CINTA MANIS TUAN MUDA

CINTA MANIS TUAN MUDA
Club'


__ADS_3

"Sepertinya nanti malam aku akan pulang telat," ujar Kaira beralih menatap Davin


"Terserah padamu," jawabnya singkat tanpa memandang sedikitpun Kaira. "dan lagi aku tidak peduli," lanjutnya.


"Aku tau. Tapi aku sudah terbiasa, jika aku ingin pulang telat atau ingin kemana pun aku terbiasa mengabari kakek. Dan sekarang aku akan sering berkabar dengan mu. " Kaira mengedipkan sebelah matanya seperti menggoda Davin.


"Baiklah jika begitu aku pergi dulu," pamit Kaira menepuk pundak Davin. Davin tertegun dengan apa yang di katakan dan dilakukan Kaira terhadap dirinya.


Berkabar?


senyum tipis muncul di wajah Davin tentang kata 'berkabar' yang di katakan oleh Kaira.


"Apa jadwal ku hari ini?" buru-buru memasang wajah dingin saat Marco membuka pintu kerjanya.


"Anda memiliki beberapa jadwal pertemuan tuan. Salah satunya dengan tuan Herbet di restoran XXX." Marco memberikan selembar kertas pada tangan Davin.


"Dan itu beberapa orang yang sudah lulus seleksi untuk menjadi artis kita tuan. "


Davin sangat teliti melihat satu per satu foto yang menempel di kertas tersebut dan dia menatap lekat pada satu foto cewek yang menurutnya sangat familiar di ingatannya.


"Aku tidak ingin ada kesalahan untuk kedepannya," pesan Davin. Marco membalas dengan menganggukkan kepalanya


"Dan satu lagi." mengangkat jari telunjuknya. "aku ingin kau mengawasi Kaira nanti malam."


apa Anda mulai tertarik dengan Kaira tuan? Tapi sepertinya ini terlalu cepat. Hahaha


"Kau dengar apa yang ku katakan!" Marco segera tersadar dari pikirannya saat mendengar nada suara Davin yang tidak bersahabat.


"Fokus lah. Jangan sampai gajimu aku potong."


Menelan salivanya dengan susah payah


"Baik tuan, lalu bagaimana dengan tuan Herbet? Dia meminta bertemu saat jam makan siang. Apa Anda ingin menerima undangan tersebut? "

__ADS_1


"Tentu," jawab Davin sambil merapikan kembali dasi dan jas miliknya agar terlihat sempurna


"Baik tuan, mobil akan segera saya siapkan." menunduk dan berlalu pergi dari ruangan Davin.


Semua mata tertuju pada dua orang lelaki tampan dengan tubuh tinggi dan atletis tidak ada seorang pun yang berkedip saat kedua pria itu melewati mereka. Bahkan sampai ada yang meneteskan air liurnya saat melihat ciptaan Tuhan yang sangat sempurna ini.


tentu saja itu Davin dan Marco, Davin memandang rendah semua wanita-wanita yang menatapnya.


Mata Davin tertuju pada meja yang berada sangat jauh dari keramaian dan disana lah tempat kliennya. Ada seorang lelaki paruh baya ditemani oleh seorang perempuan cantik dan Davin yakin itu adalah anak dari pria tersebut.


Cihhh


"Selamat datang tuan," keduanya berdiri menyambut kedatangan Davin tidak ada respon apapun dari Davin hanya Marco yang membalas sapaan dan uluran tangan dari mereka.


"Tuan. Perkenalkan dia ada Rebbeca putri kesayangan saya," ucap Herbet penuh kegembiraan saat mengenalkan putrinya yang tertunduk malu.


"Aku kesini untuk bisnis bukan untuk berkenalan dengan putri mu!" cibir Davin, melihat sekilas Rebbeca yang menggunakan dress ketat dan tipis bahkan dress tersebut sangat pendek.


Rebbeca sendiri jadi merinding saat ingin menatap Davin berharap dia tertarik dengannya namun hanya tatapan mengerikan yang di beri Davin.


Rapat mereka pun telah berjalan langsung Marco mencatat poin-poin penting yang di sampaikan oleh Herbet. Dan tidak lupa juga Marco menjelaskan apa dan bagaimana syarat untuk bekerja sama dengan perusahaan mereka. Dan Davin? Apa yang dia lakukan?


