
Setelah kepulangan Arthur dari restorannya, Belle membersihkan semua peralatan masak beserta peralatan makan yang tadi digunakan Arthur untuk menikmati hidangan yang disajikan Belle. Meskipun waktu tidurnya telah tiba sejak beberapa menit yang lalu, Belle tetap bersikeras mencuci seluruh peralatan yang kotor. Karena dia bukanlah tipikal orang yang gemar menunda-nunda pekerjaan.
Namun, tiba-tiba di depan keran tempat pencucian piring, Belle terpaku. Bayangan wajah Aland tiba-tiba melintas di ingatan Belle. Menyelusup tanpa meminta izin, sehingga membuat Belle tersenyum-senyum sendiri.
Tanpa diminta, ingatan Belle mengingat kembali momen kebersamaannya dengan Aland. Setelah satu tahun ini Belle mendapati dirinya kesepian tanpa kehadiran Aland di dekat sini, rasanya sangat menakjubkan karena kini Belle dapat menyentuh sosok Aland dalam bentuk nyata. Bukan sekadar ilusi maupun halusinasi belaka.
“Aku yakin ini bukan mimpi,” gumam Belle di sela-sela senyumannya.
Aland di sini. Laki-laki yang telah berhasil merebut seluruh perhatian Belle itu benar-benar telah kembali. Sebuah kenyataan yang begitu manis karena Belle menjadi orang pertama yang dihampiri oleh Aland saat kepulangannya ke Barcelona.
Sulit dipercaya, tapi semua yang baru saja terjadi adalah kenyataannya. Termasuk ciuman yang menggabungkan perasaan cinta dan gairah dati Aland beberapa waktu lalu. Bahkan, hingga sekarang jejak-jejak sensasi dari kecupan Aland masih terasa membekas di tubuh Belle.
“Mengapa aku tak bisa melupakan ciuman itu?” tanya Belle entah pada siapa. Mungkin, pertanyaan itu ia lontarkan untuk dirinya sendiri. Karena biar bagaimanapun, Belle yang paling tahu semua hal dari perasaannya sendiri.
“Ayolah, Belle. Jangan terus-terusan mengingat ciuman itu. Kau bisa gila jika terlalu lama mengingatnya,” bisik Belle pada dirinya.
Hingga akhirnya Belle dapat mengembuskan napas lega. Kala ia lihat seluruh peralatan kotor tadi telah selesai ia bersihkan dan sudah kembali dengan rapi ke tempat semula.
“Saatnya tidur,” ucap Belle.
Bersamaan dengan ucapannya itu, Belle menguap cukup lebar. Matanya sudah terasa berat saat ini. Mungkin ketika ia menjatuhkan diri di atas ranjang nanti, Belle akan langsung jatuh tertidur dengan begitu lelap.
Sayang sekali, sepertinya Belle masih tidak memiliki kesempatan untuk merangkak ke atas kasur miliknya. Ketika telinga wanita itu menangkap suara ketukan di pintu masuk restoran, Belle tah dirinya harus menunda tidurnya lagi.
“Siapa yang datang malam-malam begini? Apa dia sudah gila untuk membangunkan seseorang yang telah tertidur?” tanya Belle pada udara di sekitarnya.
Konyol memang. Itu adalah pertanyaan yang amat sangat tidak masuk akal. Karena Belle jelas tahu sekeras apa pun ia bertanya, tidak akan ada yang menjawabnya.
Belle berusaha mengabaikan ketukan itu. Persetan dengan siapa saja yang ada di depan sana. Seharusnya orang itu pun menggunakan logikanya untuk memikirkan waktu selarut ini. Sudah masuk waktunya beristirahat. Bahkan, Belle yakin para tetangganya sedang asyik mengukir mimpi mereka masing-masing.
__ADS_1
Belle lebih memilih masuk ke dalam kamar, lalu mencoba menyelam ke dalam bunga tidur yang terindah. Sampai Belle dapat melupakan seberapa besar penderitaan yang telah ia tanggung seorang diri di dunia ini.
***
“Belle!”
Seruan dari Louis mengejutkan Belle dari aktivitas memeriksa persediaan sayur dan buah-buahan untuk menu makan di restorannya hari ini. Pria yang masih menjadi karyawannya sejak beberapa bulan lalu itu datang dengan wajah panik untuk menghadap ke arah Belle. Entah apa yang terjadi, sehingga pria itu terlihat begitu ketakutan.
“Ada apa, Louis? Kau mengejutkanku.” Belle bertanya disertai protes setelahnya.
Tangan Louis bergerak-gerak menunjuk ke arah luar restoran. “Apa kau sudah keluar dari restoran hari ini?” tanyanya.
