CINTA MANIS TUAN MUDA

CINTA MANIS TUAN MUDA
Pindah rumah


__ADS_3

pagi ini adalah pagi yang sangat berbeda untuk Kaira, dimana untuk pertama kalinya dia kembali makan bersama dengan keluarga besar Alexander.


"Selamat pagi. Mama papa," sapa Kaira pada Anne dan juga Nicholas yang sudah rapi di tempat duduk mereka


"Pagi sayang," balas Anne dan Nicholas hanya membalas dengan senyum sapaan dari Kaira


Tak berapa lama Kaira duduk Davin datang menyusul makan bersama dengan mereka, tidak ada satupun yang berbicara dari mereka hanya kedengaran suara sendok dan garpu yang beradu di piring mereka.


"Kemana barang-barang Kaira? Mama tidak melihatnya di bawa kemari." Anne membuka suara memecah keheningan di antara mereka.


"Kami tidak akan tinggal disini, setelah serapan kami akan langsung ke rumah ku," jawab Davin meletakkan sendok dan garpu di piringnya dan mengelap pelan mulutnya dengan tisu


"Kenapa terburu-buru?" tanya Nicholas


"Benar, bahkan mama saja belum sempat mengobrol banyak pada Kaira." Anne menatap Kaira dengan mata sendu


"Tidak masalah Ma, aku akan sering mampir kesini nantinya. "


"Apa kamu bisa berjanji?" Anne menatap Kaira penuh selidik sedangkan Kaira membalas dengan anggukan pelan sambil tersenyum pada Anne.


"Selamat pagi. Tuan dan Nyonya," sapa Marco dengan tertunduk laki-laki itu cepat sekali datang padahal ini masih jam setengah tujuh pagi.


"Apa kau sudah mengurus semuanya," tanya Davin berjalan menjauhi meja makan


"Sudah tuan," balas Marco masih dengan kepala tertunduk


Davin membalikkan badannya kembali menatap ke arah Kaira. "Cepatlah bersiap kita akan pergi," ucapnya lalu pergi begitu saja

__ADS_1


Tak butuh waktu yang lama untuk bersiap karena memang tidak ada barang yang akan di bawa oleh Kaira semuanya belum sempat di bawa ke mansion Alexander, entah kemana Davin membawa semua barang-barangnya.


"Kau harus berjanji untuk sering mengunjungi kami," ucap Anne masih memeluk erat menantunya itu enggan untuk melepaskan nya.


"Lepaskan lah. Davin sudah lama menunggu." Nicholas mengelus pelan pucuk kepala istinya itu memberi kehangatan dan ketenangan pada dirinya.


"Baiklah. Aku pamit dulu." tidak lupa Kaira menyalim tangan Anne dan Nicholas. Setelah itu dia masuk ke dalam mobil hawa di dalam mobil sangat dingin padahal AC mobil tidak lah di hidupkan


"Semoga mereka berdua bahagia ya, Pa."


"Itu sudah pasti sayang." Nicholas mencium pelan pipi Anne mereka berdua masih memandangi mobil milik Davin hingga mobil itu tidak terlihat lagi barulah Nicholas mendorong kursi roda Anne untuk masuk ke dalam.


"Apa kau sudah membawa semua barang-barang ku? Tidak ada satupun yang tertinggal kan?" tanya Kaira menghadap kan wajahnya melihat Davin.


Davin yang di tanyai pun tidak menjawab sama sekali perkataan Kaira dia hanya menatap lurus ke depan ntah apa yang di tatapnya, dan begitupun Kaira dia masih menatap Davin menunggu jawaban darinya.


"Sudah Nyonya." karena tidak ada jawaban apapun dari Davin akhirnya Marco lah yang harus membuka suara dan itu membuat Kaira sangat jengkel dengan Davin.


Padahal aku berbicara padanya bukan kepada Marco. Huuh kalau saja bukan karena kakek sudah ku tendang orang arogan ini


Kaira masih mencur-curi pandang pada Davin tapi dia memberikan tatapan sinis dan dengan tangan yang dia lipatkan di depan dadanya.


