Cinta Romantis

Cinta Romantis
Mimpi Shubuh


__ADS_3

Kutarik nafas panjang. Menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Sekedar memberi jeda pada diriku untuk bisa mengerti dengan keadaan. Ini kali pertama, aku harus pergi meninggalkan kampung halaman. Sebuah mini bus warna hijau melaju membawaku pada sebuah harapan baru.


Sosok yang menelefonku itu telah siap menungguku di terminal. Tak butuh banyak waktu. Aku segera mengikuti Wanita empat puluh tahunan itu, memasuki mobil. Dalam hitungan menit, mobil BMW yang mereka tumpangi sudah berada di pelataran rumah yang terlihat mewah.


"Ini sekarang adalah kamar pribadimu. Kamu nanti bertugas untuk menyiapkan segala keperluan Mas Randi. Harus hati-hati ya! Mas Randi itu sedikit temperamen soalnya."


"Enggeh Budhe!" Sebuah anggukan tadi ta'dhim dari wanita yang merupakan kakak kandung dari ayah tersebut. Ya, Budhe sudah lama bekerja sebagai ART pada seorang majikan yang cukup berada. Saat ini bahkan sesepuhku itu telah menjadi asisten keperayaan di rumah megah ini.


Budhe meninggalkanku untuk melanjutkan aktifitasnya. Sementara aku membereskan baju di lemari dan berencana untuk beristirahat sebentar sebelum nanti jam 13.00 aku harus melaksanakan tugas pertamaku, sebagai Budhe bekerja dulu ART.


"Menik ... bangun! Sebentar lagi koe harus menyiapkan makan siang Mas Randi, Nduk."


"Enggeh, Budhe. Maaf ketiduran."


Aku segera bangkit dan mengikuti Budhe ke dapur. Di sana, sudah tersedia berbagai menu makanan yang dimasak oleh chef. Seperti orang mau 'slametan' saja.


"Ini mau ada acara apa, Budhe? Kok banyak sekali makanan yang tersedia," tanyaku dengan polos.


Sontak seluruh pekerja dapur tak dapat menahan tawa. Mereka terdiam saat Budhe berdehem dan menaikkan satu alisnya.


"Tidak ada 'slametan', Nik. Memang setiap hari, masaknya ya segini banyaknya. Di rumah ini, setiap orang memiliki selera yang berbeda."


"Oh ...." Mataku berbinar penuh ketakjuban.


Setelah menyuruhku makan terlebih dahulu. Budhe membantuku untuk menyiapkan beberapa makanan untuk Mas Randi dan memberi titah untuk membawa ke kamar tuan rumah tersebut.


"Permisi, Tuan. Saya Menik. Pembantu baru yang khusus menyiapkan segala keperluan, Tu--an," ucapku sedikit gugup mengawali pembicaraan.


"Taruh di atas meja saja!"


"Tapi, Tuan. Budhe menyuruh Menik agar tetap di sini sampe Tuan memakannya."


"Ya, sudah. Buang saja makanan di sampah dan bilang pada mereka kalau aku telah memakannya!"


"Ndak ilok, Tuan. Buang-buang makanan."


"Apa kamu mau dipecat! Hah!" Teriaknya dengan lantang.


Aku mundur dan seketika duduk tersimpuh.


"Jangan, Tuan. Ampuni Menik, kasian Si Mbok kalau Menik tidak dapat uang," ucapku sambil terisak. "Tapi tidak baik juga jika harus buang-buang makanan seperti itu, Tuan. Menik sama Si Mbok bahkan sering puasa sebab tak ada makanan tersisa."


Aku masih tertunduk. Menghapus buliran bening di sudut mata dengan punggung tangan.


Suara majikanku itu tiba-tiba terdengar pelan.


"Ya, sudah. Ambilkan makanan itu!"


Seketika itu, aku bangkir dan mengambil nampah berisi makanan dan menyerahkan padanya.


"Duduklah di sini!" Perintah menunjuk kursi yang tepat di sampingnya.


"Namamu siapa tadi?"


"Menik, Tuan."


"Jangan panggil 'Tuan' padaku, cukup panggil 'Mas' saja."


"Iya, Tu--eh, Mas Randi."


