Cinta Romantis

Cinta Romantis
Atas Sebuah Nama (Part 1)


__ADS_3

[Atas nama persahabatan, datanglah Di! Sebentar saja, aku benar-benar sakit ini.]


Pesan terakhir yang kubaca dari Randi, sahabatku.


Aku bergeming. Ada rasa iba menusuk hati. Tapi ada kegamangan jika harus menemui karibku itu.


"Atas nama persahabatan sepertinya kau harus datang, Di. Sekali saja," ucap Rina, sepupu sekaligus teman dekatku itu.


"Tapi, Rin. Aku takut Rafli akan marah jika aku datang ke sana. Bukankah kau juga masih ingat kejadian tempo hari saat tak sengaja ketemu Randi di rumah makan," jawabku yang masih dipenuhi dengan banyak bimbang.


"Iya juga ya, Din. Rafli itu 'kan paling cemburu dengan Randi. Padahal dulu, kalian bertiga ini, kan, sahabat karib. Kenapa tidak ada pengertian ya?" Rina mengaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal.


"Entalah, aku juga bingung, Rin. Satu sisi sahabat karib dan di sisi lain tunangan."


Rina beranjak dan menepuk pundakku. Menit berikutnya ia pamit untuk pulang dan membiarkanku yang masih dalam kebimbangan.


Dulu aku, Rafli dan Randi adalah sahabat karib. Mahasiswa baru yang mempunyai kegemaran yang sama, membaca dan berburu buku. Rafli tipe pendiam tapi punya kharisma tegas. Randi seperti kamus berjalan, spontan dan sulit ditebak. Sementara aku peramai suasana apalagi ketika keduanya bersitegang dalam diskusi.


Banyak peristiwa dan moment yang kita lewati bersama. Suatu hari, kami bertiga pernah terjebak pada seminar yang membahas tentang rumah tangga, padahal niat awal hanya ingin melihat-lihat bazar buku di balai kota, hanya karena iming-iming doorprize akhirnya menjadi peserta termuda.


"Gila, ya, ternyata aneh-aneh masalah dalam rumah tangga?" bisik Randi dekat telinga sambil menutup mulutnya.


"Udah, jangan keras-keras. Di sini aku seperti panganut poliandri, wanita dengan dua suami," ujarku menahan tawa.


"Bisik-bisik apa'an, si?" Tangan Rafli menjauhkan kepala Randi dari bahuku.


"Hust, gak boleh ikut campur. Masih kecil," sahut Randi diukuti umpatan kesal dari Rafli.


"Itu Mbak dan Mas yang seperti pengantin baru, boleh dong sharing dikit tentang pengalaman selama berumahtangga." Ucapan moderator acara dengan cara menunjukku dan Randi membuat kami bertiga saling pandang dan menakupkan bibir atas untuk menahan tawa.


Setelah acara selesai, tawa kami bertiga berderai tanpa bisa ditahan lagi. Parsel dengan peralatan mandi lengkap menjadi doorprize yang kami terima.


"Ni Raf, hadiah ini buat kamu saja. Aku dan Dina, kan, sudah jadi pasangan suami istri yang romantis di sana. So, yang ini buat yang jomblo saja." Ejek Randi sambil menyodorkan paket parsel.


"Enggak ... enggak, gak sudi aku. Lagian apa'an, masak aku dibilang adik ipar. Enak aja." Sunggut Rafli menampik barang pemberian.


"Udah ... udah, buat aku saja. Ribet amat si kalian berdua. Lumayan belum belanja bulanan." Kuambil parsel dan meninggalkan keduanya yang masih cekcok.


Seketika pertengkaran berakhir dan mereka berdua sudah berada di sisi kanan dan kiriku.


"Dina sayang, kok dipanggil diem saja. Dari tadi aku manggil dan ucap salam berkali-kali lo." Rangkulan Rafli membuyarkan lamunan tentang masa indah kami bertiga.

__ADS_1


"Gak apa-apa, Raf. Kamu sudah tahu tentang kabar terakhir Randi?"


"Kenapa harus bahas Randi terus si, Din?" Dengkus Rafli kesal melepas pelukan.


"Karena dia masih sahabat karib kita, apa-pun yang terjadi," tegasku penuh keyakinan.


"Dia sahabat, tapi aku akan jadi suamimu, Din. Setidaknya jaga perasaanku sedikit saja."


"Kapan aku tidak jaga perasaanmu, Raf?Aku turuti semua kemauanmu, membatasi segala interaksi dengan orang-orang yang tidak kamu suka, tapi setidaknya atas nama persahabatan, jangan jadikan status kita untuk memenuhi keserakahanmu itu."


"Lalu apa maumu, Din?" Ucapnya sambil mengepal tangan dan meninjukannya pada tembok.


"Sekali saja, aku ingin menemui Randi, dia sekarang sedang sakit Raf. Aku mohon!" Kutangkupkan tangan dan menghampirinya. "Percayalah, hatiku hanya untukmu. Randi sahabat kita, dulu, sekarang dan nanti."


Hening, pria itu terdiam untuk beberapa saat.


Tak ingin lagi membuatnya marah, kugenggam erat tangan tunanganku itu dan menyandarkan kepala di bahu kekarnya. Kami sama-sama terdiam dengan pikiran masing-masing.


