Cinta Romantis

Cinta Romantis
Luruh


__ADS_3

Langkah kaki itu semakin dekat. Aku tahu dia akan datang. Tepi danau dengan beberapa pohon rindang adalah tempat kami menghapus penat. Tempat pertama kali, kumengenal sosok yang merampas hati dan aku terikat erat olehnya.


"Aku tak bisa terus begini, Bi" dengkusku kesal.


"Apa kau tak sabar untuk menunggu beberapa saat? Aku janji, Di." Seperti biasa dia rengkuh tubuhku dalam dekap.


"Untuk berapa bilangan lagi, Bi?"


"Sebentar lagi. Aku tahu semua ini salahku, tapi izinkan aku menghapus khilaf agar semua selamat."


"Itu yang selalu kau katakan, Bi." Kulepas rangkul yang semakin membuat hatiku sesak.


Mengapa mencintai begitu menyakitkan, Tuhan?


"Ayolah, Di." Pintanya sedikit memaksa, saat aku hendak beranjak.


"Biar aku yang mundur, Bi." Pelan kutinggalkan dia yang masih tertunduk lemas.


Langkahku gontai. Bagaimana pun takkan ada yang akan benar-benar kalah atau menang. Sebulan lagi rencana pertunanganku. Hubungan yang terjalin lama, tak menjamin terhindar dari khilaf.


Sama sepertiku, di seberang sana, ada wanita yang tentu juga terluka. Korban kepengecutan lelaki yang tak bisa menghadapi masalah. Ya, dua bulan yang lalu, kami bertengkar hebat. Siapa sangka jarak renggang hubungan membuat pujaanku itu mencari welas pada gadis lain yang juga berharap.


Abi, kekasihku mendapatkan inang nyaman untuk ego lelakinya, sampai akhirnya ia tersadar bahwa hubungan kami tidak benar-benar henti. Sayangnya, Eni-wanita lain itu-seperti halnya diriku tak bisa begitu saja melepas. Kami terlalu nyaman di bahu kekar dan rangkul yang membuai.


Itu dua pekan setelah pertengkaran, saat kulihat dua bibir itu saling berpagut penuh hasrat. Cincin yang sejatinya akan tersemat, mengelinding tepat di bawah kaki keduanya. Kami bertiga saling beradu pandang. Aku tak mampu berucap. Abi diam sambil menjauhkan rangkul. Sementara Eni, wanita baru itu hanya mematung.


"Abi datang saat kalian tak bersama, sementara aku memang menginginkannya," ujar wanita itu yang semakin membuat dada ini terhimpit.


"Baiklah silahkan lanjutkan. Aku tak mau tahu dengan urusan kalian."


Aku melangkah mundur. Menahan bulir. Tak kuasa lagi berucap. Tiba-tiba Abi memegang erat tanganku.


"Lepaskan, Bi. Kalau kau ingin putus setidaknya tak perlu berbuat seperti ini."


"Bukan begitu, Di. Ayo kita bicarakan bertiga." Tangannya yang lain mencoba merangkul tapi kuhempas.


"Tidak, Bi! Aku tak ada urusan dengan perempuan ini. Urus saja sendiri," teriakku mengema di ruang yang sama saat kita bincang hari kebahagiaan.


"Di, kumohon."


"Cukup, Bi. Biarkan aku sendiri dulu."


Lari. Aku ingin lari cepat. Menjauh hingga tak lagi bertemu.


Acara impian itu tak lagi membuat mataku berbinar. Kejadian itu sungguh mengoyak keyakinan. Aku hanya ingin berpikir sendiri di danau tempat meletakkan hasrat, tapi lelaki itu tak henti menjumpa, hingga aku semakin nelangsa saat melihat wajahnya.


Ini bukan sekedar sakit hati, tapi harga diri yang tercabik. Aku wanita setia kata jua hati. Atas dasar apa dia tak berlaku sama?


Dua minggu sudah sejak pertemuan terakhir di danau, yang berarti tinggal dua minggu pula acara pertunangan kami. Orang tua tak ada yang tahu apa yang terjadi sebab kami tinggal berjarak. Tuntutan pekerjaan membuatku rela jauh dari pelukan Ibu.


