Daisy, lain kali, aku tidak ingin hal ini terjadi lagi." Ucap Shine dingin.


Tante Daisy - istri om Mike - itu mengangguk.


Shine merangkul istrinya keluar dari pesta.


" Heiii!!!.. Bocahh!!.. Pestanya belum selesai!".


Teriak om Mike.

__ADS_1


Seakan tuli, Shine tetap membawa Amara ke mobil, diikuti dua pengawalnya.


" Hubungi om Mike. Katakan padanya, aku masih punya urusan penting."


"Baik tuan muda."


Amara terus menatap Shine. Yang ditatap balik menatap.


Shine menaikkan satu alisnya, seolah bertanya kenapa Amara terus memperhatikannya.


" Bianca itu menyukai mu ?"


Shine mengangguk. "Aku terlalu tampan. Sia sia tuhan memberiku wajah ini jika tidak ada yang mengagumi."


' Narsis sekali'. Batin Amara.


Shine menurunkan kaca mobilnya, pria itu akan menyalakan rokok.


Kepulan asap dari mulut Shine, terbawa angin malam dari jendela mobil.


" Shine, nanti jika kau mau menciumku, gosok gigi dulu. Aku tidak mau, rasa rokok itu ikut masuk ke mulutku."


Shine menoleh pada istrinya.


" Benar benar liar. Melebihi Ishana ku


." Gumam Shine.


......................


Matahari mulai menampakkan dirinya.


Amara sudah selesai menyiapkan sarapan bersama beberapa pelayan.


" Istriku...".


Amara menoleh, dan mendapati Shine yang berjalan menghampirinya.


" Shine, sarapannya sudah siap. Makanlah".


Amara menarik kursi paling ujung, yang biasa di tempati oleh Shine.


" Ada apa? Apakah ada masalah?". Tanya Amara menyadari wajah suaminya yang lebih datar dari biasanya.


" Istriku tidak berada disampingku sejak aku bangun. Tentu aku kesal."


Sadar dirinya sedang di sindir, Amara pun berjalan kebelakang Shine.


Amara mencium pipi Shine dengan mesra.


Beberapa pelayan yang menyaksikan kemesraan majikan mereka, menggigit jari mereka. Ada juga yang menggigit potongan lap uang di bawa.


" Tuhan... Kami juga ingin.." . Batin mereka.


" Shine, hari ini aku ingin keluar untuk mengurus tempat kerja dan tempat tinggal ku yang sebelumnya."


" Jhon sudah mengajukan surat resign dari restoran itu. Dan gubukmu sudah ku beli."


Amara ternganga. Gubuknya sudah di beli? Maksudnya kontrakannya kan? Tidak seburuk itu kok, kenapa Shine menyebutnya gubuk?.


" Nanti datanglah kekantorku." Ujar pria itu.


......................


Dan sekarang Amara sudah berdiri di depan ruangan Ceo, tang tak lain adalah ruangan Shine, suaminya.


Baru menginjakkan kaki di dalam ruangan yang di dominasi kaca itu,tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas berkas ditangannya, Shine berujar.


"Kau pergilah dengan dia."


Seorang pria yang mungkin seusia suaminya berdiri menghadap dirinya.


" Baik. Ayo keluar." Ajak Amara.


Pria itu pun mengikutinya keluar. Amara berhenti di lobi.


" Nyonya muda, Ceo punya jadwal meeting mendadak yang tidak bisa ditinggal. Jadi, saya yang akan menemani anda.


Apakah anda mengharapkan Ceo, nyonya muda?".


Amara bersedekap dada. Ia menaikkan sebelah alisnya, dan tersenyum miring.


" Untuk apa Shine? jika sudah ada dirimu".


Tanpa aba aba, Amara menarik dasi pria itu agar mengikuti dirinya.


" Ya ampun, nyonya muda ini...."


Pria itu hanya bisa pasrah dengan perlakuan Amara.

__ADS_1


Sampai di mobil, Amara melepas tarikannya.


" Hei kau.. Siapa namamu?".


Pria itu membetulkan dasinya yang terasa mencekik.


" Nama saya Evran, nyonya muda."


"Oke Evran, kita akan mengelilingi pusat perbelanjaan!". Seru Amara.


......................


Mereka sampai di salah satu pusat perbelanjaan yang cukup terkenal di kota ini.


Sejak turun dari mobil, Evran berjalan dibelakang Amara.


" Hei Evran, berjalanlah disampingku."


Mata Evran membulat. " Tapi nyo-"


" Aku tidak ingin di kira jomblo. Patuhlah."


" B-baik, nyonya muda."


Amara benar benar berkeliling di pusat perbelanjaan.


Sudah satu jam lebih, mereka berkeliling, akhirnya Amara berbelok ketempat elektronik.


Ia membeli sebuah laptop canggih. Setelah menggesek blackcardsebagai alat transaksi, pelayan membungkus barang itu.


" Aku lapar, kita ke food court dulu."


Amara mengajak Evran ke food court makanan timur tengah.


Amara duduk di kursi paling pojok.


" Evran.. Duduklah, kau tidak lelah?".


" Tidak nyonya muda saya berdiri saja". Tolak Evran.


" Kau berani membantah?".


Evran menggeleng, terpaksa ia duduk berseberangan dengan Amara.


' Semoga Ceo tidak tau, atau aku akan lembur satu bulan'. Evran menangis dalam hati.


" Aduh.. Aku ingin ketoilet."


Amara beranjak menuju toilet, diikuti Evran dibelakangnya.


Saat mereka kembali, dari kejauhan Amara mengamati mejanya sudah ditempati.


" Evran, mereka itu siapa?"


" sepertinya artis, nyonya muda "


"artis? Kok tidak pernah lihat di tv ya?"


" Mereka artis figuran nyonya muda."


" Pantas,kukira artis papan atas, ternyata papan tripleks."


Amara menghampiri dua perempuan yang sedang mengobrol ria itu.


" Maaf nona nona, sebelumnya ini adalah tempat duduk saya. Mohon nona nona pindah."


Dua wanita itu menatap sinis Amara.


" Matamu buta? Semua meja penuh." Jawab salah satunya.


" Mata anda yang buta, sudah tau ada tas saya, malah duduk disini." Balas Amara sengit.


Pelayan datang membawa pesanan dua wanita tadi.


Amara menarik tasnya dari meja. Lalu mengambil satu minuman yang dibawa si pelayan.


Dengan santainya, Amara menyiram meja itu sampai penuh dengan minuman berwarna coklat itu.


" Kalau saya tidak bisa menempatinya. Kalian juga tidak bisa." Ujar Amara.


" Evran, beri uang pada pelayan untuk ganti rugi."


Setelah memberi sejumlah uang pada si pelayan, keduanya keluar dari sana.


Meninggalkan tiga orang yang masih menganga tak percaya.


" Nyonya muda hebat. Anda menjadi idola baru saya." Ujar Evran bahagia.


Amara hanya tersenyum miring.

__ADS_1


......................


... ...


__ADS_2