
Amara bangun pagi untuk menyiapkan pakaian yang akan dikenakan suaminya,
" kau harus jatuh sejatuh jatuhnya padaku Shine." Gumamnya, dalam hati.
"Rupanya kau sudah menyiapkan air mandiku" Shine muncul dari belakang Amara, gadis itu sedang memakai krim kecantikan di depan cermin wastafel.
" Ahh.. Kau sudah bangun rupanya.
Aku sudah selesai mandi sekarang gilliranmu untuk mandi, suamiku."
Amara mengalungkan tangannya pada leher Shine
" hmm"
Laki laki itu hanya membalas dengan deheman, lalu melepas tangan Amara dari lehernya.
" Apakah aku boleh Mengira jika kau tidak menyukai ku suamiku?"
Shine yang sudah berbalik badan sekarang menoleh, dan tersenyum sinis.
"Tergantung dirimu. Menjadi istri baik atau istri licik." Jawab laki laki itu menusuk.
Amara tersenyum kikuk ."Kau pandai bercanda rupanya, aku bahkan tidak mengerti maksudmu."
Shine kembali mengulas senyum sinis.
" tidak perlu berpura pura bodoh.. Aku lebih tau dari yang kau tau".
Amara mematung, Shine ....tidak mungkin tau rencananya bukan?
" Tidak perlu kau pikirkan, selama kau menurut, hidupmu aman"
Amara berusaha menutupi kegugupannya dengan tawa kecil.
" Aku keluar dulu, sepertinya, sarapan sudah disiapkan, takutnya semua orang sudah berkumpul dimeja makan .Kau mandilah, bajumu sudah aku siapkan."
Shine mengangguk cuek."Jika nenek bertanya bilang saja berhasil."
Amara mengangguk walau sedikitpun ia tidak mengerti.
......................
"Selamat pagi semuanya, maaf aku baru keluar."
Semua yang ada di meja makan mengulas senyum jahil.
Amara duduk dengan perasaan canggung.
" Nak bagaimana semalam? Pasti berhasil kan?" nenek memperagakan orang menendang bola menggunakan tongkatnya.
Amara awalnya belum mengerti, setelah berpikir sebentar, ia menangkap maksud nenek.
" Haha.. Iya nenek. Bisa dikatakan berhasil."
Amara memasang senyum semanis mungkin.
" Istriku itu tidak terlihat seperti luarnya nenek, dia sangat liar." Sahut Shine yang berjalan menuju meja makan.
Semuanya tertawa dengan raut wajah bahagia.
'Apa-apaan dia mempermalukanku'.Batin Amara kesal. Tapi ia hanya bisa tersenyum.
"Tentu saja, apa yang perlu aku takutkan?, toh kami sudah menjadi sepasang suami istri, agar dia lebih mencintaiku bukankah aku harus lebih liar. Kalian tau sendiri suamiku itu seperti apa? Aku lah yang harus merayu nya"
Semuanya kembali tertawa, "kalian benar benar pasangan yang lucu." Ujar om Anton
__ADS_1
Diam diam Shine melirik Amara yang berbincang akrab dengan keluarga besarnya.
'Aku mengharapkan ketulusanmu Amara.'
Batin laki laki itu.
Semua anggota keluarga sudah datang, sarapan pun dimulai.
"Nak, kau tau kan kalau suamimu itu tidak menyukai makanan pedas?" tanya nyonya Alena, ibu Shine.
Amara mengangguk, " dia memberitahuku semuanya sebelum kami menikah, bu".
"Ahh.. Kalian benar benar romantis." komentar tante Gissel.
Kedua pengantin baru itu hanya tersenyum dengan tangan yang saling menggenggam diatas meja.
......................
Mumpung matahari belum naik semakin tinggi, semuanya memutuskan bermain dikolam renang yang disediakan villa.
Hanya para lelaki yang berenang.
Para perempuan lebih memilih bersantai dikursi dan ayunan pinggir kolam juga berbincang santai.
Tanpa Amara sadari, Shine terus memperhatikannya dari tengah kolam.
Gadis itu sedang mengobrol dengan nenek dan ibu.