[Ayolah, Di. Ini sudah hampir dua minggu, kau tak juga ingin menemuiku. Ibu bertanya bagaimana persiapan pertunangan kita]


Ini adalah pesan untuk yang kesekian kalinya. Kekasihku itu memang kurang sabar. Bagaimana bisa, dia setenang itu setelah apa yang ia lakukan.

__ADS_1


[Apa itu masih bisa dilanjutkan, Bi? Bagaimana dengan bunga malammu itu? Tidakkah kau kasihan?]


Aku bahkan tak mampu menyebut nama wanita itu. Aku tahu apa itu harap, maka banyak tanya yang menderaku.


[Eni sudah bisa menerima, Di. Dia cukup tahu diri bahwa kau lebih berhak. Ayolah, Di, mari kita bicarakan baik-baik. Maafkan aku]


Tanpa lelaki ini sadari, dia menempatkanku sebagai makhluk yang perlu dikasihani. Aku wanita dan lukaku semakin menganggah


[Datanglah ke sini, mungkin sudah saatnya kita bicara]


Sebuah emot senyum terangkai dengan gambar hati datang saat ku-iyakan pertemuan kami.


Tiga puluh menit selanjutnya, pria yang kucintai itu sudah berdiri di ambang pintu kontrakan. Dia mengulas senyum, tapi hambar yang terasa.


Kubiarkan dia menghambur dan memberi sedikit pelukan. Masih ada cinta tersisa tapi tetap sakit terasa.


"Pihak EO sudah ngabari kalau persiapan 90 persen selesai. Penginapan untuk keluarga juga sudah aku pesan."


Ya, kami berencana mengadakan tunangan di sebuah kafe dekat pantai milik temannya. Acara dengan tema yang kudamba selama ini.


"Ibu-Ayah, Umi-Abah, bagaimana?"


"Tentu, sudah aku kabari, Di. Kau tahu Umi tak sabar menunggu hari H datang."


Dia begitu bahagia melihat wanita terkasihnya bahagia, tapi lupa menyakiti kekasihnya yang lain.


"Syukurlah. Bagaimana dengan Eni apa perlu kita undang, Bi?"


"Sudahlah, Di. Tak perlu bahas tentang dia lagi. Maafkan aku. Kita harus benar-benar menghapus namanya."


"Ayolah, Honey, jangan bahas dia lagi. Hanya kamu yang aku harapkan." Tangan kekar itu mengengam erat tanganku.


"Aku hanya ingin kau jujur segalanya, Bi sebelum kita melangkah maju."


"Itu hanya khilaf, Di. Tidak lebih dan tidak ada yang perlu untuk dijelaskan lagi. Percayalah."


Selalu saja seperti ini. Aku luluh oleh rengkuh dan kata manisnya.


***


Semua orang sudah bersiap. Berhambur dan berbincang sambil menyantap hidangan khas laut. Kafe ini disulap begitu menarik. Persis seperti inginku. Sebelum cincin itu benar-benar melingkar di jari manisku. Aku hanya ingin memastikan sesuatu.


[Jl. Nestopo No. 67, kau perlu datang agar kau bisa melepas]


Kukirim pesan itu pada bunga malam. Tentu tanpa sepengetahuan Abi. Aku perlu meyakinkan hatiku untuk maju atau sebaliknya.


Sebuah tepukan di pundak membuyarkan lamunan. Kak Mey, saudara Abi, seperti biasa suka menggodaku.


"Cantiknya adek iparku. Oia Abi dimana? Kok dari tadi aku tak melihatnya, Dek."


Aku beranjak dan pamit mencari Abi. Perempuan cantik berlesung pipi itu mengiyakan dan sesekali mengoda kalau aku tak bisa jauh dari Abi.


Tak kudapati Abi di beberapa kerumuman yang asyik berbincang. Kemana lelaki ini? Kususuri lorong menuju bibir pantai. Saat langkah kaki hendak berbalik kembali. Terdengar ada keributan kecil. Aku mengenal suara itu. Suara yang beberapa tahun terakhir ini selalu membuatku rindu.