Dia hany menatap dan mendengarkan mereka berdua. namun, ketidaknyamanan terjadi saat Rebbeca pindah posisi menjadi duduk disebelah Davin.


"sudahlah!" Davin memukul meja makan mereka membuat Herbet dan Marco terkejut dan menatap Davin


"Kalian lanjutkan berdua. Aku alergi berlama-lama bersama dengan ******," desisi Davin dan membuat Rebbeca merinding ketakutan.


"Apa maksud Anda, tuan?" tanya Herbet dengan ketidak sukaan nya mendengar ucapan Davin


Davin serius dengan ucapannya dia pergi meninggalkan rapat mereka padahal rapat tersebut belumlah selesai di bahas.


Marco menepuk sendiri jidatnya melihat kepergian Davin yang seenaknya saja memberikan semuanya pada dirinya.

__ADS_1


aku ingin sekali menendang tubuhnya itu. Dan lagi aku sangat membenci perempuan yang ada di depan ku ini. Cihh ... Pantes saja tuan Davin memilih pergi daripada menunggu membahas proyek ini.


"Besok kita lanjutkan kembali membahas ini." Marco merapikan berkas-berkas yang ada di atas meja


"Kau jangan seenaknya seperti itu! Ini bukan proyek kecil dan keuntungan proyek ini cukup bagus, bagaimana bisa kau menunda nya sesuka hatimu," geram Herbet dia bangkit dari duduknya dengan dada bergemuruh. Menurutnya Davin dan Marco sungguh tak menghargai dirinya.


"Lalu kau ingin apa? Membatalkan nya? Silahkan!" Marco menantang Herbet dia tersenyum sinis menatap Herbet. Dibatalkan atau tidak itu bukan masalah besar bagi Marco walaupun dia hany asisten pribadi Davin tapi dia mempunyai hak untuk menolak atau tidak suatu proyek.


"Dan lagi, jika ingin rapatmu berjalan lancar jangan pernah membawa seorang ****** untuk."


"Apa-apaan kau ini!!" teriak Herbet


Marco tersenyum dan tertawa kecil meninggalkan Herbet yang sepertinya kepanasan.


Malam menyambut kembali dan kini Kaira dan dia orang temannya memasuki sebuah gedung dengan aroma alcohol yang sangat menyengat. Mereka bertiga memasuki suatu club' yang sangat terkenal di Berlin. walaupun itu suatu club' tapi hanya orang-orang berduit dan berkelas lah yang dapat masuk kedalam.


Kaira dan dua orang temannya masuk kedalam ruangan VVIP


"Apa kita akan bertaruh?" ucap Desi penuh semangat mengangkat sebotol wine ditangannya dan mulai menuangi minuman itu kedalam gelas teman-•temannya.


"Sepertinya aku tidak bisa," tolak Kaira tapi tetap meminum wine yang di suguhkan oleh temannya.


Club tersebut pun semakin rame dan sangat berisik tidak seperti biasanya. Ketiganya mengalihkan pandangan melihat ke arah kebisingan terjadi, yah memang ruangan yang di depan oleh Kaira adalah ruangan dengan dinding kaca yang tembus pandang.


"Gila!! Itukan model yang terkenal itu lohh," kejut Flora dengan wajah melongo penuh kagum menatap seorang perempuan yang di kerumuni banyak orang.


"Siapa?" tanya Kaira menatap Desi


"Freya Charlotte, model dari DC-ENTERTAINMENT," jawab Desi. Kaira membalas dengan membentuk mulutnya dengan huruf O


"Kau tidak tahu Kai? Kau kudet sekali," celetuk Flora. Dia mengambil buku catatan dan pulpen dari dalam tas miliknya. "Aku harus meminta tanda tangannya ini," ucap nya penuh kegirangan meninggalkan kedua temannya di dalam.


"Apa hebatnya sih dia?" cibir Desi melihat tingkah Flora yang terlalu lebay.

__ADS_1


Kaira tersenyum melihat kesenangan Flora saat melihat idolanya dan mengamati yang sepertinya kesusahan meminta tanda tangani dari Freya karena banyak orang yang mengerumuni dirinya, apalagi banyak laki-laki berbadan besar ikut serta.


__ADS_2