
Hari ini adalah hari dimana pernikahan dua orang konglomerat berlangsung dan tentunya pernikahan ini dilakukan disebuah gereja protestan yang sangat besar dan megah di Kota Berlin. Hanya orang tertentu saja yang bisa menikah dan melakukan sumpah pernikahan di gereja besar ini, orang-orang pasti akan sangat bahagia bisa melangsungkan pernikahan di dalamnya
Namun, tidak dengan Kaira dan juga Davin. Pernikahan yang hanya di landasi untuk menjaga nama baik kedua keluarga dan juga permohonan seseorang yang atau bisa di bilang sebagai wasiat.
Tidak ada tersirat raut wajah bahagia atau pun sedih yang terpancar di wajah Kaira, dia hanya menatap dingin wajahnya di cermin besar yang ada di depannya. Dia tampak cantik menggunakan gaun pengantin berwarna putih salju dengan bagian leher yang terbuka lebar menampilkan sebagian tubuhnya yang indah.
pikiran Kaira berkelana mengingat kembali perdebatannya dengan sang kakek semalam
"Kau harus menerima pernikahan itu, Kaira." James mengelus lembut pipi Kaira.
"Apa kakek tega menikahkan ku dengan orang yang tidak aku cintai?" Kaira menatap sendu James yang berusaha meyakinkan Kaira.
"Cinta itu akan timbul seiring berjalannya waktu, Kai. Dengar tidak ada seorang pun yang kakek percayai untuk menjaga mu kecuali keluarga Alexander," balas James dia kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan menuju jendela besar di ruangan kerjanya.
"Tidak ada seorangpun yang mengetahui identitas mu kecuali keluarga Alexander dan keluarga kita juga sudah bekerja sama sejak dulu dengannya," jelas James dan menggerutkan sedikit keningnya masih belum mengerti dengan ucapan dari kakek nya.
"Jika hanya untuk melindungi ku kakek kan mempunyai pengawal yang banyak, tidak harus menikahkan aku kek. Aku tidak ingin menikah," bantah Kaira
"Kamu akan menikah Kaira!!" teriak James dan itu membuat Kaira berlonjak kaget
"Baiklah aku akan menikah! Tapi apa Davin mau menikah dengan ku?"
"Jika dia menolak maka pernikahan akan di batalkan," ucap James dan berlalu pergi
Kaira sedikit merasa lega dan tenang mendengar kalimat terakhir dari kakeknya. Dan dia sudah berpikir bahwa Davin akan menolak pernikahan ini mengingat bagaimana sifat nya
Tapi semua itu di luar dugaan dirinya dia tidak bisa menyangka bahwa pria arogan itu mau menerima pernikahan lelucon ini
Kaira kembali sadar dari lamunan nya saat Kakeknya datang untuk menjemput dirinya.
"Apa aku cantik?" dia bertanya dengan senyum mengambang tapi tidak dengan hatinya
__ADS_1
"Tentu saja sayang." James menarik pelan wajah Kaira dan mengecup lama kening cucu kesayangan dirinya itu.
"Ayo," ajak James dan Kaira menggandeng tangan Kakeknya menuruni sebuah tangga besar yang ada di gereja tersebut.
Pernikahan pun berlangsung keduanya saling mengucapkan janji suci pernikahan dan tak lama kemudian saling menautkan cincin kecil yang berisikan berlian mahal disana. Setelah itu Davin mengecup singkat kening Kaira.
Orang yang hadir pun bertepuk tangan setelah pernikahan selesai di lakukan dan yang datang hanya keluarga dan orang yang bisa di percaya tidak banyak yang datang. pernikahan ini sungguh di lakukan dengan penjagaan yang ketat.
Jika yang melihat bahagia tapi tidak dengan kedua pengantin mereka sama-sama menunjukkannya wajah tanpa ekspresi hanya tatapan dingin dan muka saling tegang yang mereka tunjukkan.
Tak butuh waktu lama mereka berdua memasuki mobil menuju mansion keluarga Alexander.