Dalam lubuk terdalamku, aku hanya ingin Rafli tahu tentang makna persahabatan. Pun dia bisa memahami tentang egonya selama ini yang terlalu berlebihan. Aku tahu ada sisi baik dalam dirinya. Hanya rasa cemburu saja yang membuat kebaikannya akhirnya tersamar.


"Kapan mau ke tempat Randi? Biar nanti aku antar," lirihnya setelah beberapa waktu.


Aku mendongakkan wajah dan melihat mata indah itu berbinar dan senyum tipis menghias bibirnya.


Kami berdua bersiap menuju tempat Randi. Tak lupa kusiapkan beberapa buah dan sedikit makan siang untuknya. Aku tahu, dia anak rantau tentu segala kebutuhan perut biasa ia beli sendiri atau pesan lewat aplikasi antar makanan.


Rafli sudah siap dengan motor maticnya di depan rumah saat aku mengunci pintu depan. Menikmati kemacetan jalanan sebab jam istirahat dan makan bagi seluruh pegawai dan orang-orang kantoran.


Seperempat jam berikutnya, motor kami sudah masuk di sebuah perkampungan yang banyak disewa mahasiswa dan pekerja.


Setelah mengetuk pintu rumah Randi dan tak ada jawaban. Akhirnya, aku berinisiatif untuk membuka gagang pintu. Benar saja, lelaki itu tak menguncinya. Kulewati ruang tamu dan segera menuju kamar utama. Sungguh pemandangan yang membuatku histeris. Lelaki itu tergeletak di bawah ranjang tak sadarkan diri.


"Rafli, Randi ... Raf!" teriakku sambil menguncang-guncang tubuh sahahatku itu.


Dengan bantuan beberapa tetangga, akhirnya kami membawa Randi ke rumah sakit.


Aku terguncang. Andai saja aku datang saat Randi mengirim pesan tadi pagi, mungkin keadaan tidak seperti ini. Persahabatan kami berjalan cukup lama, dan karena sebuah keadaan harus hancur berantakan.


Rafli memelukku erat. Berkali-kali ia menenangkanku agar tidak panik. Aku pun meyakinkan diriku sendiri, bahwa saat ini Randi sudah ditangani oleh tim dokter.


Dua jam berselang, akhirnya tim dokter berhasil mengembalikan kesadaran Randi. Setelah mengurus beberapa administrasi akhirnya Randi dipindahkan ke kamar rawat inap.

__ADS_1


Kuikuti langkah perawat yang sedang membawa tubuh sahabatku yang berbaring lemas. Setelah membenarkan cairan infus dan lainnya, perawat itu meninggalkan kami bertiga.


"Kenapa sampai begini, Ran?" tanyaku yang tak bisa membendung air mata.


"Aku sudah menghubungimu berkali-kali, memintamu datang tapi tak kau hiraukan, Din," jawabnya lirih dan air mataku pun tumpah.


Rafli hanya terdiam terpaku. Aku tahu dia merasa bersalah dengan keadaan ini. Raut wajahnya tak bisa berbohong.


"Kau harus sembuh, Ran." Rafli menepuk kaki Randi yang dibalut selimut. "Aku keluar sebentar ya?" pamit Rafli meninggalkan kami berdua.


Mataku terasa sembab, tak ada lagi yang bisa kukatakan pada pria yang biasa kocak ini.


"Apa kamu terluka melihat aku seperti ini, Din?"


"Tentu saja, Ran."


"Tapi kenapa kamu lebih memilih Rafli dibanding gue, Din?" Randi mencoba meraih tanganku.


"Ini tentang hati, Ran. Aku menyayangimu sebagai sabahat." Sahabatku itu mengalihkan pandangannya ke atas saat mendengar jawabanku. "Tapi aku akan mendampingimu di sini sampai kamu sembuh, Ran."


Lelaki yang berbaring lemah itu hanya terdiam.


"Ran ...."


Tak bergeming, lelaki itu masih memandangi langit-langit kamar.


"Randi ... ayolah! Aku mohon, aku akan mendampingimu hingga kamu sembuh," pintaku sambil memegang punggung tangannya untuk menguatkan.


"Baiklah, Din. Hanya mendapat perhatianmu saja aku sudah bahagia," ucapnya tak bertenaga.


"Oh, sebaiknya aku keluar dulu, sepertinya kalian masih bicara serius," sahur Rafli yang tak kuketahui sejak kapan ia berada di ambang pintu.


Sebenarnya aku gamang tapi kupilih untuk tenang. Randi butuh perhatian, dan Rafli butuh pemahaman.


Aku keluar ruangan sebentar saat Randi pulas dalam tidurnya. Kudekati tunanganku. Gejolak hati terlihat saat ia memain-mainkan saja benda pipih yang ada di tangannya.


"Maafkan aku, Raf. Tapi aku butuh percayamu atas cintaku. Atas mana persahabatan, Raf. Aku mohon!" Tatapku meyakinkan.


"Iya, aku akan mengerti dan meluaskan hati." Kecupan itu melayang tanpa permisi di kening.


Kukembangkan senyum. Mengengam erat tangannya.

__ADS_1


Aku mencintaimu, Raf. Demi apa pun. Kali ini, kita harus sedikit berkorban atas nama persahabatan dan kemanusiaan.


Ruang rasa, 4 Agustus 2020.


__ADS_2