
Semua keluarga besar Morgareno sudah bersiap didepan villa, menunggu jemputan mobil yang akan mengantarkan mereka pulang.
" Malam ini kita adakan pesta di gedung x milikku, sebagai perayaan pernikahan keponakanku yang akhirnya rela melepas lajang!!" seru om Mike, adik ibu Shine.
Semuanya tertawa bahagia.
Amara ikut bertepuk tangan disamping Shine yang hanya memasang wajah datar, namun tangan laki laki itu setia merangkul pinggangnya.
"Apa kau ingin pesta pribadi? Sepertinya semangat sekali". Amara hanya mendesah pelan, " hanya sok antusias. Apa tidak boleh?"
Shine tersenyum tipis. Amara kembali memasang wajah ceria.
Beberapa mobil alphard hitam datang beriringan .
Shine menarik Amara agar naik di mobil uang paling belakang.
"Kenapa kita tidak naik yang di dep-"
Belum sampai Amara menyelesaikan pertanyaannya, telunjuk Shine sudah mendarat dibibirnya.
" Kau belum tau seberapa usil keluarga ini. Nyonya muda Morgareno ku."
Amara hanya mengangguk tanda paham.
Mereka pun naik ke mobil, ternyata di dalam mobil itu sudah ada supir pribadi Shine, dan Jhon - asisten pribadi Shine.
" Bagaimana dikantor, Jhon?" tanya Shine dengan wajah datar, dan tangan yang sudah sibuk dengan Ipad nya.
Amara pun sibuk dengan ponsel nya.
" Siapa yang mengizinkan kau bermain ponsel istriku?" tanya Shine. Penuh penekanan pada kata terakhirnya.
Amara mendongak dan tergagap," aku hanya mengecek notifikasi. Ada pesan dari teman."
" Ingat di kontrak kita, pihak kedua, tidak diperbolehkan melakukan sesuatu tanpa izin dari pihak pertama. Juga mengabaikan pihak pertama."
Amara hampir lupa berkedip." Ahh.. Iya.. Kau terlalu berlebihan suamiku, aku tidak mengabaikan dirimu, bukan."
Gadis itu mematikan ponselnya, dan menyimpannya di tas kecil miliknya.
" Kau bahkan terlalu indah untuk ku abaikan,Shine." Amara memeluk lengan kokoh milik suaminya.
Shine meliriknya sekilas,lalu mengecup keningnya lamat lamat.
" Kalau kau bisa menurut dengan ku, bukan hanya kota ini, bahkan pulau ini dapat kau kuasai, Amara."
......................
Sampai di kediaman Shine, para pelayan langsung menyambut kedua pengantin itu.
Amara sudah menjauhkan badannya dari Shine sejak keluar mobil.
" Bibi San, tolong bantu saya membereskan baju tuan muda ya?"
Bi Santi menatap Amara dengan tatapan bingung.
" Memang akan saya bereskan dengan beberapa pelayan nyonya muda"
Amara menggeleng, " mulai sekarang, itu tugas saya dan bibi San."
Setelah mengatakan itu, Amara menatap beberapa pelayan disana, lalu tersenyum.
"Semuanya, jangan tersinggung, saya hanya ingin menjadi istri yang baik. Jadi, biarkan saya melayani suami saya ya?"
Amara memasang ekspresi lucunya.
Membuat semua pelayan menahan rasa gemas, Amara langsung tertawa kecil.
" Saya memang lucu, kalau kalian gemas boleh cubit pipi saya."
Semua pelayan bersorak bahagia.
__ADS_1
Baru saja mereka mengerumuni Amara, Shine sudah menarik kerah baju istrinya.
Wajahnya benar benar datar, dan mulai mengeras." Kalian sudah tidak ingin gaji?"
tanyanya dingin.
Semuanya begidik ngeri.
" Ampun tuan muda, ka-kami kembali bekerja"
Semua pelayan undur diri satu persatu, dengan wajah pucat.
Marahnya Shine adalah bencana!.
Apa kabar dengan Amara? Tentu ia sama takutnya dengan para pelayan itu.
Sampai dikamar, pria itu menghempas badan Amara keatas kasur.
" Kau bahkan lupa apa yang baru kita bicarakan tadi di mobil."
Amara memasang wajah pasrah, ia merentangkan kedua tangannya.
" Maaf, aku lupa Shine. Kau bisa menghukumku sesuka hatimu."
