
Kaki Kaira terasa lemas bahkan rasanya ingin sekali patah, bagaimana tidak. Davin terus mempermainkan dirinya, sehingga Kaira harus bolak balik untuk turun tangga hanya untuk mengambil secangkir kopi padanya.
Dan saat kopi telah tiba di meja Davin berasalan ingin minum teh. Saat teh telah tiba, Davin kembali berkata ingin meminum kopi, dan setelah kopi tiba dan mulai di minum oleh Davin dia bilang bahwa kopinya terlalu manis lah terlalu pahit lah. Sehingga Kaira ingin sekali melempar secangkir kopi itu di mukanya.
Kaira menatap Davin yang sedang meminum kopi yang sudah tiga kali berganti, dia menatap Davin dengan wajah penuh kekesalan, wajah yang di tekuk membuat pipinya sedikit mengembang.
"Kaira," panggil Davin
"Apa!" jawab sinis Kaira dan membuat Davin tersenyum dengan kekesalan Kiara.
"Ini masih permulaan tapi wajahmu sudah cemberut seperti itu," cibir Davin sambil meminum kembali kopi yang di buat oleh Davin.
"Apa mempermainkan ku seperti ini membuatmu senang?" Kaira mengepal kedua tangannya
"Menurutmu?" menaikkan sebelah alisnya tanpa di jawab pun Kaira sudah tau apa jawabannya.
"Lalu kau ingin menyuruhku apa lagi? Haa!! Memijit pundak mu? Membuatkan mu salad!" geram Kaira semakin menguatkan kepalan tangannya.
"Padahal aku tadi berniat menyuruhmu istirahat, tapi karena kau menawari hal seperti itu. Tentu aku akan sangat senang,"
"Kau!!" Kaira berbalik saat Davin mulai memerintah dirinya mengibaskan tangannya penuh kemenangan menyuruh Kaira melakukan perintah nya
"Sial," umpat Kaira lalu membanting pintu kerja Davin, membuat Marco yang akan masuk kaget dengan bunyi pintu dan wajah kesal Kaira.
Sementara Davin, tentu dia tertawa bahagia melihat Kaira yang dengan terpaksa melakukan perintahnya.
"Sudah lama aku tidak mendengar tawa mu itu,"ucap Marco sambil berjalan menuju Davin.
"Karena hal yang menarik akan segera terjadi," gumam nya dan masih bisa di dengar oleh Marco
" yah ...yah, terserah mu saja. Dan aku ingin tau alasannya kenapa kau bisa tidak ke kantor hari Minggu? Bukankah kau selalu ke kantor tidak peduli mau itu hari biasa atau tidak? " menautkan kedua tangannya di depan dadanya.
"Aku hanya ingin beristirahat sejenak." Davin menyenderkan kepalanya di kursi kerjanya menutup kedua matanya, seolah-olah menunjukkan dirinya yang memang sangat lelah dan butuh waktu.
__ADS_1
"Aku kira orang sepertimu tidak butuh yang namanya istirahat," cibir Marco.
Tak lama dari itu pintu kerja Davin kembali terbuka dan masuklah Kaira dengan sebuah nampan yang di atasnya terdapat mangkok berisi salad buat.
"Semoga kau tidak mati saat memakannya." meletakkan nampan tersebut di atas meja Davin, Davin melihat dan mengamati salad yang sangat menggoda dengan keju yang melimpah.
sekarang aku tau apa alasannya dia tidak bekerja hari ini.
"Apa? Kau mau juga!?" bentak Kaira saat dia menyadari Marco sedang menatap nya
"Ahh, tidak nona." Marco tertunduk sedikit malu saat ketahuan apalagi saat Davin juga ikut-ikutan menatap dirinya.
"Kau tidak menaruh racun bukan?" mulai mengaduk isi dari salad tersebut
"Entahlah. karena itu aku sarankan berdoa sebelum memakannya, takut nya kau langsung mati dan aku menjadi janda di usia muda," sinis Kaira mengedarkan pandangannya ke sembarang arah
"Baiklah, kau boleh pergi."
Dengan senang hati Kaira melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Davin, dia sedari tadi sudah muak melihat wajah Davin. Walaupun dia tampan tapi itu tidak berlaku dengan sikap nya yang sangat menjengkelkan.
