CINTA MANIS TUAN MUDA

CINTA MANIS TUAN MUDA
Kejadian di club'


__ADS_3

Entah apa yang ada dipikiran Freya dia sepetinya sengaja datang ke club' dan duduk di atas meja bar yang panjang, dia membiarkan orang-orang apalagi lelaki datang dan mengerumuni dirinya


Freya merasa bak seorang putri yang kedatangannya sangat di nanti-nanti oleh pengunjung club', banyak yang datang dan langsung memotret Freya. Tak sedikit pula tingkah jahil dari para pria yang mengelus-elus paha putihnya yang terpampang karena dia menggunakan rok yang sangat kecil dan pendek. Bukannya risih dia malah menikmati sensasi geli yang timbul


Segelas minuman beralkohol terjatuh dan membasahi baju Freya itu membuatnya kaget lantas segera turun dari meja. Dapat di lihat dari raut wajahnya yang penuh kekesalan karena semua bajunya basah, dan itu membuat banyak mata yang terkesima dengan bentuk tubuh Freya yang terpampang jelas.


Freya menatap penuh amarah kepada Flora dengan langkah kaki cepat dia meraih dan menjambak rambut panjang Flora.


"Apa kau tidak punya mata!!" geram Freya dengan mata menyala


"Maaf nona aku sungguh tidak sengaja," tangis Flora menahan rasa sakit dari jambakan yang ada di rambutnya.


Freya semakin menguatkan tangannya meremas rambut Flora dia tidak peduli dengan banyak kamera yang menyala memvideokan aksi kejamnya.


Namun dari arah belakangan Kaira datang dengan wajah geram menahan amarah yang ada didalam dirinya melihat temannya di perlakukan kasar oleh Freya. Kaira melayangkan tangannya dan menampar kuat kepala belakang Freya.


Hal itu tentu membuat semua orang kaget dengan aksi berani dari Kaira. Freya yang tersungkur akibat tamparan tersebut mengepal kuat tangannya menatap Kaira.


"Berani sekali kau!!" teriak Freya dia bangkit dan berusaha untuk menampar Kaira tapi dengan cepat Kaira menangkap dan memelintir tangan Freya membuat wanita itu teriak kesakitan.


"Minta maaflah pada teman ku lalu aku akan memaafkan mu," ucap Kaira menatap temannya yang sedang berada di pelukan Desi.


"Minta maaf?" Freya tertawa mendengar ucapan Kaira. "Dalam mimpimu saja," desis Freya.


Kaira melepaskan tangan Freya saat melihat ada banyak ajudan datang untuk menolong Freya. Dia buru-buru mengajak kedua temannya untuk pergi dari kerumunan tersebut


"Dari mana saja kalian!!" marah pada para ajudan yang baru datang saat pertunjukan telah selesai.


"lihat saja kita akan bertemu kembali dan aku akan membalas perbuatan mu ini," desis Freya.

__ADS_1


"Apa yang kau lihat!" teriak Freya pada segerombolan pengunjung yang masih memvideokan dirinya.


Freya pergi meninggalkan club' tersebut dengan wajah dan tubuh yang sangat berantakan dan para ajudannya seperti biasa, mereka akan mengambil dan mengurung sementara para pengunjung yang tadi memvideokan aksi Freya agar tidak tercium oleh publik, itulah sebabnya Freya bisa bebas melakukan hal apapun karena pasti akan ada orang yang datang dan membereskan segala kekacauan.


sementara Kaira, dia tidak benar-benar pergi meninggalkan club', dia kembali memesan ruangan VIP kali ini sedikit berbeda bukan ruangan kaca seperti sebelumnya.


Kaira berusaha menetralkan rasa marah yang bergejolak di dalam dirinya.


"Apa bagusnya dia? Sifatnya saja tidak pantas untuk di contoh. Bagaimana bisa dia menjadi seorang model? Sungguh buruk!" omel Kaira sesekali memasukan kembali minuman yang sudah berapa botol habis di buat Kiara dan temannya.


