
Kepulanganku kali ini bukan karena libur semester atau rindu dengan Ayah dan Ibu. Sebenarnya sedikit enggan, namun janji itu harus ditunaikan. Aku masih semester tujuh dan dadaku jadi sesak memikirkannya.
"Pak Lek-mu sudah datang beberapa kali, Nduk? Ia menanyakan kesanggupanmu. Bukankah sampean janji mau bertunangan dengan Mas Agung di semester tujuh?" ucap Ibu membuatku tak bisa berkutik lagi.
Kuayunkan tiket pada satpam agar aku segera bisa duduk di kursi yang telah kupesan. Pak Lek membelikanku tiket bisnis agar aku lebih nyaman. Entah kenyamanan seperti apa, yang kutahu apa yang menjadi impianku harus berakhir di sini, bersama Mas Agung--sepupuku sendiri--yang nanti menjadi suamiku.
Datang seorang pemuda dengan gaya sporty dan rambut panjang. Ia mengganguk dan memberi isyarat padaku untuk menurunkan tas yang tanpa sengaja kutaruh di atas tempat duduk sebelahku.
"Makasih, ya, Mbak," ucap pemuda di samping sambil menghempaskan pantatnya dengan kasar.
Aku hanya menguntai senyum dan kemudian beralih pada telepon gengamku kembali.
Pemuda ini cukup banyak bicara. Beberapa kali tanya ini dan itu. Walau aku menjawabnya dengan keengganan, tetap saja ia tak mau mengerti. Ah, kenapa ditambah lagi dengan kehadiran pria menyebalkan hariku ini, padahal moodku sedang berantakan saat ini.
Kereta akhirnya melaju perlahan. Kubuka selimut dan menutupi sebagian badan sambil menoleh ke samping jendela. Lebih mengasyikkan melihat pemandangan di luar, dihiasi cahaya matahari yang berwarna kuning keemasan.
Terlihat satu per satu bagunan hingga pohon seperti berterbangan saat kereta melaju dengan kecepatan maksimal. Seorang kondektur jalan menghampiri, menanyakan tiket kereta api. Kurogoh tas dan saku jaket tapi tak kutemukan kertas itu. Pemuda disamping tiba-tiba mengayun lembaran tiket.
"Hei, kamu nyuri tiketku ya?" protesku pada pemuda di samping.
Ia hanya menggeleng dan mencoba memahami kemarahanku.
"Ini tiketku sendiri, Mbak. Demi Allah deh," ucapnya memberi jelas.
"Tapi tiketku itu ada di atas kursi tadi. Sebelum sampean mendudukinya," jawabku masih ketus.
"Ealah, demi apa coba? Aku menyembunyikan tiket milikmu. Kenal saja tidak. Masak yo wes berani begitu saya," dengkus pemuda itu.
"Ya, ndak tahu. Sapa tahu kamu punya niat buruk. Buktinya tiket tidak ada itu." Aku masih ngotot dengan kecuringaanku.
"Sudah ... sudah ... kok malah saya disuguhi drama pertikaian. Coba mbaknya lihat-lihat lagi di bawah kursi atau di mana gitu. Mas-nya bisa bantu, biar tugas saya cepat selesai," nasehat sang kondektur kemudian.
Segera kurogoh kembali beberapa saku dan membuka resleting tas.
"Hei ... lihat! Bukankah itu tiketmu," teriak lelaki yang duduk di samping sambil mengambil lembaran kertas yang tepat ada di bawah sepatuku.
Pria itu memberikan tiket pada sang kondektur. Wajahku merah padam karena malu. Kondektur yang sudah sepuh itu hanya memberikan tiketku kembali setelah ditandai dan tersenyum sambil berlalu dari hadapan kami berdua.
"Maaf, ya, Mas. Sudah menuduh," ucapku lirih menahan malu.
"Tidak apa-apa, Mbak. Santai saja. Penampilanku ini memang kadang bikin orang salah paham. Oia panggil saja saya, Alvin. Mbaknya namanya siapa?"
"Fairuz. Panggil saja, Fai." Kuterima jabat tangannya.
__ADS_1
"Kalau begini kan enak. Ada teman ngobrol. Setidaknya sampai besok pagi aku akan setia di sampingmu, Fai," celoteh Alvin sedikit menggoda.
