Cinta Sang Pewaris Tampan

Cinta Sang Pewaris Tampan
Hutang Budi


__ADS_3

“K-kau yakin, Arthur?” tanya Belle untuk memastikan.


Arthur tak menjawab dengan kata-kata. Hanya anggukan yang bisa ia berikan. Matanya terpejam merasakan sakit yang luar biasa dari luka di perutnya. Ia dapat merasakan racun yang ada pada peluru di perutnya itu mulai menginvasi darahnya.


Belle beranjak dari tempatnya untuk mengambil sarung tangan di dalam laci yang ada di samping tempat tidur. Susah payah wanita itu menguatkan tubuhnya yang telah melemah akibat rasa takutnya akan darah di tubuh Arthur. Ia tak boleh pingsan sekarang. Ia harus membantu Arthur.


Belle kembali ke samping Arthur dan memakaikan sarung tangan itu. Kemudian membantu Arthur mengubah posisi menjadi duduk.


“Apa yang harus aku lakukan?” bisik Belle dengan suara parau.


Dia nyaris tak mampu menahan diri untuk tidak menangis. Ketakutannya akan darah benar-benar membuat energi dan seluruh emosi Belle seperti terkuras habis. Dan itu tak luput dari perhatian Arthur.


“Kau baik-baik saja, Belle?” tanya pria itu dengan susah payah.


“Tentu saja tidak!” seru Belle.


Arthur terkekeh kecil melihat itu. “Tetaplah di sini menemani aku, Belle. Kuatkan aku agar tidak kesakitan saat mengeluarkan peluru ini,” pinta Arthur.


Belle mati-matian menahan tangisannya agar tidak mengudara. Ketika sebelah tangan Arthur menggenggam tangan Belle seerat mungkin, wanita itu hanya pasrah. Membiarkan Arthur merasakan getar ketakutan yang kini ada di tubuh Belle.


“Pejamkan matamu jika kau tak mampu melihat ini, Belle. Akan tetapi, jangan pernah berpikir untuk meninggalkan diriku saat kau mendengar jerit kesakitanku nanti,” bisik Arthur.


Belle mengangguk. Meskipun, ia sendiri tak yakin apakah dirinya mampu melakukan hal itu atau tidak. Belle hanya menatap ke arah wajah Arthur yang tampak begitu kesakitan. Bahkan, pria itu mulai mengerang merasakan sakit luar biasa di saat jari-jemarinya mulai mengorek luka sayatan yang ia buat tadi.


Belle tak sanggup melihat kesakitan itu. Namun, ia pun tak tega membiarkan Arthur terluka sendirian. Tanpa diduga, entah ada intuisi dari mana, tiba-tiba Belle memajukan tubuhnya untuk memeluk tubuh Arthur. Menyandarkan kepalanya pada bahu pria itu.


“Kau pasti bisa melakukannya,” bisik Belle memberikan semangat pada Arthur agar mampu bertahan.


Erangan Arthur semakin lama semakin terdengar keras hingga memenuhi seluruh ruangan. Belle memejamkan mata erat-erat hingga setetes air mata bening meluncur membasahi pipinya. Hingga beberapa menit kemudian Belle merasakan genggaman tangan Arthur melemah. Serta napas pria itu berangsur normal.


“Belle,” bisik Arthur.

__ADS_1


Belle baru berani membuka mata ketika Arthur mendorong tubuhnya sedikit menjauh. Hingga kini wajah Belle tepat berhadapan dengan wajah Arthur.


Dati sana Belle melihat bulir-bulir keringat sebesar bibi jagung bersarang di dahi Arthur. Serta wajah pucat Arthur yang membuat Belle tak tega.


“Tenanglah,” bisik Arthur.


Namun, bukannya tenang, justru Belle malah terisak. Air mata yang sejak tadi ia tahan sekuat tenaga, kini telah meluncur bagaikan hujan deras yang mengguyur bumi.


Arthur membuang sarung tangan yang telah berlumuran darah itu ke sembarang arah. Ia lantas membawa tangannya untuk menyentuh pipi Belle. Mengusap air mata yang mengalir di sana. Hingga Arthur nekat memajukan wajahnya dan membuat bibir mereka berdua menempel sempurna.


Hanya sebatas menempel, tidak lebih. Arthur cukup tahu batasan yang ada di antara. Ia hanya ingin membuat Belle tenang saja.


Cukup lama mereka bertahan di posisi itu. Baik Belle maupun Arthur, tak ada yang menarik diri lebih dulu. Arthur menunggu hingga deru napas Belle lebih teratur dari sebelumnya. Barulah saat itu dia menarik diri dan mengusap pipi Belle selembut mungkin.