" Amara, nenek sangat senang, akhirnya cucu sulungku itu menikah. Apalagi dengan perempuan baik seperti kau. Lihatlah, dia terus memperhatikan dirimu sejak tadi."
Refleks, Amara menoleh kearah Shine, laki laki itu memang tengah menatapnya dengan senyum misterius milik laki laki itu.
Amara membalas dengan senyum seadanya.
Amara mendengarkan cerita dari ibu dengan seksama.
'Bukannya aku juga menginginkan hartanya. Tapi salahnya sendiri, dari awal aku minta kekuasaan, kenapa dia memberiku posisi '
Batin Amara.
......................
Hari mulai menjelang malam semua orang sudah menghentikan aktivitasnya diluar.
Amara membawa secangkir kopi dan membawanya ke balkon kamar yang di tempatinya.
Disana Shine tengah berdiri membelakanginya,menghadap pantai.
"Kopi mu".
Amara menyerahkan kopi itu pada Shine yang tengah menghisap sepuntung rokok, yang diapit diantara jari telunjuk dan jari tengahnya.
Shine menerima kopi dari tangan istrinya.
" Setelah rokok dan kopi mu habis cepatlah masuk. Udara nya sangat dingin, tidak baik untuk kesehatanmu."
Shine menoleh dan menatap nya.
"Ada apa? Apa aku salah bicara?"
Tanya Amara.
Shine menggeleng, lalu menyeringai.
"Ohh.. Ayolah Shine.. Jangan tunjukkan senyum membosankanmu itu."
__ADS_1
Laki laki itu meletakkan kopi dan rokoknya diatas meja, lalu memeluk pinggang istrinya.
" Lalu aku harus bagaimana?"
Amara terdiam dengan kedua tangan yang menahan dada suaminya.
" Bersikap normal layaknya manusia, jangan tunjukkan senyuman psycho itu."
" Baiklah. Lalu imbalan apa yang aku dapat?"
Amara tersenyum sangat manis, tanpa aba aba, ia mencium benda kenyal merah muda yang terpampang di depan matanya.
Shine sedikit terkejut, lalu ia tersenyum.
"Istriku benar benar liar, ternyata."
Laki laki itu pun membalas kelakuan sang istri, namun lebih dalam menghanyutkan.
Sadar dengan permainannya yang dibalas kontan, Amara pun berusaha mengimbangi ciuman Shine .
Tanpa kedua sejoli itu sadari, nenek dan ibu yang berada dikamar yang berseberangan dengan kamar mereka, menyaksikan apa yang mereka lakukan.
Nenek tersenyum bahagia," cicitku akan segera datang."
......................
Amara membuka matanya yang sedari tadi tertutup, Shine masih ******* bibirnya.
Namun ekor matanya tidak sengaja menangkap bayangan orang dari kamar seberang.
Sadar jika itu nenek dan ibu, Amara pun mendorong dada Shine hingga bibir keduanya terlepas.
Amara mengusap bibirnya.
Dengan wajah yang sudah memerah, ia berbalik meninggalkan Shine.
Laki laki itu hanya mengernyit bingung, lalu ia sadar jika ada dua orang yang mengamatinya dengan sang istri.
" ck.. Kalian mengganggu saja." Gumamnya.
Shine pun menyusul Amara masuk ke dalam kamar.
Gadis itu tengah pura pura sibuk menggulir layar ponselnya.
" Imbalan mu belum lunas, istriku."
Amara mendongak, " kenapa kau tidak bilang jika ada nenek dan ibu disana?"
Shine mengedikkan bahu cuek." Untuk apa?"
Amara mendesah pelan.
" Lebih baik kita tidur"
Shine hanya mengangguk sekali,
" Besok kita sudah pulang ke rumah. Apa kau sudah menata baju kita?" tanya Shine. Mereka memang tidak meminta pelayan untuk melayani mereka.
Lebih tepatnya Amara yang meminta, ia ingin melayani suaminya sendiri.
"Astaga!!!!!.. Kenapa kau tidak bilang dari tadi??!!!". Gadis itu berlari dari atas kasur kearah almari.
Shine lagi lagi mengedikkan bahu, " yang penting sudah kuberi tahu."
......................
__ADS_1