"Berhenti menatapku!" ucap Davin masih dengan posisi yang sama tidak melihat sedikit pun ke arah Kaira dan Kaira mengerut kan keningnya mendengar ucapan Davin


Bagaimana dia bisa tahu? Apa dia punya indra ke enam?


Kaira semakin menekuk wajahnya sumpa dia benar- benar di buat kesal dibuat Davin.

__ADS_1


Tak berselang lama mereka pun tiba Mansion besar yang ada terdiri dari dua lantai saja. Dan dari Mansion dan pagar depan jarak sangat jauh, jika ada seseorang yang memilih untuk jalan menuju pagar depan itu pasti akan membuat kaki nya ingin patah. lantaran mansion milik Davin ini agak beda dari Mansion milik keluarga nya yang masih bisa bersahabat dengan tetangga walaupun dari antara semuanya tetap mansion mereka paling besar.


"Marco. Kau bereskan semuanya," titah Davin


"Ikut aku," ucap Davin menarik tangan Kaira dengan langkah yang sangat cepat karena kaki jenjangnya itu Kaira sampai kewalahan untuk menyeimbangi langkah mereka.


"Apa kau tidak bisa pelan sedikit?" tangan Kaira mulai merasakan sakit saat Davin tiba-tiba menguatkan pegangan tangannya di pergelangan Kaira.


"Ini kamar milik mu," ucap Davin telah tiba di kamar yang akan menjadi milik Kaira.


"Pintu apa itu?" Kaira menunjuk sebuah pintu kecil yang ada bersebelahan di meja rias.


"Kamar ku berada di sebelah dan pintu itu jalan pintasnya," jawab Davin. Davin berjalan mendekat ke arah Kaira dengan menampil seringai kecil di bibir nya dan itu membuat Kaira sedikit takut hingga berjalan mundur.


Tangan Davin lebih dulu menarik Kaira mendekat dan menempelkan tubuhnya dengan tubuh Kaira. Davin mendekatkan wajahnya lebih dekat ke wajah Kaira dan itu membuat bulu kuduk Kaira berdiri


"Jangan pernah kau memasuki kamar ku dan jangan harap aku mau meniduri mu," desis Davin tepat di telinga Kaira membuat Kaira geli sendiri


Kaira menatap tajam mata elang milik Davin sungguh entah apa yang ada di pikiran laki-laki yang menjadi suaminya ini kenapa kadar kepedeannya sungguh sangat tinggi di atas rata-rata.


"Ckck ... Kau pikir aku ingin sekali tidur denganmu?" jawab Kaira dengan nada sedikit mengejek. "Pernikahan kita ini karena perjodohan dan aku pun karena terpaksa jadi kau jangan terlalu percaya diri. Bahwa aku menerima pernikahan ini dengan senang hati." Kaira mengatakan nya sambil terkekeh pelan membuat wajah Davin mendadak merah akibat amarah yang timbul


Kaira meringis kesakitan saat Davin meremas kuat lengannya. "lepaskan aku!!" Kaira memukul kuat dada bidang Davin berharap bisa lepas dari jeratan laki-laki itu namun itu tidak ada gunanya.


"Kau!! Jangan sekali-kali mencoba menentangku!!" menghempaskan kuat tangan Kaira beruntung Kaira bisa menjaga keseimbangan sehingga dia tidak terjatuh


Davin pergi dengan amarah yang masih ada membanting kuat pintu kamar Kaira dan itu membuat jantung Kaira hampir copot pasalnya suara bandingan pintu itu sangat lah kuat

__ADS_1


"Dasar pria gila!" Kiara hampir saja meneteskan air mata karena sakit di pergelangan tangannya akibat ulah dari Davin. Dia melihat di kaca dan disana terpampang jelas lengannya yang sangat merah dan terdapat cetakan tangan Davin


Davin mengajak Marco pergi kesuatu tempat yang dapat meredam sedikit amarahnya. Sejak dulu tidak ada seorang pun yang berani menjawab ucapannya apalagi saat Kaira menjawab ucapannya dengan tertawa dan tatapan sinis tentu membuatnya menjadi sangat marah.


__ADS_2