__ADS_1


"Kenapa kau ada di sini, En?"


"Wanita pintarmu itu yang mengundangku, Bi?" teriak wanita itu.


"Pulanglah, setelah acara ini selesai aku akan menemuimu."


"Tidak, Bi. Aku mau di sini melihatmu melingkarkan cincin di jari manisnya. Aku ingin wanita itu tahu kalau aku sanggup terluka oleh cintamu."


"Pergilah, aku berjanji akan menemuimu nanti." Abi mengengam kedua tangan wanita itu, dan menciuminya.


Kukatupkan kedua tangan di mulut agar tak ada suara apa pun yang keluar. Walau deretan bulir seperti jatuh tanpa di komando.


Abi hendak beranjak, tapi kemudian wanita itu memeluk erat dari belakang.


"Aku tak bisa melihatmu dengannya, Bi. Kalian memang telah lama bersama, tapi aku tak bisa melupakan malam itu. Malam tanpa jarak antara kita berdua."


Deg. Kutarik nafas panjang. Terhimpit, seperti ada benda berat yang membuat sesak. Aku tak sanggup melihat ini lagi.


[Bapak-bapak, Ibu-ibu ayo kumpul semua ya. Mari kita mulai acaranya]


Kubiarkan dua sejoli itu melangkah beriringan. Sementara aku masih bersembunyi dibalik barisan pohon bawgenfil.


Semua orang bertepuk tangan saat mereka melihatku menuju panggung kecil dengan rangkaian bunga terpasang. Abi telah menanti di situ. Di pojok lain, duduk wanita yang mengamati dari tadi.


Abi mengulurkan tangan untuk meraihku, kusambut dengan senyum yang kubuat menawan.


"Oke Bapak dan Ibu hadirin yang berbahagia. Terima kasih sudah datang di acara pertunangan kami"


Pintar sekali dia bersandiwara. Aku hanya terdiam saat ia tiba-tiba merangkul dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya mengengam tanganku.


"Terima kasih ya, Di, selama ini sudah menemaniku dalam suka dan duka. Ini adalah acara impian. Seluruh dekor aku pahat sesuai keinginanmu."


Aku tersenyum. Dia berjongkok. Semua hadirin bertepuk riuh, suara tawa membahana.


"Maukah engkau mendampingiku hingga kelak tutup usiaku, Di?"


"Trima, trima, trima ...." teriak yang hadir.


"Hemm ..., maaf Bi, sepertinya aku tak bisa jika hasratmu itu tak hanya padaku."


Senyap. Semua hadirin terperanjat.


"Apa ini, Di?" tanya Abi sambil kembali berdiri.


"Apa-apa ini, Nduk?" suara Umi, ibu dari Abi dengan penuh keheranan.


"Aku tak perlu menjelaskan apa-apa, Mi. Silakan tanya pada Abi dan pada wanita di pojok itu." Kutunjuk Eni yang masih tak percaya dengan kejadian yang spontan ini.


"Jangan ngaco kamu, Di! Tak ada hubungan apapun aku dengannya." Teriaknya menahan malu.


Kuputar video pendek yang kuambil tadi di bibir pantai. Kuserahkan ponsel pintar itu pada tangan Umi. "Silakan lihat sendiri, Mi."


Aku pergi menyibak kerumunan tamu yang masih bingung dengan apa yang terjadi. Lari, aku terus berlari. Aku memang masih dan sangat mencintaimu, Bi. Tapi setiap kali aku melihat wajahmu, detik itu pula rasanya aku tak lagi berharga. Melepaskan adalah jalan terbaik agar aku kembali bahagia dan mencintai diriku sendiri.

__ADS_1


Pengkhianatan bukan sekedar luka tapi ada harga diri yang seperti dilucuti dan terlihat tak berarti, dan aku tak mau menjalin hubungan dari rasa kasihan. Selamat tinggal, Bi. Doaku kau bahagia walau tanpa hadirku disisimu.


__ADS_2