Aku sempat melongo tapi kemudian tertawa juga.
Menit menuju jam. Perbincanganku dengan Alvin semakin mengasyikkan. Lelaki itu seperti punya banyak pembendaraan kata yang membuat aku bisa tertawa berbahak. Sesekali dia memberi tebak-tebakan yang membuat perutku menjadi kram sebab tertawa yang berlebihan.
Kereta tiba-tiba berhenti. Mengganti kepala kereta. Melalui jalur yang berbeda. Ada waktu seperempat jam bagi penumpang untuk sekedar turun meluruskan tubuh atau ke toilet.
Alvin tiba-tiba menggenggam pergelangan tangan dan menarikku turun dari kereta. Tanpa babibu, kuturuti saja maunya. Kami duduk di deretan kursi panjang yang kosong. Lelaki itu memesan secangkir kopi dan dua bungkus nasi bakar.
Ia ulurkan segelas moccacino seperti pesananku. Sementara americano menjadi pilihannya.
"Fai, tidakkah nanti kita akan merindukan moment ini. Saat engkau tak bersamaku?" tanyanya sambil memandang lurus ke arah gerbong.
"Hemm... aku tak tahu, Vin. Kita baru saja bertemu. Entah rasa apa ini? Yang aku tahu ada perasaan senang saat bersamamu."
Lelaki itu tersenyum.
"Berkirimlah pesan padaku, Fai! Aku akan datang jika kau berucap rindu."
Ada desir hangat yang membahagiakan dalam dada. Menikmati secangkir kopi dengan lelaki gondrong di samping.
Sang kondektur memberi aba-aba agar seluruh penumpang segera menempati kursi duduknya. Alvin berdiri dan seketika memegang erat tanganku.
Aku masih berbincang banyak hal dengan Alvin. Tangan lelaki itu masih melekat erat di jari-jariku. Ia menunjukkan beberapa koleksi foto pemandangan yang pernah ia abadikan. Kepala kami seperti beradu, dan membuat bunyi 'tok', yang mengakibatkan kami berdua kesakitan dan menoleh dengan wajah yang berhadap-hadapan. Jarak itu tiba-tiba menghilang saat bibirku dan bibir Alvin berdekatan. Tubuhku seperti meremang saat bibir lelaki itu memagut mesra bibirku. Kami lepaskan pagutan saat terdengar bunyi langkah seorang penumpang yang hendak ke kamar mandi.
Ah, inikah dosa terindah itu? Aku masih tak bisa mengendalikan diri. Detakan jantung masih berdebar tak karuan. Alvin masih menggenggam tangan. Menit berikutnya, kusandarkan kepala ke bahunya. Terdiam menikmati segala rasa nyaman yang menghangatkan. Desir yang tak pernah kurasakan saat bersama Mas Agung, lelaki yang akan menikah denganku.
"Aku akan dinikahkan, Vin."
Lelaki itu cukup kaget mendengar penuturanku. Sebuah perjodohan yang harus kulakoni hanya karena aku ingin sekolah kembali. Pak Lik menfasilitasi segala kebutuhan kuliahku, asal aku mau menerima syarat mutlak. Menikah dengan Mas Agung, putra pertama Pak Lik yang nyaris tanpa kata saat berada di sampingnya. Mas Agung tak pernah memiliki teman perempuan mana pun. Selama ini hidupnya didedikasikan untuk menangani pertanian tembakau Pak Lik yang berhektar-hektar. Lelaki kaya tapi mati gaya. Melihat Alvin membuatku berpikir bisakah aku menikmati hidup dengan pria membosankan itu.
"Tak bisakah kau menolak perjodohan itu, Fai?" ucap Alvin seraya menelengkan sedikit kepala ke arahku. "Aku memang baru bertemu denganmu tadi sore tapi ada perasaan seperti sudah lama kita saling mengenal dan tak pernah kurasakan ini pada wanita mana pun selain denganmu."
Aku bergeming. Mengeratkan genggaman tangan lelaki itu. Kami sama-sama diam. Berkecamuk dengan pikiran masing-masing. Menikmati debar jantungnya yang masih bisa kudengar. Seaneh inikah cinta? Bagaimana mungkin mencintai pria yang hanya kukenal beberapa jam lalu saja?