"Lha begitu lebih bagus. Ayo bantu saya menghabiskan makanan ini!"


"Tapi, Mas--"


Seketika lelaki itu memasukkan roti panggang di mulut.

__ADS_1


"Kau tahu, Menik. Lambungku itu tak kuat kalau harus menikmati hidangan begitu banyaknya. Aku tahu betul mereka semua yang ada di rumah ini menyayangiku. Ingin aku sembuh, tapi mereka lupa tentang memberi rasa nyaman."


"Injeh, Mas."


Diulurkannya jus melon padaku. Hendak menolak tapi isyarat matanya seperti mengintimidasi.


"Enak jusnya?" tanyanya sambil memandangi wajahku secara seksama.


"Hambar, Mas."


Tertawanya mengelegar setelah mendengar jawabanku.


"Kamu adalah asisten pertama yang berkata dengan jujur."


"Maksudnya, Mas?"


"Sudah, tidak perlu tahu. Cukup kerjakan tugasmu dengan baik."


"Injeh, Mas. Kalau boleh tahu sebenarnya Mas Randi kenapa? Kok mengurung diri di kamar. Bukankah lebih enak jika Mas Randi bisa makan bersama dengan keluarga besar. Oh, Maaf, saya kok jadi lancang." Kutakupkan tangan di dada sebagai permohonan maaf atas segala kelancangan, pria itu hanya mencibikkan bibirnya.


"Gak apa-apa. Santai saja. Kamu itu orang pertama yang tak melihatku dengan takut dan berani bertanya hal-hal pribadi saat perjumpaan pertama."


"Maaf, enggeh, Mas. Saya tak beresin ini dulu dan membawanya ke dapur," ucapku sambil membereskan beberapa peralatan makan yang telah habis isinya.


"Setelah selesai dengan urusan di dapur, kamu ke sini lagi temani saya ngobrol!" Perintah lelaki dengan postur tinggi itu dengan nada datar.


Sebelum beranjak pergi, kulihat matanya menerawang jauh. Entah apa yang sebenarnya terjadi dengan anak majikanku itu. Perasaanku mengatakan dia lelaki baik, tidak seperti yang dibicarakan oleh para pekerja di dapur tadi.


Segera kulangkahkan kaki menuju di mana Budhe berada. Wanita yang masih kerabatku itu cukup puas dengan hasil kerjaku, bahkan sungguh terheran tak ada drama pecah piring dan gelas seperti kejadian dengan beberapa asisten yang sudah-sudah.


Dari mulut Budhe akhirnya kuketahui bahwa Mas Randi sudah sejak kecil sakit jantung bawaan. Sungguh membuatku ta'jub, dia terlihat seperti bukan orang sakit.


Kukatakan juga pada Budhe kalau Mas Randi menyuruhku untuk kembali datang ke kamar sebab pria itu butuh teman ngobrol. Budhe sempat mendelikkan matanya karena kaget dan heran.


Aku hanya tersenyum dan segera menuju kamar Mas Randi.


"Kok lama sekali?" ucap Mas Randi setelah melihatku menuju balkon menghampirinya.


"Enggeh, Mas. Maaf ...."


"Sudah duduk di sini!"


Berbincang dengan Mas Randi membuatku tak menyesal mengikuti saran Budhe. Pria ini bercerita banyak hal. Dia juga bercerita tentang kekesalahnya terhadap orang tua yang kadang terlampau menjaga dirinya secara berlebihan.


Menit berubah ke jam, Mas Randi mengajakku keluar kamar, berkeliling taman yang terhampar di belakang rumah. Banyak pekerja yang tampak keheranan melihat gelak tawa Mas Randi saat berbincang denganku. Kulihat Budhe dan nyonya besar hanya tersenyum melihat kami berdua.


"Di desamu ada taman seperti ini?" tanya pria itu setelah melihat wajahku yang tercengang melihat keindahan taman buatan.


"Mboten, Mas," jawabku malu-malu.


"Pantesan kelihatan banget dari wajahmu itu."


Aku mentangkupkan telapak tangan ke mulut. Sementara dia tertawa berbahak.


Matahari beranjak menghilang. Mas Randi mengajakku kembali ke dalam rumah. Setelah melihatnya menghilang di balik pintu. Kusegerakan langkah kaki menuju kamar pribadi. Merebahkan diri di sana.


