Cinta Romantis

Cinta Romantis
Atas Sebuah Nama (Part 2)


__ADS_3

Kondisi Randi cukup stabil setelah melewati masa kritis beberapa jam yang lalu. Setelah sempat berbincang sebentar dengannya, ia akhirnya pulas dengan tidurnya.


Pemahaman Rafli akan kondisi yang terjadi membuat kegamanganku sedikit berkurang. Kuminta tunanganku itu untuk istirahat saja di rumah. Esok hari, ia harus kembali bekerja.


Kutahu ini sedikit sulit untuknya. Membiarkan calon istrinya menjaga lelaki lain tentu butuh kelapangan luar biasa.


Setelah memberi kabar pada keluarga Randi di pulau seberang, kuputuskan menelfon Rina‐-sepupuku--menemaniku merawat Randi sementara waktu sambil menunggu keluarga Randi yang datang esok hari.


"Apa yang kau butuhkan untuk berjaga nanti malam, Din?" tanya Rafli sebelum beranjak pergi.


"Aku sudah meminta Rina membawanya nanti, dia akan menemaniku di sini. Sebaiknya kamu pulang saja, kau harus istirahat dengan cukup, aku tak mampu lagi jika kau juga sakit, Raf." Tatapku memberi ketenangan padanya kalau tak 'kan terjadi apa-apa denganku di sini.


"Baiklah. Kau juga harus jaga kesehatan, ya!" Sebuah kecupan mendarat di kening.


Kulihat punggung lelaki itu menghilang setelah melewati belokan lorong rumah sakit.


Gegas, kulangkahkan kaki menuju pembaringan Randi. Sementara ia masih tertidur, kubuka aplikasi 'cerpen kita' untuk menghalau kebosanan, ada banyak cerita menarik di sana, dari drama percintaan hingga kisah-kisah yang membuat begidik bulu romang.


"Kau masih di sini, Din?" lirih lelaki itu menoleh ke arahku.


"Kau sudah bangun ternyata. Tentu saja aku masih di sini, bukankah aku sudah bilang akan mendampingimu sampai engkau sembuh."


"Aku senang melihatmu. Kalau begini, aku rela sakit saja."


"Hust! Apa yang kamu katakan? Jantungku hampir copot saat melihatmu pingsan tadi siang, so stop berbicara yang buruk-buruk." Kusodorkan sedotan yang terhubung dengan air di gelas agar dahaganya hilang.


"Terima kasih ya, Din."

__ADS_1


"Hei ... hei ... jangan romantis gitu, dong. Bikin iri saja. Sebaiknya kamu sama aku saja, Ran. Pasti lebih bahagia," sahut Rina di ujung pintu meramaikan suasana.


Aku tertawa. Randi tersenyum dengan terpaksa.


Tiba-tiba gawai Randi berpejar. Telefon genggam itu diserahkan padaku. Tenaganya masih belum kuat untuk sekedar menjawab panggilan masuk.


"Iya, Tante. Ini Dina. Insyaallah Dina akan menjaga Randi sampai Tante datang," jawabku mencoba menenangkan kekhawatiran Ibu dari sahabatku itu.


"Kapan Mama ke sini, Din?" tanya Randi setelah aku menutup sambungan telefon.


"Insyaallah besok Ran. Ini masih mengusahakan tiket pesawat, semoga ada. Kamu tenang saja ya!" Kuyakinkan sahabatku itu.


"Gak ke sini juga gak apa-apa. Ada kamu di sini." Datar suara lirih Randi sambil mengawang-awang.


"Gila Lo, Ran. Menikmati banget kebersamaan dengan Dina. Duh, aku cemburu." Goda Rina memecah keheningan dan beberapa saat kemudian ia sibuk berselancar kembali di sosial media.


"Sudah ... sudah ... kau tak apa-apa Ran?" Kusentuh bagian perut yang sakit dan segera memangil perawat agar segera mengecek keadaannya.


