Cinta Romantis

Cinta Romantis
Proposal Untuk Sang Ketua Osis


__ADS_3

Tak beda dengan sekolah-sekolah gue sebelumnya. Sekolah baru gue ini asyik juga, ada lapangan basket, kantin sekolah dan tentunya penghuninya yang ramah.


Ini sudah ke-empat kalinya, gue harus mengikuti Bokap gue pindah dari satu kota ke kota lainnya. Capek, tentu saja, tapi jujur, gue juga tak punya pilihan lainnya karena Bokap gue hanya aparatur Negara.


"Kamu boleh duduk di sebelah sana, Ega." Tunjuk Pak Malik pada bangku kosong, setelah sebelumnya gue memperkenalkan diri.


***


Nama gue Ega Dirgantara, remaja tampan dengan seribu pesona. Gue selalu menjadi idola di sekolah-sekolah sebelumnya. Tak perlu heran, memang itu keahlian gue. Dari cewek cantik, populer hingga culun, sudah pernah gue luluhkan. Sayangnya di sini, gue tidak dapat tepat di hati mereka.


Di sekolah baru ini, ada satu cewek yang membuat nyali gue jadi bahan pertanyaan. Sebenarnya, wajahnya tidak begitu cantik, hanya saja cewek ini selalu menjadi pembicaraan semua siswa di sekolah gue, dia sang ketua osis, Naila namanya.


"Nay, mau gak nanti bareng pulang ama gue?"


"Sory ya, Ga. Gue ada rapat osis hari ini, sebaiknya lo ajak Silvi atau teman cewek yang lain deh."


"Kalau gue tungguin, gimana?"


"Ogah." Jutek abis ini cewek, padahal kan gue ngomong baik-baik dengan senyum mengoda. Huft!


"Emang enak dicuekin," sahut Bima yang tak bisa menahan tawanya.


"Ancir lo, lihat saja ya dalam hitungan sebulan pasti doi jadi pacar gue."


"Mimpi lo, Romi saja yang populer dan ganteng di sekolah ini ditolak apalagi elo."


"Eh, jangan salah, Romi memang ganteng, pinter dan populer tapi dia garing," celoteh gue dengan penuh jumawa.


Gue tinggalkan Bima yang masih terbengong dengan kepedean gue. Sementara itu, seperti biasa kantin menjadi tempat favorit kala istirahat.


Sebenarnya bukan makanan yang membuat gue betah di sana, tapi sambil menikmati bakso, gue bisa mengorek segala hal tentang Naila dari Mbak Pur, penjaga kantin. Tak ada gosip yang tak sampai di telingga wanita tiga puluhan itu.


"Mbak Naila itu suka bakso campur, tapi tidak suka sama daun bawangnya, jeruk manis sudah pasti," ujar Mbak Pur setelah gue tanya tentang sang ketua osis.


"Romi itu pacarnya ya, Mbak?"


"Enggak, lah. Mas Romi yang suka tapi Mbak Naila tidak. Kayaknya type Mbak Naila bukan begitu deh."


"Kayak Ega ini yo, Mbak." Mbak Pur hanya tersenyum. Gue ulurkan uang bakso dan menyuruh menyimpan sisanya. Perempuan itu hanya mengacungkan jempol. Entah berterima kasih atas pemberian gue yang tak seberapa atau setuju dengan ucapan gue.


Sejak saat itu, Mbak Pur seperti menjadi mata dan telingga gue terutama yang berkaitan dengan Naila. Berbagai cara juga sudah gue lakukan untuk menaklukkan hati ketua osis itu, tetapi selalu gagal. Pernah diam-diam gue bayar bakso pesanan Naila. Eh ladalah, malah gue yang harus menahan malu sebab dia kembalikan uang itu plus dengan bunganya. Gadis belagu yang membuat gue semakin rindu.


"Nay, boleh gak gue bicara sama elo sebentar?" pinta gue padanya.

__ADS_1


"Sory ya, Ga. gue lagi banyak kerjaan. Mau baca proposal acara yang diajukan teman-teman."


"Gue mau ngajuin proposal, Nay," teriak gue spontan ketika doi jutek dan beranjak meninggalkan gue. Langsung de, dia menoleh setelah mendengar ucapan gue. Cewek aneh masak suka bener sama proposal.


"Boleh, nanti bisa kamu antar ke kantor osis," jawabnya enteng sambil berlalu meninggalkan gue yang terdiam sambil garuk kepala gue yang sebenarnya gak gatal.


