
Malam kian larut ketika Arthur menghentikan mobil Bugatti miliknya di pinggiran jalan raya kota Barcelona. Napasnya memburu beriringan dengan gejolak emosi yang tidak kunjung mereda. Hingga Arthur memutuskan untuk membakar sebatang rokok untuk dihisap. Sembari berharap kecamuk di pikirannya segera menghilang.
Saat dering ponsel mengganggu ketenangannya, Arthur segera menerima panggilan yang masuk tanpa melihat nama si pemanggil.
“Kau di mana, Arthur?”
Itu suara ayah tirinya. Pria tua bangka yang menjadi sumber kekacauan terbesar di dalam kehidupan Arthur. Demi apa pun, Arthur begitu membenci pria itu hingga rasanya dia ingin segera mengirim pria itu ke neraka.
“Apa kau tidak dengar Ayahmu sedang berbicara?!” sentak seorang wanita yang tidak lain tidak bukan adalah Marine, ibu kandung Arthur.
“Dia bukan Ayahku,” desis Arthur marah.
“Jaga bicaramu, Arthur!” peringat Marine.
Bahkan, hanya dari panggilan telepon saja Arthur sudah tahu seberapa dalam ibunya telah terjerumus ke jurang manipulasi suami barunya, Thomas. Terbukti dari keberanian wanita paruh baya itu dalam mengambil sikap kerasnya kepada Arthur. Hingga Arthur sendiri merasa tidak nyaman karena Marine terlalu mengekang dirinya.
Tanpa sadar, nada suara Arthur meninggi ketika berkata, “Hanya karena dia menikahi Mama, lantas bisa menjadi pengganti Ayahku yang sesungguhnya? Tidak akan pernah bisa, Mama.”
“Lupakan soal Ayahmu. Raganya sudah hancur menjadi abu, Arthur. Tidak ada gunanya kau terus melibatkan orang yang sudah tiada di kehidupan kita,” bentak Marine.
Arthur memaki di dalam hati. Jika sudah begitu, dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Karena Arthur tahu semuanya akan menjadi semakin rumit ketika ia meneruskan perdebatan ini.
“Sekarang apa lagi yang Mama inginkan?” tanya Arthur tanpa banyak berpikir.
“Kembalilah menemui teman kencanmu,” perintah Marine.
Arthur menghembuskan asap rokoknya hingga memudar di udara. “Aku sudah menemuinya beberapa waktu yang lalu. Dia sama saja dengan perempuan-perempuan yang sebelumnya,” ucapnya.
“Kau hanya butuh waktu lebih lama lagi untuk mengenal Eldora, Arthur. Berkencanlah dengannya lagi untuk beberapa waktu ke depan agar kalian dapat merasakan kecocokan satu sama lainnya,” perintah Marine lagi.
Tangan Arthur mengepal kuat. Jika saja ia tidak memikirkan perasaan sang ibu tercinta, mungkin amarahnya sudah ia luapkan sejak tadi. Namun, seperti yang sudah pernah terjadi, pada akhirnya Arthur hanya akan mengeluarkan bantahan lewat kalimatnya. Itu pun harus diutarakan dengan cara yang lembut.
__ADS_1
“Turuti saja kemauan Mamamu, Arthur. Dia hanya ingin kau menemukan wanita terbaik,” timpal Thomas.
Tanpa disadari oleh Thomas, justru pria itu, lah, yang lebih banyak membuat Arthur naik pitam. Semenjak pria tua bangka itu datang dan menikahi Marine, hidup Arthur menjadi tidak senyaman dulu. Setiap detik waktu yang berganti, Arthur selalu mendapatkan perintah dari Marine untuk melaksanakan sesuatu.
Arthur merasakan hidupnya tidak sebebas dahulu. Thomas selalu punya cara membuat Marine menuruti keinginannya, yakni memaksa Arthur melakukan apa pun yang ia rencanakan. Bahkan, untuk urusan wanita sekalipun.
“Arthur!” panggil Marine.
Sembari menghela napas berat, Arthur meletakkan jarinya pada ikon berwarna merah yang berfungsi untuk mengakhiri sambungan telepon mereka. Selama beberapa saat, ia menahan jarinya agar tidak menggeser ikon itu.
“Tidak, Mama. Aku tidak akan kembali menemui wanita itu, begitu juga dengan wanita-wanita pilihan Mama yang lainnya.”
Setelah menarik napas dalam-dalam, Arthur kembali mengeluarkan suara. “Tolong, mengertilah keadaanku, Mama. Aku akan menikah, akan tetapi ada masanya sendiri nanti. Setelah aku menemukan seseorang yang benar-benar aku inginkan. Berhenti memaksaku menemui wanita mana pun, karena itu tetap tidak akan mengubah keputusanku,” ucapnya.
“Wanita yang pantas denganku, tidak akan pernah ada di dalam daftar wanita yang kau pilih, Mama.”
Selanjutnya Arthur benar-benar mengakhiri panggilan itu. Ia terlalu lelah meladeni segala jenis paksaan dari Marine. Bahkan, Arthur sampai melepaskan kartu SIM ponselnya agar tidak terus-terusan diteror panggilan oleh sang ibu.
