
Suara pendeteksi kode jual menjadi fokus utama orang-orang yang sedang berada di dalam antrean. Satu persatu antrean di depan Belle mulai berkurang karena orang-orang itu mulai meninggalkan minimarket bersama sekantung plastik berisikan belanjaan masing-masing. Hingga tiba di saat belanjaan Belle dihitung totalnya, tiba-tiba sebuah tangan terulur di dekat Belle.
“Untuk pembayarannya pakai kartu ini saja,” ucap seorang pria yang berdiri di dekat Belle. Dia mengulurkan sebuah kartu debit kepada pria yang menjaga kasir.
Belle menoleh untuk menatap wajah pria di sampingnya. Dengan senyum mengembang indah, Belle berseru gembira menyebutkan nama pria itu.
“Aland!”
Pria bernama Aland—yang tidak lain adalah sepupu Belle itu, memamerkan senyuman termanis yang ia punya untuk membalas sapaan gembira Belle.
“Hai, Belle. Lama kita tak bertemu,” sapa Aland.
Selama beberapa saat, Aland terpesona pada kecantikan sempurna yang terpancar dari dalam diri Belle. Semuanya masih tetap terlihat sama seperti terakhir kali dirinya bertemu wanita itu. Belle masih menduduki peringkat teratas untuk kategori wanita tercantik di dalam hidup Aland.
Setelah menerima barang-barang belanjaannya, Belle pasrah saja mengikuti ke mana pun Aland membawa dirinya. Hingga saat ini mereka berdua berada di dalam mobil Bugatti kebanggaan Aland sejak satu tahun yang lalu. Mereka berkendara membelah jalanan malam di kota Barcelona menuju restoran milik Belle.
“Mengapa kau menatapku seperti itu, Belle?” tanya Aland saat dia menyadari tatapan Belle sama sekali tidak beralih dari dirinya.
Belle terkekeh kecil mendengarnya. “Bukan apa-apa. Aku hanya sedang memastikan bahwa yang kulihat saat ini bukan mimpi atau halusinasi belaka,” jawab wanita itu.
Tawa Aland menggelegar menyaksikan keluguan Belle yang tidak pernah berubah. Perlahan, tangan pria itu terulur untuk mengusap puncak kepala Aland dengan penuh kasih sayang. Perasaannya membuncah bahagia kala melihat Belle menikmati usapan tangannya.
“Kau sedang terjaga, Belle. Jadi, semua ini bukan mimpi. Aku benar-benar Aland Davidson yang kau nantikan selama ini,” ucap Aland.
Meskipun awalnya ragu, Belle pun mulai memberanikan diri untuk mengulurkan tangannya pada wajah Aland. Kelembutan kulit wanita itu berhasil membelai rahang tegas yang begitu ia sukai dari sosok Aland. Menciptakan kehangatan tersendiri bagi tubuh Aland.
“Aku bahagia bisa menemuimu lagi, Belle. Aku pikir, setelah semua yang dilakukan keluargaku padamu, kau tak sudi lagi bertemu denganku,” bisik Aland setelah menghentikan mobilnya di depan restoran sederhana milik Belle.
__ADS_1
Jika diperhatikan dengan saksama, mungkin Aland akan menemukan senyuman manis Belle sedikit memudar dibandingkan sebelumnya. Hanya saja, Belle pandai menutupi itu dengan senyuman yang baru. Sehingga Aland tidak akan mengetahui kemurungan di dalam diri Belle ketika membahas tentang perlakuan keluarganya pada Belle.
“Mau makan Churros atau Empanada? Aku bisa buatkan untukmu,” tawar Belle untuk mengalihkan topik.
Seperti biasa, Belle terang-terangan menunjukkan keengganannya setiap kali Aland membahas tentang perlakuan buruk keluarganya pada Belle. Entahlah. Belle hanya tidak ingin hubungannya dengan Aland memburuk karena terlalu terbelenggu pada rasa sakit hatinya pada keluarga Aland.
Aland memberikan senyum termanisnya pada Belle. “Sepertinya perutku akan kekenyangan malam ini,” ucapnya.
Belle tertawa mendengarnya. “Jika kau mau, aku juga bisa memasakkan Percebes untukmu. Kebetulan aku masih punya persediaan untuk satu porsi,” ucap Belle.
Aland menganggukkan kepala penuh semangat. “Baiklah, mari kita berpesta makanan lezat untuk merayakan pertemuan kita!” serunya gembira. Kemudian dia tertawa bersama dengan Belle.
