CINTA ITU PILIHAN

CINTA ITU PILIHAN
Part 4


__ADS_3

Tanggal 05 januari 2020, Pukul 07:00 wita


Sudah enam hari aku pikirkan ini, apa ini benar jalan yang terbaik untukku? Dan entah mengapa masih ada keraguan yang terselip disudut hatiku.


“Tapi hmm.. ( menghela napas) tak ada pilihan lain lagi, nasi sudah menjadi bubur” dengan nada kecewa. Aku tahu ini sudah terlambat dan aku telah berada dimana aku akan membuka lembaran yang baru bersama dengannya. Sekarang aku hanya perlu ikhlas.


“ ha ada apa dek zahra, nasi sudah menjadi bubur maksudnya?” tanya seorang perias yang sedang meriasku


“ oh.aa..anu itu.. aku cuman salah bicara kak” jawabku dengan gagap dan terbata-bata


“ ya sudah jangan melamun ya, seharusnyakan kamu bahagia ini adalah hari pernikahan kamu” kata perias itu dengan mata berbinar binar diikuti senyum bahagia melihatku

__ADS_1


Dalam hati aku bergumam “ aku tak mengerti ini pernikahanku atau pernikahanmu wahai perias, begitu bahagianya kau. Tapi sudahlah dia tak tahu apa-apa dan dia juga tak bersalah dalam hal ini”


Akupun diberikan berbagai pernak-pernik pernikahan yang aku sendiri tak tahu apa maksud dari semua ini. Selang beberapa lama dan akupun juga telah selesai dirias sang calon pengantin laki-laki atau orang yang tak kukenal telah datang dan sebentar lagi akan menjadi suamiku yang sah. Kulihat semua orang sibuk kesana kemari mempersiapkan segala hal demi lancarnya pernikahan ini, namun lain halnya denganku yang sibuk menata hatiku. Sungguh menyedihkan.


***


Didepan penghulu, laki-laki yang bernama abil itu mulai mengucapkan sebuah kalimat yang sakral dalam setiap pernikahan


“ saya terima nikahnya Putri Zahra binti Irwandi dengan emas seberat 50 gram dan seperangkat alat sholat dibayar tunai” dengan lantang abil mengatakan itu


Hati mulai bergetar, fikiran berkecamuk kini aku telah menjadi istri orang lain dan parahnya lagi istri dari kakak orang yang aku cintai. Walau tak pernah terlintas difikiranku bahwa kehidupan yang kujalani seperti ini, tapi inilah pernikahanku, pernikahan yang sudah didepan mata. Tak ada kebahagiaan yang menyelimutiku hanya duka yang terus terucap di hati ini. Kemudian aku dan dia saling bertatapan lalu segera membuang pandangan kami masing-masing, dia memegang tanganku dan mulai memasangi jari manisku sebuah cincin emas dangan permata kecil berwarna biru diatasnya begitupun sebaliknya denganku. Setelah berbagai ritual pernikahan telah dijalani bersama kak abil, dan para tamupun sudah pulang kami berdua memasuki kamar dan tentu saja saling diem-dieman dan membelakangi seolah aku ataupun dia orang asing yang tak seharusnya memulai suatu pembicaraan. Dan malam itu memeng benar kami telah resmi menjadi sepasang suami istri tapi hati kami tak terikat satu sama lain , bahkan bertegur sapa dengannya aku mulai ragu untuk melakukannya.

__ADS_1


“ ra “ panggil seseorang yang berada dibelakangku dan itu adalah kak Abil yang wajah bahkan suaranya mirip dengan satria. Aku pun kaget dan terheran-heran dengan nama panggilan itu. Dia memanggilku dengan sebutan ra. Bukankah itu adalah nama panggilan sayang satria padaku dan akupun selalu memanggilnya dengan ri. Bagaimana mungkin dia tahu dan bahkan orang lain bahkan ibuku sendiri selalu memanggilku zahra tapi kenapa dia beda, dan kenapa dia juga harus begitu oh sungguh mengingatkanku pada satria kembali.


“ iyya” jawabku sambil mengernyitkan dahiku


“ kamu bisa tidur ditempat tidur, aku akan tidur disofa” kata kak abil sambil mengambil satu bantal dan menyimpannya disofa. Aku hanya bisa mengangguk karna inilah pilihan yang kuambil setidaknya, dia masih mau menerimaku apa adanya.


Aku mulai berbaring ditempat tidur begitupun dengan kak abil berbaring disofa itu. Selang beberapa menit kulihat kak abil sudah tertidur mungkin dia kelelahan mengikuti segala macam prosesi pernikahan yang ribet. Kupandangi wajahnya yang mirip dengan satria, tapi sikapnya yang begitu berbanding terbalik, kalau satria humoris, lucu, romantis dan juga agak jail sedangkan kak abil lebih kesikap tegas, kaku dan cuek. Setelah puas memandang wajah kak abil yang mengingatkanku dengan satria, mataku mulai berat dan perlahan-perlahan menutup yang berarti aku sudah mengantuk.


Adzan subuh telah berkumandang, aku bangun dan segera mengambil wudhu, selesai dari wc aku melirik ke arah sofa tapi kak abil sudah tak berada disana. Tapi sudahlah aku harus segera kemesjid yang kebetulan berdekatan dengan rumahku, dan ibu juga sudah memanggilku


“ zahra ayo kita kemesjid nak?” tanyanya

__ADS_1


“ iyya bu “ sahutku


Sesampainya dimesjid kami pun segera menunaikan ibadah sholat subuh berjamaah, setelah sholat kami pun keluar mesjid, dan tak kusangka melihat kak abil keluar mesjid juga


__ADS_2