
Di antara banyak wajah di taman kota, sore itu. Juga di antara rerimbunan pohon di tengah-tengah taman. Seorang wanita yang hanyut dalam kemurungannya. Duduk sendiri dan menyendiri.
Keramaian taman tidak sampai hati meluluhkan kebekuan wanita itu. Ia seolah diasingkan oleh taman, namun seperti dilindungi dan diberinya keteduhan untuk bersandar. Menyandarkan masalah hidupnya.
Wajahnya terlihat sendu. Lebih terlihat pucat. Matanya menerawang jauh ke depan sana. Sesekali rambutnya tergerai, tertiup angin sejuk sore itu. Kesejukannya tidak dapat menggoyahkan wanita ini, justru ia semakin hanyut dalam lamunannya.
Ada sepasang mata yang selalu memperhatikan wanita ini. Sepasang mata seorang lelaki yang berada tidak jauh dari wanita ini. Lelaki ini duduk dan berpura-pura mainan handphone. Namun matanya tidak lepas dari wanita tersebut.
Seorang anak berlarian mendekat ke tempat duduk wanita itu. Bermain-main di situ, meloncat, berlarian kembali menjauh. Wanita yang dari tadi hanya menerawang jauh ke depan, sejenak tersadar, memperhatikan anak kecil itu. Namun sedetik kemudian matanya berkaca-kaca. Ada bulir-bulir air jatuh menetes di pipinya.
Wanita tersebut menyeka air di pipi. Dan ia menahan diri untuk tidak meluapkan emosi. Menahan diri untuk tidak menangis di tempat umum. Pundaknya bergetar, tanda ia benar-benar menahan emosi yang membuncah dadanya.
Wajahnya menengadah ke atas, berharap agar emosinya turun dan stabil. Ia menghela nafas perlahan. Merasakan sejuknya hembusan angin taman. Matanya membuka, melihat ke atas, dedaunan pepohonan hijau di atasnya.
Melihat anak kecil tadi, ia teringat akan anaknya yang telah tiada. Anak semata wayang yang ia sayangi. Dari lahir hingga berumur 5 tahun. Ketika itu hidupnya terasa bahagia. Keluarga kecil yang bahagia.
Ia dan suaminya sangat terpukul atas kepergian anaknya. Ia larut dalam kesedihan yang dalam. Tidak ada keceriaan terlukis di wajahnya sejak itu. Kepergian yang tiba-tiba seolah merenggut seluruh kebahagiaan selama ini yang telah ia bangun bersama suaminya.
Hal yang semakin membuat kesedihannya makin menjadi adalah saat suaminya sering pulang malam. Pada awalnya ia memaklumi bila sang suami bersedih dan mencari hiburan di luar. Selama ini ia menganggap suami hanya nongkrong di luar dengan teman-temannya. Namun semakin lama semakin ia kalut saat melihat suami pulang ke rumah dalam keadaan mabuk.
Semakin berat beban kesedihan yang ia rasakan. Emosi kemarahan, kesedihan, keterpurukan bercampur menjadi satu menggumpal dalam ke dasar relung hatinya. Ia ingin teriak dan memekakkan telinga dunia, agar seluruh emosi terbuang ke atmosfir dan ditelan hiruk pikuknya dunia.
Andaikan saja ia bisa hamil kembali dan mendapat anugerah mempunyai anak lagi, maka kehidupannya dengan suami tidak akan terpuruk kembali. Masalahnya ia sudah divonis tidak dapat hamil kembali.
Pada akhirnya ia hanya pasrah, membiarkan seluruh kesedihan menggerogoti akal pikiran dan kesadarannya. Kehidupannya bersama suami menjadi hambar. Tidak sehangat dulu saat awal menikah atau bahkan saat anak semata wayang lahir.
Lambat laun suaminya semakin menjadi, ia tidak sengaja melihat notif di handphone suami. Sebuah pesan singkat masuk, sebuah kata singkat tertulis di notif pesan tertulis “Sayang” dari seorang wanita. Seketika itu ia seakan disambar petir di siang bolong.