"Lalu kau, bagaimana bisa kau menyukai model yang tidak punya norma seperti itu." Kaira menyentil pelan kening Flora yang sedang nangis sesenggukan akibat mabuk


"Karena dia sangat cantik, tapi setelah hari ini aku sangat membencinya." berguling-guling di lantai bak seorang anak kecil yang permennya di ambil orang lain.


ketiganya tumbang karena terlalu banyak minum alkohol, Kaira yang sudah tidur dengan posisi kepala di lengan sofa, Flora yang tergeletak di lantai dengan posisi telentang dan Desi dengan kepala tertunduk di meja.


Pandangan Kaira perlahan kabur, tapi sebelum itu dia dapat melihat seorang lelaki dengan kaki yang panjang berjalan ke arahnya dan sedang menatapnya. Tak lama sejak itu Kaira pun benar-benar menutup matanya.


Kepala Kaira yang masih sakit akibat terlalu banyak minum, sangat kesusahan mendudukkan dirinya.


"Apa yang kau lakukan di kamarku?" tanya Kaira memegang kepalanya yang sakit.


"Hebat sekali dirimu!" bukannya menjawab pertanyaan Davin malah melotot pada Kaira.


"Apa kau ingin menghancurkan nama baikku? Untuk apa kau pergi ke club'!?" Davin sedikit mengeraskan suaranya membuat Kaira tersentak lalu sedikit tersadar.


"Bagaimana kau tau? Lagi pula, itu bukan urusan mu bukan?" tersenyum sinis ke arah Davin. Lagi pula bukan kah itu memang tidak ada urusannya dengan Davin. Apa dia memata matai ku?


Davin maju mendekat ke arah Kaira dia mengarahkan mulutnya tepat di kuping Kaira membuat Kaira sedikit menjauh karena geli dengan sentuhan kenyal dari bibir Davin.

__ADS_1


"Itu memang bukan urusanku, tapi akan menjadi urusan bagimu jika aku memberitahu kakekmu."


Seketika mata Kaira langsung melotot saat mendengar kata 'Kakek' dan Davin mengeluarkan ponselnya dari saku dan menghadap ponselnya di depan waja Kaira.


Di ponsel itu terdapat gambar Kaira dan teman-temannya yang terkapar di club malam, tangan Kaira kalah cepat dengan tangan Davin. Davin keburu menarik dan mengamati kembali gambar yang ada di ponselnya.


"Aku penasaran bagaimana responnya," ucap Davin sambil menggeleng kan kepalanya melihat tingkah tercela dari Kaira.


"Aku mohon jangan beritahu kakek, dia pasti akan sangat marah padaku saat mengetahui aku di club' malam." panik Kaira dia bangkit tidak memikirkan lagi sakit kepalanya, dia menggenggam pergelangan tangan Davin.


Davin melirik tangannya yang sedang di genggam oleh Kaira, seutas senyum tipis muncul diwajahnya.


Kena kau


"Apa bayarannya?" Davin menaikan sebelah alisnya


Kaira mengerutkan keningnya dia tau betul bahwa Davin ingin mengerjainya dengan bukti dirinya yang sedang di pegang nya.


"Ba-bayaran."


"Aku ingin kau menuruti semua kemauan ku selama seminggu. Bagaimana?" Davin mengangkat dagu Kaira dengan jari telunjuknya. tersenyum dengan tatapan yang sangat menjengkelkan bagi Kaira.


Kaira menggigit bibir bawahnya, dia tau betul apa yang akan dilakukan Davin padanya jika Kaira menyetujui hal itu.


"Baiklah jika tidak ingin mau," ucap Davin berpura-pura padahal dia sangat menunggu Kiara menyetujui permintaannya.


akhh... persetan dengan semuanya!! Jika kakek tau pasti bakalan lebih parah. sudahlah lagi pula hanya seminggu.


"Baiklah," pasrah Kaira dengan wajah tertunduk tapi masih memegang tangan Davin agar dia tidak menjauh.

__ADS_1


"Pilihan yang baik." Davin mengelus pelan pucuk kepala Kiara. kaira mendongakkan kepalanya dan mata keduanya sama-sama melebar karena saling bersitatap dengan wajah yang sangat dekat.


Davin bahkan bisa melihat warna bola mata Kaira dan bulu matanya yang panjang dan lentik, dia juga dapat merasakan sentuhan dari hidung Kaira yang menyentuh hidungnya


__ADS_2