***
Arthur menghempaskan tubuh penatnya pada kasur empuk di kamar utama Penthouse yang baru saja ia beli dari salah satu kolega bisnisnya di Spanyol. Setelah hampir dua hari dirinya tidak beristirahat dengan nyaman, akhirnya pada malam hari ini dia bisa menikmati waktu istirahat dengan bersantai di atas ranjang.
Sejak membantu memasang kipas angin di restoran milik wanita bernama Belle, Arthur merasakan ada yang aneh di dalam kehidupannya sehari-hari. Seperti saat ia memakan setiap makanan yang ia beli di restoran terkenal, bayangan cita rasa lezat dari makanan yang dimasak Belle membuat selera makan Arthur menghilang. Sehingga pola makan Arthur menjadi tidak teratur seperti sebelumnya.
“Makanan yang dimasak Belle memang sangat lezat. Namun, tak kusangka efeknya akan jadi seperti ini. Rasa-rasanya berat badanku telah banyak berkurang karena tidak berselera makan,” bisik Arthur.
Tepat setelah kalimat itu selesai diucapkan, suara gemuruh perut Arthur mengudara. Membuat sang tuan berdecak kesal karena rasa lapar kembali datang. Seperti sebelumnya setiap kali Arthur mengingat-ingat cita rasa masakan Belle.
“Belle, sebenarnya sihir apa yang kau tambahkan dalam masakanmu? Mengapa aku menjadi seperti ini?”
Pertanyaan-pertanyaan Arthur tidak akan pernah menemukan jawaban. Karena Arthur tak pernah menanyakan langsung kepada Belle mengenai hal itu. Lagi pula, mamangnya di jaman modern seperti ini masih ada yang mempercayai ilmu sihir atau sejenisnya?
Arthur menggeleng untuk menolak argumentasi tidak penting itu.
__ADS_1
“Yang benar saja,” gumam Arthur menertawai dirinya sendiri.
Perut Arthur kembali bergemuruh. Mengingatkan sang tuan untuk segera memberikan makanan yang layak.
Hanya saja, yang menjadi pertanyaan adalah haruskah Arthur kembali datang ke restoran Belle? Seperti yang pria itu inginkan semenjak berhari-hari yang lalu.
“Ini tidak bisa dibiarkan,” ucap Arthur.
Pria itu memutuskan untuk menuruti keinginannya. Mendatangi restoran Belle untuk mendapatkan makanan lezat seperti yang Arthur inginkan. Setidaknya itu pilihan terbaik daripada Arthur harus menahan rasa lapar sialan itu lebih lama lagi.
“Selamat malam, Tuan Arthur,” sapa penjaga basemen ketika berpapasan dengan Arthur.
Arthur mengangguk singkat. Sebelum akhirnya meninggalkan basemen bersama mobil Bugatti terbaru miliknya.
Arthur melaju di jalan raya Barcelona di malam hari. Mengingat-ingat kembali pada rute jalan yang harus ia lewati agar bisa sampai di restoran Belle. Hingga hampir setengah jam lamanya, akhirnya Arthur dapat memarkirkan mobilnya di depan restoran Belle. Tepat bersebelahan dengan mobil Bugatti tipe lama yang juga terparkir rapi di depan restoran Belle.
“Ada pelanggan?” tanya Arthur heran.
Ketika ia menoleh ke arah pintu masuk, label penanda restoran tutup sudah terpasang di daun pintu. Namun, seluruh lampu di dalam restoran masih menyala, sehingga Arthur menerka-nerka bahwa masih ada di dalam sana. Begitu pula dengan keberadaan mobil di halaman restoran ini cukup membuat Arthur yakin tebakannya benar.
Baru saja hendak melangkah kembali mendekati pintu masuk, langkah Arthur terhenti kala matanya menemukan Belle muncul bersama seorang pria. Dinding kaca pada restoran itu membuat Arthur dapat melihat jelas apa yang terjadi di dalam sana.
Pria itu menarik Belle mendekat sehingga tubuh mereka berdua menempel dengan sempurna. Bibir mereka saling bertautan sama lain. Saling ******* dengan gairah yang jelas terlihat.
Sampai saat pria itu mulai mendudukkan tubuh Belle di atas meja dan menyentuh setiap jengkal tubuh bagian atas Belle, Arthur tidak tahan lagi membiarkan semua itu terjadi. Dengan cepat dia melangkah menuju pintu, kemudian membukanya. Membuat lonceng di atas pintu berbunyi dan berhasil membuat Belle mendorong tubuh pria yang tengah berciuman dengannya.
“Arthur!”
__ADS_1