CINTA ITU PILIHAN

CINTA ITU PILIHAN
Part 8


__ADS_3

"Makasih zahra” sambil tersenyum


“ ra ayo kita berangkat” terdengar suara kak abil dari luar. Aku dan mama abilpun menghampirinya. Ibu kelihatan sedih sekali melihat kepergianku tapi dia sudah mencoba ikhlas dengan hal ini. Ibu ingin aku menjadi seorang istri yang baik seperti perlakukannya dulu kepada ayah.


“ ra , sering – sering ya telpon ibu, dan ingat kamu juga harus sering pulang” ucap ibu sambil memelukku dengan erat. Rasanya pelukan ini tidak ingin kulepas tapi lagi-lagi kak abil menyadarkanku dan kami pun saling bersalaman kepada keluarga kami sebagai isyarat perpisahan.


Aku dan kak abil masuk mobil, kulihat ibu mulai meneteskan air mata kesedihan, rasanya aku ingin menghapus air mata itu dan juga sebagai anak aku ingin selalu bersama ibu tapi sekarang yang duduk disampingku ini adalah suamiku aku harus memenuhi kewajibanku padanya. Kulambaikan tangan pada ibuku tercinta dan kupandangi ulang rumahku walaupun mobil yang sedang ku tumpangi ini melaju dan mulai meninggalkan halaman rumahku. Aku benar-benar sedih dengan ini dan hanya bisa diam disepanjang perjalanan. Sampai kak abil mengajakku bicara.


“ ra, udah jangan sedih” sambil memegang kedua tanganku. Aku memandanginya karna terkejut dengan sentuhan tangannya itu


“ dek kenapa pacarnya, lagi ngambek ya” sindir salah satu penumpang ibu- ibu yang agak gemuk menurutku, dengan baju gamis berwarna hitam dipadukan dengan jilbab merah maron.


“ ( senyum ) nggak apa-apa kok bu “ ucap kak abil menunjukkan kedewasaannya didepan orang lain. Aku memandang kak abil kembali lalu beralih lagi kepada tangannya yang memegang lembut tanganku, tanpa berpikir panjang aku segera melepaskan genggamannya dan memandang keluar kaca mobil dan aku pun tak membutuhkaan perhatiannya sekarang ini


“ dibujuk dek pacarnya ( sambil senyum cengengesan ), kalian ini ngingetin ibu, pas ibu pengantin baru dulu, malu-malu gitu, mirip sama kalian. Bedanya kalian hanya pacaran” ucap ibu itu sambil mengumbar senyumnya


Dan lagi – lagi kak abil juga hanya tersenyum pada ibu-ibu tadi. Sepertinya ia ragu untuk mengatakan bahwa aku adalah istrinya. Dan ibu ini juga tak memperhatikan ritual perpisahanku dengan ibu Dan mertuaku diteras rumah ku tadi. Tapi untunglah aku juga malas membahas tentang pernikahan konyol ini. 40 menit setelah percakapan itu aku mulai merasa mual dan seluruh isi perutku seakan meminta bagian untuk keluar dari perutku ini dan kepalaku juga terasa pusing. Tanpa sadar kepalaku bersandar dibahu kak abil dan dalam sekejap aku muntah dijaket kak abil

__ADS_1


“ ra , kamu muntah???” kak abil terkejut


“ aku pusing, masih jauh nggak sih ini?” tanyaku dengan tatapan tak berdaya


“ aduh kamu ini ( sambil mengambil tisu didalam tas kecilnya), iya masih ada 2 jam lah “ katanya yang sibuk mengusap mulutku dan setelahnya ia melepas jaketnya serta menyimpannya didalam tas ranselnya


"kamu mabuk darat ya? Nggak bisa naik mobil?” sontak kak abil mengucapkannya. Aku segera menutup mulutnya dengan tanganku


“ jangan banyak bicara, bisa tidak kita turun saja?” keluhku, dan melepaskan tanganku dimulutnya


“ hm baiklah daripada kau mati disini karna mabuk darat” ucapnya sedikit mengejek


Kak abil mulai bicara dengan sopir mobil itu, dengan kesepakatan bayar setengah harga dan juga mobil ini pun berhenti dipinggir jalan. Sopir mobil mulai membantu menurunkan barang barang bawaan kami. Aku turun dari mobil sambil dipegangi kak abil dan sebelum mobil itu kembali melaju kak abil malah kembali kedalam mobil


“ maaf ibu ya, yang tadi bilang dia itu pacarku ( sambil menunjuk kearahku ) ?” ucap kak abil


“ iyya pacarnya kan dek, sebenarnya nggak baik kemana-mana itu sama pacar. Hmm dosa loh dek” kata ibu itu dengan percaya diri

__ADS_1


“ dia istriku bu” sambil tersenyum kak abil mengatakan itu dan segera keluar dari mobil dan menghampiriku serta mobilpun melaju lama kelamaan mulai menghilang dari pandanganku.


“ ayo kita jalan kaki sampai kerumah” sambil mengulurkan tangannya


“ ha.. aku ini pusing loh kak, ditawarin minum dulu kek” kataku dengan ketus


“ lagipula kenapa dari awal kamu itu nggak bilang kalau kamu nggak bisa naik mobil” jelasnya


“ ya itu karna Aku… hmmm”


“ karena apa? Malu? Hem ataau gensi aja, huft ..menyusahkan” kesal abil melihat tingkah


“ gimana sih bukannya ngebantuin malah ngejek, nyebelin” kesalku sambil kuseret koperku menjauh dari kak abil yang saat ini membuat moodku jelek ditambah rasa pusing dikepalaku rasanya untuk berdebat sudah tidak ada tenaga lagi


“ hei tunggu, memengnya kau tau jalan” ucap kak abil mengejarku


“ cih, aku malas berdebat,seandainya kepalaku tidak pusing sudah ku pukul kepalamu itu” gumamku

__ADS_1


“ kau bicara apa?” tanya kak abil yang telah sejajar denganku


“ kau tak dengar? Kalau iyya kau tak perlu tahu, cukup diam saja sampai kita melihat penginapan” ucapku kembali sambil sesekali kupegangi kepalaku yang terasa berat dan sungguh ini perjuangan yang berat untukku seandainya ku bisa memilih aku


__ADS_2