Sejak hari itu, ada banyak perubahan pada sikap Mas Randi. Lelaki muda itu bahkan sudah mulai ikut makan malam bersama keluarga. Budhe dan nyonya besar berkali-kali memuji kepiwaianku untuk bisa mengurus Mas Randi dengan baik.


Setiap hari kutemani Mas Randi berjibaku dengan buku-buku yang disukainya. Berkeliling taman. Sesekali kugoda dia agar lebih banyak tersenyum sebab itu pasti berpengaruh juga untuk kesehatannya. Hingga tak terasa, sudah satu purnama penuh kutinggalkan kampung halaman dan tinggal di rumah mewah ini.


***


Sebuah ketukan di pintu sontak membuatku tergopoh untuk mengambil jilbab dan mengenakannya asal.


"Menik ... ini Budhe, Nduk," teriak Budhe dibalik pintu.

__ADS_1


Ah, hanya Budhe, kukira pegawai yang lain di rumah ini. Tumben Budhe tidak langsung masuk kamar seperti biasanya.


"Injeh, Budhe."


Wanita itu langsung masuk dan duduk di pojok tempat tidur.


"Nyonya besar memanggilmu, katanya ada perlu penting."


"Apa ya, Budhe?"


"Nanti biar nyonya besar saja yang ngomong sama kamu."


Kuikuti Budhe menuju ruang kerja sang tuan rumah, pemandangan yang cukup mewah dengan interior yang selama ini hanya kulihat dalam televisi saat melihat sinotren kesukaan.


Setelah melihat kedatanganku, wanita dengan sanggul besar itu memberi isyarat agar aku duduk di sebuah sofa. Sementara itu Budhe juga ikut duduk di sebelahku.


Aku hanya bisa menuduk, tak berani beradu mata dengan nyonya besar.


"Menik, kalau aku meminta satu hal darimu. Apa kamu bersedia untuk mengabulkannya?"


"Tapi ... saya tidak punya apa-apa untuk dikasihkan, Nya," jawabku pelan dan sedikit ragu.


"Kamu punya apa yang saya inginkan."


Tegas dan penuh penekanan setiap katanya. Aku menunduk, dan tak mengerti apa yang diinginkan wanita paruh bayah itu.


"Aku butuh kamu untuk membuatnya bahagia," ucap nyonya besar sekali lagi.


"Bagaimana kalau kamu menikah, Nduk?" ucap Budhe membuatku shock.


"Kalau kamu menikah, kamu bisa tetap di sini." Nyonya besar tak mau kalah.


"Tapi ... Menik masih--," ucapku terbata.


"Kamu bebas menentukan hidupmu, Nik," sahut Mas Randi tiba-tiba dari balik pintu.


Lelaki itu menarik tanganku dan mengajakku menjauh dari ruang mewah itu. Teriakan dari nyonya besar bahkan tak digubrisnya.


Tepat di depan taman, ia lepaskan gengaman.


"Kamu itu manusia, bukan hewan yang bisa diobrak sana diobrak situ," ucap Mas Randi penuh amarah.


"Sudah, Mas. Gak apa-apa. Mas Randi harus bisa menahan emosi."


"Jika Mama menyuruhmu untuk menikah bagaimana?"


"Aku akan menolaknya, Mas."


"Kenapa?"


"Aku hanya mengurus Mas Randi di sini," lirihku sangat pelan.


"Jika yang memintamu menikah adalah tuan rumah ini bagaimana?"


Kutelengkan kepala dan menatap tak percaya. Mencoba mencari jawaban dari kesengguhan ucapan. Bukankah satu-satunya tuan rumah di sini adalah Mas Randi? Apa aku bermimpi?


"Ya, Menik. Jika aku yang ingin menikahimu bagaimana? ucapnya meyakinkan.


"Aku hanya anak desa yang tak punya apa-apa, Mas."


"Aku ingin menikahimu, bukan menikahi tanah di desamu," ucap pria itu sambil narikku dalam pelukannya.


Ternyata aku sedang tidak bermimpi, karena subuh adalah pengharapan segala doa agar semua lebih baik.


Ruang rasa, 25 Juli 2020.

__ADS_1


__ADS_2