Waduh, padahal tadi gue ngasal. Proposal apa yang bakal gue bikin. Sepertinya perlu Nraktir bakso Bima ini. Dia pasti bisa ngasih solusi.


Mungkin ini cara terakhir. Ega kok dikacangin.


***


Sudah hampir enam jam sejak Bima berada di kamar pribadi gue. Tak ada ide yang cocok dengan yang gue inginkan. Bahkan kemungkinan kecil malah dapat penolakan dari sang ketua osis. Maklum cewek satu itu termasuk perfeksionis untuk masalah acara apapun yang berada di bawah naungan kepemimpinannya. Gue sendiri juga heran, di antara banyaknya cowok di sekolah ini, terutama Romi yang sangat populer, kenapa bisa dikalahkan oleh cewek satu ini.


"Lagian apa hubungannya si, Ga? masak gara-gara suka sama Naila, lo akhirnya ikut-ikut bikin proposal acara kayak lainnya. Bikin surat cinta saja, Ngapa?"


"Ahai... akhirnya gue punya ide, Bim. Terima kasih ya, terima kasih, lo emang sahabat yang baik."


"Ide apa'an si? Perasaan gue gak ngasih pendapat apa-apa?" tanya Bima penuh keheranan.


"Ada deh, entar juga elo tahu. Udah diam saja. Tidur saja de lo, biar gue sendiri yang bikin."


Tenang saja, Nay. Tenang. Lo takkan bisa menolak proposal ini.


***


Gue lihat Nayla memasuki ruang osis. Cocok. Ini waktu gue menunjukkan jati diri gue, sang penakluk. Ada sedikit perasaan membuncang di dada. Masak gue grogi? Ah, bodoh amat. Ini saatnya gue berikan proposal yang sudah gue buat kemaren.


Terlihat sebuah tulisan kantor osis terpasang tepat di atas pintu ruang kecil itu. Setelah gue intip lewat cendela, gue lihat Nayla dengan sahabat setianya, Maya.


"Boleh masuk, Nya?"


"Ada perlu, apa?"


Kuangkat sebuah map yang berada di tangan tinggi-tinggi. "Ini."


"Oke masuk saja, silakan."


Naila menerima proposal yang gue beri untuknya. Sebelum sempat membuka, tiba-tiba Maya teriak.


"Biar gue saja yang baca dulu, Nay?" Sahut Maya.


"Eh, jangan! Itu khusus ketua osis." Protesku. Bisa berabeh jika Maya yang akhirnya membacanya.

__ADS_1


"Oke, oke, biar gue sendiri yang membacanya." Suara Naila menghentikan aduh mulut antara gue dan si cerewet Maya.


Syukur, syukur, keberuntungan masih berpihak pada gue.


Setelah beberapa saat saling diam. Gue lirik Nayla, pipinya merah seperti ranum pualam. Ahai, sepertinya gue berhasil. Perempuan di hadapan gue ini berulang kali menutup mulut dengan tangannya untuk menahan tawa.


Gue tersenyum dengan penuh kemenangan setelah sekian purnama puas hanya dengan sikap juteknya. Kini dia tersenyum manis sekali.


"Bagaimana, Nay?"


Dia masih tertegun tapi tersenyum.


"Jawab dong, Nay?"


"Baiklah, kita coba."


"Yes." Spontan gue meloncat dari kursi. Maya tampak terheran tak mengerti, sementara Nayla tersenyum malu.


Bagaimana mungkin dia akan menolak sebuah proposal yang berbeda dari proposal yang lainnya. Ega gitu lho.


Perihal : Wajib diterima.


Kepada:


Ketua Osis, Nayla Azalia.


Dengan ini, ingin memberitahukan bahwa yang bertanda tangan di bawah ini:


Nama : Ega Digantara


Kelas : 11 Bahasa


Ciri : Ganteng, pinter dan tentunya sangat perhatian


Dengan ini menyatakan bahwa yang bersangkutan sedang jatuh cinta dengan seorang cewek yang sekarang sedang menduduki jabatan ketua osis.


Dengan penuh pengharapan, semoga cewek tersebut juga memiliki perasaan yang sama dan mau menerima cintanya. Jika hari ini ditolak, maka besok akan kembali dengan proposal yang sama. Begitu seterusnya sampai diterima.


Terima kasih atas perhatian dan jangan lupa senyum manisnya.


Wassalam


Ega Dirgantara

__ADS_1


Ruang rasa, 6 Juli 2020.


__ADS_2