
Jalan kehidupan setiap manusia itu berbeda-beda begitupun dengan arah yang akan dilewatinya. Jika tak ada penguatan hati dari masing-masing dua insan maka tak akan terbentuk yang namanya kata cinta, itu menurut kata orang. Akan tetapi cinta yang kurasakan saat ini lebih mengarah pada cinta kesendirian bukan cinta sejati.
Dihari dimana kau pergi tanpa sepatah katapun, kau hanya memandangku dari kejauhan dengan tatapan kosong. Entah dimana kau tinggalkan tatapan penuh arti itu, seperti saat pertama kali kau menyatakan cinta padaku. Hanya tanganmu yang terus saja melambai padaku dan itupun kuanggap sebagai tanda kau akan pergi meninggalkanku, oh sungguh menyedihkankanya diriku padahal sebentar lagi kita akan disatukan dalam ikatan cinta yang sempurna yaitu pernikahan.
Pukul 00.00. wita tanggal 28 desember 2019
Aku belum bisa melupakan perpisahan itu, walaupun alasan kepergianmu tak pernah sampai di telingaku tapi kuharap kau bisa segera kembali. Aku ingat malam itu mataku pun tak bisa memejamkan mata dan bahkan kegelisahan menghampiriku. Aku memandang keluar dan menatap sang rembulan malam, sesekali wajah yang kurindukan muncul sembari tersenyum padaku serta berulang kali pula angin menyadarkanku bahwa hal yang kurasakan hanyalah khayalan yang menghantui perasaanku. Tiba-tiba terdengar suara barang jatuh dari luar kamar, aku kaget dan segera keluar kamar.
“ Astagfirullahalazim bu …ibu nggak apa apakan?” dengan panik dan membantu ibu berdiri dan mengantarnya kekamar dan menanyakan kembali apa yang sebenarnya terjadi
“ ibu kenapa? Coba tanya zahra apa yang sebenarnya terjadi dan kenapa ibu bisa jatuh seperti tadi?” tanyaku heran
“ nak kamu harus kuat ya?” mendengar ibu mengatakan itu, jantungku seketika berdegup kencang sebenarnya apa maksud dari perkataan ibu
“ maksud ibu apa? memangnya aku kenapa? Aku kan baik-baik aja bu “
“ maksud ibu satria nak “ sambil meneteskan air mata
__ADS_1
Jantungku berdegup bahkan dua kali lipat apalagi ini tentang satria orang kedua yang paling aku sayang
“ sat..ria ke..napa bu?” jawabku dengan gagap
“ tadi keluarga satria menelpon, ibunya bilang kalau pesawat yang ditumpangi satria mengalami kecelakaan nak dan dalam kecelakaan itu dikabarkan, kalau tidak ada satupun penumpang yang selamat,…. termasuk satria nak”
"Apa bu… ini nggak mungkin bu, satria nggak mungkin ninggalin aku bu, dia bahkan sudah janji sama aku bu “ sambil meneteskan air mata
Seketika langit terasa runtuh dan menimpaku, terbayang wajahnya yang sering memanggil namaku dengan lembut. namun Fikiran dan bahkan hatiku telah tergores begitu dalam, ibu mencoba menenangkanku dengan memelukku erat-erat tapi raga ini terasa melemah karna begitu dalam luka yang menusukku.
“ baiklah nak “
Aku tersenyum kecil kepada ibuku, walaupun dalam hati selalu berkecamuk tak ingin menerima kenyataan ini. Didalam kamar aku menangis tersedu-sedu tapi tak mengeluarkan suara apapun karna begitu sakit perasaan ini.
“ ya tuhan mengapa kau mengambil orang yang aku sayangi? Aku baru saja kehilangan ayahku 3 bulan yang lalu dan sekarang kau juga mengambil satria, apa salahku ya allah “ tanpa sadar air mata mengalir begitu saja seakan telah mengerti perasaan yang hancur ini, Dalam hati aku terus bergumam dan meyakinkan diri
“aku harus tetap yakin kalau satria pasti masih hidup, aku tak boleh pesimis dulu pokoknya aku nggak boleh lemah, selama jasadnya belum ketemu aku akan tetap percaya kalau satria masih selamat, satria aku akan menunggumu”.
__ADS_1
***
Tanggal 03 januari 2020, pukul 07:35 wita
Sudah hampir satu minggu aku menunggumu satria, tapi tidak ada kabar apapun darimu, sedangkan korban dari kecelakaan pesawat itu satu persatu telah ditemukan tapi lain halnya dengan dirimu, kamu seakan di telan oleh bumi , kemanakah kiranya engkau satria. Jika kau telah meninggal aku ingin melihat jasadmu tapi jika tidak tolong datang padaku.
Tok ..tok…tok..
” ra .. kamu bisa keluar sebentar?” tanya ibuku
“ iya bu bentar” sebelum keluar kutenangkan diriku terlebih dahulu, aku tak ingin ibu melihatku dalam keadaan seperti ini. Lalu aku melangkah keluar kamar seperti tak pernah terjadi apapun padaku. Kulihat ada tamu di ruang tamu
“ loh tante , om “ sambil menyalami mereka sebagai tanda hormatku pada orang tua.
“ nak, kamu bikinin teh ya buat ibu dan ayah satria” ujar ibu sambil melirikku
“ iya bu” ucapku kembali. Dan menampakkan sedikit senyuman kecil dipipiku. Segera aku menuju kedapur, dan membuatkan teh untuk ibu dan ayah satria setelah selesai aku mengantarkanya kembali keruang tamu. Namun apa yang kulihat diruang tamu
__ADS_1