Cinta Diantara Dendam

Cinta Diantara Dendam
Yang benar saja????


__ADS_3

" Kau???.."


Amara bersedekap dada,


Tuan muda itu hanya menampakkan seringai misteriusnya.


Amara malah bertambah jengkel melihat seringaian itu.


" John, bawa kan surat itu"


Amara menoleh kebelakang, seorang pria tampan yang mungkin seumuran dengan sang tuan muda.


Pria berwajah datar itu, memberikan sebuah berkas kepada Amara.


"apa ini?" gumam gadis itu.


" Baca. Pahami baik baik"


Mata Amara membulat sempurna, " Aku meminta beri kan aku kekuasaan. Bukan sebuah kedudukan. Tuan."


Tuan muda itu hanya menyeringai...lagi.


"Bukan kah sebuah kekuasaan, didapat dari sebuah kedudukan? Calon nyonya ku?"


Amara benar benar tidak habis pikir.


" Baiklah, apapun asal aku pun mendapat untung."


Keduanya malah tersenyum misterius.


Dalam hati keduanya memiliki sebuah rencana. Namun berbeda.


......................


"Mulai sekarang, nona panggil saya jika membutuhkan sesuatu. Panggil saya bi santi. Tapi tuan muda lebih suka memanggil saya bibi San."


Amara hanya tersenyum,


" baik" jawabnya.


" Nona, besok acara pernikahannya, malam ini ada serangkaian perawatan yang harus anda jalani. Tuan muda sudah mendatangkan spa terbaik dari kota ini."


Amara membatin si tuan muda itu,


' bukan kah ini berlebihan?'


Tapi sekarang yang bisa ia lakukan hanyalah tersenyum seakan bahagia dengan pernikahannya.


" Bibi san, boleh aku bertanya?"


" tentu nona, silakan anda bertanya."


" Nama tuan muda itu siapa?"


Bibi san dan beberapa pelayan disana tercengang, bahkan ada yang sampai membuka mulut.


"Serius nona tidak tau?" sahut seorang pelayan lain.


Amara hanya menatap malas mereka.


" Nama tuan muda adalah Shine Vanzega Morgareno."


Amara hampir saja berteriak.


" S- shine... Vanze..ga.."


......................


Pagi pagi sekali Amara di dandani bak model.


Dengan mata yang masih mengantuk, Amara menerima suapan makanan sarapan dari bibi san.


Mereka sudah tidak berada dikediaman Shine, melainkan di ruangan dekat tempat acara pernikahan akan di gelar.


Pukul 7 tepat, Amara dituntun oleh beberapa pelayan menuju tempat acara.


Gaun pernikahan yang begitu berat menurut Amara membuat langkah nya terasa berat.

__ADS_1


Sampai di luar, pandangan Amara yang sejak tadi mengarah pada arah bawah sekarang mendongak karena merasakan udara segar yang tidak biasa.


" what? Ini p-pantai?"


Amara tak henti henti nya tersenyum.


Menikah di pesisir pantai adalah mimpinya.


Sekarang bahkan ini bukan mimpi.


"Nona anda silakan duduk dulu di pelaminan, tuan muda masih di acara akad, sebentar lagi mungkin akan sampai disini."


Amara dituntun menuju pelaminan yang telah didekorasi sedemikian rupa.


Ia bahkan tidak peduli jika harus menunggu suaminya dan menjadi pajangan untuk para tamu tamu.


Pemandangan disini terlalu indah untuk disia sia kan.


Setelah menunggu cukup lama, sebuah kapal pesiar berlabuh didermaga dekat pelaminan.


Saat pintu kapal terbuka, percaya tidak percaya, sebuah karpet merah membentang dari pintu kapal sampai pelaminan.


Amara membuka mulutnya denga tidak estetik.


"Ini..... Terlalu berlebihan bukan?"


Seorang lelaki berpakaian pengantin serasi dengan gaun Amara tidak lupa kaca mata hitam bertengger diatas hidung mancungnya, berjalan diatas red carpet, naik ke pelaminan,


Amara bahkan tak melepas pandangannya.