Shine tersenyum sinis, " Baik. Apa kau bersedia menjadi apa yang aku minta?"
Amara tersenyum penuh semangat.
" Akan kulakukan apapun yang kau inginkan".
Shine kembali tersenyum misterius.
#
Amara benar benar ingin mengumpat suaminya, ia kira dirinya akan disuruh melakukan apa, ternyata benar benar diluar dugaan.
Shine memutari tubuh istrinya dengan wajah yang..... Menjengkelkan, menurut Amara.
Beberapa waktu lalu Shine menyuruhnya memakai baju... Kurang bahan menurutnya.
Bagaimana tidak?
Baju itu memiliki model seperti baju renang tapi tidak memiliki lengan. Luarnya dilapisi rompi tipis seperti bahan kelambu.
Amara hampir menangis dibuatnya.
Shine tertawa kecil." Berani membuat para pelayan hampir mencubit pipimu, maka tanggung akibatnya."
Pria itu menggendong Amara menuju jendela.
Sampai didepan gorden, Shine memosisikan Amara berdiri ditengah tengah jendela yang tertutup.
Kedua tangan gadis itu diikat merentang menggunakan sebuah tali yang entah pria itu dapat dari mana.
" Bagus. Aku memiliki pajangan baru."
Shine duduk di sofa yang berseberangan dengan Amara.
Gadis itu benar benar kesal, tapi tak bisa berbuat apa apa.
Shine memasang wajah bahagia.
" Sepertinya jika aku begini, suamiku bahagia. Jadi, tak masalah. Asal kau bahagia suamiku."
Dengan entengnya Shine mengangguk,
" istriku sangat baik dan sangat pintar. Setelah ini aku pasti baik baik memberimu hadiah, sayang"
Amara hanya memasang senyum sok ikhlas.
" Suamiku benar benar pengertian. Aku mencintaimu,sayang"
__ADS_1
......................
Hari beranjak sore, akhirnya Shine melepaskan Amara yang sudah menyumpah serapahi Shine. Tentu saja dalam hati, tak mungkin nyata.
Memangnya berani?
Shine menggandeng istrinya menuju ruang makan. Karena ulahnya, Amara jadi melewatkan makan siangnya.
Shine memperhatikan Amara yang sedang menikmati makan siang ( terlambat ) nya.
Gadis itu tak sedikitpun meliriknya. Shine tau, Amara kesal padanya, tapi gadis itu mana berani marah padanya.
Sebelum menggandeng Amara turun, ia sudah memberi baju ganti untuk dipakai sang istri.
Selesai makan Amara langsung mencuci sendiri piring bekas makannya.
Tapi, belum sampai ia melakukan hal itu, Shine lebih dulu menariknya, kembali ke kamar.
" Jika tanganmu menjadi kasar, kau bahkan tak ku izinkan mendekati ku."Ujar pria itu.
Amara menurut saja saat Shine mendudukannya dipangkuan pria itu.
" Biar ku lihat tangan mu".
Shine menarik kedua pergelangan tangan Amara yang tadi ia ikat.
Tanpa Amara duga, Shine meniup niup bekas tali yang kemerah merahan ditangannya.
" Sudah tidak sakit, sayang?"
Shine menatap Amara, namun gadis itu malah menangis.
" Hei.. Kau kenapa?"
Amara dengan cepat memeluk tubuh suaminya dan menangis sesenggukan.
" Aku kesal padamu Shine !!!! "
Shine hanya terkekeh dan balas memeluk istrinya.
" Maaf, aku juga kesal padamu tadi"
Amara tak merespon, sibuk menyelesaikan tangisnya.
#
" Sudah ya?, selesaikan tangismu. Kita harus bersiap, ingat pesta yang diadakan om Mike kan?"
mengangguk dan menyeka sisa air matanya.
Shine menurunkan Amara lalu beranjak.
" Shine.." panggil gadis itu.
Shine berbalik, " gendong aku ke kamar mandi sayang"
Shine menggeleng tak habis pikir.
Tapi tetap menuruti permintaan istrinya.
" Karena kau minta di gendong, jangan salahkan aku meminta kita mandi bersama"
Amara menggeleng berusaha menolak, wajahnya sudah pucat.
" Apa kau berani menolak permintaan suamimu?"
Amara menggeleng tak berdaya.
Shine tersenyum penuh kemenangan, ia tetap berhasil dengan permintaannya.
Amara lagi lagi tetap menjadi pihak kalah.
__ADS_1
......................