
Ayah yang ternyata sudah menyiapkan semuanya dengan matang segera menghampiri istri tercintanya yang masih sibuk dandan. Sebenarnya Mama Eva tidak terlalu suka berdandan yang berlebih, beliau lebih suka tipis-tipis natural. Mama Eva dibuat bertanya-tanya ada apakah gerangan sehingga suaminya itu memintanya berdandan untuk malam ini.
"Ma, gak terasa ya anak-anak kita sudah besar-besar. Perasaan baru kemarin kita menikah eh sekarang anak kita uda pada jadi bujang dan gadis aja."
"Iya yah, waktu begitu cepat berlalu, ucap Mama Eva sambil terus memikirkan sesuatu. "Mau kemana ya malam ini?" jiwa kekepoannya meronta-ronta penasaran namun, Mama Eva tidak menanyakannya lebih lanjut kepada suami tercintanya. Mama Eva tidak sadari selama mama "dikurung" dalam kamar. Persiapan seperti makanan untuk mereka, hadiah yang ayah siapkan sudah siap pada waktunya akan dikeluarkan. Yah seperti kebiasaan Mama Eva yang memang sedari dulu sulit mengingat sesuatu seperti tanggal dan momen-momen yang dianggapnya tidak terlalu penting. Tanggal anniversarynya saja kadang ingat kadang lupa seperti malam ini sepertinya Mama Eva kembali melupakannya. Sifat itu menurun kepada puterinya Ayesha.
"Ma, uda kelar belum dandannya?" Tanya Ayah Arif pada sang istri.
"Uda yah, kan ayah tau mama gak pernah dandan lama-lama, Iya tak iya tak?" Tanya Mama Eva
"Iya sayang. Yauda yuk mungkin anak-anak juga uda siap." Ayah menggandeng tangan istrinya dengan mesra. Mereka berjalan beriringan dengan serasinya.
Dilain tempat Alzy dan Ayesha ternyata sudah bangun dan sudah menantikan orang tua mereka di ruang keluarga. "Yah, Ma, uda bisa kita mulai acaranya?" Tanya Alzy
Mama yang terkejut dengan persiapan yang ada didepan matanya tampak bingung makanan, dan dekor ruang keluarga sudah sangat indah dan meriah disana sini. "Yah, ini ada apa? apa mama melupakan sesuatu kali ini?" tanya Mama Eva.
"Iya ma, Mama lupa ya hari ini kan hari anniversary kita. Happy Anniversary Istriku sayang," ujar Ayah Arif sambil mencium kening istri yang sangat ia sayangi.
Alzy dan Ayesha tampak begitu haru melihat cinta yang begitu besar antara orang tua mereka itu. Ay bahkan berkaca-kaca mengingat kembali sekarang sudah 23 tahun kebersamaan kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Dua tahun lagi jadi pengantin perak dong ya Yah, Ma?" Tanya Ayesha.
"Iya sayang," Ayah Arif dan Mama Eva kompak menjawab. Mama Eva pun sama harunya dan bahkan menangis yang sedari tadi ia berusaha tahan didepan putera dan puterinya. Tanpa disadari ternyata bulir bening itu lolos juga.
"Uda, uda cukup sedih-sedihnya sekarang kita senang-senang ya," Alzy mencairkan suasana agar bergembira kembali karena, memang tujuan diadakannya acara kecil-kecilan ini agar kedua orang tua mereka bahagia terutama Mama yang sama sekali tidak mengetahui rencana ini.
"Oh ya Ma, Ayah ada sesuatu yang spesial buat Mama, Mama tutup mata dulu ya bentar aja."
"Emang apaan yah? duh mama kok deg-degan gini ya," ucap Mama yang perasaannya kini campur aduk.
Ayah segera mengeluarkan sekotak perhiasan. Ayah memberi aba-aba kepada Mama agar membuka matanya. "Ayah hitung ya, mama buka matanya dihitungan ke 1." Mama hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju.
"Yah, ini kan perhiasan yang mama mau waktu kita jalan-jalan waktu itu, kok ayah bisa tau kan mama gak bilang?" Mama Eva semakin terharu saja oleh sikap sang suami yang tidak terduga itu.
