
Mempermainkan Kaira masih kembali berlanjut, padahal ini adalah waktu yang paling pas untuk Kaira memulai ritual tidur cantiknya. Tapi semua itu harus di urungkan nya karena lagi-lagi Davin menyuruh nya datang ke ruangan kerja miliknya.
Sudah hampir tiga puluh menit Kaira berdiri didepan Davin menunggu perintah dari tuan raja yang tengah asik menatap layar laptopnya. Entah apa yang membuatnya sangat serius kadang keningnya mengkerut dan kadang kembali ke semula.
"Apa kau tidak capek berdiri sedari tadi? Mengapa tidak berbicara jika kau sudah datang," ucap Davin melihat Kaira dengan memangku dagunya dengan kedua tangan nya.
Apaa! Apa kau buta?! Jelas-jelas tubuhku ini besar dan tinggi. bagaimana bisa dia tidak melihat ku? Dasar gila!
Kaira memaksakan wajahnya untuk tetap tersenyum membalas ucapan konyol Davin, dia sedang tidak bersemangat sekarang untuk berdebat dengan Davin. Karena Kaira tau, dia pasti akan kalah. Karena Davin memiliki bukti foto dirinya yang akan membuat kakek kesayangannya menjadi murka pada dirinya.
"Berhenti tersenyum seperti orang bodoh," kesal Davin, Kaira memanyunkan bibirnya membuang muka tidak suka dengan ucapan Davin yang mengatai dirinya 'bodoh'
"Kau butuh apa lagi?" jutek Kaira
"Aku ingin mandi. kau pergilah siapkan semua hal untuk ku, Alma akan memberitahukan nya pada mu. "
"Cih.. Mandi saja pun harus aku yang melakukannya," cibir Kaira dengan sorot mata tajam. Dia pun pergi dengan langkah kaki yang sengaja di kuatkan ke lantai agar Davin tau seberapa kesal Kaira sekarang.
Davin mengambil ponselnya dan melihat kembali foto Kaira dengan penampilan yang berantakan karena mabuk, dia memijit keras keningnya melihat foto tersebut.
"Sejak kapan kau mulai minum seperti ini?" gumam Davin menghembus kan keras nafasnya
Ada panggilan yang masuk di layar ponsel milik Davin, tapi dengan segera Davin menolak panggilan tersebut yang berasal dari kekasih nya.
Sementara di tempat lain, Freya sangat kesal karena Davin sedari tadi menolak terus-menerus panggilan telefon miliknya, dia meremas kuat ponsel nya dan melempar kan ke dinding hingga hancur tak terbentuk
"Awas saja kau Davin!! Akan ku pastikan kau bertekuk lutut dan memohon pada ku!!" ucap Freya dengan wajah bergetar menahan rasa geram dari dirinya.
__ADS_1
Walaupun Davin memberikan segala hal yang di mau oleh dirinya, tapi tetap saja. Davin memperlakukannya seperti bukan sepasang kekasih, bahkan Davin tidak pernah menghargai dan menganggap keberadaan Freya itu ada bagi Davin.
padahal sudah banyak cara yang di lakukan Freya untuk mendapatkan perhatian dari Davin, tapi selalu saja gagal.
"Apa kau ingin bersenang-senang? Ayolah, aku sangat merindukan dirimu," ucap Freya dengan nada sensual nya menelfon seseorang menggunakan telefon milik hotel.
"Puaskan aku malam ini," goda Freya,
Kemudian dia meletakkan kembali telefon itu dan mulai mengganti bajunya dengan baju tidur super tipis bahkan bisa di bilang sangat transparan karena bisa melihat seluruh bentuk tubuh Freya. Hanya dengan ini saja lah hal yang mampu membuat Freya merasa sedikit tenang.
Kembali lagi dengan sepasang pengantin baru yang tidak saling menginginkan ini.
Kaira kembali mendadak malu dengan perbuatan Davin yang sengaja memperlihatkan tubuhnya yang atletis di depan Kaira, dan entah apa yang merasuki Kaira bisa-bisanya dia merespon dan menelan ludahnya dengan susah payah melihat tubuh indah milik Davin.