Laki laki itu yang awalnya berwajah datar mulai tersenyum saat sampai disamp


Ing Amara.


" Pesona ku memang tak tertahankan".


Celetuk Shine narsis.


Amara menahan agar wajahnya tidak merespon dengan raut jengah.


" Iya, kau memang mempesona suamiku"


Shine menoleh padanya, dengan tatapan menelisik.


Amara hanya memaksakan senyum.


"Aku istrimu, kan?"


Gadis itu mengaitkan lengan nya dengan lengan Suaminya.


Shine ikut tersenyum, walaupun tipis.


......................


Amara baru tau jika kapal yang ditumpangi suaminya juga menumpangi keluarga laki laki itu.


"Yang sanggulnya tinggi dan membawa tongkat adalah nenek.


Sedangkan perempuan murah senyum itu ibu.


Pria disamping nya adalah ayah.


Yang lainnya adalah tante tante dan om om."


Jelas Shine dengan wajah datar andalannya.


"Wah keluargaku bertambah banyak"


Balas Amara antusias.


Shine diam diam tersenyum tipis melihat betapa antusias nya Amara.


"Selamat atas pernikahanmu keponakan kulkasku"


" hmmm"


" yah ,kau tetaplah kulkas Shine"

__ADS_1


"hmm"


Semua paman dan bibi Shine telah mengucapkan selamat ,dan hanya mendapat jawaban hmm dari Shine.


Amara juga hanya membalas dengan senyum dan terima kasih.


"Sepertinya, kedua pengantin ini pelit bicara."


Bisik salah satu nya.


Sekarang giliran ayah ibu, dan nenek Shine yang memberi ucapan selamat.


Melihat wajah judes nenek, Amara sedikit menciut.


"Ya ampun cucu sulung ku sudah menikah!!"


Nenek memeluk Shine.


" anak baik kau shine..hihi" bisik nenek.


Shine tau arti dari bisikan nenek nya. Ia hanya memutar bola mata malas.


Beralih ke Amara, gadis itu sudah keringat dingin tapi gerak gerik nya sangat tenang.


Nenek menatap penuh selidik pada cucu menantunya itu.


"Nenek.. " sapanya.


Tiba tiba nenek memeluk nya, dan berbisik.


"Bagaimanapun cara nya buat bocah tengik itu bertekuk lutut pada mu nak. Nenek menunggu kabar baik dari kalian."


Amara membalas pelukan nenek dan tersenyum walau tidak mengerti apapun.


Bolehkah ia melabeli keluarga suaminya dengan sebutan 'ANEH?'


Berbeda dengan Nenek, ibu Shine memeluk menantunya, sambil mendoakan rumah tangga itu harmonis.


......................


Acara hari ini sudah selesai, hari mulai menjelang larut malam.


Amara dan Shine pun sudah selesai bebersih.


Mereka belum pulang kekediaman.


Melainkan tinggal di villa milik keluarga Shine. Masih dipantai tempat acara mereka di gelar.


"Suami ku kita akan tidur kan?" tanya Amara.


Shine yang selesai menghubungi seseorang itu naik keatas ranjang.


" Menurutmu?"


Amara tersenyum, "Aku ingin tidur"


Saat dia akan membaringkan tubuhnya, Shine lebih dulu menariknya kepangkuan laki laki itu.


"Jika tidak ku izinkan?"


Amara mengalungkan kedua tangannya keleher Shine.


"Aku pasti menurutimu tuan suami ."


Shine memasang wajah datar.


"Baiklah. Tidur sekarang."


Amara tertawa kecil lalu turun dari pangkuan suaminya.


Ia membaringkan tubuhnya telentang, Shine pun sudah berbaring.


"Kau memang harus bertekuk lutut padaku Shine... Agar aku bisa menguasai kota ini "


Gumam Amara dalam hatinya.


......................

__ADS_1


__ADS_2