Cinta Romantis

Cinta Romantis
Gadis Kerudung Kuning


__ADS_3

Sudah seminggu ini tanpa sengaja kulihat gadis berkerudung kuning di rumah tetangga sebelah.


Pagi sebelum matahari muncul dengan semburat merah jingganya. Wanita muda itu sudah selesai dengan pekerjaan menyapu halaman, mencabuti rumput liat dan menyirami beberapa bunga yang mekar di depan rumahnya. Entahlah, aku diam-diam mencuri pandang kepadanya setiap kali hendak melemaskan badan dan mencari keringat. Kadang sengaja kuperlama olahraga demi mendengar perempuan itu melantunkan shalawat di tengah aktivitasnya. Sejuk.


Pagi ini, seperti biasa dengan kerudung pasmina warna kuning kalem, dia berjibaku dengan daun-daun yang berjatuhan dari pohon jambu miliknya. Sesekali ia cincing rok yang menjuntai agar tidak kotor oleh tanah yang basah oleh air bekas siraman.


"Le, ini pohongnya sudah mateng." Suara Emak membuyarkan lamunanku. Bergegas menghampiri Emak yang duduk di balai-balai depan rumah.


"Gadis di rumak Lek Sum itu siapa, Mak?" Aku masih belum bisa menghilangkan rasa penasaranku.


"Yo anaknya Lek Sum, Le. Mosok kowe lali Le sama Midah yang dulu sering kau ajak ambil jambu depan rumah itu."


Mendengarkan cerita Emak membuatku senyum-senyum sendiri. Ternyata, anak kecil yang dulu masih umbelen(ingusan) dan sering kugendong itu ternyata sekarang sudah menjadi perawan nan cantik.


Midah masih SD ketika aku sudah menginjak bangku sekolah menengah. Setelah itu, aku beranjak ke kota untuk melanjutkan studi di sebuah kampus ternama dan belum menetap kembali di kampung ini setelah lulus. Sekarang ini, aku bahkan hanya mengambil cuti dari tempat kerjaku sehingga bisa berlama-lama bercengkerama dengan wanita yang melahirkanku ini.


"Kok setiap aku pulang jarang ketemu dia, Mak?"


"La Midah kan mondok, yo jelas ae gak moleh-moleh, Le."


Aku masih tak bisa menahan kegelihanku mendapati Midah yang dulu cengeng minta ampun kini telah menjelma menjadi gadis ranum.


"Assalamu'alaikum, Cak Agus. Ngapunten Midah mau nanya-nanya."


Panjang umur perempuan ini. Belum selesai benak ini memikirkannya. Saat ini dia sudah ada di depan mataku.


"Waalaikum salam, ini Midah, ya?"


"Enggeh, Cak."


"Ternyata wes gede. Mau tanya apa?" tuturku sedikit mengoda. "Eh, iya, tidak usah boso, ngoko ae gak apa-apa, Da?"


Ia tersenyum. Menambah ayu di wajahnya.


"Midah mau kuliah, Cak. Kata Bue suruh tanya sama sampean saja."


"Oke, Midah mau ambil jurusan apa? Mau kuliah di mana? Mau jalur tes apa jalur mandiri?" Tiba-tiba aku bersemangat untuk berbincang dengannya.

__ADS_1


"Tanyanya satu-satu, Cak, biar Midah tidak binggung."


Ternyata berbicara dengan gadis berkerudung ini membuat segala setres yang aku rasakan akibat pekerjaan menjadi hilang.


Kuterangkan perihal berbagai informasi yang ia butuhkan. Ia yang mengganguk mendengar segala apa yang kukatakan. Obrolan kami berakhir ketika Lek Sum datang dan ikut nimbrung. Mereka berdua pamit setelah terjawab semua tanya.


Aku masih memandangi kerudung yang berkelebat sebab tertiup angin. Ah sepertinya aku betah di kampung sekarang.


***


Jatah cuti dua minggu telah berakhir. Aku kembali sibuk dengan segala aktivitas kantor yang dulu selalu menjemukan. Tapi saat ini gairah kerjaku berbeda sejak bertemu dengan perempuan berkerudung itu.


