
"Semua teman sudah datang, Rin. Tinggal menunggu kamu dan beberapa orang saja. Masih lama kah perjalanan?"
Suara Risa di seberang telefon semakin membuatku ingin segera sampai di tempat acara.
"Bisnya jalan lelet, Sa. Sepertinya, seperempat jam lagi. Nanti masuk gang-nya jauh tidak?" Kuakhiri panggilan telefon saat Risa mengatakan, akan ada teman yang datang menjemputku di pertigaan menuju tempat acara reuni kampus. Sebuah villa milik seorang teman menjadi tempat acara.
Bis masih melaju dengan kecepatan yang lambat. Sejenak kurebahkan kepala di sandaran kursi. Melihat keluar jendela. Menyaksikan pepohonan yang seperti menghilang satu per satu. Seperti apa rupa mereka sekarang? Sudah hampir delapan tahun aku tak bertemu dengan mereka. Mengikuti kemana langkah suami pergi, tak ayal memutus komunikasi kami. Sampai pada sore itu, saat akun biru media sosialku kuaktifkan kembali. Sebuah pesan mesengger kuterima dari Risa. Berbincang banyak hal, dari A sampai Z. Sampai pada akhirnya, Risa berkata akan ada reuni angkatan. Memintaku untuk datang. Mengantongi izin suami, akhirnya kuberanikan diri menembus kota seorang diri. Dan sekarang aku di sini, di kota kecil pinggiran yang sejuk nan asri. Cocok untuk menghapus segala penat mendera.
Teriakan sang kondektur membangunkanku dari khayal. Segera kuayunkan kaki keluar dari bis kecil itu. Sudah ada kawan lelaki yang siap dengan motor menunggu kedatanganku.
Degup jantung tiba-tiba seperti berdetak cepat saat kutahu pria itu adalah Aditya. Senyumnya merekah saat melihatku.
"Bagaimana kabarnya, Rin?" Uluran tangan itu masih menunggu responku.
"Ba--ik." Aku sedikit gugup.
Saat menyambut tangannya. Desir yang dulu pernah ada, tiba-tiba muncul kembali. Bak genderang perang aku bahkan tak bisa mengontrol sesuatu yang membuncah dalam dada saat aku berada di belakang boncengannya. Menghalau gugup, kuedarkan pandangan pada kanan-kiri jalan. Mantan kekasihku itu masih melihatku lewat kaca spion. Senyum itu masih menawan seperti yang dulu.
"Aku senang akhirnya bisa menemukanmu. Lebih senang lagi saat kamu mau datang di acara ini," ucapnya masih dengan lirikan yang sama.
"I--ya." Tak ada jawaban yang bisa aku berikan selain satu kata itu saja.
Risa memelukku erat saat aku turun dari motor. Sempat mengeluarkan linang sebab terharu akan pertemuan. Sahabat-sahabatku sudah berada di sini semua. Satu per satu kusalami dan kupeluk mereka.
"Rini, kini telah kita temukan." Kata itu yang selalu keluar pada setiap orang yang ada di villa ini. Ya, sejak menikah sebab perjodohan orang tua. Aku memang sengaja memutus komunikasi dengan semua teman. Mengikuti jalan takdir, mengabdi pada suami bahkan ketika harus pindah dari satu kota ke kota yang lain, karena Mas Riki memang seorang aparatur negara, jadi sudah menjadi tugasnya mematuhi segala peraturan yang ada.
Risa merangkulku menuju kamar. Kebetulan ia yang akan berbagi kamar denganku. Teman-teman yang lain sudah berbincang santai satu sama lain.
__ADS_1
"Gimana masih 'dredeg' tidak waktu dibonceng Aditya?" Risa menggodaku.
"Walah, Sa. Apa'an si? Itu sudah dulu. Delapan tahun yang lalu. Kita sudah sama-sama berpasangan," kilahku agar sahabat perempuanku itu tak memberondongku dengan pertanyaan yang aneh-aneh lagi.
"Ih, kata siapa Aditya sudah berpasangan. Dia masih belum menikah, tahu!" tutur Risa membuatku membelalak kaget dengan apa yang aku dengar. "O, iya. Aku lupa kamu kan langsung menghilang setelah dinikahkan, bahkan kamu mengganti nomor telefon segala. Jahat banget si kamu, Rin." Risa memanyunkan mulut dan mengacak-acak rambutku.