***
Sinar mentari dengan semburat jingganya menembus dinding kaca jendela tempat duduk. Mengusap jari tangan pada sudut mata. Ah, ternyata semalaman kepalaku bersandar di pundaknya. Badanku meringkus di atas kursi dengan selimut yang menutupi. Tangan kami masih bergandengan. Terlihat posisi tubuh Alvin sungguh tidak nyaman sebab ia menahan kaki yang menjulur agar posisi bahu lebih dekat dengan kepalaku.
"Vin, bangun yuk! Sudah pagi," ucapku pada pria itu.
Ia mencoba membuka mata dengan tangan. Tanpa ia sadari, ia lupa melepas genggam tangan. Sontak kami berdua tertawa bersama-sama.
__ADS_1
Setengah jam kemudian, kereta telah sampai di stasiun. Ia meminta ponselku dan menulis nomor pribadinya. Sebuah nama terukir di sana 'kekasih Fai'. Aku hanya tersenyum melihatnya.
Kami berpisah saat ia mengantarkanku pada sebuah mobil daring yang telah dia pesan untukku. Sosok itu menghilang saat mobil belok di tikungan.
Semoga aku bisa berkata tidak, Vin.
***
Seluruh keluarga sudah menyambut kedatanganku. Terutama Pak Lik yang tak henti berkirim pesan sejak aku di jalan.
Berbagai aneka macam hidangan dan kudapan tersedia di meja memanjang. Halaman rumah pun telah disulap layaknya istana penuh bunga.
Ibu segera membimbingku menuju kamar. Ia memberi sepaket kebaya warna keemasan untuk digunakan. Setengah jam lagi acara akan segera dimulai. Semua tamu telah hadir di majlis.
Tak banyak kata yang bisa kuutarakan selain diam. Ketika dua orang wanita yang didatangkan dari salon mendandaniku.
Saat aku telah siap. Ibu datang membawaku ke tempat acara. Sudah banyak orang di sana. Mas Agung berkali-kali mengusap keringat yang mengucur dari pelipisnya. Melihat lelaki itu, tiba-tiba teringat pada Alvin. Segera kubuka ponsel dan memandangi nama yang tertulis di sana.
Moment penyematan cincin pertunangan segera dimulai. Mas Agung telah berdiri di depan panggung. Ibu segera meraih tanganku dan menuntunku menuju panggung.
Aku memajamkan mata sejenak saat akan menyematkan cincin. Ada bayangan Alvin di sana. Bukan Mas Agung.
"Pak Lik, Ayah dan Ibu. Bolehkah aku berkata sesuatu sebelum acara ini dilanjutkan?" ucapku sedikit terbata tapi penuh keyakinan.
"Tentu saja, Nduk. Ngomong saja!" jawab Pak Lik masih dengan senyum semringah.
"Maaf, Pak Lik, Ayah, Ibu ...Fai tak bisa melanjutkan pertunangan ini. Fai masih ingin melanjutkan cita-cita, Fai. Jika Pak Lik menuntut uang ganti rugi biaya kuliahku, maka anggap saja itu menjadi tanggungan hutangku."
Semua orang melongo dan terkejut dengan apa yang kukatakan.
"Maafkan aku, Mas Agung. Sampean baik tapi jujur, tak sedikit pun perasaan ini ada untuk sampean. Dada saya seperti sesak saat berada dekat sampean," pungkasku kemudian meninggalkan Mas Agung yang tiba-tiba kambuh penyakit stepnya.
Semua undangan panik terkhusus Pak Lik. Ibu dan Ayah terkulai lemas.
Kaki terus saja melangkah menjauh dari terop yang terpasang. Menuju hamparan sawah yang tidak jauh dari rumah.
"Yes...." teriakku sekencang-kencangnya.
Memang tak ada jaminan Alvin akan serius denganku, mengingat pertemuan kami hanya semalam. Tapi pertemuanku dengan Alvin mengajarkan satu hal bahwa aku lah yang paling berhak menentukkan hidup yang hendak kujalani. Bukan siapa pun.
Jika aku tak bisa lagi bertemu dengan Alvin. Paling tidak aku sekarang punya tiket keberanian untuk mendapatkan cinta lelaki yang aku juga mencintainya. Terima kasih Alvin!
Asa, 13 September 2020.
__ADS_1