Belle menggeleng. Dia menjawab, “Sejak pagi tadi aku di sini memeriksa persediaan bahan masakan.”
“Oh, Tuhan! Bagaimana ini?” Louis tampak begitu terkejut dengan jawaban Belle.
Sikap yang terlalu aneh hanya untuk merespons jawaban sesederhana itu. Membuat Belle kebingungan sendiri karena Louis benar-benar terlihat aneh di matanya.
Setelah menarik napas dalam-dalam, akhirnya Louis mampu memberitahukan penyebab dirinya bersikap demikian. “Di luar sana ada seorang pria yang tengah sekarat, Belle. Wajahnya lebam seperti baru saja dipukuli orang. Bahkan, ada ... ada ... kepalanya berdarah!”
Belle terkejut mendengarnya. Tentu saja. Seperti ada sesuatu yang menghambat kerongkongannya, hingga Belle merasa suaranya menghilang seketika.
“Jangan mengerjaiku, Louis. Tidak mungkin ada pria sekarat di depan restoranku.” Belle masih enggan mempercayai permata Louis.
“Oh, Tuhan! Dia bisa mati kalau aku harus menunggu kau memercayai perkataanku, Belle. Ikutlah denganku kalau kau ingin membuktikannya secara langsung!”
Belle hanya bisa pasrah saat Louis menarik tangannya untuk mengikuti langkah kaki pria itu. Hingga kini dia mendapatkan bukti nyata dari semua yang dikatakan Louis tadi. Di teras restorannya benar-benar ada seorang pria yang tergeletak mengenaskan dengan luka-luka mengerikan.
“Oh, Tuhan! Tolong bantu aku membuat pria ini sadar!” seru Belle panik.
__ADS_1
Dengan gerakan secepat kilat, Belle memosisikan kepala pria itu ke atas pangkuannya. Dalam posisi itu, barulah Belle dapat melihat wajah pria itu sejelas mungkin. Kemudian Belle memekik terkejut begitu menyadari siapa pria yang tengah sekarat ini.
Belle mengenalinya. Dia ... Arthur? Benarkah ini Arthur?
“Arthur, sadarlah! Kumohon bukalah matamu, Arthur!” pekik Belle panik.
Wanita itu terus berusaha menyadarkan Arthur dengan cara menepuk-nepuk pipi pria itu sekuat mungkin. Sembari sesekali mendekatkan telinga ke dada Arthur untuk memeriksa detak jantungnya. Sementara jari-jemari lentik milik wanita itu sengaja didekatkan ke hidung Arthur untuk memastikan pria itu masih bernapas.
“Tekan dadanya, Louis!” perintah Belle.
Louis mematuhi perintah Belle. Dia menekan-nekan dada Arthur cukup kuat untuk memompa oksigen di dalam paru-paru pria itu. Kegiatannya itu berlangsung beberapa saat lamanya, hingga Arthur pun terbatuk-batuk. Memberitahu bahwa kesadarannya telah kembali.
“Kau dengar aku, Arthur?” tanya Belle. Dia masih belum menghentikan gerakan tangannya dalam menepuk pipi Arthur.
“Kumohon jawab aku jika kau mendengar suaraku, Arthur,” ucap Belle.
Arthur kembali terbatuk. Kali ini bukan batuk biasa. Dari mulut pria itu keluar muntahan berwarna merah yang diyakini Belle sebagai darah. Seketika itu juga rasa panik Belle kembali memuncak.
“Louis, tolong panggilkan ambulans ke sini. Kita bawa pria ini ke rumah sakit,” pinta Belle.
Sebelum sempat Louis melangkah, Arthur mencegahnya. Meskipun suaranya lemah, Belle masih bisa mendengar suara itu.
“Tidak. Jangan bawa aku ke rumah sakit.”
“Kau terluka parah, Arthur. Kau harus segera mendapatkan perawatan dokter,” balas Belle.
“Kumohon, Belle. Jangan bawa aku ke rumah sakit,” bisik Arthur lemah.
“Aku akan tetap membawamu ke rumah sakit. Aku tidak mau mengambil risiko jika terjadi sesuatu yang lebih buruk padamu.” Belle menolak permohonan Arthur.
__ADS_1
Arthur mengerang ketika rasa sakit kembali menyerangnya. Susah payah ia berkata, “Aku punya dokter pribadi, Belle. Cukup panggil dia ke sini. Tapi, kumohon padamu untuk tidak membawaku ke rumah sakit.”
Belle kebingungan sendiri. Berbagai pertanyaan muncul dalam benaknya ketika melihat Arthur begitu bersikeras menolak untuk dibawa ke rumah sakit. Padahal semuanya sudah begitu jelas jika keadaan Arthur sudah separah ini.