__ADS_1
Benang kusut yang menyelimuti hatinya belum juga terurai, sekarang ditambah kata-kata menjijikkan ia dapati di handphone suami. Semakin gelap rasanya pandangan wanita ini pada dunia. Segala kebaikan dunia selama ini seolah runtuh di kepalanya. Memenuhi setiap sendi-sendi kehidupannya.
Ia sudah tahu sekarang suaminya selingkuh. Bahkan ia mendengar desas-desus tetangga bahwa suaminya bersama wanita lain. Ia tahu betul karena suaminya sudah jarang pulang ke rumah, beralasan jika pekerjaan kantor tidak bisa ditinggal dan harus menginap di kantor.
“Ahh… capek rasanya,” suara lirih terdengar dari bibir wanita ini.
Hari sudah hampir maghrib. Semerbak warna jingga memenuhi langit sore ini. sebentar lagi petang menghampiri taman ini. Ia seharusnya segera beranjak dari bangku taman, dan segera pulang ke rumah. Sayangnya, berat rasanya ia untuk berdiri dan beranjak dari tempat itu.
Saat pikirannya menyadari hari yang semakin sore, terdengar langkah mendekat. Wanita ini menoleh ke samping, ia melihat seorang laki-laki mendatanginya dan mengulurkan tisu kepadanya.
“Saya lihat dari tadi mbaknya membutuhkan tisu untuk mengusap kesedihan dalam..” Lelaki itu lalu duduk di sebelah wanita ini selepas memberikan tisu.
“Terima kasih..” ucap wanita itu. Entah sadar apa tidak ia menerima uluran tisu tersebut. padahal selama ini ia tidak semudah itu mau dekat dengan lelaki lain bahkan orang asing yang tidak dikenalnya.
“Semua manusia di dunia ini tidak luput dari masalah, mbak” lelaki itu berkata. “Kadang ada orang yang terlihat biasa saja, sebenarnya menaggung beban hidup yang berat. Kadang pula ada yang terlihat selalu tersenyum namun sebenarnya ia memendam kesedihan yang luar biasa.” Lelaki itu seolah member petuah bijaknya.
Wanita itu diam tak menyahut kata-kata lelaki yang duduk di sebelahnya.
“kudapati pria lain yang tidak saya kenal sedang tidur di kamar bersama istri saya.” Terdengar rasa sesak dari kata-kata lelaki tersebut. secara reflek wanita di samping pun menoleh kearah lelaki itu.
Ia melihat seorang lelaki yang tampan dan gagah menurutnya. Wajahnya bersih dan berpenampilan necis. Ia menyadari jika bau wangi yang ia hirup barusan adalah wangi parfum lelaki ini, bukan wangi bunga di taman.
Lelaki itu melanjutkan ceritanya kembali, “kemudian pria itu saya usir, setelah kepergian pria tersebut, ternyata istri saya juga ikut pergi dengan membawa seluruh pakaiannya termasuk perhiasan dan seluruh dokumen kependudukan. Ia mengirim pesan di nomer saya secara singkat dan tegas.. terulis ‘Kita cerai!’ tanpa ada kata yang lain.”
“Jauh-jauh saya pulang dari luar negeri hanya untuk melihat perselingkuhan istri dengan pria lain” lelaki itu menghentikan cerita hidupnya.
“Lalu, apa yang terjadi selanjutnya?” Tanya wanita itu mulai tertarik dengan cerita lelaki tersebut.
__ADS_1
“Istriku mengajukan perceraian dan aku menyetujuinya” lelaki itu menceritakan kelanjutan kisahnya. “Tidak lama kemudian mereka menikah, saya ketahui dari akun media sosial miliknya yang share foto pernikahan mereka.” Lelaki itu menghembuskan nafas pelan.