"Apa yang kau lihat? Jika kau tidak ingin memakannya. Berikan pada ku, salad buahnya sangat menggoda sekali. " tangan Marco yang sudah memegang mangkok buat tersebut langsung ditepis dengan kasar oleh tangan Davin.
"Enak saja kau," ucapnya seperti takut barang miliknya di ambil oleh orang lain.
Dan entah apa yang merasuki jiwa Davin, dia mengikuti apa yang di katakan Kaira untuk berdoa dulu sebelum memakan salad tersebut.
Apa dia sungguh mengira nona Kaira memberikan racun di salad buat itu? Dia bodoh atau sedang waspada? . Marco menggelengkan kepalanya melihat Davin yang biasanya tidak pernah berdoa sebelum makan kini dia melakukan nya karena omongan dari Kaira?. Sungguh hebat!
Davin tersenyum sangat puas saat sesendok salad buat tersebut masuk kedalam mulutnya, ekspresinya yang sekarang menggambarkan betapa enaknya salad buah yang di buat oleh Kaira. Bahkan Marco yang hanya melihat aja dapat membuatnya menelan ludahnya sendiri melihat kenikmatan salad buat yang di makan lahap oleh Davin.
"Cihh, hapus air liur mu itu. Apa yang membawamu kemari?" sudah selesai memakan sampai habis dan tanpa tersisa sedikit pun.
Marco menatap kesal Davin, dan dia juga baru ingat apa tujuannya datang menghampiri Davin. Yaitu ingin memberitahu masalah yang di buat oleh Freya di club'malam semalam.
__ADS_1
"Apa semuanya sudah di bereskan?" tanya Davin saat Marco sudah selesai menjelaskan.
"Sudah tuan, semua yang memvideokan dan melihat aksi nona Freya pun sudah di bungkam. Tapi, orang yang terlibat perkelahian dengan nona Freya masih belum di ketahui tuan."
Davin membuat kasar nafasnya memijit keningnya, baru saja dia merasa sedikit terhibur tapi sudah ada lagi masalah yang membuat mood nya kembali hancur.
"temukan segara," titah Davin dan di balas anggukan oleh Marco
Tentu akan sangat bahaya apabila yang berkelahi dengan Freya memberitahukan hal tersebut pada pihak polisi dan publik, itu akan mengancam nama baik Davin. karena orang-orang mengetahui bahwa Freya adalah kekasih dari Davin.
"Sepertinya dia harus sedikit di kasih pelajaran " seringai mengerikan muncul di wajah Davin membuat Marco yang ada didepannya mendadak merasakan hawa dingin.
"Apa Anda akan memberitahu kan tentang nona Kaira dengan Freya, tuan?"
"Itu bukan urusanmu! Lagi pula kau juga tau bukan, aku hanya menganggap Freya sebagai mainan milik ku. " sungguh hal yang sedikit menyakitkan apabila Freya mendengar hal ini,
Kalau dia mainan, lalu bagaimana dengan nona Kaira? .
"Kembalilah bekerja, aku ingin kembali menghibur diriku. "
"Baik tuan." Marco membungkuk dan berlalu pergi meninggalkan Davin dalam ruangannya.
Davin menyenderkan kembali kepalanya dan menutup matanya, tiba-tiba saja terpikir olehnya wajah yang penuh kekesalan Kaira dengan pipi tembem dan tatapan tajam dari matanya. Hal kecil itu saja dapat membuat Davin kembali terhibur.
"Selanjutnya, apalagi yah yang bisa aku lakukan untuk mengerjainya?" ucap nya sendiri.
Davin keluar dari ruangan kerjanya untuk mencari keberadaan dari Kaira. Dan langkahnya terhenti saat melihat Kaira yang ada di lantai bawah, tepatnya di ruangan tamu sedang duduk dan sangat menikmati serial animasi kesukaannya.
Davin terdiam dan mengamati wajah bahagia Kaira dengan tawa yang entah kenapa membuat nya hatinya terasa sejuk dan mampu membuat senyum nya kembali mengembang dengan sendirinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa untuk like, komen, dan lainnya yah😍😍
__ADS_1
Happy reading 🥰