Lelah itu seperti tak berasa lagi.


"Cak, aku sudah mendaftar di kampus yang sampean sarankan. Doakan lulus, ya?"


Pesan yang masuk membuat semangat semakin meningkat. Tentu saja aku berharap agar anak Lek Sum ini bisa diterima di kampus yang dia inginkan. Di kota yang sama tempat aku mengais rezeki.


"Aku berharap juga begitu, Midah. Biar aku bisa ngapeli kamu?" Tak lupa kusematkan emot tertawa pada pesan yang terkirim.


"Hemm"


"Binggung mau jawab apa."


"Gak suka, ya?"


"Tidak."


"Terus?" cecarku.


"Ya, gak apa-apa."


"Jangan-jangan ada yang marah?"


Belum ada balasan di pesan terakhir yang terkirim. Berkali-kali kupandangi gawai, melihat barangkali sudah ada jawaban. Sejam. Dua jam dan beberapa jam kemudian menjelang pulang kantor belum ada jawaban juga. Nihil.


Kulangkah kaki menuju parkiran. Membelai jalanan yang ramai oleh para pekerja yang hendak mengistirahatkan tubuhnya. Sebelum sampai kontrakan, tak lupa mampir warung makan depan kos. Mengisi perut yang sedari siang kerocongan karena lupa makan sebab terlalu senang berbalas pesan dengan si gadis berlesung pipi itu.

__ADS_1


Menguyur tubuh dengan air dingin dan merebahkan tubuh di kasur membuat payah berangsung menghilang. Netra ini hendak terpejam ketika suara gawai mendentingkan gendang telingga.


"Tidak ada yang marah. Hanya Midah takut Cak Agus main-main. Bue menyuruh pacarannya setelah nikah saja biar tidak dosa."


Ya Allah, aku lupa gadis ini lulusan pesantren tentu tidak sama dengan perempuan-perempuan yang kukenal dulu.


Untuk beberapa saat aku termenung tapi segera kuhalau segala ragu. Sepertinya aku harus memberanikan niatku. Emak pun juga sudah sering meminta ini dariku. Pun aku tahu seperti apa perempuan ini. Segera kukirim pesan agar menambah keyakinan.


"Kalau kita pacaran setelah dihalalin. Midah sudah siapkah?"


"Midah siap saja, tapi Cak Agus yang harus meminta izin pada Bue dan Pae. Mereka berdua menginginkan Midah melanjutkan sekolah sebenarnya."


"Oke biar itu menjadi urusanku. Yang terpenting engkau mau denganku, Midah."


***


Dua minggu sudah berlalu sejak kutanyakan perasaan Midah. Untuk kesekian kalinya, aku harus kembali pulang ke kampung halaman. Semoga Emak merestui rencanaku.


"Kamu benar-benar siap ta, Gus?" tanya Emak masih meragu.


"Siap, Mak."


"Lha Midah kan mau disekolakan lagi sama orang tuanya."


"Aku sudah berpikir untuk itu, Mak, yang penting Emak mau mengantarku ke rumah Lek Sum dan Uwak Supri.


Malam itu, berdua dengan Emak kutunaikan hajatku pergi ke rumah yang memiliki pohon jambu di depan rumah.


Terlihat kembali Midah memakai kerudung pasmira kuning dengan baju batik semburat warna senada.


Kedua orang tua Midah menyambut kehadiranku dengan suka cita. Mereka sempat kaget dengan keinginanku datang ke rumah mereka.


Pembicaraan kami ternyata membutuhkan cukup banyak waktu, terutama perihal keinginan mereka untuk memberi pendidikan yang baik bagi Midah.


Pasrah itu yang kulakukan. Menunggu beberapa menit agar orang tua Midah bisa berbicara berdua saja.


Setengah jam berikutnya, bapak Midah yang diikuti langkah kaki ibunya, duduk tetap di depanku.

__ADS_1


"Baiklah kami setuju agar Midah bersekolah kembali dengan lelaki yang menjadi penanggung jawabnya."


Ruang rasa, 28 Juni 2020


__ADS_2