“Tenanglah,” bisik Arthur parau.


Hingga kemudian Belle menoleh dan mendapati Louis berjalan tergopoh-gopoh ke arah kamar bersama dua orang pria yang mengikutinya dari belakang.


Dua pria itu menatap Arthur dari ujung kepala hingga ujung kaki. Kemudian mereka saling bertukar pandang seperti tengah memberikan kode satu sama lain.


“Bisakah kalian keluar? Kami butuh ketenangan untuk mengobatinya,” pinta salah satu dari dua orang itu.


Entah siapa yang dihubungi Belle tadi. Yang jelas, ia tahu kedua pria itu memiliki profesi yang sama.


Belle mengangguk mengiyakan. Dengan susah payah ia melangkahkan kakinya keluar menyusul Louis. Meskipun berat, Belle tetap berusaha melangkah agar para dokter itu bisa segera melakukan tindakan pengobatan terhadap diri Arthur.


“Oh, Tuhan!” bisik Belle setelah dirinya berhasil keluar dari kamar.


Tubuh Belle sepenuhnya bersandar pada daun pintu yang telah tertutup dan terkunci dati dalam. Menyisakan tatapan khawatir dari Louis yang begitu terkejut mendapati kondisi Belle yang demikian.


“Kau baik-baik saja, Belle?” Louis bertanya.

__ADS_1


Belle berusaha tersenyum menanggapinya. Dia berkata, “Ya, aku baik-baik saja. Hanya saja, aku terkejut melihat ada banyak darah di tubuh Arthur.”


Louis mengangguk mengerti. Ia cukup tahu bahwa Belle takut melihat banyak darah. Entah apa penyebab pastinya, Louis tak tahu.


“Duduklah, Belle. Akan aku ambilkan air untukmu,” ucap Louis. Pria muda itu menarik kursi mendekat ke arah Belle.


Louis kembali menghampiri Belle dengan membawa serta satu botol air mineral. Ia membuka segel pada penutup botol itu untuk kemudian ia serahkan kepada Belle.


“Terima kasih, Louis,” bisik Belle. Kemudian dia meneguk air mineral itu untuk menyejukkan tubuhnya yang masih bergetar.


Meskipun, bayang-bayang darah mental itu masih bergelayutan di pikirannya, setidaknya Belle merasa dirinya lebih baik setelah meneguk air dari Louis. Tubuhnya masih bergetar. Hanya saja frekuensi getarannya tak sekuat tadi.


“Kau sudah merasa lebih baik?” tanya Louis. Pria muda itu masih sangat mencemaskan kondisi Belle.


Belle memberikan senyum beserta anggukan kepala untuk Louis. “Aku sudah merasa lebih baik, Louis. Kau tak perlu mencemaskan kondisiku lagi,” ucap Belle.


Louis langsung menghembuskan napas lega mendengar jawaban Belle. Pria muda itu menarik kursi lain yang ada di sana dan duduk berhadapan dengan Belle. Ditatapinya wajah cantik wanita itu hanya untuk mencari jawaban atas pertanyaan yang diutarakan.


“Sebenarnya apa hubunganmu dengan pria itu? Mengapa kau bersedia menampungnya di dalam kondisi seperti ini, bahkan sampai rela menutup restoran demi pria itu? Jangan mengatakan ini hanyalah alasan kemanusiaan saja, Belle. Aku tahu bukan itu jawabannya,” ucap Louis.


Belle menghela napas. “Aku berhutang budi padanya, Louis. Kemarin dia membantuku memasangkan kipas angin di restoran ini. Tak hanya itu, dia juga menyelamatkan diriku saat kipas angin itu terjatuh dari tempatnya,” jawabnya.


Louis tak mampu menyembunyikan keterkejutannya. “Kau tertimpa kipas angin sebesar itu? Apa kau terluka parah?” tanyanya beruntun.


Belle terkekeh geli. “Aku baik-baik saja. Tidak ada yang terluka sama sekali. Seperti kataku tadi, dia menyelamatkanku.”


Lagi-lagi Louis menghela napas lega. “Sepertinya aku harus berterima kasih pada pria itu tentang ini. Ah, aku menyesal telah bersikap buruk padanya hari ini.”


“Minta maaflah nanti saat kondisinya sudah membaik,” perintah Belle.


Louis mengangguk mantap. “Tentu saja Belle.”

__ADS_1


“Sekarang pulanglah, Louis. Beristirahatlah. Tolong beritahu Sharon jika restoran tutup hari ini. Aku akan menghubungimu jika terjadi sesuatu yang buruk.”


__ADS_2