“Setelah itu saya sadari bahwa saya tidak perlu jauh-jauh ke luar negeri untuk mengejar kebahagiaan. Lalu, mbak masalahnya apa? Hingga sampai kondisinya memprihatinkan begini?” lelaki tersebut mencoba masuk mendengar cerita hidup wanita itu.
“Hufff…” wanita itu menghembuskan nafas ternyata ia tidak sendirian mendapatkan ujian hidup seperti ini. orang lain juga memiliki kesedihan yang hampir sama. Merasa senasib, wanita itu pun mulai bercerita, “ hampir sama mas, tapi semua itu berawal sejak kepergian anak kami” wanita itu pun menceritakan kisah hidupnya panjang lebar hingga kondisinya sekarang. Di akhir cerita ia menangis sesenggukan, menumpahkan segala kesedihannya.
Hari sudah gelap saat cerita itu usai. Wanita itu tidak menyadari bahwa ia telah semakin jauh ngobrol dengan lelaki yang bahkan belum dikenalnya sama sekali. Ia hanya tahu bahwa ada orang yang perhatian padanya. Dan hal itu sudah lama tidak ia rasakan.
Ia seolah mendapatkan teman senasib, ia pun ngobrol banyak dengan lekaki itu. Bahkan malam yang larut tidak pula menyurutkan komunikasi mereka berdua. Wanita itu merasa mendapatkan bahu untuk bersandar, menyandarkan lelah yang menggantung di hatinya.
Mereka sudah jauh meluapkan curahan hati masing-masing hingga tanpa disadari mereka seolah sepasang kekasih yang larut dan saling menguatkan. Mereka sudah duduk berdekatan, tubuh mereka menempel. Bahkan kepala wanita itu bersandar di bahu lelaki itu. Semakin lama tangan lelaki tersebut sudah merangkul wanita itu. Baju bagian dada lelaki tersebut sudah basah oleh tangisan wanita itu yang sudah tenggelam di dada bidang lelaki tersebut.
Sesaat wanita itu menengadah ke atas, ia lihat wajah lelaki yang baru dikenalnya itu begitu tampan. Lelaki tersebut pun memandangi wajah wanita di depannya, cantik sekali jika ia tersenyum. Seketika itu pula lelaki tersebut berhasrat untuk menciumnya.
Gayung pun bersambut, mereka berdua berpagut dalam tangan lelaki itu pun erat memeluknya. Namun hanya sebentar, ini adalah taman umum. Mereka berdua menyadari hal itu.
“Kita pindah yuk, ke tempat lain” kata lelaki tersebut.
“Kemana mas?” Tanya wanita itu tercekat, ada perasaan luar biasa yang sudah lama hilang telah muncul kembali.
“Ya tempat yang nyaman.” Lelaki tersebut menjawab menahan hasratnya yang meluap.
“Maksudnya?” kembali wanita itu bertanya meski ia sebenarnya mengerti maksud lelaki tersebut. ia pun menginginkannya. Namun ada perasaan tak menentu dari dalam hatinya. Seolah ada bisikan dan bersalah.
“Ke rumahku, kita makan dan kamu bisa menginap di rumahku” kata lelaki tersebut.
Bak disambar gledek, wanita itu pun mulai menyadari kesalahannya. Ia telah dekat dengan lelaki yang tidak dikenalnya, bahkan tidak tahu siapa dia dan namanya pun belum ia ketahui karena sejak tadi hanyut dalam cerita masing-masing dan merasakan kenyamanan.
__ADS_1
“Maaf mas, aku telah khilaf dan salah. Aku telah terbawa olehmu. Dan terlupa akan diriku sendiri.” Selesai berkata demikian, wanita itu pergi meninggalkan lelaki tersebut. Wanita itu kembali menangis pilu dalam perjalanan.
“Apa yang aku lakukan barusan adalah kesalahan fatal. Tidak seharusnya aku melakukan hal tadi. Apa bedanya aku dengan suami jika aku juga berselingkuh. Tuhan, ampuni aku.”