Aku dan Rina melipir sebentar ke luar ruangan. Menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Sebenarnya ada yang tak menentu dengan perasaanku. Memikirkan kondisi Randi yang mengkhawatirkan serta perasaan Rafli yang juga butuh untuk diberi keyakinan, membuat dadaku sedikit sesak.


"Randi jadi aleman yo, Din? Kalau seperti ini."


"Iya, Rin. Orang yang lagi sakit kan semua gitu."


"Kamu kepikiran Rafli ya? Sudahlah kalian bertiga ini kan sahabat. Insyaallah akan baik-baik saja. Jangan murung gitu!"


"Iya," jawabku sedikit gontai.

__ADS_1


Kuminta Rina masuk ke ruangan untuk menemani Randi sebentar. Aku hendak bersua dengan Rafli lewat video call.


Lelaki di seberang terlihat girang, saat wajah ini menyapanya. Aku sendiri seperti ditransfer energi luar biasa kala ia sudah bisa memaklumi keadaan. Panggilan kuhentikan saat mendapati gawaiku yang mulai lobet.


Kubiarkan Rina tertidur pulas di sofa. Sementara kubaca buku yang dibawa olehnya. Sesekali kulirikkan mata ke arah Randi dan fokus dengan lembar demi lembar buku di tangan.


Aku tahu dari dulu Randi memang bermasalah dengan lambungnya. Beberapa kali, ia sering jatuh sakit sebab penyakit yang sama. Aku yang selalu mengingatkannya agar tidak telat makan dan stres berlebihan, tapi semenjak bertunangan dengan Rafli, tentu saja aku sedikit membuat jarak dari Randi.


Randi terlalu shock dengan keputusanku yang akhirnya lebih memilih Rafli. Aku tak bisa berkata apa pun sebab hati tak bisa untuk diprediksi, sekalipun menurut banyak orang aku lebih cocok dan akrab dengan Randi, tapi Rafli-lah yang memenuhi relung hati terdalamku.


Aku sendiri pun tak menyangka jika akhirnya haŕus seperti ini. Kesedihan Randi yang terlalu berlebih membuatnya sedikit frustasi. Di hadapan banyak orang, sahabatku itu bahkan bisa bersikap sewajarnya. Hanya saja dari beberapa informasi yang kudengar, ia sering bergadang, minum terlalu banyak kopi dan makan sesempatnya saja. Tentu hal itu, sangat tidak baik untuk lambungnya.


Ah, andai aku punya pilihan tentu tak 'kan kupilih keduanya. Mungkin lebih baik aku korbankan perasaanku terhadap Rafli, tapi ternyata kondisi memaksaku agar secepatnya mengenalkan calon imamku kepada Ayah. Jika tidak, Ayah sudah dengan keputusannya untuk menjodohkanku dengan seseorang yang bahkan tidak aku kenal sama sekali. Ya, aku harus memilih antara dua keputusan yang berat. Memilih Rafli dan akhirnya menyakiti sahabatku atau hidup dengan orang baru yang tak kutahu karakternya seperti apa.


"Kau bangun, Ran?" Saat kutelengkan kepala ke arah pembaringan, terlihat Randi menatapku.


"Sudah dari tadi, tapi aku suka menatapmu kalau serius begitu. Entah serius melamun atau membaca buku." Senyum tipis lelaki itu sembari menjawab tanyaku.


Kubantu dia menegakkan sedikit bantal, tanpa menghiraukan apa yang sedang diucapkannya.


"Jangan banyak berfikir. Harus banyak istirahat biar cepat sembuh."


Ia hanya mengangguk dan terus saja menatapku. Kuhabiskan waktu dengan bercerita moment-moment lucu kebersaam kami dulu. Sesekali dia tak bisa menahan tawanya. Andai saja Rafli juga di sini dan bercerita tentang hal yang sama.


"Pilih aku saja, Din. Bukankah di hatimu juga ada sedikit desir yang sama terhadapku," lirih Randi mengagetkanku.


Aku terdiam. Tenggorokanku tercekat.

__ADS_1


Ruang rasa, 5 Agustus 2020


__ADS_2