
Karena Amara benar benar lapar, ia pun bertolak ke restoran. Restoran mana? Tentu saja restoran tempat dia bekerja dulu, yang dia bekerja saja tidak ada dua hari penuh.
" Evran, aku akan makan disini dulu. Kalau kau juga lapar, ikutlah bersamaku."
Evran mengangguk, dan mengikuti langkah Amara yang berjalan masuk ke restoran. Bukan untuk ikut makan, melainkan menjaga sang nyonya muda.
" Oh.. Amara.. Kau akhirnya datang!." Seru Ayla yang berlari dari arah kasir.
" Kau rindu padaku Ay?." Tanya Amara jahil.
Ayla mengangguk dan menyerbu kepelukan Amara. Kedua gadis itu berpelukan layaknya teletubies.
" Khemm.. Amara.."
Kedua gadis itu melepas pelukan mereka. Sean, bos muda yang berusia sekitar 25 tahun itu menatap canggung Amara.
" Sebaiknya kita duduk. Aku juga akan pesan makanan." Ajak Amara.
Ayla dan Sean mengangguk. Mereka pun duduk di salah satu meja. Diikuti Evran yang sedari tadi berdiri mematung seperti manekin.
" Sebelumnya, aku minta maaf karena tiba tiba menghilang dan baru kembali." Ujar Amara memulai perbincangan.
" Itu bukan masalah, tapi... Kenapa kau tiba tiba resign?." Tanya Sean. Pria itu terlihat gelisah dengan wajah gusar.
" Maaf kak Sean, kemarin aku dibawa pergi karena aku menikah. Dan yang mengajukan surat resign itu adalah asisten suamiku."
Ayla dan Sean tentu saja terkejut. Apalagi Sean, terlihat sorot kekecewaan di mata pria itu.
" Maaf Ay. Kau tidak ku jadikan Bridesmaid. Pernikahan ku terlalu mendadak." Kini Amara menatap Ayla.
Ayla menggeleng. " Bukan masalah Am, aku ikut bahagia atas pernikahan kalian."
Amara dan Ayla saling tersenyum. Sean berdiri, " Aku... Kembali dulu, aku masih punya urusan." Setelah mendapat anggukan dari dua perempuan dihadapannya, Sean pun melangkah pergi.
" Sepertinya kakakku patah hati." Celetuk Ayla.
Amara hanya tersenyum kecut. " Kita gagal jadi ipar. Ay".
__ADS_1
Ayla tertawa. " Aku mengira kemarin kau akan disandera, dan terjerat perdagangan manusia. Ternyata bukan, malahan nasib baik berpihak padamu."
Amara menggenggam tangan Ayla." Maaf ya. Setelah ini kita akan jarang bersama."
Ayla lagi lagi menggeleng. " Kalau kau bahagia, aku ikut bahagia. Amara... Kasihan kakakku. Harus melepaskan, sebelum menggenggam. Pasti sakit sekali kan?".
Amara mengangguk. " Katakan pada kak Sean, masih banyak gadis yang lebih baik dari aku. Gadis ya? Bukan wanita."
Keduanya kompak tertawa. " Tentu saja aku tidak akan membiarkan kakakku menikahi perempuan yang… Sudah tidak virgin."
Evran yang mencuri dengar pembicaraan dua perempuan didepannya, menjadi khawatir.
' Kalau sampai Ceo tau, nyonya muda duduk satu meja dengan pria lain. Bukankah aku dalam bahaya' Batin pria itu.
Amara memesan makanan, dan memakan makanannya ditemani Ayla. Hari ini restoran sepi, jadi mereka bebas berbincang.
Tak terasa, hari mulai beranjak sore.
" Nyonya muda, kita sebaiknya pul-."
Belum selesai Evran bicara, Amara sudah memotong duluan.
Evran benar benar tidak berani berkutik, saat Amara menatapnya tajam. Bahkan gadis yang duduk disebelah nyonya mudanya, ikut ikutan meliriknya sinis.
" kalau Ceo sudah pulang dan nyonya muda belum ada di rumah. Apa kabar dengan lembur yang menantiku. Jika saja masih disuruh lembur. Kalau aku di pecat, bagaimana?". Evran menggigit ujung dasinya.
" Nyonya mu-".
" Baiklah baiklah, kita pulang. Kau itu merengek terus. Aku merasa sedang mengajak anak 3 tahun tahu."
Evran akhirnya bernafas lega. Ia pun segera memposisikan diri di belakang Amara, yang sedang berpelukan perpisahan dengan Ayla.
Evran membukakan pintu mobil untuk nyonya mudanya. " Nyonya muda, jika Ceo sudah pulang dan mengetahui tentang anda yang duduk bersama pria tadi-".
" Ya jangan di beri tahu." Sela Amara tak mau tau.
Mereka pun kembali.
__ADS_1
......................
Sampai di teras kediaman yang luas. Amara di sambut Bi Santi dan para pelayan.
" Evran.. Barang yang aku beli tadi, berikan saja pada bibi San." Evran langsung mengangguk patuh.
Amara berjalan masuk kekediaman, diikuti para pelayan. Melewati ruang utama, ruang tamu, ruang keluarga, lalu menaiki tangga menuju lantai dua. Tempat kamarnya dan Shine berada.
Para pelayan sudah berbelok kedapur.
Mata Amara membulat, saat melihat Shine yang sudah duduk santai di sofa kamar. Laki laki itu masih memakai bathrobe dan rambutnya basah.qg
" Shine...k-kau, sudah pulang?."
Wajah pria itu sangat datar. Jangan tanya betapa takutnya Amara saat ini.
" Apa hubunganmu dengan pria itu?." Tanya Shine dingin.
Amara tersenyum kikuk. " Yang kau maksud itu.. Kak Sean?."
Shine menatapnya tajam. " Bahkan kau memanggilnya kak?."
Amara merasa menjadi serba salah.
Ia pun duduk disamping Shine. " Dia lebih tua dariku Shine.. Lagipula dia mantan bossku. Kau lebih tampan dari dia sayang." Rayu Amara.
Shine mendengus. " Tidak perlu merayuku. Cukup jauhi pria itu."
Amara mengangguk. Ia beralih duduk di pangkuan Shine. " Kami tidak pernah dekat. Tidak akan."
Amara mengalungkan kedua tangannya di leher Shine. Pria itu menatapnya dalam.
Shine mendorong tubuh Amara hingga terbaring di sofa.
" Kau harus terima hukumanmu."
Dengan cepat pria itu mengecup bibir istrinya. Amara pun pasrah, toh dia juga salah.
__ADS_1
......................