Cinta Maha Dahsyat

Cinta Maha Dahsyat
selangkah lagi


__ADS_3

Diperjalan pulang kampung Retha terlihat sangat senang sambil menggendong Meira


"andai aja kita udah ada anak ya mas, pasti gak pernah kesepian, aku pengin deh kaya gini" kata Retha dengan sedikit sedih


"sabar sayang, Allah belum mempercayaimu untuk jadi ibu, tetap berusaha semoga gak lama lagi ya? " jawab Eka menghibur istrinya itu


"sekarang kan udah ada Meira mbak, mbak retha bisa kapan aja main sama Meira" sahut Maya


"tapi kalo dibawa pulang boleh kan? "


"ya jangan dong sayang, ntar Maya gimana? Kalo Meira nangis apa kamu bisa nenangin dia, kasian...besok aja kita main ke rumah maya ya? " kata Eka


"iya bener mas, bukan maksut apa2 cuman kasian Meira juga mbak kan udah capek kerja ditambah momong" jelas Maya


"emmm bisa aja sayang, kamu karna kecapekan kerja jadi susah hamil"


"emang ngaruh ya?? Terus aku harus gimana mas? "


"ya jangan capek2 coba,dirumah aja.. " saran Eka


"boringg mas.. Dikantor kan banyak temen bisa kerja...


"udahhhh. ..kamu ngeyel kalo bilangin, " kata Eka sedikit berdebat dengan istrinya itu


"kalo menurut kamu mai, enak jadi ibu rumah tangga aja apa saambil kerja? " kata Retha minta pendapat Maya


"kalo aku ya enak kerja, tapi ya ngikut kemauan suami mbak, kalo gak dibolehin itu berarti dia tau mana yang terbaik" saran Maya


"tuh Maya aja belum nikah udah tau banget"


"hehee,, dikit mas


"oiya... kapan nih kamu sama Yudha nikah?? " tanya Eka


"belum tau mas, doanya aja semoga gak ada halangan.. " jawab Maya tersipu malu


"baiknya cepat2 lah ya gak baik nikah ditunda2 hehee" candain Retha


Tak terasa mobil yang sudah melaju 2jam itu berhenti didepan rumah Maya

__ADS_1


"itu mobil siapa ya? " tanya Maya


"gak tau mai, coba aja liat kedalam mungkin ada tamu" jawab Retha yang sebenernya sudah mengetahui itu keluarga Yudha


"assalamualaikum...


"ehh udah pulang sini mai.. " jawab ibu Maya


"ada apa ini buk, kenapa ada Yudha dan keluarganya??


"duduk dulu mai, tenangg... " kata Pak Arif


"sebenernya kedatangan kami disini untuk melamarkan Yudha untuk meminta kamu jadi istrinya" kata ayah Yudha


"emm kenapa kamu gak bilang yud? Kaget aku dengernya? " kata Maya


"kan surprisee sayang, hehee.. "


"udah terima aja, syukur2 cepet nikahin pak mereka tuh cocok banget" kata Eka


"jadi mas Eka udah tau semua ini? " Maya tampak malu


"hehee udah mai, makanya kami anter kamu sampe rumah" kata Retha


"mm..maa.. Mauu pak, saya mau jadi menantu bapak" Maya tersipu malu


"lohh..jadi menantu bapak aja gak jadi istriku?? " guyon Yudha


Sontak semua yang ada diruangan itu pun tertawa dan membangunkan Meira dr tidurnya


"ohh iya mai, kalo kamu gak keberatan Meira biar aku dulu yang urus gimana? " kata Rethaa


"gimana buk? " tanya Maya kepada ibunya


"boleh naak, semoga cepat nular ke nak Retha yaa? " sahut bu Isti


"kalo nangis gimana sayang? " tanya Eka


"wajar mas, bayi bisanya baru nangis aku mau belajar jadi ibu apa salahnya sih? " jawab Retha

__ADS_1


"bener itu yang penting mau belajar dan berusaha" sahut bu Isti


"jadi kapan nih, tgl bagusnya buat pernikahan ku pak" tanya Yudha tidak sabar


"hushhh buru2 aja kamu? " kata Maya


"biarin wekk, bapak ibu ayolah jangan lama2 ya? " rengek Yudha kepada bu Isti dan pak Arif


"gimana kalo minggu depan pak? " usul ayah Yudha


"kami ngikut aja, kamu udah siap kan mai? " kata pak Arif


"insyaallah aku siap lahir batin pak" jawab Maya


Karena malam sudah menunjukkan pukul 22:00 Eka dan Retha pun berpamitan untuk pulang dan membawa Meira ikut bersamanya


"semogaa kalian lancar sampe hari H besok yah" kata Eka sambil menyalami Maya dan Yudha


"oke siap makasih bro udah bantuin" jawab Yudha


"sipp pulang dulu yaa...


Maya dan Yudha yang hanya saling melirik tampak tersipu malu


"oiyaa ini ada seserahan dari kami untuk Maya pak gak seberapa tapi mudah2an bermanfaat" kata ayah Yudha sambil menyodorkan parcel2 pernikahan


"dan ini cincin sebagai tanda keseriusanku padamu Maya, bahwa kita sekarang sudah menjadi satu terikat" tambah Yudha memasangkan cincin di jari manis Maya


Maya yang hanya menangis haru mendengar pernyataan Yudha yang seserius ini


"semoga kamu bisa bersabar membimbingku kelak untuk bisa ke jalan yang lebih baik" pesan Maya kepada calon suaminya itu


"pasti sayang, aku selalu berusaha untuk merubah semuanya agar lebih baik"


"silahkan makan dulu seadanya bapak ibu dan nak Yudha" ajak Bu Isti


"maaf bu bukan kami menolak tapi tadi kami sudah makan dan masih sedikit kenyang" kata ibu Yudha


"gak afdol kami seharian sibuk didapur masak gak dicicipi" rayu ayah Maya

__ADS_1


"yasudah ayo semua kita makan bersama2 saja baiknya" kata ayah Yudha sambil beranjak ke ruang makan


Dengan menikmati hidangan makan malam mereka pun larut dalam suasana kekeluargaan yang harmonis sembari bergurau


__ADS_2