"Setelah ini kita akan membuat perjanjian dalam pernikahan ini," ucap Davin tanpa melihat ke arah Kaira. Sedangkan perempuan itu dia hanya diam saja sambil memandangi ke luar jendela.
"Ahh ... Sial," gumam Kaira dan bisa di dengar oleh Davin.
Davin melirik singkat ke arah Kaira dia melihat kalung yang ada di dadanya kalung yang sangat tidak asing di ingatakannya.
"Mari Nyonya." salah satu pengawal membukakan pintu mobil saat melihat majikan mereka telah tiba. dan dapat di lihat oleh Kaira dimana ada banyak pengawal berjejer dan memberi hormat pada mereka sama seperti di mansion nya namun tidak sebanyak ini.
"Mari sayang mama tunjukkan kamar mu, mama akan bantu juga kamu untuk bersiap."
Kaira hanya tersenyum dan mengikuti Anne yang membawanya di kamarnya.
Kaira di bantu bersiap oleh dua orang asisten rumah tangga kepercayaan Anne dan dia hanya melihat saya sambil sesekali tersenyum melihat betapa cantiknya menantunya itu.
"Duduklah disini," tunjuknya pada sebuah sofa besar yang ada di dekat kursi rodanya.
"Mama senang sekali kamu mau menikah dengan Davin, apa kamu bahagia?"
"Maaf tante, tanpa aku menjawab sepertinya-." ucapan Kaira terpotong ketika Anne meletakkan tangannya di bibir Kaira
__ADS_1
"Jangan panggil aku Tante, panggil Mama. Aku sekarang ada orang tua mu," ucap Anne membelai pipi mulus Kaira
"Aku tahu kau tidak bahagia di dalam pernikahan ini, tapi semoga kebahagiaan segera hadir di rumah tangga kalian."
Kaira membalas ucapan Anne dengan tersenyum dia tidak tahu ingin berkata apa pada nya. Tapi Kaira hati Kaira sedikit senang melihat mata tulus yang terpancar dari Anne ternyata perempuan itu sungguh menganggap dirinya sebagai anak.
"Istirahat lah, mama akan keluar."
Kaira mengangguk dan sempat mengantar Anne sampai depan pintu kamar saja. Kemudian dia menyapu seluruh pandangnnya di dalam kamar milik Davin, tidak ada barang berlebihan disana kamar besar yang tampak kosong karena hanya diisi oleh perabotan penting saja
Pandangannya pun berhenti di ranjang putih dan besar tersebut seketika wajahnya panik tak karuan.
"Apa aku harus seranjang dengannya? Apa aku harus melakukan hal malam pertama?" Berjalan mondar mandir memikirkan hal yang hampir membuatnya gila
"tidak.. tidak... Tidak mungkin kan?" kekehnya perlahan kemudian menepuk pipinya bolak balik agar membuang pikirannya yang kotor
Ceklek.. pintu terbuka menampilkan seorang pemuda tampan yang tak lain adalah suaminya sendiri. Kaira menelan susah saliva nya melihat kedatangannya Davin,
Pandangannya mereka pun beradu Davin menatap Kaira dengan sorot mata tajam seakan Kaira adalah musuh bagi Davin
"Apa-apaan dia itu. Jika dia tidak suka dengan pernikahan ini harusnya dia menolak waktu itu,"
"Dia pikir dia siapa!! Melihat ku dengan tatap seperti itu seolah-olah aku adalah musuh bebuyutan nya," omel Kaira yang tak terima dengan sikap dingin dari Davin.
Tak berselang lama Davin yang telah selesai mandi keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk kecil yang melilit di pinggang nya. Menampilkan perut nya yang kotak-kotak di tambah dengan rambutnya yang masih basah menampilkan kesan yang sangat seksi pada Davin.
"Apa kau sudah gila!!" teriak Kaira sambil menutup wajahnya yang merah padam seperti tomat dengan kedua tangannya. Entah mengapa dia jadi malu sendiri karena melihat pemandangan yang seperti itu.
"Cihhh.."
Davin menatap sinis dengan respon yang di lakukan oleh Kaira
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa like dan komen yaaa teman-teman...🤩🤩