"Ayah kan liat, kayaknya Mama pengen karena berkali-kali nanyain sama si mbak penjaga tokonya kan. Nah kebetulan Ayah ada sedikit rezeki akhirnya ayah beli deh buat anniversary kita ini."
"Ayah, so sweet. Mama emang pengen banget yah saat pertama kali liat tapi mama diam karena mama gak mau repotin ayah yang harus ngeluarin uang lebih untuk mama."
"Gak apa-apa ma kan gak tiap hari ini, kalau tiap hari minta yang begini, wah bisa-bisa ayah ngomel mulu tiap hari uda kayak emak-emak ya," Ayah terkekeh membayangkan ia memarahinya istrinya setiap hari padahal selama ini ia sosok yang sabar dan bijak.
__ADS_1
"Yauda makan dulu yuk pasti pada laper kan," ujar Mama Eva yang melihat jam tangan yang melingkar menunjukkan jam 8.30 malam. Alzy dan Ay yang memang lapar mengiyakan ucapan mamanya.
Keluarga kecil itu makan dengan perasaan yang bahagia dan sesekali diselingi canda tawa antara ayah dan anak-anaknya. Sementara Mama Eva masih tidak menyangka suaminya begitu memperhatikan hal-hal yang bahkan ia tidak memberitahukannya secara langsung. Selesai menyantap hidangan yang tersaji di malam yang membahagiakan itu, Al dan Ay menyerahkan hadiah yang memang mereka siapkan untuk mama tercinta.
"Sekarang giliran Al ya ma. Al bersyukur banget bisa punya orang tua seperti kalian. Al tumbuh dan besar dalam keluarga ini dengan kasih sayang yang melimpah. Makasih Ayah, Mama. Semoga kado ini bisa menambah koleksi kalian. Nih Yah, Ma dibuka dulu kadonya semoga suka ya."
Ayah Arif dan Mama Eva membuka lembaran demi lembaran yang membungkus hadiah dari anak sulungnya itu.
Ay juga tak lupa memberikan hadiah yang sudah ia siapkan jauh-jauh hari. "Ayah, Mama, kado yang ay kasi ini mungkin gak seberapa jadi jangan diliat dari nilainya ya. Hmm Yah, Ma, terima kasih uda jagi ayah terbaik dan mama terbaik buat Ayesha dan bang Al. Makasih juga buat mama yang sudah melahirkan kami berdua, buat ayah yang sudah jagain kami terutama jagain ay. Ayah itu cinta pertamanya Ayesha." Ay segera memeluk Ayah dan Mamanya itu disertai tangis haru antara mereka bertiga. Al pun tidak berdiam diri, ia memeluk mereka bertiga.
Tetaplah jadi yang terbaik Al, Ay. Jaga nama baik keluarga kita dan terutama jaga diri kalian. Ayah dan Mama cuma bisa berdoa yang terbaik buat kalian, semoga Allah selalu menjaga kalian ya nak. Al jagain adik kamu ya, sekarang ayah sudah beranjak tua, sekarang kamu gantiin ayah buat jagain adik kamu. Tetap kompak dan saling menyayangi satu sama lain, saling menjaga dan satu lagi pesan Ayah buat Al. Al, jangan terlalu dingin napa sama cewek, nanti kamu mau jadi bujang lapuk noh kayak sodara ayah ada tuh yang gak mau nikah sampai detik ini, ada juga yang uda nikah tapi gak mau melahirkan karena takut. Ketakutan-ketakutan berlebihan itu gak baik nak. Selalu berserah diri kepada Allah dan jangan pernah menjauh apalagi melupakan-Nya.
Hmm iya yah, Al juga begini ada sebabnya Al gak mau punya hubungan serius dulu sebelum adik tersayang Al menemukan seseorang yang bisa menjaganya. Lagian Al bersikap dingin karena ini cara Al menyeleksi alam sosok perempuan yang terbaik untuk Al kelak. Sosok keibuan dan sederhana seperti mama.
Yauda nak kalau itu pilihan kamu, tapi kurang-kurangin dong sikap dinginnya, ramah dikit gitu loh, ujar Mama Eva.
Tuh dengerin bang, kurang-kurangin tapi jangan lebih-lebihin juga sih nanti malah diabetes.
__ADS_1
Al hanya mengangguk. Semua selesai dan mereka kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat.