
Kutancap gas menuju pelataran sebuah mall. Mengantar wanita yang sebentar lagi menjadi istriku ini. Sebuah temu janji dengan pemilik toko souvenironline, memaksaku mengorbankan tidur di hari minggu. Ya, menemaninya memastikan barang yang hendak kami pesan untuk souvenir pernikahan kami.
Sebenarnya aku tak pernah keberatan dengan apapun pilihannya, tapi Rania selalu saja tak enak hati jika harus memutuskan sendiri. "Ini pernikahan kita berdua, bukan hanya pernikahanku," kilanya membuat diri ini tak bisa menolak.
Beberapa tokoh online sudah banyak kami jumpai, tapi entahlah ada yang berbeda dengan tokoh online satu ini. Ailashop, nama itu mengingatkanku pada sesosok masa silam kala masih berseragam putih abu-abu. Orang mengatakan itu hanya cinta monyet tapi tidak dengan diriku. Itu adalah kali pertama aku mencintai orang lain selain kedua orang tuaku. Aila Rumaysa, nama yang masih saja membuatku tersenyum saat mengingatnya.
"Baiklah, ternyata aku juga tak bisa begitu saja tak acuh padamu, Bim," jawab wanita yang gencar kudekati saat acara sekolah, study tour ke beberapa kota itu.
"Jadi, itu berarti kau menerima cintaku?"
Gadis pujaanku itu hanya mengangguk mengiyakan. Sejak hari itu, dia menjadi puisi dalam hidupku.
"Mas ... awas!"
Jeritan Rania membuyar segala kenang tentang Aila.
"Maaf, Dek. Aku sedikit ngelamun." Kupegang tangan Rania yang sedikit shock sebab keteledoranku mengemudi.
"Mas, ngelamun apa, si? Kok Adek panggil-panggil tidak dengar."
"Hanya pekerjaan, Dek. Maaf ya."
Laju mobil sedikit kuperlambat. Sekedar memberi ruang agar tak melakukan kesalahan yang sama.
Beberapa menit kemudian, mall yang lengkap dengan cafe itu sudah di depan mata. Kuparkirkan mobil secepatnya. Aku butuh kopi untuk sedikit menghilangkan pening di kepala.
Kali ini, sengaja kubiarkan Rania belanja keperluan bulanannya sendiri. Secangkir kopi hitam pekat cukup menemani sambil menunggunya kembali.
Entalah, hari ini, bayang Aila seperti berkelebat dengan jelas di benak. Semoga semua ini tak menganggu rencana masa depanku dengan Rania. Gadis baik yang dengan sabar menjadi penyembuh atas segala luka yang ditoreh Aila. Pengkhianatan yang tak pernah kulupa hingga aku sempat benci dengan makhluk yang disebut wanita.
Aku sudah ikhlas, pun tak dendam. Setiap orang punya lakunya sendiri.
[Mas, aku sudah selesai belanja. Pesankan moccacino ya, sebentar lagi ke sana. OwnerAilashop juga akan menemui kita di cafe]
[Siap] kubalas pesan dari Rania. Sambil melambai tangan pada waiter agar segera membuat minuman kesukaan kekasihku itu.
Benar saja, tak lama berselang Rania sudah berdiri di hadapan.
"Makasih, ya, Mas."
__ADS_1
"Untuk apa?" Kuangkat bahu dan meninggikan sedikit alis.
"Minuman dan kesabaranmu menungguku belanja."
Senyum manjanya seperti ranum bunga yang membuat aku meremang.
"Sudah duduk sini, nanti kalau aku disangka jomblo bagaimana?" Kutarik lengan tangannya agar segera duduk di hadapan.
"Idih, genit, jangan-jangan tadi juga ngombal pas Adek belanja."
"Enggaklah, hatiku kan cuma buat Rania tersayang."
"Mulai, deh..., eh sebentar." Tangan Rania tiba-tiba melambai pada seseorang yang tepat berada beberapa langkah dari tempat dudukku.
"Assalamu'alaikum, Kak Rania."
Aku seperti mengenali suara itu.
"Waaikumussalam ... Senja?"
"Bima...?"
Kami bertiga berbincang. Membuat kesepatakan untuk pesanan souvenir pernikahan. Tanpa kusadari, banyak yang kutanyakan pada Senja, bagaimana kehidupan sekarang. Aku bersyukur, dia bahagia dengan pilihannya.
Sementara itu, tak kusadari, aku membuat Rania seperti tidak nyaman, dia terlihat lebih diam dari biasanya, bahkan sesekali dipandanginya Aila, gadis yang kupanggil senja sebab mata sayunya.
"Mbak Aila, Rania pamit ke mobil dulu ya, hp-nya lemot ini."
"Tapi ... Dek," sahutku cepat.
"Gak apa-apa, Mas. Teman lama yang baru bertemu pasti banyak yang harus diobrolkan." Rania menyentuh bahu kanan, sebagai penekanan agar aku tetap duduk.
Rania memeluk Aila dan sejurus kemudian menuju tempat parkir mobil. Kulihat langkahnya gontai. Semoga kali ini aku tak melukai dirinya.
"Syukurlah, aku bisa melihatmu sebahagia ini, Ja."
"Aku juga bersyukur kamu menemukan wanita yang luar biasa, Bim."
"Ngobrolnya dilanjut lain kali ya. Kasihan Rania menunggu di mobil sendirian."
__ADS_1
Kujabat tangan cinta putih abu-abuku itu dan secepat kilat menuju wanita yang akan menjadi ibu anak-anakku.
Aku tak pernah salah dalam mengambil sebuah pilihan. Cuma kamu Rania yang aku harapkan saat ini.
Perempuan itu tertunduk lesu di mobil. Setelah menunjukkan STNK, segera kutelusuri jalanan. Sementara Rania tetap saja terdiam. Ada yang mengembun di pucuk matanya. Apa dia terluka dengan pertemuan yang tak terduga ini?
"Mas apa menyesal dengan keputusan ini?"
"Ngomong apa si, Dek, kamu?"
"Seandainya, Senja ... eh Kak Aila pengen kembali sama Mas Bima, bagaimana?"
"Dek!" Bentakku mengagetkanya.
Seketika kuhentikan laju mobil dan menepi di pinggir trotoar. Kulihat tunanganku itu menunduk dan sesenggukan.
"Sebenarnya ada apa denganmu, Dek? Kenapa bersikap seperti ini."
"Adek takut, Mas." Masih dengan derai air matanya.
"Apa yang kamu takutkan? Sebentar lagi kita akan menikah. Senja itu hanya masa lalu, hanya cinta monyet... percayalah," pintaku sambil memegang lembut tangannya.
"Tapi, tadi Mas Bima asyik ngobrol dengan Kak Aila walau adek sudah pamit ke mobil."
"Itu demi menghormati harga dirimu, Dek. Mas tak ingin Senja melihat dirinya lebih berharga dari kamu sehingga harus dicemburui."
"Tapi...Mas."
"Bagiku, cerita Senja sudah berlalu, kalau pun kadang teringat, itu hanya sebagai pengingat bahwa pemuda sepertiku pernah hancur oleh wanita yang seharusnya tidak mempengaruhi hidupku."
"Maafkan Adek, Mas, sudah suuzan."
Terlihat Rania sudah mulai tenang, dia balas genggaman tanganku. Seketika itu kupeluk erat tubuh dan mengecup kening seraya berbisik, "Dirimu terlalu berharga untuk merasa terluka sebab wanita bernama senja. Saat ini hati ini masih milikmu."
Erat, dia balas pelukanku dan bersedu di dada. Tak bisa dipungkiri bahwa aku cukup bangga mendapat cemburu dari wanita ini. Senja? Jika dia memang baik untuk diri ini, tentu takkan tersemat mantan untuknya.
Aku tak pernah menyesal mengenal Senja sebab membuatku menemukan berlian seperti Rania.
Ruang rindu, 11 Juli 2020.
__ADS_1