Aku hanya tertawa dan mengucap maaf. Delapan tahun lalu, hanya itu pilihan satu-satunya yang kupunya, agar bisa menghilangkan rasa sayang terhadap Aditya dan membuka hati pada lelaki yang baru menjadi suami. Walau itu tak mudah, tapi akhirnya rumah tanggaku bahagia. Hanya saja, sebulan terakhir ini. Ada bosan dengan kegiatan rumah yang itu-itu saja, dan kembali membuka sosial media menjadi pilihan menghempas kebosanan. Siapa sangka bisa membawaku bertemu dengan Risa dan sahabat-sahabat lain, yang selalu kurindu.
Setelah membersihkan diri dan berganti baju. Aku dan Risa segera turun ke lantai bawah untuk mengikuti acara. Sambutan dan beberapa permainan telah dipersiapkan. Aditya masih saja menatapku dari kejauhan. Acara berlanjut dengan bakar ikan dan jagung bersama-sama.
Aku sengaja duduk-duduk dekat api unggun sebab memang tubuhku tidak begitu kuat dengan udara yang sangat dingin.
Tubuhku terasa hangat saat sebuah jaket dilekatkan tiba-tiba.
"Aku tahu kamu tidak kuat dingin. Setidaknya ini bisa menambah kehangatan," Aditya telah berada di samping dan ikut duduk dekat denganku.
"Sudah tidak usah menolak, dari pada nanti kamu malah sakit dan tidak bisa pulang ke suamimu." Ia meyakinkan.
"Iya, terima kasih."
Kami terdiam untuk beberapa saat. Menit berikutnya tangan Aditya sudah memegang tanganku erat. Hendak menolak tapi cengkeramannya semakin kuat.
"Aku masih mencintaimu, Rin. Sama seperti dulu."
Aku binggung tak tahu berbuat apa. Sedang detak jantung pun tak mau berkhianat. Rasa yang dulu seperti menguar kembali. Perasaan nyaman dan senang di dekatnya.
"Kenapa kau memutus kontak, Rin?"
__ADS_1
Aku masih membisu. Menimang rasa yang hadir kembali ini. Mencari kata yang tepat untuk menjawab tanya, tapi sia-sia. Tenggorokan seperti tercekat. Sedang tubuh tak mampu menguasai debaran yang kian cepat.
Cahaya temaram depan villa membuat suasana semakin sahdu. Bintang-bintang yang bertaburan seperti menambah bunga-bunga hati yang kini merekah kembali.
"Engkau masih sama, Rin. Cantik seperti dulu." Entah kenapa sanjungan Aditya mampu membuatku tersipu malu.
Apa suamiku tak mengatakan itu? Tentu saja berucap, tapi hanya pada moment saat ia melihatku berdandan kalau ada kondangan. Padahal aku ingin, ia berkata itu tiap waktu. Walau tanpa makeup di wajahku.
Jarak kami semakin dekat, apalagi saat Aditya tiba-tiba menggamit pinggangku. Dan tak berjarak lagi saat bibir lelaki itu bertemu dengan bibirku. Semua serasa cepat. Saat bibir itu akan ******* kembali, seketika panggilan telefon berdering dari saku bajuku.
Segera kuusap tombol hijau. Ada suara lelaki di seberang.
"Iya, Mas. Sudah dari tadi. Tenang saja," jawabku menghentikan kekhawatiran pria di ujung telefon.
Aku terhentak. Ya, suamiku itu selalu mengingatkanku untuk makan tepat waktu. Memakai jaket saat udara dingin sebab ia tahu, tubuhku lemah dengan hawa dingin yang menusuk pori-pori.
Bagaimana aku bisa seperti ini? Pria halalku itu sedang khawatir terhadap keadaanku. Sementara aku di sini? Apa yang sedang aku lakukan?
Setelah mematikan telefon. Kulihat Aditya.
"Maafkan aku, Dit. Maaf kita tidak bisa seperti dulu lagi. Aku sekarang sudah bersuami. Atas nama apa pun aku tak pantas melakukan ini." Air mataku tiba-tiba menetes. "Aku memang mencintaimu. Detik ini bahkan perasaan itu masih ada untukmu. Akan tetapi, ada perasaan orang lain di sana yang dengan sabar menantiku memberi seluruh cinta untuknya. Aku akan belajar mencintainya, Dit. Lupakan aku! Carilah wanita yang lebih baik dariku. Mungkin kita memang belum berjodoh, " tuturku dengan derai yang semakin deras sebab ke-alpa-anku sebagai istri orang.
Kutinggalkan Aditya yang masih terpaku. Berlari menuju kamar dan menangis sebab sesal karena apa yang aku lakukan.
Maafkan aku, Mas Riki! Kuharap pelukmu masih nyaman saat aku pulang esok hari.
Sesal, 18 Agustus 2020.
__ADS_1