Setidaknya untuk beberapa saat ke depan, dia akan menikmati waktunya di sini.
Setidaknya sampai Marine menyadari bahwa perilaku dan tindak tanduknya itu berpotensi besar menghancurkan hubungan ibu dan anak di antara mereka berdua.
“Permisi, Tuan!”
Fokus Arthur teralihkan saat seorang wanita datang menghampiri mobilnya. Dia amati wanita itu dari atas ke bawah untuk memberikan penilaian. Penampilannya cukup sederhana. Namun, kecantikan yang terpancar dari diri wanita itu cukup menarik perhatian.
Ditambah dengan bentuk tubuh yang luar biasa indah membuat wanita itu tampak begitu anggun dan modis. Seperti gambaran seorang model yang cocok memakai pakaian apa saja.
“Ya. Ada perlu apa?” tanya Arthur dingin.
Wanita itu tampak ragu mengutarakan maksud dan tujuannya menghampiri Arthur. Semua terbukti dengan kedua tangannya yang tidak berhenti saling meremas satu sama lain. Serta ekspresi wajah kebingungan yang tidak bisa dia sembunyikan.
__ADS_1
“Maaf aku lancang mengatakan ini, Tuan. Akan tetapi, aku sungguh membutuhkan bantuanmu,” ucap wanita itu.
“Bantuan apa?” Arthur bertanya dengan sikap dingin yang masih tidak berubah.
“Ada masalah dengan kipas angin besar di restoranku. Sekrupnya terlepas dan aku takut kipas itu akan jatuh menimpaku kapan saja. Tidak ada orang yang bisa aku mintai bantuan selain dirimu di malam selarut ini. Restoran-restoran tetangga pun sudah tutup saat ini,” jawab wanita itu.
“Tidak bisa. Aku sibuk,” balas Arthur.
Wanita itu gelagapan saat Arthur bergerak menyalakan mobilnya. Dengan wajah penuh permohonan, wanita itu berkata, “Aku mohon, Tuan. Aku akan membuatkan makanan terlezat untukmu. Kau ingin apa? Aku bisa membuatkan Patatas Bravas, Albondiges, Gazpacho, Empanada, dan Crema Catalana. Atau kau menginginkan makanan dari Italia? Aku bisa membuatkannya untukmu. Kau harus tahu, Tuan. Makanan dari restoranku adalah yang paling lezat di sini.”
Arthur tidak lagi menggubris wanita itu. Dia menginjak pedal gas hingga mobil pun berjalan menjauh dari tempat wanita itu berdiri. Hanya saja baru beberapa meter mobilnya bergerak meninggalkan tempat itu, tiba-tiba perut Arthur berbunyi nyaring. Memberitahukan kepada tuannya bahwa ia belum diberi asupan makanan apa pun sejak siang tadi.
“Sialan!” maki Arthur karena kesal pada rasa lapar yang tidak bisa diajak berkompromi.
Tanpa pikir panjang, Arthur memutar balikkan mobil yang ia kendarai menuju tempat wanita yang meminta bantuannya tadi. Hingga ia menemukan wanita itu masih di posisi semula. Sementara ekspresi bingung masih setia berada di wajah cantiknya.
Arthur keluar dari mobil dan berdiri menjulang tinggi tepat di hadapan wanita yang tingginya tidak sampai sebatas lehernya.
“Tunjukkan jalannya padaku!” perintah Arthur.
Mata wanita itu berbinar mendengar perkataan Arthur. Dengan riang ia melangkah mendahului Arthur untuk menuntun pria itu menuju restoran miliknya.
“Ini kipas yang perlu diperbaiki. Aku sudah mencoba memperbaikinya tadi, tapi tinggi badanku tidak sampai untuk menyentuh tempat sekrupnya,” ucap wanita itu memberitahukan masalah utamanya.
Kondisi kipas angin itu lebih buruk dari yang dibayangkan oleh Arthur. Ia yakin sekrup-sekrup itu tidak akan bertahan lama dalam menahan berat kipas angin itu sendiri. Terlebih kipas angin itu diletakkan di tengah-tengah ruang pelanggan, sehingga berpotensi besar membahayakan keselamatan orang-orang di sekitarnya.
“Kau memiliki sekrup cadangan yang masih baru?” tanya Arthur.
Wanita itu mengangguk. Baru saja dia mengambil satu langkah untuk mengambil sekrup yang baru, tiba-tiba suara benda patah mengejutkan mereka berdua.
Kepanikan menyelimuti hati wanita pemilik restoran itu. Ia pun menoleh ke atas untuk melihat ke arah kipas angin di atas sana. Namun, belum sempat ia melihat keadaan kipas itu, tubuhnya ditarik mundur hingga jatuh tersungkur di lantai. Disusul suara benda jatuh yang lumayan keras di dekatnya.
__ADS_1
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Arthur kala mendapati wanita itu hanya diam membisu menatap ke arah kipas besar yang jatuh mengenaskan di atas lantai.
Hingga beberapa saat lamanya wanita itu masih diam tak mengeluarkan reaksi apa pun.