Dan Davin menggunakan kesempatan yang pas membuat Kaira malu, Kaira terus saja merutuki tingkah nya yang bodoh yang membuat dirinya malu
Sesekali Kaira membenturkan pelan kepalanya di lemari kaca milik Davin.
Saat Kaira sedang asik mengambil baju tidur untuk Davin, tanpa sengaja Kaira melihat sebuah kotak kecil berwarna coklat terjatuh dari lemari.
Kaira merenung saat membuka isi dari kotak coklat tersebut adalah sebuah kalung dengan sejuta kenangan yang tersimpan dalam kalung itu.
"Bagaimana kalung ini bisa ada padanya?" Kaira mencoba mengingat kembali kenangan masa kecil mereka yang bersangkutan dengan kalung yang sekarang di pegangnya.
Belum sempat mengingat Davin sudah datang dan merampas kasar kalung yang ada pada Kaira, untung saja kalung nya gak putus.
"Apa yang kau lakukan??" desis Davin.
__ADS_1
"Bagaimana kalung itu ada padamu?"
"Harus berapa kali aku mengatakan pada mu? JANGAN PERNAH SENTUH BARANG MILIKKU!!" teriak Davin penuh amarah dia bahkan sampai menendang kursi yang ada di depan meja rias.
Kaira ketakutan melihat emosi tak terkendali dari Davin, padahal dia hanya menanyakan suatu hal yang simpel. tapi kenapa harus semarah ini?
Davin berjalan pelan mendekati Kaira tapi dengan sorot seringai mematikan yang membuat Kaira semakin takut, ingin lari tapi tangan Davin sudah lebih dahulu mencengkram dagu Kaira.
"Apa tidak cukup rasa sakit di masa lalu yang kau buat? Apa kau sekarang ingin membuka kembali rasa sakit itu? Haa!!" teriak Davin, Kaira menutup kedua matanya dia tidak sanggup untuk sekedar menatap membuka mata saja.
"Aku, tidak mengerti dengan ucapan mu," jawab Kaira dengan nada bicara bergetar karena ketakutan.
"Tidak mengerti?" tanya Davin dan Kaira mengangguk kan pelan kepalanya. "Apa kau lupa bahwa kau seorang pembunuh?" gumam Davin
setetes air mata turun dan membasahi pipi serta tangan Davin yang masih mencengkram nya, tapi kini Kaira sudah membuka matanya dan berani melihat mata Davin. Mata yang sangat yakin dengan apa yang barusan di katakan olehnya.
"Kau sungguh berpikir seperti itu?" lirih Kaira dia menatap tidak percaya Davin.
Davin melepas cengkraman tangannya, dia beralih membelai lembut pipi Kaira dan menghapus air mata yang masih saja turun dari mata Kaira
"Apa kau menyesal? tapi itu tidak berguna sama sekali." tangannya terhenti di bibir manis Kaira dia mengusap pelan bibir itu menggunakan jari telunjuk nya. Cukup lama dia memandangi bibir pink itu.
"Apa kau tau? Aku sangat membencimu," desis Davin di samping telinga Kaira.
"Aku benar-benar membencimu!!" Davin sudah kehilangan akal dia mencekik Kaira hanya dengan satu tangan nya membuat wajah Kaira menjadi pucat karena terlihat jelas sekali dari urat tangan Davin yang memang mencekik kuat leher Kaira.
"Lepaskan, Davin." Kaira memukul-mukul tangan Davin dan mencoba melepaskan tangan yang melingkari leher kecil milik nya tapi tentu itu akan sangat tidak berguna. Davin sudah dibutakan oleh amarah tidak peduli dengan penampilan saat ini yang hanya menggunakan handuk di pinggang.
__ADS_1
Karena perlawanan yang dilakukan Kaira membuat kancing kemeja Kaira terbuka dan memperlihatkan sebuah kalung yang sama persis dengan kalung yang di rampas Davin. Davin pun seketika tersadar dan melihat wajah memerah darI Kaira.
"Apa yang kau lakukan Davin?" ucap Davin merasa bersalah melihat keadaan Kaira yang sekarang terbatuk-batuk di lantai. Davin menjambak sendiri rambutnya, gusar dengan tindakkan ceroboh dirinya.